
“lebih penting kesehatan mental ketiga anak saya, mereka masih minum ASI, dan masih 1 tahun, jika perginya hanya sebentar tidak pakai menginap mungkin saya dan istri saya bisa, tapi ini 4 hari termasuk jalan pulang pergi nya, kami tidak bisa meninggalkan anak kami selama itu” jawab rafa tanpa rasa takut sedikitpun.
Perdebatan Rafa sedikit menjadi tontonan public karena pria itu berani menjawab kakak seniornya. “Ada apa ini?” tanya pemimpin mahasiswa di sana.
“Will, anak ini terlalu sombong dan membuat aturan sendiri” ujar senior itu.
“aturan seperti apa memangnya?” tanya William pada pria yang berdebat dengan Rafa.
“dia membantuk 12 orang dalam kelompoknya dan seenaknya bilang tidak bisa ikut dalam acara kemping kita” pria itu memandang rafa dengan wajah marah.
“Begini saja kak, saya dan istri saya tidak ikut dalam acara ini, jadi kelompok ini tetap 10 orang, saya benar-benar tidak bisa ikut” ucap rafa dengan nada sopan.
“kamu tau ini acara penting? Wajib bagi anak baru untuk ikut?” tanya wiliam.
Rafa menganggukkan kepalanya pelan. “untuk mengakrabkan dirikan? Saya merasa ini tidak terlalu penting, bagi saya yang sudah menikah dan mempunyai anak acara ini hanya acara anak-anak untuk mencari pasangan, saya tidak perlu mengakrabkan diri, saya sudah punya istri” balas Rafa.
Wiliam memandang Cessa yang terlihat sangat cantik, saat pertama kali melihat gadis itu willam sedikit tertarik, tapi setelah mengetahui jika cessa sudah menikah dia langsung mundur, tidak mau mengganggu hubungan orang lain, “istri kamu saja yang pergi, bukankah dia yang menyusui, kamu tidak bukan” putus William.
“sayang sekali, walau istri saya yang menyusui, putri saya tidak bisa jauh walau itu untuk satu hari saja, dia sedikit istimewa jika terlalu lama menangis maka kami semua harus kewalahan karena putri saya akan masuk rumah sakit, jadi saya juga tidak bisa” tolak Rafa dengan halus.
“Kamu tau tidak ikut dalam acara ini akan dikenakan denda?” ancam William, memang dendanya tidak besar, tapi dia berpikir anak seusia Rafa masih meminta uang dari orang tuanya, dan mereka pasti kesusahan untuk membayar denda. Universitas mereka terkenal dengan mahasiwa dan mahasiswi yang pintar dan paling banyak mendapat beasiswa, jadi William merasa rafa salah satunya.
Rafa sedikit tertawa, lalu menghentikan tawanya. “Jadi hanya karena itu ? berapa dendanya? Saya akan membayarnya” jawab Rafa. Rafa mulai mengeluarkan dompetnya yang terlihat tipis karena memang rafa tidak suka memegang uang cash terlalu banyak.
William yang melihat itu menahan tawanya, “katamu kecil? Dendanya satu juta satu orang, apa kamu sanggup membayarnya?” tantang William, sebenarnya pria itu berbohong, tidak mungkin denda itu sampai 1 juta, karena sebenarnya hanya 100 ribu satu orang.
“Ahhh aku tidak punya cash sebanyak itu, kamu ada sayang?” tanya Rafa.
Cessa menggelengkan kepala, hanya tiga ratus ribu yang ada” jawab cessa.
William kini tertawa keras, “tidak punya uang malah sombong! Sudah jangan berlagak lagi, kau harus datang dalam acara ini”
“aku bilang tidak punya cash, bukan tidak punya uang, haruskah aku bayar sekarang?” balas rafa, pria itu sedikit tertantang.
“Ya harus sekarang tidak bisa nanti” tantang William sekali lagi.
“oke” dengan santainya Rafa mengeluarkan ponselnya dari saku celana, “bisa transfer? Atau harus cash tunai?” tanya rafa sebelum menghubungi Xelo.
