Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
21. Belah Duren?



"Kami pamit ya pa, ma" pamit cessa pada kedua orang tua Rafa, "mama harus selalu jaga kesehatan ya" lanjut cessa lagi.


"makasih ya udah mau makan disini, lain kali datang lagi ya" ucap mama Reta.


Cessa menatap wajah suaminya, lalu balik ke mama Reta, "kalau Rafa boleh ya ma" kekeh Cessa.


"kamu ini kok pakai tanya Rafa, mama selalu buka pintu ini kalau kamu mau main kesini sayang" ucap mama Reta.


"Ada yang cemburuan ma, liat aja cessa gak pakai make up tu gara-gara dilarang Rafa".


Mama Reta tertawa kecil saat mendengar menantunya bercerita tentang Rafa, mama Reta tidak pernah bisa menyangka Rafa bisa bersikap seperti itu.


"mulai ngadu nya, ini suami kamu loh, jadi harus dengar omongan suami" ujar Rafa dengan senyuman manisnya.


"Liat tu ma, kalau cesaa gak mau dengar pasti ujung-ujungnya kalau membantah suami dosa loh, kan cess jadi takut, udah banyak dosa tambah lagi dengan dosa gak nurut sama suami, bisa auto masuk neraka" celoteh cessa.


Gadis itu memang sengaja berceloteh panjang lebar, agar suami dan kedua mertuanya tidak terlihat sedih lagi dan melupakan sejenak masalah mereka.


"Hahaha ya ampun Rafa jangan suka ngancam istri kamu" kekeh Mama Reta.


"Tuh dengar tu kata mama" Cessa menyikut Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Awas nanti di rumah auto gak bisa tidur" bisik Rafa tepat di telinga cessa.


Rafa tau cessa sengaja melakukan semua itu agar suasana yang canggung tadi hilang.


"Rafa sama cessa pamit ya ma, pa, assalamu'alaikum" Rafa dan cessa sama-sama mencium tangan kedua orang tua Rafa sebelum pamit pergi.


Papa dan mama Rafa terus memandangi mobil Rafa yang berjalan hingga menghilang dari pandangan mereka.


"Pa, mama bersyukur yang menjadi istri Rafa adalah cessa" gumam mama Reta dia masih menatap jalanan yang tadi dilalui Rafa.


"Papa juga, untung cessa menerima Rafa apa adanya" balas papa.


"Akhirnya semua rahasia kita terbongkar pa, mama tidak tau apa yang akan di pikirkan Rafa pa" lirih mama Reta.


"Semua akan baik-baik saja, ada cessa disamping Rafa papa yakin cessa bisa menenangkan Rafa, dan besok papa akan menceritakan semuanya pada Rafa ma" ucap papa dengan suara pelan.


"iya pa, cepat atau lambat Rafa memang harus tau kenapa Gavin begitu membencinya" gumam Mama Reta.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


Selama perjalanan cesaa kembali diam, dia tidak tau harus melakukan apa karena ucapan Rafa yang tadi.


"Kenapa udah diam lagi?" tanya Rafa dengan senyuman jahilnya, bersama dengan cesaa pria itu jadi lebih sering tersenyum manis.


"Apaan sih, ngomong salah diam salah" gerutu cessa.


"berarti tadi semua yang kamu katakan bohong? saat bersama mama dan papa" tanya Rafa lagi.


"bohong apanya gak ada bohong-bohong, bohong itu dosa, tambah numpuk aja dosa cess kalau bohong" ucap cesaa dengan mulut yang di monyongin.


Rafa yang gemas spontan mencubit pipi Cessa dengan tangannya yang bebas dari stir mobil.


"ihh sakit fa" keluh cesaa, dia mengelus pipinya yang di cubit Rafa.


"habis istri aku gemesin banget sih, coba aku gak nyetir udah aku cium bibir kamu cess" ucap Rafa dengan santai.


"ihhh Rafa mesum!" pekik cessa sambil menutup muka dengan tangannya.


