Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
48. I Love You



cessa masuk ke dalam kamarnya dengan Rafa. gadis itu sangat yakin Revi sudah mengetahui dia dan Rafa telah menikah, jikapun revi melaporkan ke pihak sekolah cessa tidak masalah, dia sudah pasrah dengan kenyataan yang memang ada.


"sedang apa?" tanya cessa yang duduk di sebelah Rafa yang sedang tampak sibuk dengan laptopnya. Setelah sarapan pria itu kembali ke dalam kamar dan sibuk dengan laptopnya sampai siang hari.


"Balas dendam" jawab Rafa singkat.


"balas dendam?" beo Cessa. cessa langsung melihat ke dalam laptop yang sedang di kerjakan oleh Rafa.


"kamu menyadap pembicaraan Revi dan Gavin?" seru cessa dengan mata melotot.


"iya, saat Revi mengerjaimu, aku ingin mencari titik lemah dia" jawab Rafa.


Cessa terdiam beberapa saat, "jadi kamu tau Revi dan Gavin akan meletakkan obat perangsang itu ke minumanmu?" tanya cessa.


Rafa menghentikan ketikannya, dia menatap cessa dengan pandangan sendu, "maaf aku tidak berpikir kamu yang akan meminum itu, aku awalnya ingin membalas mereka sendiri, dengan membuat mereka yang meminum, minuman itu, tapi aku terkejut karena kamu yang meminumnya, aku minta maaf" jawab Rafa dengan pelan.


Cessa diam memperhatikan Rafa, "aku sedikit kesal, tapi semuanya sudah terjadi, aku kesal karena kamu tidak mengatakan apapun padaku, aku istri kamu fa, kita hadapi semua masalah yang datang bersama-sama, bukan sendirian, apa gunanya aku sebagai istri jika bukan sebagai pendukung suamiku? memang aku tidak bisa membantu, tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik dan hal ini tidak akan terjadi, lain kali cerita ya padaku" balas cessa.


Rafa mengangguk sambil menggenggam tangan cessa, "makasih ya cess, maafkan aku untuk masalah yang terjadi" ujar Rafa lembut.


Cessa mengangguk dan membalas genggaman tangan Rafa.


Perlahan Rafa mendekatkan wajahnya pada wajah cessa, dan sedikit demi sedikit bibir cessa dan Rafa mulai menempel, kedua orang itu mulai berciuman panas tanpa peringatan Rafa memulai instingnya untuk mencium cessa dengan lembut.


"I love you cessa" ucap Rafa akhirnya.


mata cessa melotot mendengar penuturan Rafa barusan, ini pertama kalinya pria gunung es itu mengungkapkan perasaannya pada cessa.


Setitik air mata jatuh meluncur bebas dari mata bening milik cessa.


Rafa menghapus dengan jarinya, air mata cessa yg telah jatuh. "hei, kenapa nangis?" ujar Rafa lembut.


"kamu bilang love nya tiba-tiba, gak siap ni jantung" lirih cessa.


"jadi harus ada persiapan ni? mau bilang sayang ke istri sendiri harus siap-siap dulu?" kekeh Rafa.


cessa tidak menjawab lagi ucapan Rafa, dia mencubit gemas perut sixpack suaminya itu.


"mesti ya di saat begini, masih aja bercanda" gerutu cessa.


"Jadi gimana dong, biar gak nangis lagi? apa mau belah duren biar berhenti nangisnya?" seru Rafa sambil menaik turunkan alisnya.


"Rafa! belah duren nanti aja, gak boleh sekarang!" kesal cessa.


Rafa tertawa keras mendengar kemarahan istrinya. "yahhh bulan madu gak belah duren ada yang kurang gitu" sindir Rafa, dia menyandarkan badannya pada sofa, sambil mengedipkan mata ke arah cessa.


"ihhh kok bisa ya suami aku mesumnya luar biasa?" keluh cessa sambil geleng-geleng kepala.


"gini-gini suami kamu jadi idola satu sekolahan loh, bukan hanya sekolah ada 20 juta subscriber yang menjadi fans ku, tanpa melihat wajahku, gimna kalau mereka lihat, bisa makin banyak dan kamu jadi kesusahan" balas Rafa.


"ohh main bandingin ni, oke, mau hitung juga fans yang cessa punya?" tantang Cessa.


Rafa menggeleng pelan, "gak perlu sayang, aku cuma bercanda, sudah cukup tau istri aku ini terlalu cantik dan sempurna, jadi harus di jaga baik-baik".


