Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
93. Sold Out



King sedikit menoleh saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut cessa, benar yang dikatakan cessa semuanya karena dirinya lah yang takut menyatakan perasaan lebih dulu, takut kembali ditolak, dulu King memang pernah mencintai sahabat wanitanya tapi sayang perasaan king di tolak, entah karena apa, dan sekarang pria itu takut menyatakan perasaannya pada wanita yang dia sukai.


“emang umur berapa bang?” tanya Rafa penasaran.


“janda umur 23 tahun” jawab king.


“Lah masih muda bang, gak papa lah dapat janda jadi udah berpengamalan di ranjang, jangan seperti rafa bang, malam pertama nangis karena kesa_awww yang sakit” pekik rafa karena cessa baru saja mencubit perut sixpack suaminya itu.


“Sakit, enak ya yang punya pengalaman, berarti gak mau lagi sama yang masih muda gak berpengalaman ini?!” sindir cessa dengan senyum pepsodent gigi rapat.


“canda sayang, biar abang king lebih berani gitu, gak ada maksud nyindir kamu yang” ujar rafa berusaha menahan senyumnya. “kamu kan udah berpengalaman sekarang, goya__awww sakit yang, kenapa di cubit lagi” pekik Rafa sekali lagi karena cessa kembali mencubitnya.


“jangan bicarain soal ranjang kita ke abang! Malu tau!” bisik cessa.


King hanya bisa tertawa melihat kemesraan adiknya dan adik iparnya.


“abang jangan ketawa-ketawa aja, nanti nangis di bulli sama prince dan papi” sindir cessa yang melihat king tertawa.


“ya ampun dek, jangan mulai deh bulli abang, abang tu udah punya tapi gak berani bilang ke papi dan mami aja, soalnya dia janda” ulang king menjelaskan status wanita yang sedang dia dekati.


“janda ditinggal mati atau janda cerai bang?” tanya Rafa.


“tinggal mati sama suaminya, makanya agak sulit juga dekati, soalnya masih nampak kalau dia masih sayang suami” jawab king.


“udah punya tentengan bang?” kini cessa yang memberikan pertanyaan.


“udah punya dua jagoan kembar, ganteng-ganteng anaknya” jawab king.


“kan makin bagus tu bang, papi sama mami jadi langsung punya dua cucu ganteng-ganteng, apa lagi yang ditunggu bang” kekeh ay.


“iya bang, kami pengen punya ponakan yang lucu-lucu” tambah Rafa.


“kalian dulu yang buat, baru abang nyusul” balas king dengan tawanya.


“maunya sih gitu bang, tapi berhubung istri rafa masih sekolah, jadi ditunda sampai setahun bang” jawab rafa.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...


“Selamat datang di rumah kecil kami tuan bagaskara” sambut daddy juli pada keluarga prince yang datang ke rumahnya.


“kecil apanya, ini termasuk besar tuan wijaya” puji papi harri, kedua pria paruh baya itu saling bersalaman.


Keluarga bagaskara masuk bersama pasangan mereka masing-masing dan duduk di sofa yang sudah dipersilahkan.


“maaf sebelumnya tuan bagaskara, setau saya anda hanya memiliki tiga orang anak, tapi kenapa sekarang anak anda menjadi 4 orang?” tanya heran daddy Juli.


“ohh hahahha” papi harri tertawa. “dia juga putraku, putra ketemu besar” sambung papi harri.


“hallo om, saya rafa” salam rafa sambil menundukkan kepalanya, dan itu semakin membuat tanda tanya di kepala daddy juli.


“kau terlalu singkat memperkenalkan dirimu rafa, katakan saja pada mereka siapa dirimu, mereka akan menjadi keluarga kita juga rafa” ucap papi harri.


“baik pi, saya suami dari cessa om, adik kembar dari prince” Rafa melanjutkan perkenalan dirinya pada orang tua Juli.


“suami?” beo daddy juli.


Papi harri tersenyum dan menepuk bahu menantu kesayangannya itu, “kau semakin membuat mereka bingung Rafa, ini menantuku tuan wijaya, prince mempunyai saudara kembar, yaitu princess dan dia telah menikah dengan rafa, begitu penjelasannya”.


“kalau saudara kembar berarti mereka masih sekolah? Bagaimana mereka bisa menikah disaat umur mereka yang masih menginjak 17 tahun? Apakah ada insiden ham_” tanya daddy juli.


