
Pagi hari kelas sekolah kembali heboh, karena di kabarkan ada murid baru yang masuk ke sekolah, dan berita menjadi heboh karena murid itu absen sekolah karena pembulian yang terjadi padanya.
Dina tersenyum cerah membayangkan wajah senang Rafa, karena dia sudah kembali ke sekolah. Gadis itu berjalan riang mengikuti guru yang membawanya ke ruangan kelas yang akan dia tempati.
.
“Perhatian semuanya, kita kedatangan murid baru lagi , ibu mohon kerja sama kalian jangan ada bully membully di sekolah ini” peringat guru itu, dia diberitahu oleh kepala sekolah, gadis itu kehidupannya sedikit menyedihkan karena dia dibully di sekolah.
Tidak lama Guru mempersilahkan masuk, Dina berjalan dengan langkah bangganya, dia tersenyum melihat ke seliling kelas, dan matanya tertuju pada Rafa yang menatap horror ke arah nya, bukannya dia ketakutan, tapi Dina semakin tersenyum lebar, dia menganggap Rafa menatapnya dengan penuh sayang, karena kembali ke sekolah.
“Ayo perkenalkan dirimu nak” ucap ibu guru itu.
“hai semua nama saya Andina Sherline Puspita, panggilan saya Dina, selama ini saya homeschooling karena sedang sakit, dan sekarang saya sudah sembuh, mohon bimbingannya semua” ujar dina dengan ramah.
“Apa dari kalian ada yang mau bertanya?” tanya ibu guru pada siswa siswinya.
Salah seorang murid mengangkat tangannya, “Apa benar-benar sudah sembuh? Nanti kelas kita jadi tempat sarangnya orang gila lagi, disini cukup satu orang yang gila gara-gara rafa” kekeh siswa itu.
Tentu saja mereka semua tau maksud ucapan wanita itu, apa lagi, siapa lagi kalau bukan Revi yang baru-baru ini dinyatakan terlalu tergila-gila dengan Rafa.
“Iya saya sudah sembuh, saya sudah berani ketemu orang-orang, berkat semangat seseorang saya cepat sembuh” jawab Dina sambil terus menatap Rafa, tapi pria yang ditatap tidak lagi menatapnya Rafa lebih memilih menatap Cessa yang sedang asik membaca buku dari pada mendengarkan pembicaraan didepan kelas.
“Ya sudah, cukup ini saja, kalian ingat ibu tidak mau ada bully bully an di kelas ini, jadi ibu harap kalian semua menjadi siswa siswi yang baik seperti perintah ibu” ibu guru memutuskan menghentikan acara perkenalan itu, dan menyuruh dina menduduki salah satu kursi kosong.
.
“Cess, lo gak apa?” bisik July.
Cessa menatap bingung sahabatnya itu, “gak apa? apanya?” tanya balik gadis itu.
Juli memberikan kode dengan matanya pada Dina yang duduk di samping mereka.
“Emang kenapa dengan dia? Gue biasa aja kali, santai gak masalah” ucap Cessa.
“tapi cess, dina itu sangat tergila-gila dengan Rafa, tambah lagi calon pelakor di rumah tangga kalian” bisik July lagi.
“Jul, aku dan Rafa akan tetap bersama, ini mungkin gelombang yang datang dalam rumah tangga kami, tapi jika hal kecil seperti ini tidak bisa kami hadapi, maka kami memang bukan pasangan yang sebenarnya, aku gak butuh pria yang tidak dapat menjaga hatinya, lebih baik kehilangan pria seperti itu, di banding mempertahankan yang sudah pasti akan menyakitkan” balas cessa dengan berbisik juga.
“baiklah jika kamu tidak apa, pokoknya aku tetap menjadi pendukung mu, walau aku berteman dengan dina sekalipun” Ucap july berusaha meyakinkan Cessa.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
Bell jam istirahat sudah berbunyi, dina dengan cepat menuju meja July, “July gue kangen banget sama lo” seru Dina sambil memeluk July lalu bergantian dengan Devi, “Gue juga kangen lo vi” lanjut Dina lagi saat memeluk Devi.
“Kita juga kangen” jawab July singkat. “oh iya Din, kenalkan ini teman kita juga namanya Cessa”.
“Hai salam kenal” jawab Dina dengan senyum palsu.
“Salam kenal juga” jawab cessa santai.
