
“Apa?! Abang bakal nikah minggu ini?! Gak kecepatan tuh?” pekik Prince tidak percaya. Setelah di beri tahu bahwa king sebentar lagi akan menikah. “Abang gak terima, pokoknya abang king boleh nikah setelah setahun, kok nikah mendadak gini gak ada planning” lanjut Prince lagi.
“kan baru akad nya dulu prince, setelah itu baru resepsinya di planning, dari pada abang kamu berbuat dosa” ucap papi Harri.
Hari ini Prince sengaja balik kerumah untuk mengambil beberapa barangnya yang ketinggalan di rumah, begitu sampai, prince mendapat kabar bahwa king akan menikah tentu aja pria itu tidak terima dan langsung marah-marah tidak mau King menikah duluan, karena pernikahannya terkesan mendadak.
“pokoknya prince gak terima” protes prince.
“ya udah gak terima aja, gue yang nikah, gak perlu izin dari adik yang penting itu izin dari orang tua, weeekkk” King menjulurkan lidahnya kearah Prince yang mencak-mencak tidak terima didahului oleh king.
“Ya udah nanti prince juga_”
“Juga apa? Ancam DP duluan? Silahkan kalau bisa, nanti kalau di hapus jadi daftar calon mantu papi gak tanggung jawab loh ya, papi gak mau melamarkan abang yang kebelet nikah karena DP duluan” ancaman balik papi harri membuat Prince terdiam tidak dapat melanjutkan ucapan yang tadi memang ingin dia katakan.
“kok abang di nikahkan cepat kalau pakai ancam DP duluan, kenapa Prince gak boleh?” ucap prince sedikit lesu.
“Ohhh itu beda kasus, kalau abang kamu udah besar, itunya juga udah besar, jadi bisa bahaya jika dia nyoblos duluan, kalau kamu? Bukannya papi udah lamarkan untuk nikah ehh yang diterima Cuma lamaran tunangan, jadi sabar aja dulu, tunggu mertua menyetui proposal kamu” kekeh papi harri.
“Perumpamaan ya perumpamaan pi, jangan pake bilang itu abang besar juga” kesal King yang menjadi perumpaan oleh papi harri.
“Hehehe contoh bang, kan memang besarkan? Anak Queen maksud papi, abang ni mikir udah kejauhan” kekeh papi harri lagi. “darel dan farel itu sudah mau masuk SD, mereka perlu dokumen lengkap tentang keluarga dan dokumen lainnya, makanya papi dan mami punya ide seperti itu, kalau kamu, masih juga kelas 3 SMA udah mau cepat-cepat nikah” lanjut papi harri kali ini sedikit serius.
“cessa? Gimana? Umurnya sama dengan prince pi, dia adik kembar prince kenapa udah nikah aja?” prince masih tidak terima diantara keluarga dialah yang sekarang tertinggal jauh, betul firasatnya, akan di bulli habis-habisan oleh 1 keluarga.
“Kalau cessa lain lagi bang, mertua nya yang tawarin itu dan mami serta papi mengizinkan nah mertua abang gimana? Papi udah melamar untuk menikah loh, jadinya Cuma diterima pertunangan saja, jadi jangan salahkan mami dan papi, jika abang kamu yang duluan menikah” kali ini mami dona ikutan berbicara pada prince.
“ya udah kalau gitu abang gak mau balik kerumah selama setahun” ancam prince, pria itu sudah tegak dan menuju pintu keluar.
“Huh! Ngambek, setahun itu gak lama dek! Paling gak terasa waktu telah berlalu” ledek King.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
Cessa sedang belanja berdua dengan Devi, sementara suaminya Rafa sedang mengajari teman-temannya di basecamp.
“Hai Cess” sapa seseorang.
Cessa segera menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.
“Siapa ya?” tanya cessa kebingungan.
“soni? Ngapain lo disini?” belum pria itu memberi tahu namanya, devi lebih dulu memanggil nama pria itu.
“rumah gue dekat banget, gue ya belanja juga, di suruh nyokap, kalian ngapain disini? Setau gue rumah kalian tidak dekat sini?” Balas Soni sedikit berbasa basi.
“kami__” Devi menatap cessa meminta bantuan menjawab, karena dia takut salah bicara.
