Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
120.Sindiran



Setelah memuji cessa bibi IRT itu langsung melirik pada Revi yang sedang mencuci sayuran.


"A-anu nonton Revi bibi boleh ngomong sesuatu gak?" tanya bibi itu karena merasa sudah mulai diterima dalam obrolan keluarga itu.


Revi tersenyum, membayangkan bibi itu juga akan memujinya sebentar lagi.


"ya bi, mau ngomong apa, bilang aja" Ucap Revi dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Anu non bisa gak kalau di rumah pakai bajunya yang tertutup dikit aja, bibi risih non itu liat tombol non nampak, disini banyak karyawan laki-laki non, bisa-bisa mereka khilaf kalau liat nona pakai baju sexy begitu, emang non gak bawa baju banyak ya dari rumah, nanti bibi pinjamkan deh baju rumahan bibi" ucap bi siti dengan polosnya.


Mama Reta, Rafa dan cessa sama-sama mengulum senyum mereka menahan tawa mendengar ucapan polos yang keluar dari bibir pembantunya.


"i-iya bi" jawab Revi asal sambil memalingkan muka menahan malu.


"non gak marahkan sama bibi, kayak non cessa aja juga bagus kok non, pakai dress rumahan cukup santai tapi tetap berkelas" ujar bi Siti lagi.


"Jadi maksudnya gue gak berkelas gitu?" batin Revi geram.


"Gak kok bi" jawab Revi lagi, masih tidak mau menatap wajah bi Siti.


"Jangan marah ya non, bibi cuma mewakilkan para karyawan yang ada disini, nanti kan jika ada sesuatu yang terjadi pada non tetap karyawan yang disalahkan padahal non Revi yang memancing kejahatan" ucap bi siti sangat polos sangking polosnya dia tidak sadar Revi sudah mengepalkan tangan geram.


"Dengar tu Vi, bibi aja sampai nyampaikan aspirasi, bahaya loh, bukannya penambang berlian yang di dapat malah pencuri berlian yang di dapat karena terlalu mengumbar tubuh kamu" sindir Cessa dengan cara halus.


"Kamu kok bisa pintar banget masak sih sayang" mama mengalihkan topik agar Revi tidak terlalu merasa malu, dia bukannya tidak mau menegur menantunya itu, dia tau Revi masih kecil dia ingin suami Revi yang menyadarkan Revi. Dia juga tidak mau menjadi mertua yang menyeramkan.


"iya nyonya masakan non cessa super duper enak" puji bi Siti dan beberapa pembantu lain juga mengangguk kan kepala mereka.


"loh bibi juga rasa?" seru mama Reta.


Bi Siti mengangguk antusias, "rasa dong nyonya orang non cessa iti buatnya buannyakk banget, kami para karyawan dapat walau dikit soalnya biar semua kebagian, tapi yang ada banyak yang merasa kurang, karena super enak nyonya" puji bi Siti sekali lagi.


"Bibi bisa aja muji berlebihan banget sih" kekeh cessa.


"Aduh non itu benar-benar tulus dari hati bibi, non percaya deh, masakan buatan non itu sangat enak" puji bi Siti kembali.


"aduh senang banget mama dengar nya, siapa sih yang ajarin sayang?" tanya mama Reta.


Cessa menunjukkan senyumnya kembali pada mama Reta, "kata mami, kita harus kuasai perut suami kita biar gak jajan keluar ma, makanya cessa belajar masak biar biasa menguasai perut suami cessa" jawab cessa dengan nada lembut.


"Benar banget itu non cessa! bibi sering dengar kalau gak mau suami lari harus kuasai perutnya, jadi kalau dia mau makan diluar dia selalu teringat rumah" seru bi Siti setuju dengan ucapan cessa.


"Kuasai perut kalau gak kuasai ranjang, suami juga bakal lari" sindir Revi, dia masih tidak mau dianggap kalah dari cessa.


