Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
62. Menuju Hotel



"Dafa!" panggil Rafa pada sahabat nya itu.


Dafa yang dipanggil mendekati Rafa karena tangan Rafa yang mengartikan untuk Dafa mendekatinya.


'Buk' satu tinjuan mendarat pada Dafa tidak terlalu kuat tapi mampu membuat pria itu kesakitan.


"Lo kenapa fa? kok mukul gue?" pekik Dafa kebingungan.


Rafa hanya diam dan duduk di meja makan.


"Sumpah gue heran sama beruang kutub ni! kok gue jadi samsak!" gerutu Dafa. dia duduk dengan kesal ke kursinya lagi.


Sedangkan Rafa hanya diam sambil mengoleskan selai ke dalam rotinya.


"mana cessa?" tanya prince.


Rafa menatap sekilas siapa yang bertanya baru menjawab pertanyaan itu, "kamar, masih mandi" jawab pria itu singkat.


Tidak lama Rafa mengatakan itu turun Gavin, revi dan cessa secara serentak di tangga, gavin terus menatap cessa yang terlihat cantik pagi itu, membuat emosi Rafa semakin memuncak.


"Fa, mau di masakkan apa?" tanya cessa lembut, begitu gadis itu sudah duduk di sebelah Rafa.


"Makan apa yang ada aja" jawab Rafa singkat, emosi pria itu masih belum bisa hilang.


Cessa jadi sedikit sedih melihat Rafa yang seperti itu, jantung gadis itu terasa di remas, ini memang kesalahan nya, karena tidak memberikan hak Rafa padahal dia sudah menawarkan pada pria itu.


"Cess, bisa gak masakkan aku nasi goreng kamu yang kemarin, aku suka banget masakan kamu" Gavin tiba-tiba bersuara dan berbicara hanya pada Cessa.


Kening Rafa makin berkerut, "lo punya istri minta sana sama istri lo, istri gue itu bukan pembantu lo!" ucap Rafa sinis.


"Gu-gue gak bisa masak, cessa kan adik ipar, harusnya mau dong masakin buat abang iparnya" ucap revi.


Rafa mendengus, "seperti itu mau jadi istri gue! pergi sana kelaut, jangan pernah bermimpi jadi istri gue" ketus Rafa, mungkin karena emosinya pria itu berbicara sedikit banyak dan terdengar ketus dan jutek.


"gu-gue anak orang kaya Rafa, kan ada pembantu yang bisa memasak dan membersihkan rumah, kenapa gue harus susah-susah buat tangan gue hancur aja, apa gunanya gue punya uang banyak" bantah Refi.


"Kalau gitu suami lo di ambil pembantu lo gak boleh marah ref, soalnya lo aja gak bisa melayani suami lo" celetuk Defi kesal.


"Udah gak usah berdebat, gue males bicara hal yang seperti ini, kalau gak bisa ya udah, seharusnya kalian itu berterima kasih pada gue, ini adalah villa milik gue, dan kalian disini numpang, semua warisan keluarga akan jatuh ke tangan gue, lo harus nya sadar Raf! lo cuma beban bagi papa dan mama" sindir Gavin, pria itu tegak dan meninggalkan ruang makan.


"Cess rapikan semua baju kamu sekarang juga!" ucap ketus Rafa. pria itu kembali kekamar tanpa menyentuh roti yang sudah dia beri selai.


"ma-mau kemana?!" tanya cessa, gadis itu sudah berlari mengikuti Rafa yang berjalan menuju kamar mereka berdua.


"Hotel!" jawab ketus Rafa, "jika kalian masih tetap mau disini silahkan, tapi jika ingin ikut cepat bereskan barang kalian" ucap Rafa lagi sebelum dia benar-benar melangkah menuju tangga.


...🌜🌩🌩🌩🌩🌛...


"Fa, kita gak bilang mama dan papa kalau kita pergi ke hotel?" tanya cessa dengan lembut.


"Nanti pas di hotel" jawab ketus Rafa.


Cessa hanya bisa diam dan membereskan barang-barangnya. Dia tau emosi suaminya sedang memuncak, mungkin juga karena masalah tadi.


