
Pukul lima pagi cessa terbangun dari tidurnya, dan merasakan tempat tidur sebelahnya kosong, gadis itu langsung duduk untuk mencari dimana keberadaan Rafa.
Pandangan Cessa berhenti pada sosok suaminya yang tampak serius menatap layer laptopnya. Perlahan cessa turun dari tempat tidurnya, untuk mendekati Rafa, gadis itu penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Rafa.
Kening cessa sedikit mengkerut ketika melihat apa yang sedang suaminya itu lihat. Muncul senyuman manis dari bibir cessa, dia mendekati Rafa dan merangkul pria itu dari belakang, “Sudah belajar tentang itu nya?” ledek Cessa.
Rafa sedikit tersentak, wajah pria itu sudah berubah merah, dia menahan senyumnya sambil menutup muka dengan kedua tangan, “yang kok muncul tiba-tiba sih? Bikin terkejut aja” gumam Rafa.
Cessa tertawa pelan di sebelah telinga Rafa, “habis ternyata seorang Rafa ada juga yang belum bisa dia lakukan” ledek cessa.
Rafa meletakkan laptopnya ke meja, dia langsung berbalik badan dan menarik tubuh cessa hingga berada dalam dekapannya,
“kyaa’ teriak cessa saat tubuhnya sudah terduduk dipangkuan Rafa.
“Aku masih perjaka, jadi wajar belum pandai, apa kamu mau aku belajar dulu diluar sana baru praktek sama kamu” kekeh Rafa.
Wajah cessa yang tadinya tersenyum langsung berubah cemberut, “enak aja! Gak boleh!” bantah Cessa cepat.
“makanya jangan menggodaku, kemarin ngajak belah duren, eh Taunya nangis-nangis gak tahan sakitnya” ledek Rafa sambil mencubit gemas pipi Cessa.
“benaran sakit loh, itu nya kebesaran gak muat masuknya” jawab cessa dengan polos.
Rafa tidak dapat menahan tawanya lagi, pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangan berusaha menahan tawanya.
“Ya allah gini amat ya punya istri polos banget” gumam Rafa pelan.
“Ihh cess kan masih 17 tahun, cessa ad abaca di novel-novel kalau melakukan itu rasanya enak, bisa merasa melayang, eh tau nya sakit seperti itu, apa enaknya” ujar cessa lagi, dia masih berkata dengan polosnya sambil masih duduk di pangkuan suaminya itu.
Rafa menghembuskan nafas panjang dan mengelu pipi istrinya itu, “mau tau kenapa sakit? Pertama karena kamu masih perawan, lalu kedua kamu tegang banget sayang, udah dibilang rileks, jangan tegang, makanya sakit” kekeh Rafa.
“Gimana dong, ini pertama kalinya buat cessa, liat yang besar seperti itu masuk kedalam tubuh cessa jadi membayangkan yang mengerikan, jadi tegang deh” jawab cessa Kembali, gadis itu sudah tidak malu mengatakan hal vugar pada Rafa.
“Gak semengerikan itu sayang” Rafa Kembali tertawa pelan lalu menghela nafas panjang, “Yaahh memang sepertinya aku harus bertahan lagi sampai kamu siap Kembali” lanjut Rafa tangannya masih betah mengelus elus pipi cessa yang lembut.
“emang udah tau cara biar gak sakit?” tanya cessa spontan.
Rafa mengangguk pelan, “sudah, tinggal prakteknya aja, nunggu si pemilik gua siap” ungkap Rafa secara gamblang.
“hmm… tunggu cess dapat keberanian lagi ya, tapi yakin benaran gak sakit ya” ucap cessa.
Rafa Kembali mengangguk. “Hanya sedikit sayang, setelah itu gak sakit lagi, setelah keperawanan di ambil gak akan terasa sakit sayangku” ujar Rafa.
“Ihhh kan masih ada sakitnya, gak mau kalau gitu” rengek Cessa.
“Oke, gak ada sakit sama sekali, jadi mau mencoba sekarang?” tanya Rafa sambil menaik turunkan alisnya.
cessa menggeleng cepat, “Gak mau untuk saat ini, masih kebayang sakit yang tadi malam” ucap cessa.
“Kalau gitu cium boleh?” tanya Rafa dengan mata berbinar.
Wajah cessa langsung berubah merah padam, ketika rafa bertanya tentang hal itu, “Gak tau ahh” ucapnya, wajah gadis itu sudah di alihkan agar tidak menatap Rafa.
Sedangkan Rafa yang melihat reaksi istrinya yang seperti itu langsung memajukan wajahnya untuk memberikan ciuman sedikit ganas pada cessa, dia berharap istrinya itu dapat terangsang saat dia mulai menciumnya.
