Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
229. Menjenguk Si Kembar



Prince dan Juli berlari kencang menuju ruang inap ke tiga keponakannya, mereka tidak tau jika ke tiganya di bawa kerumah sakit, karena memang Prince dan Juli sedang tidak tinggal di rumah mertuanya.


Sampai di depan ruang inap ke tiga keponakan kembarnya prince dan Juli berusaha mengontrol pernapasan mereka, karena tadi mereka buru-buru menuju rumah sakit.


‘tok tok tok’ Prince mengetuk pintu dulu sebelum membukanya, karena takut orang di dalam akan terkejut dengan kedatangan mereka. Tadi prince dan Juli berniat kerumah keluarga Bagaskara untuk bertanya pada rafa tentang dokter kandungan yang bagus untuk program kehamilan, tapi ternyata mereka mendapat kabar bahwa Rafa, cessa, papi harry, mami dona dan ketiga anak kembar Rafa dibawa ke rumah sakit, karena panasnya sangat tinggi, mendengar itu prince langsung bergegas menuju rumah sakit bersama juli.


“Haii ganteng ganteng dan cantiknya papa Prince” sapa Prince saat melihat ketiga keponakannya. Prince memang membiasakan semua keponakannya untuk memanggil dirinya dengan panggilan papa dan untuk juli adalah mama.


“Loh kok bisa disini Prince?” tanya papi harry heran.


“iya tadi ke rumah dan ternyata semuanya ada disini kecuali abang king dan keluarganya” ujar prince. “hai cantik gimana kabarnya?” goda Prince pada keponakan cantiknya Quinsya.


“atit pa..” jawab Quinsya dengan pelan.


“caca mau apa, biar papa belikan” Prince mencoba membujuk Quinsya yang masih berada dalam dekapan papi nya. Caca adalah nama panggilan buatan Prince khusus untuk keponakan cantiknya itu. Memang terkadang Quinsya dipanggil caca karena kebiasaan prince yang memanggil Quinsya dengan panggilan caca.


Quinsya tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepala sambil terus memeluk tubuh Rafa.


“Dedek mau makan bubur gak? Biar papa prince belikan ya? Abang juga mau?” tawar Prince lagi.


Serentak ketiga anak kembar itu menggeleng, saat ini Aryan dan Azmi memang sudah turun panasnya tapi kedua balita itu masih mau bermanja dengan memeluk mami cessa, untung saja mereka berdua tidak berebutan Cessa yang hanya ada satu.


“mau apa ke rumah?” tanya Rafa berusaha mengalihkan topik, dia tau ketiga anaknya sedang sulit untuk dibujuk makan.


“Hah? Gak ada nanti aja kalau si kembar udah sehat kembali” ucap prince cepat.


‘tok tok tok’ kembali pintu ruangan inap itu terbuka dan menampilkan Elena juga Xelo dari sana.


“hai kembarnya auntie, mau makan bubur buatan auntie gak?” sapa ellena sambil menunjukkan banyak paper bag di tangannya.


“pi uapin” ucap si kembar serentak dengan suara pelan.


Rafa dan cessa mengulum senyumnya, untung saja ketiga anaknya mau makan, keluarga bagaskara memang tidak terlalu suka makanan dari luar, hanya masakan buatan mami dona, cessa, Queen dan Ellena yang suka mereka makan, dan kebiasaan itu terbawa sampai pada ke tujuh keturunan keluarga bagaskara.


“yee~ auntie senang Triple nya auntie mau makan, bentar ya auntie pindahkan ke piring”seru Ellena bersemangat.


“sini mami bantu” ucap mami dona yang sudah mengulurkan tangannya untuk membantu Ellena.


“Sudah ditanya dengan dokter gizi disini kan Len?” ujar cessa karena dia khawatir ketiga anaknya tidak boleh makan dari luar takut ada komplikasi atau masalah lainnya.


