Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
29. Rencana Pertunangan



"Maaf om, Gavin boleh ngomong sama Revi berdua aja gak?" tanya Gavin sopan.


Papi Surya tersenyum senang, "Ohh boleh saja, revi sana pergi sama Gavin berdua".


Dengan malas Revi berdiri dari kursinya. dan mengikuti Gavin yang mulai berjalan keluar dari ruangan itu.


.


" Ada apa?" tanya Revi dengan ketus.


"Gue tau lo gak suka sama gue, gue juga sama, lo berharapnya Rafa yang di jodohkan dengan lo, tapi lo harus tau satu hal, Rafa gak bakal bisa dengan mudah lo dapatkan" ujar Gavin.


"Jadi lo mau apa ngasih tau gue cuma masalah itu?" maki Revi kesal.


"gue mau lo kerja sama dengan gue" ucap Gavin.


"kerja sama?" beo Revi.


"Lo gak akan bisa dekatin Rafa selama dia bersama cessa, gue pengen ambil cessa dari Rafa jadi gue mau lo dan gue kerja sama untuk menghancurkan hubungan kedua orang itu" ujar Gavin, dia memang sengaja tidak memberi taukan hubungan cessa dan Rafa yang sudah terikat sebagai suami istri.


Revi menatap bingung Gavin. "Gimana caranya?"


"Mudah, lo terima saja pertunangan kita, dengan status lo yang udah dekat sama keluarga gue lo berhak keluar masuk rumah gue, lo juga bisa ikut liburan bareng keluarga gue, di sana lah kesempatan lo untuk mendekati Rafa dan kita memulai rencana kita untuk menghancurkan hubungan keduanya" ujar Rafa.


Revi tersenyum licik, "Lo ada jaminan kalau gue terima tawaran lo, gue bakal dapat Rafa?"


Gavin menggeleng, "Itu juga tergantung lo, bisa tidak lo merebut perhatian adik gue, kalo lo gak bisa, gue gak bisa apa-apa, itu tandanya lo gak menarik sama sekali sebagai cewek" sindir Gavin matanya menatap remeh Revi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Lo ngehina gue?!" bentak Revi.


"Gue gak menghina, gue cuma kurang yakin kemampuan lo dalam merayu cowok, apakah cukup untuk merayu adik gue yang seperti itu" sindir Gavin lagi.


"baik gue terima tantangan lo! gue mampu untuk membuat Rafa melihat gue! akan gue tunjukkan itu" Revi akhirnya menerima kesepakatan yang diajukan oleh Gavin. gadis itu tidak Terima dianggap remeh oleh Gavin.


"Bagus, dengan begini lo bisa semakin dekat dengan adik gue sebagai adik ipar untuk sementara, lalu setelah itu menjadi suami lo" seru Gavin senang.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


Rafa membersihkan noda bekas jagung bakar pada bibir Cessa dengan menggunakan tangannya.


"Kenapa sih kalau makan kayak anak kecil belepotan gitu" ujar Rafa pada istrinya.


"harus mau terima istri itu apa adanya, bukan ada apanya" kekeh Cessa.


"ada aja ya jawabannya" Rafa gemas dengan jawaban istrinya, pria itu spontan mencubit pipi Cessa dengan gemas.


"ihh sakit tau, kekerasan dalam rumah tangga ni" tunjuk cessa pada tangan Rafa yang baru saja mencubit pipinya.


'cup' Rafa spontan mencium bibir cessa sekilas, "kalau ini masih kekerasan?" tanya Rafa sambil mengedipkan matanya.


"bukan kekerasan, tapi mengambil kesempatan dalam kesempitan" gerutu cesaa sambil menutup mulutnya. "untung tidak ada yang liat kita" lanjut cessa lagi sambil memberikan peringatan pada Rafa.


Rafa mendekatkan wajahnya lagi pada cessa tapi tidak menempel pada wajah cessa jaraknya hanya satu jengkal tangannya.


"emang kenapa kalau banyak orang liat?" goda Rafa.


Cessa spontan mendorong badan Rafa agar menjauh, "bisa di giring polisa fa!" Kesal cessa.


