Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
182. Ngidam



Papi harry memandang wajah putri nya yang sebentar lagi akan jadi seorang ibu, "Cessa kamu siap menjadi seorang ibu?" tanya papi harry.


Cessa yang sedang berbincang pada Queen langsung menolehkan kepalanya menatap papi harry.


"Siap gak siap, cessa harus siap pi, ini udah ada" cessa menunjuk perutnya yang masih rata sambil nyengir, memang benar kata cessa, walau dia gak siap harus siap karena sebentar lagi bayi itu akan lahir, dan dia harus bisa menerimanya.


"Nak, menjadi ibu itu memang anugrah tapi jangan menelantarkan anakmu karena kamu belum siap menerima nya, itu semua adalah konsekuensi dari apa yang telah kamu dan raga lakukan, kalian harus saling mendukung dan menyayangi untuk bisa membesarkan anak-anak kalian" nasehat mami dona.


"iya mi, mohon bimbingan mami, cessa masih belum bisa jadi seperti mami, semoga cessa bisa menjadi seperti mami" ucap cessa tulus.


Rafa menggenggam tangan istrinya itu, "kita bersama-sama belajar dan saling bahu membahu sayang" ucap Rafa pada istrinya.


"Fa, hukuman kamu belum selesai loh" ujar papi harry.


Rafa terbelalak kaget dan menatap papi harry. "masih ada pi?"


"Ohh jangan pikir itu sudah selesai" ucap papi harry dengan tawa nya.


"papi mau kasih hukuman apa lagi kasian suami cessa pi" rengek Cessa pada papinya.


"Gak susah, kalian dihukum tinggal disini sampai anak kalian umur 3 tahun, baru setelah itu kalian boleh hidup di rumah kalian sendiri" ujar papi harry.


Rafa terdiam sebentar lalu dia mengangguk mengerti, "baik pi, tapi bolehkan sesekali Rafa ajak istri bulan madu ke hotel atau luar?" kata Rafa diselingi tawa nya, Rafa sebenarnya lebih suka tinggal bersama keluarga istri nya karena keluarga itu penuh kehangatan dibanding keluarga nya sendiri, di sana Rafa di anggap seperti anak sendiri, tidak ada perbedaan perlakuan yang diberikan papi harry dan mami dona.


"Hahahaha tentu saja boleh, jadi cessa benaran hamil ni? kamu udah cek cess?" kata papi harry.


Cessa mengangguk pelan dan menyembunyikan wajah merahnya dari papi harry, "iya pi, garis dua, artinya positif hamilkan ?" tadi saat dikamar cessa memang menyempatkan memeriksa tentang kehamilannya menggunakan alat yang telah dibelikan asisten rumah tangga nya, dan ternyata hasil nya positif.


...🌜❄❄❄❄🌛...


Pukul 1 malam cessa terbangun dan langsung duduk sambil memegangi perutnya yang terasa lapar dan keroncongan.


"Yang~ sayang~" panggil cessa, gadis itu berusaha membangunkan suaminya yang sudah tidur itu. "Sayang~" panggil cessa sekali lagi tapi sambil menggoyangkan badan Rafa.


"hmmm?" deham Rafa sambil berusaha mendudukkan dirinya di tempat tidur, pria itu merasa sangat lelah karena tadi siang kena hukuman dari papi harry.


Cessa berusaha menahan tawanya melihat Rafa yang seperti anak kecil di bangunkan tidur, mata pria itu masih terpejam dan sepertinya dia sangat kelelahan.


“Capek ya yang?” tanya Cessa dengan lesu.


Rafa langsung membuka matanya dan tersenyum manis pada cessa, “gak sayang, Cuma masih belum terlalu bangun aja, bentar ya, aku cuci muka dulu” rafa tegak sambil mencium bibir cessa dan perut rata cessa, “bentar ya baby, ayah cuci muka dulu” ucap Rafa ada perut cessa.


“kok ayah? Gak daddy?” tanya cessa bingung.


“karena abang King sudah mengambil sebutan itu, jadi kita ambil ayah dan bunda saja ya” kekeh Rafa sambil berlari menuju kamar mandi.


.


