
Cessa dan mahasiswa serta mahasiswi yang sedang MOS dibawa masuk ke dalam salah satu kebun milik fakultas pertanian, yang bersebelahan dengan fakultas itu.
“Di sini kalian lihat ada berbagai macam sayuran yang tertanam, kalian tuliskan ke dalam buku catatan, catat jenis sayurannya dan termasuk kedalam jenis apa serta fungsinya, semakin banyak semakin bagus, setelah itu kalian bisa beristirahat” ucap sinta sebagai ketua yang memimpin MOS di jurusan Ahli gizi.
.
Sementara itu di tempat Rafa, pria itu terlihat tdak bersemangat mendengar penjelasan para senior yang menyuruh mereka membawa satu ekor katak besok hari, dan mereka juga harus bersiap untuk uji nyali di tempat penyimpanan mayat, biasa seorang dokter memang harus di berikan didikan yang sangat keras, mereka harus berani melawan takut mereka.
“Sombong banget sih pria yang di sebelah kamu mil” ucap salah satu teman baru Mila.
“aku juga setuju sok ganteng banget, gue sih ogah memuja cowok seperti dia” angguk mila setuju.
Rafa mendengar semua pembicaraan yang diajukan padanya, tapi pria itu masih tetap diam, dia mau semua wanita yang ada disana menganggapnya sombong, jahat dan menyebalkan hingga mereka tidak bisa membuat fans club karena tidak bisa menjilat air ludahnya sendiri.
“Sekian dulu, kalian boleh makan diluar setelah itu kembali lagi pukul 2 siang ya” ucap senior yang berdiri di depan pondium.
“kakak senior itu ganteng banget ya, yuk kita dekati” mila mengajak teman-temannya untuk mendekati senior yang menurut mereka tampan.
.
“Gimana caranya kamu makan cess, kalau masih pakai masker?” tanya salah satu teman cessa.
Saat ini gadis itu duduk di kantin bersama ellena, kepalanya menjelajah kesana kemari mencari suami tampannya.
“SAYANG!” teriakan cessa membuat dia menjadi tontonan para pengunjung kantin. “hehehe maaf” kekeh cessa.
“suami kamu cess?” tanya salah satu temannya.
“yup benar banget” jawab cessa. Rafa sudah duduk disebelahnya dengan telepon yang menggantung di telinganya. “Yang boleh buka kan?” tanya cessa sambil menunjuk masker yang di kenakan.
Rafa tidak mengeluarkan suara hanya mengangguk dan mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. Dengan senang gadis itu membuka masker yang dia kenakan, semua mata yang penasaran dengan wajah cessa langsung melotot, begitu melihat wajah yang tertutupi masker itu terlihat sangat cantik.
“sumpah kamu cantik banget pantas suami kamu suruh pakai masker” puji salah satu teman baru cessa.
“makasih” ujar cessa santai, dia asik menyantap makanannya dengan lahap.
“Suruh mereka berjaga-jaga dulu, sebentar” rafa menjauhkan ponselnya dari telinga, “yang aku pergi bentar ya, ada urusan mendesak” ujar Rafa pada istrinya.
Cessa menjawab hanya dnegan anggukan dirinya terlalu malas menjawab karena mulutnya masih penuh makanan, dan semua yang kedua orang itu lakukan menjadi tontonan satu kantin, karena rafa masih memakai masker.
“hei boleh kita duduk disini?” setelah Rafa pergi Mila dan teman-temannya datang ke meja dimana cessa dan teman-temannya tempati.
“Boleh silahkan” jawab Ellena sedangkan cessa hanya menyahut dengan anggukan, dia tau wanita seperti apa yang akan menjadi musuh dan teman.
“kamu sama-sama bisu seperti suami kamu itu?” sindir Mila, karena kesal sudah dua orang yang bersikap cuek dengannya, dia akui cessa memang cantik dan bakal menjadi saingan dia di kampus untuk mendapatkan perhatian orang-orang.