Cessa terdiam, wajahnya langsung memerah padam, dia baru saja mendengar Rafa memanggil dirinya sayang, gadis itu jadi sangat malu dan salah tingkah.


Rafa yang mengetahui kenapa istrinya itu tiba-tiba diam kembali tersenyum jahil, dia kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah cessa.


'cup' memberikan kecupan singkat lalu tertawa.


"baru di bilang sayang aja udah malu, apa lagi belah duren, aku udah lihat semuanya loh" ledek Rafa.


Cessa mengambil bantal sofa didekat nya, lalu memukul Rafa dengan bantal itu. "ihhh nyebelin" gerutu cessa dia langsung tegak dan memilih kabur dari hadapan Rafa.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...


🎼 gavin mengangkat teleponnya yang berbunyi sangat nyaring tanpa melihat siapa yang menelpon.


📲 "halo!" jawab Gavin, mata pria itu masih terbuka separuh karena baru saja tidur siang.


📲 "datang bersama Revi ke hadapan papa sekarang juga!" suara marah papa ali terdengar dari dalam telepon Gavin.


📲 "sekarang Gavin! atau papa akan seret kalian berdua kehadapan papa dan mama!" bentak papa ali.


📲 "akhhh! iya-iya! bentar Gavin cari si Revi" ucap Gavin dengan nada emosi, dia langsung menutup telepon begitu saja, padahal yang tadi menelponnya adalah papa nya sendiri.


Gavin tegak dan langsung menuju kamar Revi.


'tok tok tok tok' gedor Gavin pada pintu kamar Revi.


suara gerdoran itu terdengar sangat kuat, jadi membuat beberapa orang yang ada didekat situ langsung melihat apa yang ingin Gavin lakuin.


"apa liat-liat!" bentak Gavin pada July dan Devi yang melihat ke arahnya.


July dan Devi yang di bentak langsung membalikkan badan mereka menjauhi Gavin yang terlihat emosi.


'ceklek' pintu kamar Revi akhirnya terbuka, gadis itu keluar dengan muka sangarnya. "kenapa sih vin! bisa lembut dikit gak sama gue! gue ini calon tunangan mu!" maki Revi.


"kita di panggil papa ku, cepat ikut aku" perintah Gavin.


"kok gue harus ikut?" gerutu Revi.


"gak tau! cepat ikutin aku!" bentak Gavin, mau tidak mau Revi akhirnya berjalan mengikuti Gavin.


.


begitu Revi dan Gavin keluar dari villa, dia melihat Cessa dan Rafa yang duduk di taman sambil menatap pantai.


kedua orang itu langsung menatap Gavin dan Revi yang keluar dari villa dengan ekspresi datar.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


"mau ke mana si Gavin dan Revi?" tanya Dafa penasaran.


Rafa hanya mengedikkan bahunya acuh, padahal itu semua karena dirinya, Gavin dan Revi dipanggil.


"Fa, kenapa mereka pergi berdua?" kali ini yang bertanya adalah cessa.


"dipanggil Papa" jawab Rafa singkat.


Dafa memijat tengkuknya setelah mendengar jawaban Rafa, perasaan pertanyaan dia sama, tapi Rafa hanya menjawab pertanyaan istrinya.


prince, July dan Devi hanya menahan tawa mereka.


"Cess, bisa tolong tanyain ke manusia beruang kutub itu kenapa bisa dipanggil om ali?" ujar dafa sambil mengelus dadanya.


cessa melirik kearah suaminya yang tampak asik bermain game di ponselnya, "kenapa papa panggil mereka?"


"ketahuan merencanakan kejahatan dan berduaan di dalam kamar" jawab Rafa singkat.


"kok bisa, siapa yang kasih tau?" tanya dafa secara spontan.


Rafa tidak menjawab, dia masih sibuk main game.


"cess, tolong tanyain cess" isak Dafa, karena segala pertanyaan nya tidak dijawab Rafa.


"Fa, dari mana Papa tau?" cessa menghela nafas, dia memang tidak mengerti kenapa suaminya itu bersikap seperti itu.


Rafa menghentikan permainan gamenya, dan menatap cessa dengan lembut. "aku yang bilang ke papa, dengan menunjukkan segala bukti yang aku punya, mau tanya apa lagi?" balas rafa, sambil mencubit gemas pipi cessa.


"ohh princeee tolong mata aku telah ternodai!" pekik Dafa sambil menutup kedua matanya.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


bonus pict ya