Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
58. Mau belah duren?



"Fa turunin aku ya" pinta cessa lembut.


"Iya bentar" jawab Rafa, dia dengan mudahnya membawa cessa menuju kamar mereka setelah sampai, dengan perlahan pria itu meletakkan cessa di atas kasur mereka.


"Ma-mau apa fa!" Seru cessa saat Rafa hendak membuka sepatunya.


"Bentar aja" Rafa dengan cepat meraih kaki cessa dan membuka sepatu gadis itu. "Tunggu bentar" ucap Rafa lagi, lima menit kemudian Rafa kembali membawa handuk ditangannya.


"Mau apa fa?" tanya cessa panik ketika suami tampannya itu berjongkok di kakinya.


Rafa meletakkan kain yang dibawanya pada kaki cessa, ternyata kain itu sudah Rafa rendam dengan air hangat.


"Fa, aku gak apa kok" ucap cessa pada Rafa yang sedang berjongkok mengompres kaki cesaa dengan kain hangat.


"merah seperti ini masih bilang tidak apa?!" ujar Rafa, pria itu sedikit meninggikan nada suaranya.


Cessa tidak bisa membantah lagi dengan ucapan Rafa, memang apa yang dilakukan Rafa membuat sakit di kakinya mulai menghilang.


"Masih sakit?" kali ini Rafa bertanya dengan nada lembut.


"udah gak terlalu" jawab cessa cepat.


"Sebentar ya" Rafa kembali pergi sambil membawa handuk yang dia gunakan untuk mengompres kaki Cessa. tidak lama pria itu masuk dengan membawa kembali handuk itu beserta ember kecil dan handuk kering.


"Fa, apaan ini?" tanya cessa cemas saat Rafa mau meraih kakinya.


"udah gak apa, aku gak masalah kok" ucap Rafa.


Cessa menahan tangan Rafa yang hendak menyentuh kakinya lagi.


"udah fa gak apa kok, masak suami aku, mijat kaki sih" ucap cessa dengan wajah bersalah nya.


Rafa mengelus tangan cessa yang menahannya, "justru hanya aku suami kamu yang boleh menyentuh kamu seperti ini, biasanya kamu yang bangun pagi untuk masak sarapan, masak makan siang dan makan malam untuk aku, kenapa aku gak bisa cuma memijat kaki istri aku sekarang dia sedang sakit, jadi aku harus mengobatinya dong" ucap Rafa lembut.


"Tapi... " Cessa mulai luluh dia mulai melepaskan tangannya yang menahan tangan Rafa untuk meraih kakinya.


"Gak apa, kamu sudah menuruti semua permintaanku sekarang anggap saja sebagai hadiah dariku untuk kamu" Rafa mulai meraih kaki cessa dan memberikan pijatan kecil pada kaki cessa.


Sementara cessa hanya bisa menatap apa yang dilakukan Rafa untuknya, dia sedikit malu karena merasa kakinya tidak cantik seperti kaki wanita lainnya.


"kaki kamu indah sayang, jangan berpikir yang aneh-aneh" ucap Rafa dengan senyuman khas nya.


"kamu bisa baca isi pikiran aku?" tanya cessa.


"Dari pandanganmu aku tau apa yang kamu pikirkan, jadi jangan coba-coba berbohong pada suami kamu ini" kekeh Rafa.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...


Prince menepuk bahu July yang sedang berbincang berdua Devi.


"Mana cessa dan Rafa?" tanya Prince pada july.


"Sepertinya masuk ke dalam villa, tadi aku melihat Rafa menggendong cessa masuk ke dalam villa" jelas july.


Saat Prince berbalik hendak pergi menyusul Rafa dan cessa tangannya langsung ditahan July. "Biarin aja, cessa tidak pingsan kok, tadi aku lihat kakinya merah mungkin karena pakai high heels, jangan ganggu pasangan itu, nanti Rafa marah kepadamu seperti pada Dafa" ucap July untuk menahan Prince untuk pergi. "mana si dafa?" lanjut july, karena dia hanya melihat Prince sendirian.


"Lagi godain cewek" jawab Prince.


'puk' July dengan cepat memukul prince memberi kode ada Devi di sana.


"dia tadi di ajak makan sama kenalannya" ralat Prince.


"kok gak ikut?" tanya July lagi.


"Gak mau aja, soalnya gak ada kamu" jawab Prince sambil menggenggam tangan July.


"Tolong ingat aku ada disini, jangan bermesraan di depanku" tegur Devi sambil menyuap salad buah yang dia ambil tadi.


"Vi gak bisa menyingkir bentar biar gue bisa berduaan dengan July" kekeh Prince.


"Mau ngapain!?" seru July cepat.


"mau pacaran berdua aja" ucap Prince dengan senyuman mempesona nya.