Cessa menelan makanan dimulutnya dengan cepat, “maaf aku sudah menjawab dengan anggukan bukan? Mulutku sedang penuh makanan, bagaimana bisa aku mengeluarkan suara” balas Cessa sinis.
“Suami gue cuek sama lo ya?” cessa tertawa pelan, dan itu cukup membuat mila serta teman-temannya emosi, “maaf ya, dia memang gak mau bicara dengan orang asing” lanjut cessa.
“Sombong amat, seganteng apapun dia, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu” ucap teman Mila yang bernama Rani.
“Hmm ganteng banget bahkan gue rasa kalian akan langsung jatuh cinta sama suami gue, apa lagi setelah tau dia calon dokter” jawab cessa santai.
“jangan terlalu percaya diri, gue udah biasa menghadapi cowok ganteng, jadi gue gak akan pernah tertarik dengan suami lo! Masih banyak ikan di lautan, bukan hanya suami lo yang tampan” ucap mila dengan penuh percaya diri.
“oohh~” cessa tersenyum sambil angguk angguk kepala, “benarkah? Mungkin itu benar, tapi bagaimana jika kamu mengingkari ucapanmu sendiri, dan juga masih banyak cewek-cewek yang lain” Sindir cessa gadis itu tidak takut sedikitpun menjadi musuh satu kantin karena dia menyinggung semua wanita yang ada di sana.
“Tidak akan, aku adalah perwakilan para wanita disini, kami tidak akan menjadi penggemar suamimu! Dan kami tidak akan menjilat ludah sendiri” ucap salah satu wanita yang memakai almamater universitas.
“benar banget, gue sih ogah dengan pria seperti itu, walau dia tampan dan kaya” tambah Mila.
“Oke deal!” cessa menunjukkan ponselnya yang sudah merekam semua ucapan para mahasiswi di sana. “jangan marah-marah gitu, ntar cantiknya hilang” goda cessa sambil mengedipkan sebelah matanya pada Mila.
Tidak lama perdebatan itu Rafa kembali duduk di dekat cessa, pria itu sedikit bingung karena kini semakin banyak mata yang menatapnya.
“Gak lapar yang?” tanya cessa.
Rafa menggeleng pelan sambil memijat hidung mancungnya.
“Buka aja maskernya makan dulu, biar bertenaga dikit” ucap cessa.
“gak lapar yang” suara rafa membuat hati beberapa wanita bergetar, mendengar suara lembut dan gentle itu membuat mereka semakin penasaran untuk melihat wajah aslinya, tidak mungkinkan pria itu selamanya memakai masker.
“Satu suap aja” bujuk cessa lagi, gadis itu sudah mengangkat sendok untuk mengarah pada suaminya.
Rafa akhirnya mengalah dia membuka maskernya, memakan makanan yang disuapkan istrinya lalu memakai kembali masker yang tadi dia buka.
Cessa tersenyum penuh kemenangan, karena sekarang hampir satu kantin membeku melihat wajah suaminya.
“yang kenapa kita jadi tontonan?” Bisik Rafa, tapi masih bisa terdengar oleh orang-orang yang ada dimeja yang sama dengan rafa.
Cessa mengulum senyum sambil menggelengkan kepala, “Kesambet mungkin? Atau~ lagi mikir gimana cara menjilat ludah sendiri” kata cessa enteng, gadis itu kembali memakan dari sendok yang tadi suaminya pakai.
“sial!” umpat Mila dalam hati, ternyata bukan hanya mila, hampir seluruh wanita disana mengumpat kesal karena menyetujui ucapan mila dan senior itu. Mana mungkin mereka bisa menjilat ludahnya sendiri.
“Mau lagi yang?” tawar cessa lagi.
Rafa menggeleng pelan, “kamu aja, kamu sedang menyusui, harus makan yang banyak” ujar rafa sambil kembali fokus dengan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak sadar, bahwa para wanita yang ada di sana sedang menangis dan menjerit-jerit telah salah berbicara dan berucap.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...