Tidak sampai lima menit Rafa telah kembali kehadapan cessa dengan mata yang sudah terbuka sempurna, “Sekarang bunda mau apa?” tanya Rafa lembut.


Cessa memegangi perutnya,”lapar banget, ayah bisa buatkan kue cubit gak? Bunda pengen banget, liur bunda sampai netes membayangkan kue yang masih hangat langsung di santap itu”.


“Hmmm sebentar ya” Rafa mengambil ponselnya dan membuka aplikasi youtube untuk mencari cara membuat kue cubit. “Oke bahannya pasti ada dibawah, mau buat sekarang?” tanya Rafa.


Cessa mengangguk cepat dan merentangkan tangannya pada rafa yang sudah berdiri tegak. “gendong yang” pinta cessa.


“cessa berat ya yang?” lirih cessa saat sudah masuk dalam gendongan rafa.


‘Cup cup’ Rafa dua kali mencium bibir cessa dan tersenyum, “Ayah berharap bunda lebih berat dari sekarang” komentar Rafa dengan jujur.


“nanti kalau bunda gendut, jadi tambah jelek, ayah gak suka lagi sama bunda” lirih cessa dengan wajah sedih.


“Siapa bilang? Orang dimata ayah itu Cuma bunda yang tercantik” puji Rafa.


“Ihhh ayah mah gombal” ucap cessa malu malu.


.


Begitu sampai di dapur rafa segera mencari tepung dan bahan-bahan yang sudah tercatat di dalam kepalanya, dia dengan cepat mengolah bahan-bahan yang dia temukan, untung saja dapur mami dona sangat lengkap, bahkan mami dona punya supermarket pribadi di samping dapurnya, bukan hanya itu, mami dona juga punya ruangan pendingin seperti yang ada di restoran-restoran untuk membekukan bahan mentah dan buah-buahan.


“yang mau dibuat pakai panik aja?” tawar rafa karena dia tidak berhasil menemukan alat pencetak kue cubit.


Cessa menggelengkan kepalanya cepat, “maunya pakai alat mencetaknya” ujar cessa yang sudah mulai terisak.


“iya sayang bentar ya, ayah cari alatnya dulu” ujar Rafa dengan sabar, dia ingat kata papi harry, akan ada saatnya cessa meminta hal yang sangat menyulitkan dan itu terjadi sekarang, mengeluh? Rafa sama sekali tidak mengeluh, malah dia senang bisa memanjakan istri dan anak-anaknya.


“Cepat yang~” desak cessa yang sudah mulai terisak.


“Iya ben_” ucapan rafa terhenti karena kedatangan papi harry dan mami dona.


“loh , papi kira tadi ada maling, suaranya kuar banget, jadi papi dan mami kesini” kekeh papi harry.


“Pi! Sini pi duduk” cessa menepuk bangku disebelahnya. Papi harry sedikit bingung dengan tingkah manja putrinya karena itu terlihat tidak biasa.


“bawaan bayi pi” ujar Rafa yang membaca kebinguan papi harry.


Papi harry mengangguk mengerti dia lalu duduk disamping putrinya, dan langsung dipeluk oleh cessa.


“Buat apa fa?” tanya mami dona yang duduk disebelah cessa.


Rafa menghentikan pergerakkannya dan berbalik melihat mertuanya itu, “mam alat pencetak kue cubit ada gak ya?” tanya rafa.


“Ohh itu letaknya paling ujung, cessa sedang ngidam ya?” tanya mami dona lagi.


“Lapar tiba-tiba mam, dan pengen makan kue cubit setengah masak pakai meses warna warni” ucap cessa sambil meneguk salivanya membayangkan kue yang sedang rafa buatkan.


Rafa terdiam mendengar ucapan cessa, dan dia melirik meses yang dia ambil hanya ada meses coklat saja, “mam ada meses warna warni?” tanya rafa.


“Ada sana cari tempat kamu cari bahan-bahan tadi” ucap mami dona.


“waahhh mami memang top, bahan apa aja ada” puji Rafa.


“yang~ cepat!” rengek ay.


Dengan terburu-buru rafa mulai memasak pesanan istrinya.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...