“Cieee.. yang udah pacaran” ledek Devi.


“Apaan sih Dev, gak ada pacaran kok, siapa juga yang pacaran! Kamu juga prince ngapain ngomong aneh-aneh!” ujar July cepat.


“gak aneh, kalau benaran pacaran gimana? Kamu mau sama aku?” tanya Prince.


Muka July langsung berubah merah padam, “Jangan bercanda disaat begini prince” July langsung tegak dari kursinya dia berjalan meninggalkan Devi dan prince di sana.


“Makanya kalau mau nyatakan cinta itu yang romantis sedikit, ini main tempak anak orang gitu aja, dianggap bercandakan jadinya, noh anak nya lari, gak mau kejar?” ledek Devi.


“Lo perlu belajar sana dari Rafa, kalau mau nyatakan cinta itu seperti apa” ujar Devi.


“Alah belajar dari Rafa? Buat anak aja dia belum bisa mau belajar dari dia, gue tu yang jodohkan mereka berdua” ucap Prince.


Devi geleng-geleng kepala melihat tingkah Prince, “kalau gitu sekarang kenapa anaknya lari? Harusnya siapkan suasana romantis kek, ini main comot aja, gak pakai permisi ngusir-ngusir orang lagi, liat deh jadinya siapa yang pergi” ledek Devi lagi.


“Iya-iya tau, kalau masalah begini aja otak kamu cepat, tapi masalah nyamuk aja gak tau” sindir Prince.


“da-dari mana lo tau?! Kami kan gak cerita dengan kalian” ucap Devi terbata.


“gak sengaja dengar waktu kalian ketawa bertiga menceritakan masalah nyamuk” balas prince.


“Ya-ya wajar dong gue gak tau, gue masih 17 tahun, mana pernah gue liat film begituan” sanggah devi cepat, gadis polos itu mulai tercemar dengan para teman-teman gilanya.


Prince tersenyum evil melihat wajah sahabatnya itu sudah merah padam. “hayo mikirin apa? Cara bikin bekas nyamuk ya” ledek Prince.


“Ihhh prince! Omongan kamu tu! Jangan buat aku menghayal memikirkan bagaimana cara buat bekas nyamuk tu! Otak aku masih belum nyampe” ucap Devi kesal.


Prince Kembali tertawa pelan, “Dafa pandai tu cara buatnya minta ajarin di acara buat gigitan nyamuk” kekeh Prince.


“Ihh apaan sih prince lo kesal karena July lari dari lo, sekarang gue yang jadi samsak untuk pelampiasan kekesalan lo! Mending pergi sana,sebelum gue aduin ke July lo ngajarin gue hal yang gak benar” ancam Devi.


“heii ayolah Dev, diajak bercanda aja gak asik, kesel gue jadinya” Prince tegak dari kursinya dan langsung berlalu pergi meninggalkan Devi sendirian.


...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...


Cessa masih fokus menatap Rafa yang serius memijat kakinya. Kenangan Rafa menyatakan cinta padanya, kenangan malam saat dia terkena obat perangsang serta kenangan-kenangan Rafa yang selalu mengalah padanya Kembali terngiang di kepalanya.


Cessa sendiri belum menyatakan perasaannya secara langsung pada Rafa, tapi dia tau dia sudah menyukai pria itu sejak mendengar suara Rafa mengijab nya waktu itu.


Cessa tau rafa pasti tersiksa dengan menahan dirinya, karena cessa belum mau memberikan hak Rafa padanya padahal mereka sudah sah.


“Fa” panggil Cessa.


“Apa?” jawab Rafa lembut masih fokus pada acara memijat kaki cessa.


“mau belah duren?” tanya Cessa spontan.


Rafa yang masih dalam mode serius masih belum sampai pemikirannya dengan maksud dari ucapan cessa.


“kamu mau makan duren?” tanya balik rafa secara spontan juga.


“Aku nanya kamu loh, mau belah duren?” ucap cessa lagi.


1 detik


2 detik


3 detik


Pada detik yang ketiga gerakan tangan Rafa terhenti, mata pria itu kini menyipit menatap cessa, “duren yang mana?” tanya Rafa dengan kening berkerut.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...


Hayooo pasti banyak yang traveling nih..😆😆


iseng banget ya author gantung nya pas disaat-saat yang mendebarkan, tunggu kelanjutan nya besok ya.. jangan pada gigit jari karena kesal sama author ya 😏😏


tetap tungguin kelanjutannya ya, kita kasih gak ya babang Rafa belah duren 😂😂


bonus pict :


abang kembarnya cessa ini



ini dia july sahabat cessa



kalau keduanya lagi bersama



siapa tau ada yang kangen sama gavin


nih gantengkan abang tiri Rafa si gavin?