“mampir kesini bentar, karena sekalian jalan mau beli masak di rumah” jawab cessa santai, gadis itu lalu berbalik dan mengacuhkan Soni yang tersenyum dengan manis padanya.
“Biasanya kamu diantarin pacarmu, terus mana dia? Kok gak ikut kalau mampir dia pasti ada dong?” Soni kembali membuka pembicaraan.
“Ohh kalau gitu gue boleh numpang gak? Motor gue tadi ban nya bocor kena paku dijalan, jadi boleh kan gue numpang” Soni kembali berusaha mencari perhatian Cessa, tapi tetap saja tidak mendapatkan apapun.
“Udah full” jawab Cessa singkat.
Devi sampai geleng-geleng kepala melihat cara jawab cessa yang hampir sama dengan Rafa, tapi bedanya Cessa hanya membalas singkat pada pria yang bernar-benar tidak dia kenal atau baru dia kenal sementara rafa, pada semua wanita kecuali saat bersama cessa baru mulutnya lemas banget nyerocos terus.
“kamu bawa mobil loh bukan motor” soni masih belum menyerah untuk mendekati cessa.
“maaf ya Soni, sebenarnya belanjaan kami bukan ini aja, masih banyak yang lainnya, dan kursi belakang sudah pasti penuh dengan belanjaan kami, ada 4 troli dan ini troli ke lima” Devi menjelaskan pada Soni dengan sesingkat mungkin.
Soni tertawa pelan, “mana mungkin, kalian pasti bercanda kan?”
.
Baru saja Soni berkata bercanda ternyata memang benar yang Devi katakan, kursi belakang sudah penuh dengan barang belanjaan, tadi teman-temannya menitip berbagai macam barang salah satu contoh bantal kursi, ada yang memesan itu karena katanya tidak nyaman dengan kursi mahal mereka.
Ada juga yang memesan barang-barang yang lain, dan cessa juga membeli beberapa peralatan untuk memasak di basecamp seperti alat panggang dirumah, jadi mereka bisa masak ala korea di basecamp itu.
“Liatkan? Jadi mau duduk dimana?” Devi menunjukkan keadaan pintu belakang yang full dengan barang-barang.
“bisa di pinggirkan bukan? Kamu bisa bawa beberapa didepan dan aku juga memangku beberapa di belakang” jelas Soni.
“menyusahkan” ucap cessa dan langsung masuk kedalam mobil, “vi cepat masuk atau gue tinggal” Cessa membuka kaca jendela sambil memandang Devi yang masih berdiri di samping soni.
“Sorry, sahabat gue kayaknya emosi sama lo” Devi cepat-cepat berlari menuju kursi penumpang disebelah Cessa.
Melihat mobil cessa yang sudah berlalu pergi Soni mengepalkan tangannya kesal, dia kesal sifat kekasih Rafa ataupun Rafa sama saja, sama-sama menyebalkan, tapi justru itu semakin menangtang bagi Soni.
“gimana caranya gue bongkar cara berpacaran mereka berdua? Ap ague ikuti aja rafa dan cessa yang pulang, siapa tau mereka mampir ke love hotel” gumam Soni yang mempunyai ide cemerlang diotaknya.
.
“Cess lo marah ya sama gue?” tanya Devi takut-takut, karena sejak tadi Cessa diam didalam mobil.
Cessa tersenyum sambil mencubit gemas pipi Devi, “jadi orang jangan baik banget, nanti Dafa cemburu loh, kalau tau kamu baik sama setiap cowok yang berusaha menyapamu” nasehat cessa.
“ihh cessa, gue pikir lo marah sama gue” kesal Devi.
“ngapain gue marah, gue gak suka aja sama pria itu, cara pandang dia ke gue itu beda” jelas cessa yang sekarang fokus menyetir.
“beda gimana?” Tanya Devi.
“Seperti sedang ingin menelanj*ngi gue” tapi cessa hanya berbicara didalam hatinya. “ya beda aja, risih gue liat dia mandang gue” elak Cessa, dia tidak mau sahabat polosnya itu terlalu tercemar dengan otak dewasanya.
... 🌜🌨🌨🌨🌨🌛...