
Dua hari kemudian Papa ali dan mama reta datang ke kediaman keluarga bagaskara ingin bertemu dengan Rafa dan juga cessa. Wajah kedua orang tua itu terlihat murung dan sedih. Rafa yang turun bersama cessa berusaha tersenyum pada kedua orang tuanya itu, dia sudah tau alasan kenapa orang tuanya datang, dan rafa berharap kedua orang tuanya datang bukan untuk meminta keringanan hukuman pada gavin.
“fa” panggil papa ali sambil tegak dari kursinya begitu rafa sudah sampai dihadapan mereka.
“duduk pa, kita bicarakan semuanya secara bersama-sama” ucap Rafa lembut.
Papa ali kini duduk, tangan pria itu sudah saling menaut, dia tidak menyangka sama sekali jika putranya masuk ke dalam penjara atas tuduhan rencana pembunuhan. Rafa berhasil menemukan bukti keterlibatan gavin dengan kecelakaan yang dia alami bersama cessa. Dan dengan itu rafa melaporkan pada polisi, dia bukan tuhan yang dapat menentukan hidup mati seseorang, dia juga bukan hakim yang dapat memutuskan kesalahan orang begitu saja, rafa memang kesal dan sangat marah bahkan dia benci pada saudara satu ayahnya itu, tapi Rafa merasa dia tidak bisa menentukan keputusan berdasarkan masalah pribadinya, dia akan menyuruh polisi untuk menyelesaikan semuanya, tapi dengan garis bawah bahwa polisi itu bukanlah orang dalam egi sahabat gavin.
Tanya egi kemana? Jawabannya Rafa berhasil menemukan gudang narkoba dan narkotika milik egi dan sekarang pria itu menjadi buronan di indonesia, dia telah melarikan diri dari indonesia.
Papa ali menatap menantu cantik nya yang duduk di samping Rafa, “cessa, maafkan putra papi ya, dulu dia kehilangan ibunya masih sangat kecil, jadi papa terlalu berlebihan dalam memanjakannya, papa tidak tau sikap papa ini malah membuat putra papa menjadi pria jahat dan mengerikan seperti itu, papa minta maaf atas semua perbuatan yang Gavin lakukan pada kamu” lirih papa Ali, dia baru mengetahui alasan putranya masuk ke dalam penjara karena kasus percobaan pembunuhan, sebenarnya rafa berharap lebih dari itu seperti ketahuan penjualan narkoba dan perbudakan, tapi saat di geledah tidak ada satupun barang bukti yang di temukan didalam klub malam milik Gavin, hanya gudang narkoba milik Egi saja yang ketahuan dimana letaknya.
Cessa tersenyum pada mertuanya itu, “kenapa papa yang minta maaf, cessa udah gak apa” ucap cessa dengan lembut, wanita itu tidak ingin melihat mertuanya yang merasa bersalah, tapi yang dia inginkan adalah gavin sendiri yang meminta maaf padanya.
“Ada apa papa datang ke sini?” tanya Rafa, entah kenapa dia punya firasat jelek tentang kedatangan kedua orang tuanya, padahal papa ali terlihat sangat menyedihkan sekarang, mungkin karena hatinya sudah lama terluka, rafa mulai menanamkan rasa curiga pada orang tuanya itu, atau mungkin juga karena hormon kehamilan? Entah lah apa memang bisa suami menjadi sensian saat istrinya sedang hamil.
“papa ke sini mau minta maaf pada menantu papa, apa tidak boleh?” tanya papa ali tanpa tersinggung pada Rafa.
“ya siapa tau papa sama mama mau meminta Rafa untuk mencabut tuntutan pada gavin”sindir rafa.
Cessa meremas tangan suaminya itu masih dengan senyuman, dia tidak suka suaminya menjadi sedikit kejam kali ini, “Yang~” panggil cessa pelan agar suaminya itu menjaga ucapannya.
“Tidak, Gavin memang pantas mendapatkan itu, papi Cuma cemas begitu mendengar gavin hampir membunuh putra dan menantu papa, apa salah papa datang karena khawatir?” tanya papa ali.
“Gak salah pa, ini suami cessa lagi kedatangan tamu bulanan, jadi maklumi aja ya pa” canda cessa agar suasana di sana menjadi sedikit kondusif dan tidak terlalu tegang.
