
Cessa memperhatikan suaminya yang tampak serius di depan computer.
“dia lagi serius cess” tegur Xelo, pria itu yakin Rafa tidak bisa di ganggu kalau sedang dalam mode on.
"Iya sih tapi ini sudah hampir malam bang, anak-anak bakalan nyariin kami” ucap Cessa.
“ya udah coba ganggu kalau bisa” kekeh Xelo, karena yakin Rafa tidak akan bisa di ganggu, karena dulu dia sering mencoba dan rafa tidak akan berhenti sebelum pekerjaannya selesai.
Mendapatkan tantangan cessa tersenyum jahil pada Xelo, “Yang~” panggil cessa dengan lembut.
Tangan Rafa yang tadinya sibuk bergerak kesana kemari kini berhenti dan mata pria itu yang tadinya melihat monitor kini menatap cessa, “kenapa yang?” jawab Rafa.
Xelo melotot tidak percaya sementara itu cessa menjulurkan lidah pada Xelo, “udah hampir jam 6 loh, kita pulang yuk, kasian anak-anak nyariin kita nanti” ucap cessa dengan lembut.
Rafa melirik jam, dan memang benar yang dikatakan istrinya, “yang, habis sholat aja gimana? Soalnya ini hampir maghrib, gimana yang?” tanya Rafa balik.
“Ya udah, habis sholat aja” setelah mendengar persetujuan dari cessa rafa cepat-cepat memindahkan pekerjaannya yang baru selesai seperempat ke dalam laptop yang biasa dia kenakan.
**
“nak au!” begitu cessa dan rafa baru memasuki rumah, suara teriakan Quinsya langsung mereka dengar.
Rafa langsung berlari menuju suara putri kecilnya itu.
“Adek, dimakan y aini enak” bujuk mami dona.
“Nak au!” Quinsya masih tetap menutup mulutnya tidak mau makan.
“Dek! Enyak!” Azmi memakan makanannya sendiri, dan tersenyum pada adiknya. Bocah kecil itu berusaha membujuk kembarannya agar mau makan, tapi tetap saja si manja Quinsya merengut kesal dan mendorong makannya.
“enyak dek” Aryan ikutan makan satu suap agar adiknya mau makan.
“Nak au! Uin au pipi!” teriak Quinsya, sepertinya gadis kecil itu ngambek karena papi tersayang belum pulang ke rumah.
“Siapa yang kangen papi!” teriak Rafa dari pintu masuk, pria itu telah kehilangan wibawa jika sudah didepan ketiga anak anak nya.
“uinn!” teriak Quinsya kencang, mami dona sampai geleng-geleng kepala si Quin memang sangat menyayangi Rafa.
“papi mandi dulu ya, quin makan dulu, nanti papi temani oke?” ujar rafa dengan lembut pada putri bungsunya.
Quinsya menunduk dan cemberut, itu pertanda dia tidak mengizinkan papi rafa untuk pergi.
“Quin, papi penuh dengan kotoran, bolehkah papi mandi sebentar saja ?” bujuk Rafa sekali lagi.
“epat pipi!” gerutu gadisnya papi Rafa, gadis kecil itu cemberut sambil melipat kedua tangannya, layaknya seperti bos kecil.
“Oke sweety” Rafa mencium puncak kepala anak-anaknya satu persatu lalu berlari menuju kamar sambil menarik tangan cessa.
“WOww yang mandi sendiri sana” pekik cessa.
“Mandi sama-sama biar cepat yang” ujar rafa dengan senyum jahilnya.
.
Hanya membutuhkan waktu 10 menit rafa dan cessa selesai mandi, jangan tanya mereka bisa melakukan hubungan suami istri atau bukan, karena jawabannya adalah tidak, Quinsya akan mengamuk jika papinya terlalu lama untuk turun ke bawah.
Sekarang saja gadis kecil itu ogah ogahan mengunyah makanannya.
“Quinn~ papi datang” teriak Rafa. Begitu melihat papinya Quinsya dengan cepat mengunyah makanannya dan berceloteh tentang kegiatannya sejak tadi di tinggal Rafa.
Cessa sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah putri kecilnya, untung dia punya 2 kesatria yang selalu berada di pihaknya.
Aryan dan Azmi sama sama menggelengkan kepala, “abang isa cendili mami” jawab Azmi, dan hanya diangguki Arya yang tampak belepotan dengan makanannya.
