Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
214. Pecah Ketuban



Dua minggu lebih prince dan Juli liburan dan sekarang mereka berdua pulang ke kediaman bagaskara.


Kedatangan pasangan suami istri itu disambut baik oleh keluarga besar Bagaskara, mereka berkumpul dan berencana akan mengadakan barbeque pada malam harinya.


“Abang, pesanan cessa mana?” cessa menengadahkan tangannya, ibu hamil besar itu sedang duduk di kursi roda sambil tersenyum senang.


“ya elah dek, ingat aja” prince geleng-geleng kepala tapi dia tetap mengeluargan kotak berisikan tas untuk cessa dari dalam kopernya. “Sumpah harga tas lo lebih mahal dari uang yang suami lo kasih” gerutu prince.


Cessa mengambil kotak itu dengan cepat, “salah sendiri kenapa mau bulan madu mendului cessa” ledek cessa sambil menjulurkan lidahnya pada Prince.


“Awas aja gue minta gantinya sama suami lo” ancam Prince.


“Coba aja kalau berani, cessa punya ini, bisa membuat suami cessa melakukan apapun” cessa nyengir sambil menunjuk pada perutnya yang besar.


Rafa yang dibicarakan hanya tertawa melihat pertengkaran kedua saudara kembar itu.


“Dek, kamu pipis dicelana ya?” prince yang sejak tadi melihat cessa di tempat duduk gak sengaja melihat ada genangan air yang keluar dari paha cessa.


“Pipis?” cessa melihat ke arah bawah dan memang benar bagian bawahnya basah.


Mami dona, papi harri dan rafa langsung sigap tegak. Rafa langsung mengambil ponselnya menelpon Xelo.


“siaga satu” ucap rafa begitu ponsel terangkat oleh xelo.


Papi harry langsung mendorong kursi roda cessa menuju keluar, sementara mami dona juga berlari mengikuti papi harry.


“Mi, pi, ada apa sih ini?” tanya prince heran kenapa ketiga orang itu sibuk dan cemas.


“Adik kamu mau lahiran! Air ketubannya udah pecah! Queen dan king nanti menyusul membawa pakaian ganti untuk cessa dan rafa ya” pekik mami dari kejauhan.


“lahiran?!” pekik prince dan king tidak percaya.


“Ini belum sembilan bulan kan bang?” tanya Prince mencoba bertanya pada abangnya yang masih terbengong.


King memijat kepalanya berusaha mengingat usia kehamilan adiknya, “8 bulan 3 minggu, yang princess gak apa kan?” king menatap istrinya dengan cemas, memang kelahiran cessa akan dilakukan seminggu lagi, kalau rata-rata ibu hamil biasanya 9 bulan 10 hari, jadi kelahiran anak-anak cessa akan dilakukan tepat kandungannya menginjak 9 bulan, tapi sekarang meleset jauh dari rencana.


“tidak apa serahkan semuanya pada rafa dan papi, aku yakin dua pria itu mampu melindungi cessa” ucap Queen, dia cemas sebenarnya, tapi tidak mungkin menunjukkan kecemasan itu di depan suami dan adik iparnya, kedua pria itu sedang cemas dan kalut saat ini.


Prince saja sampai oleh saat mau berjalan menuju kamar cessa dan rafa, dia harus dipapah oleh juli untuk berjalan.


.


Rafa yang menjalankan mobil dan papi harry duduk disebelahnya, sementara mami dona bersama cessa di kursi penumpang.


“kamu gak apa yang?” tanya Rafa cemas, tangan pria itu bergetar tapi dia berusaha untuk menjaga ke normalan dirinya saat ini.


“Gak terlalu sakit kok” ucap cessa pelan, wanita itu berusaha untuk tersenyum cerah pada Rafa agar suaminya itu tidak cemas.


“kamu yakin bisa bawa mobil?” tanya papi harry.


“Bisa pi, pasang saja sabuk pengaman” perintah Rafa sambil mulai menjalankan mobilnya.


