
Setelah Gavin Dan Revi keluar dari ruangan itu, Rafa baru keluar dari ruang istirahat nya.
Pria itu hanya keluar sendirian, dan hal itu membuat xelo sedikit mengernyitkan keningnya bingung.
“cessa mana? Jangan bilang lo ngapa-ngapain di dalam ya” kata Xelo penuh dengan rasa curiga.
Rafa sedikit tersenyum, “kalau gue ngapa-ngapain istri gue di ruang istirahat gue emang kenapa?” kata rafa dengan senyum meremehkannya.
“fa~ tolonglah hargai gue yang masih perjaka ting ting ini” keluh Xelo.
“hahahhaha” tawa rafa mulai terdengar, “ya gak lah, kalau gue tanding gulat sama istri gue, gak bakal keluar gue sekarang, pertandingan gulat itu butuh waktu yang lama untuk membuat lawan tumbang dan K.O” tambah rafa lagi.
Xelo menggelengkan kepalanya tidak percaya, jika Rafa sudah banyak berubah, dirinya mulai banyak bicara, mulai mau meminta nasehat, dan satu lagi yang paling berbeda, Rafa lebih banyak tersenyum.
“gue lihat lo banyak berubah, bukan hanya kosakata lo yang bertambah, tapi lo sering tersenyum” kata Xelo, mata pria itu memancarkan rasa kasih sayang sebagai kakak pada adiknya.
“ketularan mertua gue jadi maklum aja kalau kosakata gue beragam” ujar Rafa, dia duduk di tempat yang tadi diduduki Xelo dan Xelo berpindah duduk didepan rafa posisi dimana gavin tadi duduk.
“bagus itu, dan kenapa cessa gak keluar juga?” xelo melirik kearah pintu kamar istirahat yang masih tertutup rapat.
“Tidur, kemarin gulat sampai pagi sama gue, jadi kurang tidur” ujar Rafa santai, seperti mertuanya yang ceplas ceplos rafa mulai ketularan gilanya keluarga bagaskara. “mana dokumennya?” tanya rafa kemudian, setelah dia sudah dalam posisi duduk yang nyaman.
Xelo menyerahkan dokumen yang tadi diperjual belikan oleh gavin. “coba diperiksa lagi siapa tau ada yang dicurangi dari dokumen itu” kata Xelo.
Rafa mengangguk pelan, pria itu mulai membaca dokumen yang sudah ada di tangannya. Sekitar 30 menit pria itu membaca dokumen itu dan melakukan perhitungan dan lainnya, setelah itu rafa tersenyum sinis, “ini dokumen asli, semua proyek papa ada disini” kata Rafa, dia melemparkan dokumen itu kembali pada Xelo.
“lalu lo maunya gimana?” tanya xelo, dia mengambil kembali dokumen yang tadi rafa lemparkan, tampak rafa sedikit emosi saat melemparkan dokumen itu, xelo yakin Rafa marah pada abangnya itu, mau gimana lagi proyek yang harusnya menjadi hak papa nya di jual oleh gavin, seharusnya dia yang tau tentang proyek itu tidak melakukan hal memalukan seperti itu.
“abang datangi kantor papa, dan sampaikan dokumen ini pada papa, katakan jika putranya menjual rancangan proyeknya setelah itu bakar dokumen ini didepan papa” ujar Rafa, tangan pria itu sudah meraih ponsel di dalam sakunya.
“Akhirnya aku yang datang ke kantor papa mu? Selama ini asisten kita, tapi kenapa sekarang aku yang disuruh turun?” tanya xelo sambil menaik turunkan alisnya.
“si lintah darat udah pergi, jadi aku membolehkanmu untuk membesarkan perusahaan itu” kata Rafa santai, pria itu berkata sambil sibuk melihat ponselnya.
“baiklah, tapi kau sedang apa?” tanya Xelo penasaran dengan apa yang dilakukan Rafa.
“pesan makanan online, kasian istri gue belum makan, paling bentar lagi dia bangun” ujar Rafa.
“hmm ada” jawab rafa.
Xelo yang tadinya berniat ingin menjalankan tugas rafa langsung kembali duduk dihadapan rafa. “lo, benaran rafa kan?” kata xelo tidak percaya jika yang di depannya adalah rafa.
“tadi lo nanya bang! Ya gue jawab” kata rafa sedikit emosi.
“hehhehe santai bro, apa lagi yang menjadi beban pikiran mu? Sekarang ceritakan sama abang mu ini” jika xelo dan rafa sudah memanggil dengan panggilan kamu dan abang berarti kedua orang itu sedang masuk mode serius.
“Gue takut cessa lari dari gue” kata rafa.
Xelo sempat terdiam beberapa detik dengan mulut yang menganga lebar, “oke, tolong lebih terperinci dan sedikit panjang, gue masih belum ngerti ini” ujar xelo setelah sadar dari keterkejutannya.
Rafa sedikit mendelik kesal pada xelo tapi pria itu kembali melanjutkan permintaan Xelo.
“setelah mendengar ucapan gavin yang ingin memp*rk*sa cessa aku takut menjauhi cessa, makanya aku selalu membawanya kemana saja aku pergi dan aku melarang dia untuk pergi bersama Devi saat Devi minta izin mau mengajak cessa pergi, aku takut gavin menculik cessa dan menjalankan niatnya, tapi aku tau selamanya aku tidak bisa mengekang istriku, dia pasti kesal jika aku seperti ini, terlalu over protective, makanya aku bilang aku takut dia lari, kadang aku berpikir dengan membuatnya hamil duluan biar tidak ada benih lain yang masuk dalam tubuh istriku” ujar rafa panjang, dan mampu membuat mulut xelo kembali terbuka lebar.
Xelo butuh beberapa menit untuk mencerna curhatan hati rafa, ini pertama kali rafa bercerita tentang hatinya dan pertama kali rafa berbicara sangat panjang didepannya tentu Xelo terkejut. Tanpa Rafa sadari cessa mendengar pembicaraan dan kegundahan hati pria itu didalam kamar pribadinya, pintu ruangan itu kebetulan terbuka dan rafa berbicara cukup keras. Berpikir cessa masih tidur.
“Aku rasa itu tidak perlu menjadi kekhawatiranmu, kalian masih dibilang pengantin baru wajar jika suami over protective pada istri, lagi pula kamu tau sifat cessa, dia itu sedikit pemberontak, gadis itu pasti mengatakan ketidaksukaannya padamu jika dia tidak suka dengan sikapmu, tanyakan saja padanya istrimu pasti menjawab, jangan dipendam sendiri, ingat rafa menikah itu menyatukan dua orang menjadi satu, jadi ikut sertakan istrimu dalam setiap kegundahanmu” balas Xelo, walau dia belum menikah, xelo cukup dewasa untuk memberikan nasehat pada rafa.
Rafa menganggukkan kepalanya mengerti dengan saran yang diberikan oleh xelo.
“makasih bang” kata Rafa sambil tersenyum.
Xelo tertawa pelan, “justru gue yang makasih, lo udah mau bercerita pada gue, berarti gue adalah orang yang paling dekat dengan lo, makasih sudah mau menganggap gue seperti itu” kata xelo. “jadi udah pesan makanannya?” Xelo mencoba mencairkan suasana canggung yang terjadi.
“belum, gue masih bingung mau beli apa” ujar rafa, pria itu masih sibuk mencari restoran yang akan dia pesan.
“bangunkan aja istri lo sana, nanti dia gak suka lagi dengan apa yang lo pesan” ujar Xelo.
Rafa menatap xelo beberapa detik baru dia tegak dan menuju kamar istirahatnya.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...