Cessa menatap Revi sekilas lalu tersenyum ketika mata mereka bertatapan, "Siapa bilang suami aku gak puas dengan servis di ranjang, liat aja sekarang suami aku sampai gak mau lepas dari aku, mau soal makanan atau soal ranjang itu sudah aku kuasai semua, kamu tenang aja anak-anak papi hari semuanya cepat tanggap dalam belajar" jawab cessa dengan senyum lebarnya.


"Iya itu non Revi, bibi sampai iri Tuan Muda Rafa terus ngikutin non cessa kemanapun non cessa pergi, bibi jadi pengen suami bibi kayak tuan muda Rafa, kalau kata anak muda itu soo sweet" bi Siti ikutan menambahkan ucapan Cessa.


"Benarkah? Rafa terus ngikutin kamu?" tanya mama Reta dengan senyum jenakanya, dia melirik putranya itu yang sekarang sedang berpura-pura sibuk bermain game tidak mendengar apapun.


"iya atuh nyonya! tadi pagi aja ya non cessa masak tuan muda sampai masuk ke dapur buat liatin non cessa masak, malah tuan muda mau bantu tapi non cessa larang" adu bi Siti pada nyonya rumah itu.


Mama Reta menutup mulutnya menyembunyikan tawa bahagia wanita itu, "ya ampun mama sampai gak bisa bayangkan bagaimana Rafa yang selalu mengikuti kamu" kekeh mama Reta. "Rafa jadi seperti suami-suami takut istri" lanjut mama Reta lagi dengan tawa pelannya.


bi Siti juga ikut tertawa, tapi tawa mereka terhenti karena sindiran Revi untuk cessa.


"Harusnya cowok itu punya harga, bukannya seperti ini, takut huh, memalukan" sindir Revi lagi.


Mama Reta kini menatap Revi dengan wajah sendu, "Takut itu ada dua arti Vi, pertama takut karena sangat sayang jadi takut kehilangan yang kedua takut karena menyeramkan, dan yang mama maksud itu adalah takut yang pertama, itu bukan berarti harga diri suami jatuh" mama Reta yang sudah tidak dapat menahan diri lagi akhirnya memberi nasehat pada Revi. "justru harga diri suami bakal jatuh jika istrinya dibiarkan untuk mempertontonkan aurat nya di mana-mana" tambah mama Reta.


Revi menunduk mendengar ucapan mama Reta.


"Ma, ini udah siap, tugas Revi udah selesaikan?" Revi ingin segera pergi dari sana, karena mama mertuanya telah ikut menyindir dirinya.


"Sana ganti baju dulu, setelah itu baru kamu kesini lagi" perintah mama Reta.


"tapi ma, Revi gak bisa motong-motong apa lagi masak, nanti gak enak ma" elak Revi.


"Cepat aja sana ganti baju, mama yang ajarin kamu masak, kapan lagi kamu belajar kalau bilang gak bisa terus, nanti suami kamu lari liat istri gak bisa apa-apa" sebenarnya mama Reta gak mau menjadi mertua yang galak apa lagi bagi para menantunya yang masih pada muda-muda, dia tau anak muda itu gengsinya besar, tapi melihat Revi yang seperti itu mama Reta gak bisa menahan diri lagi, dia memang harus jadi mertua yang tegas.


"Baik ma" jawab Revi pasrah, dia berjalan pelan menuju kamar pribadinya.


"Nyonya keren, emang gitu nyonya harus tegas sama menantu seperti itu, tadi saya kasih tau gak gerak-gerak buat ganti baju" puji bi Siti.


"Udah bi, jangan disindir terus nanti anaknya ngambek lari dari rumah habis itu orang tuanya datang kesini marah-marah, jadi mama yang salah" ujar cessa.


"Gak apa lah non, sesekali aja, soalnya bibi udah geram banget non" bibi memperagakan seperti meremas sesuatu sangking geramnya


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...