Rafa terkekeh pelan, "di giring gimana? kita kan pacaran sah".


" Pacaran sah?" beo cessa.


"iya pacaran tapi dalam konteks halal, mau cium juga gak masalah udah sah, gak berdosa jadi gak perlu takut" ujar Rafa dengan tawa khas nya.


"Ihh ada gitu".


" ada kita sekarang contohnya " ujar Rafa lagi kembali mencoba mendekati cessa.


"Jangan malu sama suami sendiri kok malu".


" Rafa! abang prince bilang lo orangnya pendiam, kok kayak gini sih! dari mana pendiam nya, ini sama sekali gak pendiam" lirih cessa tangannya masih di dada Rafa berusaha mendorong tubuh Rafa yang berusaha mendekat.


"Dia aja yang belum tau luar dalam gue" jawab asal Rafa. "lo mau tau gak dalam nya gue?" goda Rafa lagi.


"hiks hiks, Rafa kok mesum banget sih" lirih cessa, dia sudah capek di godain oleh suaminya itu.


...🌜☀☀☀☀🌛...


Gavin dan revi kembali ke dalam ruangan tempat makan mereka bersama keluarga mereka.


"Jadi gimana nak? apa kalian setuju untuk melanjutkan pertunangan ini?" tanya papa ali sambil menatap Gavin dan Revi bergantian.


"Revi setuju pi" jawab revi pelan dengan senyum yang dipaksakan.


"Gavin juga setuju pa" Jawab Gavin dengan senyum liciknya.


"Baiklah, jadi minggu depan akan dilaksanakan acara pertunangan mereka berdua, mau di umumkan atau hanya keluarga saja?" tanya papa ali, meminta jawaban dari kedua pasangan yang akan bertunangan itu.


"Revi inginnya hanya keluarga dan teman aja om, jangan terlalu mewah sederhana saja" ucap Revi dengan lembut dia berusaha mencari perhatian dari kedua orang tua Rafa.


"kamu yakin?" kali ini papi surya yang bertanya.


Revi mengangguk mantap, "yakin pi".


" yang benar saja, gimana kalau ketahuan gue tunangan dengan abang Rafa, tujuan gue tunangan kan biar diberi akses lebih mudah keluar masuk rumah Rafa, jadi lebih mudah ketemu rafa" batin Revi.


"Terserah, yang penting gue bakal dapat apa yang gue mau" batin Gavin.


"Ya udah kalau itu memang keputusan kalian berdua, jadi pak Surya terima kasih sudah mau menjadi keluarga saya" ucap papa ali.


"Saya juga senang pak ali" balas papa Surya.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...


Rafa dan cessa sampai di depan parkiran motor mereka, Rafa sibuk memasangkan helm pada cessa.


pukul 11 malam mereka berdua baru selesai makan jagung bakar di sana.


"Jadi mau kemana lagi?" tanya Rafa pada cessa.


Cessa berpikir sejenak, mulutnya hendak mengucapkan kalimat tapi keduluan oleh Rafa.


"mau ke hotel?" kembali pria itu menggoda cessa.


"hotel? ngapain?" tanya cessa masih belum connect.


"Belah duren" jawab singkat Rafa.


'Puk' Cessa dengan cepat memukul dada Rafa dengan spontan, sedangkan yang di pukul hanya tertawa senang, dia sama sekali tidak merasakan sakit malah semakin ingin menggoda istrinya.


"Ni mulut suka banget godain orang ya" cessa menjepit singkat mulut Rafa dengan jarinya.


"Hanya kamu, gak pernah godain orang lain gak pernah suer deh" kekeh Rafa.


"hiks hiks Rafa, lu makan obat apaan sih... kok jadi banyak ngomong gini!" Cessa ingin sekali menangis karena kesal dengan tingkah Rafa yang terus menggodanya.


"Makan kamu makanya jadi gini" kekeh Rafa.


"capek gue hadapi lo, udah langsung jalan kita keliling" cessa buru-buru naik agar Rafa tidak kembali menggodanya, dia sudah capek menghadapi tingkah Rafa yang buat jantungnya cenat cenut.


"Oke, beres" jawab Rafa, dia langsung menghidupkan mesin motornya.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...