“Cess, ayo” Rafa berdiri disebelah kursi cessa menjulurkan tangannya kepada cessa.
“Ayo, gue laper” rengek cessa dengan bergelayut manja pada lengan Rafa.
“It-itu Rafa kenapa seperti itu?” tanya dina pada July, dia menunjuk cessa dan Rafa yang sudah keluar kelas sambil bergandengan tangan.
“Din, cessa itu pacarnya Rafa” ungkap july, dia memang mengetahui hubungan pernikahan kedua orang itu, tapi dia sudah berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun, termasuk sahabatnya Dina.
“Rafa kan_” Dina menghentikan ucapannya, dia berusaha tersenyum kearah July dan dina, dia kan berjanji pada rafa, kalau dia akan menyembunyikan hubungannya dari semua orang.
“Ayo Din, kita ke kantin, ntar ke buru ramai, jadi sulit cari tempat” ujar Devi.
.
“Cemburu apaan sih? Sama orang gila juga, ngapain cemburu” ketus Cessa pelan, hanya Rafa yang dapat mendengar ucapan gadis itu. “yang herannya, masih juga dibolehkan masuk ke sekolah padahal sakit jiwa gitu” omel cessa lagi masih dengan nada pelan.
Rafa terkekeh mendengar ucapan istrinya, seperti firasatnya, memang benar Dina kembali ke sekolah untuk mengejarnya, dia tau keluarga Dina mampu membuat surat dari rumah sakit yang menyatakan anaknya sudah kembali sehat dan normal, dia juga mampu menyogok pihak sekolah untuk membiarkan anaknya masuk ke dalam sekolah itu.
“Ingat apapun yang terjadi tanyakan aku dulu untuk mengetahui kebenarannya” ujar rafa.
“kalian berdua dari tadi bisik-bisik apaan sih? Bikin orang jomblo iri aja” dengus kesal Dafa.
“Mau tau aja atau mau tau banget” goda cessa.
“Prince, adik lo benar-benar menyebalkan, bikin orang iri aja, liat tu dari tadi menggelantung pada Rafa kayak monyet” sindir Dafa.
“iri bilang boss” ucap Prince santai.
“Kalian itu masih di sekolah harus tau situasi dan kondisi, jangan mesra-mesraan gitu” dafa memperingatkan.
“kalau di tempat orang sepi dia mana mau dekat-dekat gue” jawab rafa cepat.
“Justru itu, tunjukkan kemesraan biar para pelakor terhempas kan” balas cessa dengan tawa jenakanya.
“nah, dia Cuma mau mesra kayak gini doing, gue belum ada lebih-lebih dengan dia” tuduh Rafa.
“Apaan ada kok” seru cessa cepat.
“mana ada, apa emangnya”
“I-itu ci-cium bibir” ucap cessa dengan terbata.
“baru itu belum ada apa-apanya” kekeh rafa.
‘ciitt’ cessa dengan santainya mencubit perut datar rafa. “Sakit cess” ringis Rafa, “Liat kan kalian, dia kalau sudah menjurus ke hal lebih dalam, bakalan seperti ini” ujar rafa pada kedua temannya yang melongo memandangi kedua pasutri yang sedang bertengkar itu.
“ini benaran Rafa kan prince?” tanya Dafa sambil menoleh pada Prince.
“Lo melihat dan mendengar yang sama kan dengan gue? Gue gak tau ini alien dari mana” jawab prince masih dengan wajah bloon nya.
“Ngapain kalian berdua ngelihat kayak orang bodoh gitu” ceplos cessa.
“cess bisa gak jadi cewek anggun dikit omongannya, malu tau sama pasanganmu” nasehat Prince.
Cessa melirik Rafa, “harus mau menerima apa adanya ya” kekeh cessa.
Rafa hanya tersenyum dan tertawa kecil.
“kalian kenapa berhenti disini?” pertanyaan Juli membuat ke empat orang itu kembali melangkah.
“gak tau juga, tu gara-gara dua pasangan bikin iri” gerutu Dafa.
“makanya cepat di tembak devi nya biar gak irian lagi” kekeh cessa.
“Iya ni anaknya disebelah gue” tambah july.
“enak aja ogah gue sama orang seperti dafa” tolak Devi.
“Gue apa lagi, gak mau 100 kali” seru Dafa.
“hati-hati loh, benci itu beda tipis dengan cinta” ledek July.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...