"Sudah siap?" tanya Rafa.


Cessa hanya menjawab dengan mengangguk pelan.


Rafa menarik nafas panjang lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukannya, "Maaf ya aku dari tadi ngomong kasar" ucap Rafa lembut, dia mengelus kepala dan punggung cessa.


Cessa mengangguk dan membalas pelukan Rafa. "Jangan marah-marah sama cessa" lirih gadis itu.


Rafa tersenyum, "gak marah, cuma sedikit kesal ada yang tertunda" kekeh Rafa.


"Siapa duluan yang ngajak dan memberikan lampu hijau, bahaya loh jika aku melampiaskan pada orang lain" ucap Rafa.


"Gak boleh!" bantah cessa cepat.


"makanya jangan menolak terus sayang, wanita bisa menahannya tapi pria tidak bisa menahan lebih lama jika sudah di beri lampu hijau" ucap Rafa.


"Emang kamu udah gak tahan lagi?" tanya cessa sambil menatap wajah suaminya itu.


"awalnya bisa bertahan, tapi karena kemarin aku sudah tidak tahan lagi sayang, aku janji gak bakalan sakit" ucap Rafa sambil memberikan kecupan pada daun telinga cessa dan pipi gadis itu.


"ya udah boleh, tapi kamu harus janji satu hal padaku" ucap cessa.


"janji apa?" tanya Rafa cepat.


"Gak boleh liat wanita lain, dan gak boleh melampiaskan hasrat kamu sama orang lain" ucap cessa.


Rafa tersenyum sambil mengangguk, "aku punya istri kenapa harus melampiaskan kepada orang lain" kekeh Rafa.


"jadi kita perginya?" tanya cessa masih dalam pelukan Rafa.


"Jadi, aku tidak ingin istri ku di remehkan, dia pikir aku tidak sanggup membiayai liburan ini tanpa orang tuaku, aku hanya menghargai ajakan orang tuaku, tapi kalau dia menganggap istriku harus menjadi pembantu nya untuk tinggal di vila ini maka kita akan pergi, kamu terlalu berharga untuk di anggap pembantu oleh mereka" ucap Rafa.


.


30 menit kemudian Rafa, cessa dan teman-temannya sudah berada di depan vila menunggu taxi yang mereka pesan untuk mencari vila atau hotel yang ada disana.


"Mau ke hotel mana fa?" tanya dafa.


Rafa diam dia masih kesal pada dafa, jadi dia tidak mau menjawab ucapan dafa.


"Cess bisa tanya in rafa dong" ucap dafa, dia tau Rafa sedang kesal tapi dia tidak tau Rafa marah karena apa.


Cessa menggenggam tangan Rafa dengan lembut, "kita kemana?" tanya cessa.


"kita ke hotel dan mereka ke vila yang sudah di sewa bang xelo" jawab Rafa sambil melihat ponselnya.


"kok pisah?" tanya cessa kebingungan.


"kamu belum selesai urusan yang tadi pagi sayang" jawab Rafa sambil mengedipkan matanya pada istrinya itu.


"Urusan apa fa?" tanya prince.


"Urusan suami istri kalau di ranjang, berkat seseorang gue gagal dapat buah duren gue" jawab Rafa.


Dafa langsung menutup mulutnya, sekarang dia tau kenapa Rafa marah padanya. dia telah mengganggu Rafa dan cessa di tempat tidur.


"Fa sorry" ucap Dafa pelan.


Rafa melirik sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya, "tunggu gue dapat jatah baru gue maafkan" jawab Rafa ketus.


Cessa hanya bisa menunduk malu, sekarang semua teman-temannya tau apa yang sudah dia lakukan dengan Rafa di dalam kamar.


Tidak lama kemudian datang 2 buah taxi online yang dipesan Rafa.


"Tolong jangan ganggu waktu gue berdua dengan istri gue Dafa" peringat Rafa sebelum dia masuk kedalam taxi.


Dafa terkekeh pelan bersama Prince, "oke" jawab dafa cepat.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...