"hahahaha" bukannya marah di bilang mesum, Rafa malah tertawa senang, dia tidak tau kalau punya istri ternyata bisa membuat dia sebahagia itu.


Selama ini Rafa selalu tertekan di rumah keluarganya sendiri. Setiap hari Rafa selalu pulang malam karena dia lebih suka ngumpul di markas nya dibanding ngumpul bersama keluarga nya.


Mama dan papa memang menyayangi Rafa, tapi perhatian kedua orang tua itu memang selalu terfokus pada Gavin, dan sekarang Rafa baru mengetahui alasan kenapa mama nya dan papa nya lebih memperhatikan Gavin.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


Cessa dan Rafa sudah pulang ke rumah dan saat ini Rafa sedang bengong menatap layar ponselnya.


Cessa tau Rafa masih kepikiran dengan ucapan Gavin tadi.


"Rafa!" kali ini cessa menyentuh lengan Rafa untuk menyadarkan pria itu dari lamunannya.


"Ahh apa?" seru Rafa sedikit terkejut.


"masih mau natap ponsel apa tidur?" tanya Cessa sedikit menyindir.


"Tidur, Rafa mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.


Saat Rafa sudah mulai berbaring cessa langsung mendekat dan menjadikan lengan Rafa sebagai bantalnya.


Rafa sedikit terkejut dia masih diam saat cessa bergerak mendekatinya.


"Katanya di suruh untuk biasa" ucap cessa.


Senyum Rafa kembali terbit ketika istrinya mulai mau mendekati dirinya.


"Selamat tidur istriku" salam tidur yang manis itu akhirnya keluar dari mulut Rafa.


"Selamat tidur juga beruang mesum" kekeh cessa.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


"Pagi semua!" sapa cessa dengan semangat. dia berlari menuruni tangga. Setelah sampai di meja, cessa langsung menium pipi kedua orang tuanya dan King.


"Woii setan gue mana!" pekik prince gak terima kalau dia tidak di cium juga, padahal yang seharusnya sangat dekat dengan cessa adalah prince, karena mereka saudara kembar.


"Gak mau muka lo jelek, minta cium aja sama july sana" kekeh cessa.


"Siapa tu july sayang" tanya mama dona penasaran.


Senyum devil cessa langsung muncul ketika Mama dona bertanya tentang prince.


"Pacar prince di sekolah ma" jawab cessa cepat.


"mana ada ma, jangan percaya di setan kecil, belum jadian ma, prince masih bersolo karir" seru prince.


"Solo karir aja terus sama sabun!" ledek king yang disertai tawa semua nya.


"Haiisss salah ngomong gue!" kesal Prince dia menepuk-nepuk mulutnya sendiri.


"Sabar bro" ledek Rafa.


"Sabar-sabar lu sendiri udah nikah tapi belum belah duren" kini prince membalas ucapan Rafa sambil tertawa kencang.


"Belah duren? tradisi dari mana tu mi?" cessa yang lima tahun hidup di luar negeri masih tabu dengan istilah itu.


"hahaha ini ni anak yang besarnya di luar negeri mana tau arti belah duren" tawa prince semakin menggelegar.


"gak usah dengarkan ucapan abang kamu, stress dia itu" ucap mama menghilang kan pertanyaan yang muncul dari putrinya itu.


"Dek, jangan tanya-tanya di sekolah ya dengan teman-temanmu" larang king sebelum cessa berniat menanyakan lebih lanjut pada july dan Devi.


"Emang apaan sih belah duren?" cessa semakin dilarang semakin penasaran.


"gak ada apa-apa cess, dia aja tu yang dari kemarin ngidam duren, makanya ngejek orang aja" potong Rafa.


"ohh bilang prince, nanti pulang sekolah kita makan duren ya, jangan ngidam terlalu lama" ajak cessa dengan polosnya.


"Oke, kita belah duren yang sesungguhnya" kekeh prince.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...