“Cash sekarang uangnya harus ada” William Kembali menantang Rafa, dia yakin Rafa hanya berpura-pura seperti orang yang mempunyai uang.
“halo, kenapa fa?” suara xelo terdengar dari panggilan yang baru saja rafa lakukan.
“untuk apa? Kau bisa menggunakan atm bukan” keluh Xelo.
“aku tidak bisa ikut acara kemping di kampus dan harus membayar denda 1 juta per orang agar aku bisa dapat izin untuk tidak ikut, harus dibayar sekarang, jadi cepat kesini” perintah rafa lagi.
“Oke, 1 juta kan? Akan segera aku antar secepatnya” ucap Xelo bersemangat.
“uangnya sedang dalam perjalanan” ucap rafa pada William.
William tersenyum mengejek, “kau anak orang kaya rupanya, tidak mau menjadi beban bagi keluargamu, mengeluarkan uang 2 juta seperti beli kacang saja” sindir William. “ahhh kamu kan sudah punya istri, masih meminta dari orang tua, kasian istri dan anakmu ya jadi pengemis meminta pada mertua” tambah William lagi.
Rafa hanya tersenyum tidak menjawab apapun, begitu juga dengan cessa, dia tidak peduli dengan sindiran orang tentang suaminya, asal mereka tau uang rafa terus mengalir walau dia berhenti bekerja karena semua alat ciptaannya masih terus digunakan, oleh orang-orang.
Ciptaan rafa itu seperti warisan untuk ketiga anaknya, hanya diam saja maka uang akan terus mengalir, belum lagi sekarang rafa mulai membuat makalah ilmiah dan melakukan penelitian obat-obatan dibayar 2 milyar untuk satu obat ciptaannya.
“Princessa kamu tidak malu punya suami seperti ini?” tunjuk William pada rafa karena cessa dan rafa diam saja tidak membalas ucapan William.
“Urusan rumah tanggaku cukup aku dan suami yang tau, mau menjadi pengemis, atau pembantu itu adalah hakku untuk memilih, malu seperti apa yang kakak maksud? Kakak belum tau tadi suami ku bicara dengan siapa? Bisa saja itu adalah asistennya, jangan cepat mengambil kesimpulan, dan berbicara asal, karena nanti akan menyesali ucapan yang keluar dari mulut kita” cessa memandang Mila pada kalimat akhirnya.
.
Sekitar sepuluh menit kemudian uang yang di tunggu-tunggu rafa datang, Xelo mengantar melalui jasa anak buahnya, bisa bahaya jika Xelo yang mengantar uang itu, bisa ketahuan atasan Xelo adalah Rafa.
“Kak ini uangnya 3 juta rupiah, aku, istriku dan Ellena sahabatnya tidak ikut dalam acara kemping kali ini” ucap rafa sambil menyodorkan uang pada William.
Tadi Xelo berpesan untuk Ellena juga tidak ikut, makanya Xelo terlihat bersemangat begitu rafa mengatakan denda 1 juta per orang untuk yang tidak mau ikut.
William sedikit mengernyitkan kening, kenapa bertambah satu orang lagi, dan ini gadis cantik kedua incaran William.
“Ellena sudah menikah dan suaminya tidak mau dia ikut juga” ucap Rafa menjawab kebingungan William.
William geleng-geleng kepala, “ada ada saja pergaulan anak sekarang menikah di usia muda emang pernikahan itu mainan apa? Atau MBA hahahha” ucapan William membuat semua orang yang mendengar tertawa menghina cessa, ellena dan Rafa.
“Mau MBA atau gak itu bukan urusan kalian, istriku memang hamil di usia yang masih muda tapi kami sudah menikah beberapa bulan baru sitriku hamil, ahh kenapa aku harus menjelaskan ini, tidak ada gunanya menjelaskan pada orang seperti kalian” ujar rafa, nadanya halus tapi sangat menyindir mereka semua.
“ya sudah sana pergi” usir William.
“baik terima kasih” rafa menunjukkan hormatnya sekilas lalu berbalik pergi.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...