
'Plak' suara tamparan yang berasal dari tangan papa ali, dia marah dan emosi dengan semua yang telah Gavin lakukan pada perusahaannya yang dia bangun dari nol.
"Kau menghancurkan semuanya Gavin! kau mengambil keputusan tanpa memberitahu ku! apa yang kau inginkan hah!" bentak papa ali pada Gavin putranya.
"Gavin hanya ingin membuat perusahaan kita untuk menjadi lebih besar pa! Gavin mau menunjukkan kalau di tangan Gavin perusahaan kita bisa semakin berjaya!" jawab Gavin.
"Berjaya?! hahahaa" papa ali tertawa sinis, "otak mu kemana?! sekarang bukannya berjaya, tapi perusahaan papa akan terancam colabs!" maki papa ali lagi.
"Gavin tidak tau jika akan jadi seperti ini pa!" jawab Gavin.
“tidak tau! Jika tidak tau setidaknya kau harus cerita pada papa! Bukan mengambil keputusan sepihak!” bentak papa ali. “Menyesal papa menjadikan kamu ahli waris papa! Sekarang berkat kamu perusahaan yang papa bangun dari nol hancur!”
“Pa, gavin bisa memperbaiki semuanya pa, perusahaan itu belum hancur pa” ucap gavin berusaha menenangkan papanya.
“Bagaimana? Bagaimana caranya?! Yang kamu bisa itu hanya menghancurkan perusahaan papa, ini bukan sekali gavin! Sudah berkali-kali perusahaan hancur di tanganmu! Sebenarnya apa yang kamu bisa! Kamu tidak seperti Rafa yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri” Papa ali mulai emosi dan membandingkan kedua anaknya, dia menyesal terlalu memanjakan anak sulungnya itu, sedangkan anak bungsunya yang selalu dia telantarkan menjadi anak yang hebat sekarang, papa ali belum tau sebesar apa perusahaan yang dimiliki Rafa, tapi dia cukup bangga anaknya tidak meminta uang kepadanya sejak dia masuk SMA.
“Kenapa papa bandingkan Gavin dengan Rafa lagi! Dia hanya anak SMA yang masih minta uang dari papa! Dia tidak tau bagaimana sulitnya dunia bisnis! Apa yang anak SMA bisa lakukan jika dia dalam posisi gavin! Dia hanya akan menghancurkan perusahaan papa! Dia belum belajar caranya berbisnis!” maki Gavin, dia mulai terbawa emosi jika sudah dibandingkan dengan Rafa, karena Gavin sangat membenci Rafa, dia tidak suka apapun yang dimiliki rafa.
“Tidak tau?! Tidak tau katamu! Sejak dia memasuki SMA dia tidak pernah meminta uang dari papa! Setelah menikah pun Rafa tidak pernah meminta sepeserpun uang papa! Dia mampu membiayai istrinya sendiri dengan uang hasil kerja kerasnya! Kamu?! Hanya bisa menghancurkan perusahaan papa, memalukan nama keluarga! Bahkan tidak bisa mengurus istrimu sendiri! Istri kabur kamu tidak tau! Apa itu yang bisa kamu banggakan?” bentak papa ali lagi, pria tua itu memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
Gavin memegang tangan papanya sambil bersimpuh di depan papanya, “Pa, tenang aja A.R corporation selalu bantu kita kan? Gavin akan mendatangi perusahaan itu, dan minta bantuan dari perusahaan itu pa, semua akan kembali seperti semula pa” terang gavin, dia yakin perusahaan besar itu akan membantunya, karena nama perusahaan papa ali mulai naik juga karena bisa bekerja sama dengan A.R Corporation.
“Tenang katamu? Iya jika perusahaan itu mau membantu kita lagi! Bagaimana jika perusahaan itu tidak mau membantu kita!” bentak papa ali, dia menghempaskan tangan Gavin yang memegang tangannya.
“Papa tenang saja, gavin mengenal Arxelo pemilik perusahaan itu, gavin akan buat dia kembali membantu kita pa, jika dia tidak mambantu gavin akan mencari cara sendiri agar bisa membantu pendanaan perusahaan kita pa” ucap gavin.