Papa harri tertawa pelan, “tidak tidak, mereka di jodohkan, kebetulan anak perempuan saya Cuma satu, jadi cessa yang mendapatkan jodoh rafa”jawab papa harri dengan santai, pria itu tidak tampak tersinggung sama sekali ketika calon besannya hampir menyangka cessa menikah karena insiden MBA (Married Before Accident).


“bukankah itu terlalu cepat? Bukankah putri anda masih berumur 17 tahun” tanya daddy juli bingung.


“Wahh saya yang khawatir kalau menantu saya yang ganteng ini keburu sold out jika lulus sekolah, payah loh mencari menantu saya yang ini, umur 17 tahun sudah mampu membiayai kehidupannya sendiri sampai istrinya, tampan nya membuat banyak wanita melirik, sebelum keburu sold out mending saya tandai dulu kan buat jadi menantu saya, biar gak ada yang ambil” kekeh papi harri.


Papa Wijaya tertawa mendengar penuturan yang disampaikan oleh papi harri.


“jadi, saya kesini dengan keluarga saya ingin melamar putri pak Wijaya yang Bernama Juli angraini” papi harri menjeda ucapannya dan menatap prince serta king, senyum pria paruh baya itu langsung muncul, “untuk putra saya king”.


Beberapa detik suasana disana hening semuanya sedang mencerna ucapan papi Harri.


“Pi! Bukan abang! Tapi prince ! ini prince loh yang cari sendiri kok untuk abang!” protes prince yang sadar dengan kata-kata yang sengaja di plesetkan oleh papi Harri.


Papi harri mengedipkan matanya pada king sang putra sulung, “jadi abang gak mau ni?” ucap ulang papi harri.


“Papi! Serius masak juli mau dikasih sama jomblo karatan seperti abang, kasian pi, lagian itu Prince yang cari suruh abang cari jodoh sendiri sana” protes prince lagi.


Semua keluarga bagaskara hanya menutup mulut mereka menahan tawa, papi harri emang ada-ada aja kerjaannya.


“bang, rela kan di langkahi? Atau mau yang ini aja biar prince cari sendiri?” ulang papi Harri lagi.


“pi, serius dikit, tu besan papi jadi heran liat tingah papi” kali ini king yang berucap.


“papi ini juga serius bang” jawab papi dengan wajah seriusnya.


‘Puk’ mami dona akhirnya menggetok kepala papi harri, “serius, ini bukan main-main, cepat ulangi lagi” perintah sang penguasa di keluarga bagaskara.


“Aku padamu mam” prince memberikan ciuman jauh pada maminya.


“Hehehe oke-oke serius, pak Wijaya saya kesini ingin melamar anak bapak yang bernama juli angraini, untuk putra saya prince aditama bagaskara, terserah bapak mau diterima atau enggak” ucap papi harri.


“Pi, dimana-mana orang tua itu membela anaknya, puji gitu kehebatan prince biar lamaran prince diterima ini malah pakai kata-kata ‘terserah mau diterima atau enggak’ kan bisa ragu calon mertua prince untuk terima” protes prince.


Papi harri menaik turunkan alisnya, dia memang sengaja mengatakan itu biar prince membeberkan apa saja yang dia punya untuk melamar anak gadis orang.


“emang kamu punya apa untuk dibanggakan? Papi aja gak tau” ucap papi harri.


“pi gini-gini Prince itu manager di perusahaan, dan prince sudah punya penghasilan sendiri” ungkap prince.


“Baru gitu paling berapalah gaji dari main game, emang kamu punya rumah untuk melamar anak orang, gak mungkinkan dia tidur di kolong jembatan, karena kamu Cuma modal uang dari main game, mobil sama motor aja masih papi yang belikan, jadi apa yang mau dibanggakan?” balas papi Harri.


“emang prince belum punya rumah, tapi prince udah punya apartemen atas nama prince, dan juga masalah motor dan mobil, kan papi yang belikan sendiri, bukan prince, sayang kalau prince beli banyak, pekerjaan prince bukan hanya di game, noh! Mantu kesayangan papi itu kasih posisi sebagai manager di perusahaannya, uang tabungan prince juga banyak, memang tidak sekaya menantu kesayangan papi, tapi prince sudah bisa membina rumah tangga untuk membiayai hidup istri prince kelak” ungkap prince lagi.


Papi harri tersenyum hangat pada putranya, “sudah bapak dengar sendirikan kualifikasinya, saya rasa anak say aini sangat sulit dicari di luaran sana, sebelum sold out sebaiknya bapak pikirkan dulu, mau terima atau tidak” ucap papi harri. Emang bapak satu ini ada-ada saja, orang lagi serius tapi ujung-ujungnya seperti sales keliling.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...