Ellena mengangguk pelan, dia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Cessa barusan dia tau cessa sedang cemas dan takut saat ini wajar jika dia ketakutan. “udah tenang aja, ini juga ada makanan buat semuanya, tadi sengaja buat banyak aku tau kalian belum sempat makan karena cemas, tapi jangan tidak makan juga kasian nanti kalau kalian sakit siapa yang jaga si kembar”.


Semuanya tersenyum mendengar penuturan Ellena, “makasih ya sayang” ujar mami dona tulus.


“Rafa menyuapi si kecil Quinsya dengan pelan, sementara cessa menyuapi kedua anak lelakinya, ke tiga anak kembar itu tidak mau disuapi opa dan oma nya, hanya mau di suapi kedua orang tuanya.


.


“prince minta lah abang Xelo kontak dokter kandungan yang sangat ahli” ujar Rafa secara tiba-tiba.


Prince sedikit tersedak dari makannya, dia menatap horor pada adik iparnya itu.


“kalian berdua datang ke rumah karena itukan?” tebak Rafa.


Prince mengangguk singkat, “kenapa lo bisa tau fa? Lo cenayang?” ucap prince dengan suara pelan, takut si kembar yang sudah tertidur terbangun.


“tebakan saja, otak gue kan 3 kali lebih pintar dari otak lo” kekeh rafa pelan.


“emang kalian berdua sudah siap untuk program kehamilan?” mami dona ikutan dalam perbincangan itu.


“Iya mi, Juli pengen punya anak seimut dan selucu si kembar” ujar juli.


“Jangan karena pandangan miring dari orang-orang kalian ingin punya anak, kasian anak kalian jika kaliannya tidak siap” nasehat papi harry.


“Kami sudah memutuskannya pi, memang kami masih muda dan masih kuliah, tapi kami ingin ada kebahagian dalam rumah tangga kami” jawab prince.


“berarti kalian siap menerima kabar apapun? Walaupun itu kabar negatif sekalipun?” selidik papi harry.


“siap pi, walaupun jika Juli atau abang yang tidak bisa memiliki anak, kami akan mengadopsi anak atau menjadi ayah angkat dari ketujuh keponakan prince, prince saat ini belum tau kenapa kami masih belum bisa punya anak, tapi kami berdua sudah menerima apapun resikonya kami Cuma ingin berusaha sekuat mungkin saat ini” jelas prince.


“Besok kalian ikut kami aja, kami juga mau menemui dokter itu kebetulan besok dokter itu ada seminar di sini, gue udah pesan jasa dokter itu buat periksa aku dan ellena, kalian juga bisa ikut sekalian” ujar Xelo.


“loh ellena juga udah siap punya anak?” ujar mami dona.


“iya mi, liat si kembar Ellena ingin membuat keluarga besar di rumah ellena dan mas Xelo, kadang kami bosan pacaran berduaan aja” kekeh Ellena.


“Ya sudah itu semua hak kalian, asal kalian siap menerima segala kosekuensi dari pemeriksaan kalian nanti, jangan pernah menyalahkan pasangan kalian jika hasil tidak sesuai harapan kalian, percayalah allah memiliki banyak jalan agar kalian tetap bahagia” nasehat papi harry lagi.


“Iya pi” jawab kedua pasangan itu serentak.


“fa, kamu sama cessa gak makan?” tanya mami dona, karena memang tadi rafa dan cessa hanya menyuapi si kembar dan sekarang cessa ikutan ketiduran dan belum makan apapun.


Rafa hendak turun dari ranjang dan meletakkan Quinsya di ranjang rumah sakit, tapi sedikit saja Rafa bergerak Quinsya mulai merengek masih dengan mata yang terpejam.


“hmm nanti aja Mi, rafa belum lapar, mami bangunin cessa aja, tolong suapin dia ya mi, rafa gak bisa meletakkan si kecil” ujar rafa pelan.


“Ya udah, nanti kamu makan ya, atau mau mami suapkan juga?” tawar mami dona.


“gak usah mi, nanti kalau lapar rafa bisa makan kok” tolak rafa secara halus.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...