“terserah kamu gavin! Papa tidak mau membantumu lagi, itu perusahaan untuk kamu, dan papa lepas tangan atas masalah ini” ucap papa ali, dia meninggalkan gavin sendirian di sana untuk merenungi perbuatannya.
...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...
Pukul 8 malam Rafa di telepon oleh Xelo. Pria itu memberi tau jika yang di pikirkan rafa memang terjadi, Xelo baru saja mendapatkan pesan dari gavin, pria itu memohon pada Xelo untuk membantunya memberikan dana pada perusahaannya. Bukan hanya dari telepon dari Xelo, Rafa juga menerima telepon dari mama Reta kalau papa nya jatuh sakit, darah tingginya naik dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.
“Fa~” panggilan cessa dan tangan gadis itu yang melingkar di pinggangnya membuyarkan lamunan Rafa. “Jangan berpikir sendiri, ikutkan aku dalam setiap masalah yang ada padamu” ucap cessa.
Rafa duduk di salah satu kursi disana dan menarik cessa untuk duduk di pangkuannya. “Papa masuk rumah sakit” ucap Rafa lesu.
Cessa mengelus wajah suaminya itu dengan lembut, “bagaimana kondisi papa sekarang?” tanya cessa.
“Sedang dalam perawatan, untung saja papa cepat di bawa ke rumah sakit, jika tidak dia bisa terkena stroke atau jantung, aku bersyukur bang xelo sudah mempersiapkan semuanya, sehingga papa cepat mendapat pertolongan” ucap rafa, dia memeluk cessa yang ada dalam pangkuannya, hanya cessa yang saat ini bisa membantunya dan memberikan support buat pria itu.
“Semua akan akan baik-baik saja, begitu mendarat di bandara kita akan ke rumah sakit untuk berbicara pada papa, kamu hebat fa, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi dengan papa, semua itu bukan salahmu” ucap cessa sambil mengelus kepala rafa dengan lembut.
Rafa diam dia hanya menikmati elusan tangan istrinya.
“Kamu hebat sayang, jangan pernah menyalahkan semua yang terjadi karena ulahmu, ini akan menjadi pelajaran buat gavin, jadi jangan menyesal atas keputusan yang kamu ambil” ulang cessa sekali lagi, dia tidak mau suaminya itu terus menyalahkan dirinya.
Rafa mengangkat kepalanya agar bisa menatap mata istrinya, “Jangan pernah tinggalkan aku cess, aku sudah mulai bergantung padamu, tolong dukung aku atas semua yang aku lakukan, jangan tinggalkan aku” lirih rafa.
Cessa memegang kedua pipi rafa agar wajah pria itu tidak menunduk dan menatap wajahnya. “Princessa Aurelia Bagaskara sudah berjanji akan hidup bersamamu selamanya, aku tidak pernah kecewa dengan keputusan yang kamu ambil, kamu hebat fa, diumur 18 tahun kamu sudah bisa membiayai dirimu dan istri kamu, jikapun kamu salah aku akan tetap bersamamu, jadi jangan takut dalam mengambil keputusan, aku selalu mendukungmu” ucap cessa.
Rafa mengukir senyum di bibirnya setelah cessa mengatakan itu. Kedua orang itu saling menatap dan mendekatkan wajahnya, Rafa mulai mencium cessa dengan lembut di balas dengan cessa yang juga mencium rafa kedua pasangan suami istri itu larut dalam ciuman mereka, saling menyecap dan m*l*mat, menumpahkan kasih sayang mereka melalui bibir.
“I Love you cessa” ucap rafa disela ciuman mereka.
“I love you too my king” jawab cessa dia masih memejamkan matanya menikmati ciuman rafa yang kini turun ke lehernya.
Saat tangan rafa mulai menyelinap masuk kedalam baju cessa, gadis itu cepat-cepat menahan tangan rafa, cessa menggeleng pelan, “masih palang merah” bisik nya.
Rafa terkekeh dan mencium singkat bibir cessa, “maaf kelepasan”.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...