
“Wahh ternyata bangunan ini sangat megah dan besar, kamu hebat nak, masih muda sudah punya bangunan sebesar ini” puji papi harri begitu dia duduk di ruang santai yang ada di basecamp itu. Saat ini, Rafa, King, Xelo, Fajri dan papi harry sedang bersantai di ruang istirahat sementara itu prince dan yang lain sibuk berlatih karena mereka akan memasuki final sebentar lagi.
“makasih pi” ucap Rafa dengan sopan.
“ini kamu yang desain bangunan dan jadi arsiteknya nak? Atau kamu minta tolong papa kamu untuk buatkan?” tanya papi harri penasaran.
Rafa menggelengkan kepalanya, “sampai sekarang papa belum tau kalau Rafa lah pemilik perusahaan yang sering membantu papa, dan ini bukan rafa yang buat pi, Rafa Cuma bisa buat alat-alat sama program, kalau soal desain dan arsitek bukan rafa, ada anak berbakat dari panti yang membuatkan ini untuk Rafa” jelas Rafa sedikit panjang.
“Wahh kenapa kamu gak belajar ilmu desain dan bangunan dari papa kamu?” ucap papi harri.
“Aduh om, jangan deh, kalau rafa udah menjelajahi dunia desain mendesain bisa gulung tikar papa ali nanti” kekeh Xelo.
“loh kok gitu?” seru papi harri.
“Om gak tau ni anak kalau udah fokus sama satu hal dia bakal mengusainya lebih dari kita, dia” Xelo menunjuk rafa, “menantu om ini, kemarin penasaran dengan ilmu kedokteran dan cara kerja alat-alatnya, om tau apa yang dia lakukan, rafa mempelajari semua tentang medis hanya dalam 2 tahun hanya menggunakan buku setelah itu dia menciptakan beberapa alat Kesehatan dan sekarang sudah dibeli beberapa hak pakai nya oleh pihak luar negri, bisa bahaya jika menantu om ini serius di bidang yang sama dengan papa ali” sambung Xelo lagi.
“hahahha ada-ada saja kamu ini xelo” tawa papi harri mulai terdengar, rafa yang dibicarakan hanya tersenyum sopan. “jadi kamu sudah menciptakan alat-alat Kesehatan rafa?” tambah papa harri lagi.
Rafa menganggukkan kepalanya, “iya pi, lumayan iseng-iseng dan uangnya bisa rafa tabung buat masa depan cessa dan rafa” jawab rafa.
”wahhh hebat-hebat, king! Liat ni mantu papi hebat kan” puji papi harri dengan senang.
“Bukan hanya itu om” Fajri juga ikut nimbrung, “program rafa yang untuk mendeteksi keberadaan orang itu sangat hebat, fajri sampai kagum sekali dengan menantu oom ini” Fajri yang ikut merasakan kepintaran dari rafa juga ikut memuji menantu papi harri itu. “Kenapa kamu gak memberitahu tentang program ciptaanmu yang dapat mendeteksi orang itu fa? Pihak kepolisian akan mudah menemukan orang-orang yang hilang dan para buronan”
“Ahh? Hahahha” Rafa tersenyum canggung, “Gak mau aja, rafa gak terlalu membutuhkan uang, dan rafa juga tidak suka berurusan dengan kepolisian atau pemerintahan, cukup keluarga saja yang tau” jelas rafa. Dia tau dunia bisa gempar jika dia memperkenalkan program pelacak orang yang dia ciptakan, dan rafa tidak mau apapun terjadi pada keluarga barunya, makanya rafa tidak mau terlalu cepat dalam mengembangkan usahanya, cukup seperti sekarang berjalan datar tanpa ada penurunan. Dulu dia memang sengaja buru-buru dalam mengejar ketinggalannya dari papa ali dan gavin, tapi sekarang setelah dia mengalahkan papa ali dia tidak ingin buru-buru lagi.
“Papi juga setuju, bisa bahaya jika Rafa memberitahu pihak luar” tambah papi harri setuju.
“Fajri ingat jangan memberitahu kepada orang lain, aku tidak mau adik ipar ku kenapa-napa” ancam king pada Fajri.
“sipp beres” ucap fajri.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
Sementara pihak papi harri sedang berbincang, Juli yang berada di tim pelatihan terus saja kalah dalam bermain game.