“Euuuhhhh, fa…” desah cessa keluar saat Rafa mulai menciumi daun telinga Cessa dan mulai turun ke leher jenjang gadis itu.
Tangan rafa juga sudah mulai masuk kedalam baju tidur cessa, memberikan pijatan lembut disana, membuat cessa hanya bisa pasrah merasakan sensasi baru yang pertama kali dia rasakan.
“Hmmm… fa…u-dah” desah cessa pelan, gadis itu tidak dapat menahan hasratnya lagi.
“apa yang udah? Hmm?” bisik Rafa, pria itu Kembali menciumi daun telinga cessa, sekarang dia tau titik sensitive cessa adalah daun telinganya, sedangkan untuk tangan rafa, tangannya sudan menjelajah kebagian bawah cessa, tangan itu masuk ke dalam celana cessa dan mengelus dengan lembut bagian inti cessa.
Rafa tersenyum saat merasakan bagian bawah cessa sudah mulai basah, dia hanya tingga menunggu cessa mendapatkan pelepasan dan memberikan dia izin penuh atas kendali nahkoda yang sebentar lagi akan dia luncurkan.
‘tok tok tok’ ketukan di pintu membuat gerakan tangan Rafa berhenti dan cessa langsung tersadar. Dalam hati rafa akan menghajar habis-habisan siapa yang mengetuk pintu itu.
Rafa menggeram kesal dengan pelaku yang sedang membuat dia gagal merayu istrinya. Dengan wajah sedikit kesal dia berjalan membuka pintu kamar.
Tampak lah wajah polos Dafa di depan pintu.
Muka Rafa memerah dan pria itu menghela nafas dengan sangat panjang.
“mau apa?!” tanya rafa sedikit membentak.
“Loh kok lo seperti orang marah fa?” tanya dafa dengan polosnya.
Rafa tidak menjawab hanya menatap dafa dengan wajah sinis.
“Itu, kalian berdua di tanyain di bawah, kenapa gak turun-turun untuk sarapan pagi, gue kesini untuk ajak kalian berdua makan, siapa tau masih tidur, jadi gue bangunin” kekeh Dafa.
“Gak lapar!” jawab singkat Rafa dan langsung menutup pintu dengan kuat, membuat Dafa sedikit tersentak kaget.
Rafa mendengus kesalmendengar suara shower dari kamar mandi, gagal lagi dan kali ini gagal karena temannya itu, dalam hati rafa bersumpah akan membuat dafa menyesal telah menggagalkan aksi belah durennya.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...
“Fa!” panggil cessa dari dalam kamar mandi.
“Apa?” jawab Rafa cepat.
“tolong ambilin handuk, tadi aku lupa ambil” ucap cessa dari dalam kamar mandi.
Ide rafa muncul mendadak saat cessa memintanya mengambilkan handuk.
Dengan cepat-cepat Rafa mengambil handuk cessa dan Kembali menuju pintu kamar mandi.
‘tok tok tok’
“cess ini handuknya” ucap rafa, dia menunggu cessa membuka pintu kamar mandinya.
“letakkan aja di ganggang pintu!” teriak cessa dari dalam kamar mandi.
Rafa sedikit merengut, rencananya dia kan menerobos masuk saat cessa membuka pintu kamar mandi, tapi ternyata cessa sedikit tau akan idenya itu.
“Buka aja sayang, kenapa malus ama aku, aku udah liat semuanya loh” ujar Rafa.
“gak mau! Pasti kamu masih mau yang kayak tadi!” teriak cessa.
“kenapa? Gak enak ya?” tanya Rafa dengan menahan tawanya.
Cessa yang ada dikamar mandi semakin malu mendengar ucapan Rafa, bohong jika dia mengatakan tidak enak, tapi saat ini gadis itu masih sangat malu dan tidak berani untuk mengulang kejadian itu.
“cess, diam berarti suka loh, yuk dilanjutkan!” ulang Rafa sekali lagi.
“Gak mau! Rafa keluar dulu sana baru cess mau buka pintunya!” teriak cessa dari dalam kamar mandi.
“Ayolah sayang nanggung ini, gara-gara kamu ada yang bangun loh!” bujuk Rafa.
“salah sendiri, siapa yang mulai! Bukan cessa yang mulai jadi cess gak perlu tanggung jawab” balas cessa lagi.
“nanti masuk angin loh sayang” ucap Rafa.
“Biarin, kan masuk angin karena kamu lama keluar dari kamar!” balas cessa lagi.
Rafa hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, ini semua karena Dafa padahal tadi hampir saja berhasil. Dengan pasrah pria itu keluar dari dalam kamarnya.
"Dafa sialan!" gerutu Rafa sebelum benar-benar keluar dari kamarnya.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...