“Pintarnya kesatria-kesatria mami” puji cessa.
“dedek uga mami!” si kecil mulai protes karena dia tidak dipuji oleh maminya.
“ohh adek juaranya papi” puji Rafa.
“yee~” sorak Quin Bahagia.
Untung saja ketiga anak Rafa dan cessa saling menyayangi dan saling mendukung, tidak ada iri irian karena Rafa dan cessa selalu berusaha memberikan kasih sayang yang sama walau perhatian sedikit lebih besar pada si kecil yang memiliki tubuh sangat lemah.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...
Besok harinya pada waktu yang sudah di tentukan papa Ali dan mama Reta memanggil Gavin untuk datang ke rumah besar mereka, Rafa dan cessa sengaja sembunyi dan Xelo juga sembunyi di dalam mobil.
“Ada apa papa minta gavin kesini?” tanya gavin dengan nada jutek.
Papa ali menatap putra sulungnya yang sudah lama tidak bertemu itu, ada perasaan rindu tapi perasaan marah dan kecewa lebih besar.
“Fajri tolong sampaikan semuanya” perintah papa ali.
Fajri memang ada disana, dia sebagai pihak ketiga dan pengesah bahwa perjanjian yang dibuat terbukti akan dilaksanakan atau akan terjadi konsekuensi yang mengerikan.
“Bapak Gavin, dengan ini Pak Ali dan ibu reta menyerahkan semua hak kekayaannya pada anda dengan syarat anda tidak boleh mengganggu hubungan Rafa dan cessa, yang merupakan putra bungsu dan istrinya, hak yang akan di berikan adalah seluruh asset kekayaan termasuk rumah dan perusahaan milik pak Ali” ungkap Fajri.
Gavin melotot tidak percaya, awalnya dia mendengar papa ali ingin memberikan semua harta kekayaannya pada cucu nya, tapi kini papa ali menyerahkan semua asetnya begitu saja dengan syarat yang terdengar ambigu di telinganya.
“Semua hak ku?” tanya Gavin memastikan.
“ya benar” jawab Fajri dengan sopan.
Gavin terdiam sebentar dan tersenyum senang, “mana yang perlu aku tanda tangani?” tanya gavin. Kepalanya kini terangkat melihat papa ali sekilas, “jangan menyesal telah memberikan hartamu padaku” lanjut gavin lagi.
“disini pak gavin” jawab Fajri.
Gavin telah siap menandatangani semuanya, pria itu langsung tegak dan menatap sinis pada kedua orang tuanya. “pergi kalian sekarang dari rumahku, Ahh satu lagi kembalikan semua hak milikku, semua uang yang kalian gunakan selama ini” sindir Gavin.
Papa ali menggelengkan kepalanya, tidak menyangka putranya akan menjadi semengerikan itu. Sementara itu Rafa meremas tangannya sendiri sangking kesalnya dengan perilaku gavin yang sangat kurang ajar.
“mama reta, serahkan butik mama padaku, karena butik itu dibuat menggunakan uang dari perusahaan milikku” teriak gavin.
“Begini balasanmu pada ibu yang sudah membesarkanmu dengan semua kasih sayangnya? Dia bahkan menomor duakan putra kandungnya! Dan lebih menyayangi putra tiri nya!” rafa tidak sanggup lagi mendengar penghinaan pada mama Reta, dia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
“Ohh ternyata kau juga ada disini? Mau sok menjadi pahlawan?” tanya gavin.
“Apa salahku? Sampai kau membenciku? Aku ini adalah adik mu gavin!” bentak Rafa kesal.
“Salah? Kau masih bertanya apa salahmu? Kesalahanmu hanya satu lahir didunia ini!” pekik Gavin kesal.
“papa sudah memberikan semuanya padamu gavin, jadi jangan mengganggu adikmu lagi” ucap papa Ali.
Gavin menggelengkan kepalanya, “belum, belum semuanya, masih ada satu lagi” pekik Gavin.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Para pembaca sabar ya, kita akan membuat pembalasan yang menyakitkan bagi gavin hingga dia tidak bisa meminta ampun lagi atas karma yang dia buat, terima kasih masih mau menunggu novel ini, tetap tunggu kelanjutannya ya, jangan lupa like, vote, hadiah dan bintang nya