‘YOU LOSE’ sudah 3 kali juli kalah dalam battle 1 vs 1 dengan pemain dari tim lain.
“Aaahhh” keluh Juli dia memukul mukul kepalanya menyalahkan dirinya atas kekalahan yang sudah 3 kali berturut-turut dia dapatkan.
“Stop!” Prince menahan tangan juli yang memukul-mukul kepalanya sendiri, “ini bukan kesalahanmu, tidak ada yang bisa menang jika pikiranmu tidak ada disini, sana bantuin mami” ujar prince sambil mengelus jidat juli yang tadi dia pukul.
“tapi__”
“gak ada tapi-tapian, bilang aja aku yang suruh, kamu akan semakin terpuruk jika kalah lebih dari ini sayang” potong prince.
“Tapi prince mami yang minta aku disini” kata Juli lesu.
“makanya bilang aku yang suruh, sana pergi, atau aku gendong dan bawa kehadapan mami?!” ancam prince.
Juli segera tegak dari kursinya.
“bagus, sana pergi, Cuma sehari gak Latihan gak masalah, aku tidak ingin menghancurkan rasa percaya dirimu, jika kamu tetap bermain maka kamu akan kembali kalah” kata prince.
.
Mami dona, dan para wanita lain tampak tertawa kecil karena berbincang-bincang.
“mi, juli boleh ya bantuin” ujar juli mengagetkan mereka semua.
“loh kok disini, kan mami udah suruh Latihan sana” ucap mami dona dengan lembut.
Juli menggelengkan kepalanya, “juli diusir mam, gara-gara juli gak fokus, jadi juli kalah terus, juli gak enak semuanya sedang memasak tapi juli malah main-main, lagian Cuma sehari aja bolos Latihan, boleh ya mam” pinta juli dengan mata berbinar memohon.
“Ya sudah sini bantuin mami” ajak mami dona, “prince ya yang usir kamu?” tanya mami dona.
“Ahh i-itu…” juli tidak tau mau menjawab apa, tapi yang pasti dia tidak mau tunangannya itu disalahkan.
“Udah gak usah takut nanti mami cubit perut ratanya itu” kekeh mami dona.
“emang bisa mam? Kan rata” ledek Cessa.
“Bisa di pinggangnya” mami dona berkata sambil menaik turunkan alisnya.
Queen geleng-geleng kepala dibuat mami dona. “WUue__” Queen langsung menutup mulutnya saat cessa tidak sengaja berjalan disebelahnya dengan satu ember udang yang mau dia kupas. “wuuee_” sekali lagi queen ingin muntah mencium bau amis dari udang itu, dia berlari menuju kamar mandi dan membuang semua yang ingin dia muntahkan disana.
“lohh kak Queen kenapa mam, lagi sakit?” tanya cessa, dia masih belum diberi kabar tentang kehamilan Queen.
“hmm cess, bisa tolong cepat kamu bersihkan udang itu dan siapa yang bisa tolong buatkan lemon tea untuk kak queen?” mami menatap satu persatu wanita yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
“Ellen aja mi, ellen bisa” jawab ellen, kebetulan dia ada lihat topples lemon berisi madu didalam kulkas.
“tolong buatkan ya ellen” ujar mami dona lembut sambil tersenyum.
“baik mi” jawab Ellen, gadis itu sangat suka dengan senyum mami dona, senyum itu mengingatkan dirinya dengan almarhum ibunya.
“Mi, udang nya masih belum selesai dibersihkan?” tanya Queen dari jauh.
“bentar sayang, cessa udah nak?” tanya mami dona.
“bentar mi ini cessa buru-buru bersihkan” ujar cessa cepat.
“emang kak queen kenapa mi? kok kak Queen muntah-muntah karena liat udang?” tanya devi penasaran.
Mami dona menatap wajah anak-anaknya satu persatu lalu tertawa pelan, “kakak kalian sedang hamil, jadi hidungnya sensitive dengan bau-bau seperti itu” ungkap mami dona.
“HAH! HAMIL?!” pekik semua anak-anak mami minus Queen.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...
jangan lupa like, vote dan hadiah nya ya, biar author sangat ngetiknya.
Terima kasih 😘💕😘💕😘💕