Papi harry sedikit heran melihat jalanan yang sepi dari para pengendara. “Xelo sudah menyingkirkan semua orang pi” Rafa menjawab rasa kebingungan mertuanya itu.


“tadi Rafa telepon dia untuk siaga satu, dan itu artinya semua anak buah yang sudah dipersiapkan sepanjang jalan kita menuju rumah sakit harus langsung mengosongkan jalanan agar tidak ada yang menghalangi jalan kita pi” jawab rafa, dia menjelaskan sambil tetap fokus dengan kecepatan mobil dan kestabilan mobil itu.


“Anak buahmu yang berjaga?” tanya papi harry lagi.


“iya pi mereka sudah berjaga sejak usia kehamilan cessa menginjak 7 bulan” jawab Rafa.


Papi harry menggeleng pelan, tidak menyangka menantunya itu sudah mempersiapkan semuanya, bahkan sejak usia kandungan istrinya menginjak 7 bulan, papi memang melihat orang-orang yang berdiri di pinggir jalan dengan baju biasa, dan tidak menyangka ternyata itu adalah orang-orang yang rafa persiapkan untuk mengosongkan jalanan selama 2 bulan lebih.


Entah berapa banyak anak buah yang pria 18 tahun itu miliki, namun papi harry sangat senang dengan kemampuan yang rafa miliki, tidak banyak pria berusia 18 tahun yang sudah memiliki semuanya, bahkan jika dia tidak bekerja rafa tetap mendapatkan uang dari hak paten dan hak cipta yang dia keluarkan melalui otaknya.


pria itu bahkan mampu membuat para anak jalanan menjadi memiliki tempat untuk berlindung, dan memberikan mereka pekerjaan, hanya memberi tidak akan membuat para anak jalanan berhasil hidup, tapi dengan memberi mereka lapangan pekerjaan itu mampu membuat mereka hidup.


.


Jarak yang harusnya di tempuh dalam waktu setengah jam itu mampu di tempuh rafa hanya dalam waktu 10 menit, Rafa dengan cepat menggendong Cessa dan meletakkan istrinya pada brankar agar dibawa ke UGD.


cessa sedang diperiksa dokter dan sudah ditempatkan diruang operasi, mengingat air ketuban yang sudah pecah operasi harus dilakukan secepatnya.


Tangan Rafa bergetar menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi pada Cessa.


“nak kau harus siap, kau juga harus menemani cessa di dalam” ucap papi harry sambil menepuk bahu Rafa dengan lembut.


Pria itu masih diam tampak normal padahal sebenarnya dia merasa seperti orang gila, ingin rasanya rafa memeluk istrinya memastikan semuanya baik-baik saja tapi dia tidak mampu karena dia bukanlah dokter yang bisa menyelamatkan istrinya dan tuhan yang memberikan kehidupan.


Dalam hati rafa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.


Rafa memasuki ruang operasi dengan badan yang begetar, namun jika orang lain melihatnya, dia tampak seperti orang normal yang tidak merasa cemas sekalipun.


“Operasi akan kita mulai” dokter karin adalah dokter utama yang memimpin operasi, dokter itu tersenyum pada kedua orang calon papi dan mami itu. “kamu siap cessa?” tanya dokter karin lagi.


“Siap dok” jawab cessa sambil terus memegang tangan Rafa.


3 orang dokter sedang membedah perut cessa, sementara cessa dan rafa terus bersalawat mengagungkan nama tuhan yang maha esa.


Cessa tersenyum melihat suaminya terus bersalawat dnegan air mata yang terus mengalir.


“I’m okay” bisik cessa pada Rafa.


Pria itu berusaha tersenyum dan memberikan ciuman pada kening istrinya.


“Apapun yang terjadi bertahan untukku dan jangan pernah berniat untuk meninggalkanku” bisik Rafa sambil memberikan ciuman pada kening cessa.


“Papi cengeng banget” kekeh cessa.


Rafa kembali tersenyum dan memberikan kecupan pada tangan cessa yang memegang tasbih di tangannya.


“Oeeekkk ooeeekkk” Rafa memmelalak kager saat satu bayinya keluar dan menangis keras.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...