“yang~ tamu bulanan apa sih” ujar Rafa pelan.
“Udah diam aja” ucapan cessa itu langsung membuat suami tampannya diam.
Setelah agak lama bertamu, papa ali dan mama reta baru pulang ke rumah mereka, cukup lama kedua orang tua itu berbincang dengan orang tua cessa, karena malam hampir tiba keduanya pun pulang ke rumah mereka.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Cessa memandang Queen yang sangat lincah memasak di dapur walau dia sedang hamil, memasuki usia kandungan yang berusia 3 bulan Queen jadi lebih sering membantu Ellena di basecamp, karena kedua putra kembarnya suka main di sana, dan basecamp itu tempat yang sangat luas dan enak dijadikan tempat istirahat, King dan Queen juga sudah ada kamar istirahat mereka yang ada di basecamp.
“Cess kok Cuma liatin aja? Sini bantu, biar cepat selesai makan siang kita” Ajak Queen pada adik iparnya itu.
Cessa menggelengkan kepalanya pelan, “bau kak bikin mual, cessa hari ini gak bantu ya” tolak cessa pelan.
“bau?” Queen menatap sayuran yang sedang dia potong, lalu berbalik ada beberapa potong ikan dan sotong di wastafel, kalau awal-awal kehamilan Queen memang tidak bisa mendekati ikan atau bahan makanan laut, tapi sekarang dia sudah lumayan bisa memaklumi bau yang ada. “Ohh ya udah gak apa, tapi jangan liatin kakak gitu, kakak jad grogi” sambung Queen dengan tertawa pelan.
Queen hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik iparnya itu.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...
Cessa sampai di ruang istirahat yang lumayan besar, terdapat banyak sofa dan karpet bulu di sana, Prince, dafa dan Rafa sedang asik bermain game yang ada di ponsel mereka. Karena suasana sudah mulai tenang para pria itu baru bisa menikmati masa remaja mereka.
Jangan tanya karena sudah dewasa, mereka akan melupakan game, semua pria akan suka dengan permainan game, termasuk pria dingin seperti rafa, sudah lama sekali dia tidak memainkan permainan kesukaannya itu.
Rafa tampak bersandar pada singel sofa, tangannya menari lincah di atas ponsel, sangking asiknya bermain dia tidak sadar istri cantiknya sudah ada di sana, dan sedang cemberut karena rafa tidak menyapanya.
Cessa yang kesal masuk di antara sela tangan Rafa, begitu berhasil dia sudah seperti koala yang menempel pada pohon atau anak monyet yang menempel pada induknya.
Rafa mengulum senyum dengan tingkah manja istrinya, dia membiarkan saja cessa yang duduk seperti seekor koala, malah sesekali rafa memberikan kecupan pada pipi dan kening istrinya yang sedang bergelayut manja itu.
“Ya ampun cess, kalau mau mesra-mesraan sana di kamar” tegur dafa yang tidak sengaja melihat ke arah rafa.
“Astagfirullah! Cessa!” pekik prince yang ikutan melihat ke arah rafa, karena ucapan dafa.
“abang berisik!” cessa tidak kalah berteriak, tapi cessa tidak berpindah posisi sedikitpun, dia sendiri tidak tau kenapa dirinya bisa seperti itu, akhir-akhir ini cessa tidak suka berjauhan dengan suaminya, dia bahkan mengekori suaminya ke dalam kamar mandi.
“lama-lama suami kamu itu akan risih liat tingkah mu cess!” amuk prince yang mulai jengah dengan sikap manja adiknya.
Cessa menatap Rafa, “benarkah yang?” tanyanya sendu.
Rafa menggeleng dan memberikan kecupan singkat pada bibir cessa, “tidak akan pernah, jangan percaya dengan prince” ujar rafa lembut, pria itu malah suka dengan sikap manja cessa yang selalu mengikuti dia kemana aja, tidak bisa jauh, dan jika berjauhan cessa akan sibuk menghubungi dirinya.
“Tapi ingat tempat juga mau pelukan cess” tegur dafa.
"udah biar aja, lagian permainan kita gak terganggu kan, lanjut lagi" ujar Rafa.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...
Bonus pict
Hot daddy Rafa, udah bisa gak nih?? jdi daddy??