Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
131. Juli sakit



Fajri yang mendengarkan pembicaraan keluarga itu sedikit bingung, karena pasalnya saat ini Cessa dan Rafa sedang menggunakan pakaian sekolah tapi mereka berbicara seperti sepasang suami istri dari pembicaraan mereka.


“Benar itu fa? Kamu gak tertarik?” tanya King.


“Sumpah bang, gak tertarik sedikitpun” jawab Rafa.


“Bo_ hahahha” cessa gak dapat lagi berbicara karena mulutnya sudah di tutup oleh Rafa dan pria itu dengan tanpa malu menggelitik istrinya itu didepan king dan yang lainnya.


“AHH! Fajri, adik gue udah nikah, jadi tolong jangan berpikiran aneh ya” king baru sadar mereka telah membicarakan pernikahan rafa dan cessa di depan Fajri yang merupakan orang luar.


“MBA?” tanya Fajri dangan nada sopan.


Cessa dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Bukan kak, hmmm sulit dijelaskan tapi bukan MBA” kekeh cessa.


“ohh oke” fajri mengangguk mengerti, dia bukanlah pria yang terlalu kepo dengan kehidupan orang lain.


“jadi balik lagi tentang maura, lo yakin sim aura bakal nuntut seperti itu?” tanya king.


“80 persen sih, mungkin awalnya dia akan menuntut anak, tapi nanti dia akan merubah menjadi merindukan dan ingin tinggal bersama mereka ya tujuan tinggal bukan karena rindu tapi lebih ingin menggoda” jelas Fajri dia memang sudah mengenal maura cukup lama, dan saat maura telah melahirkan dia sempat beberapa kali bertemu maura dan pria itu tau apa pekerjaan maura.


“Bisa kan kamu mengatasi masalah seperti ini?” tanya king.


“Pokoknya jangan cemas, aku akan mempersiapkan semuanya, namun masalahnya jika Diki membantu untuk mengambil anak-anaknya, pria itu tidak perlu uang seperti maura tapi perlu keturunan” kata fajri menjelaskan semua yang dia ketahui.


Rafa menatap Xelo bertanya melalui mata, tentang apakah dia bisa membantu karena pekerjaan Xelo sangat banyak, akan bertambah banyak jika Rafa menambahnya lagi.


“Aku bisa bantu masalah pencarian orang” xelo akhirnya ikut mengeluarkan suara, pria itu tersenyum hangat pada Rafa menandakan dia tidak masalah ditambah pekerjaannya.


“Benaran? Kamu bisa bantu Xel?” tanya King.


“Benar, kalau masalah mencari orang aku punya alat untuk mencari orang yang diciptakan oleh seorang professor kecil” Xelo melirik pada Rafa yang memukul jidatnya sendiri, dia lupa kalau dia punya alat pelacak yang pernah dia ciptakan beberapa tahun yang lalu saat pria itu iseng ingin mencari keluarga Xelo. “Dan alat itu cukup hebat dalam melacak orang” lanjut xelo.


“Profesor kecil?” king sedikit bingung tapi dia tidak mau ambil pusing, “oke makasih Xel, jika lo mau membantu gue, apa yang bisa gue balas buat kebaikan lo?” tambah king.


“carikan jodoh bang, dari kemarin marah-marah terus gak bisa cium-cium cewek soalnya gak ada pacar dia bang” kekeh Rafa.


“eh kutu kupret! Gue gak mau pacaran ya, haram cium-cium sebelum menikah, gue Cuma mau cium cewek gue setelah menikah” kata Xelo kesal.


“Gimana kalau pacar bang Xelo mencium duluan?” cessa ikutan rafa meledek Xelo.


“kalau ada yang cium aku duluan aku bersumpah bakal nikahin dia” jawab Xelo.


“wuuiihhh gaya~ mentang-mentang jomblo” ledek Rafa.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


“prince mana tunangan lo?” tanya Dafa. Karena saat ini Juli tidak Latihan bersama mereka. “bentar lagi mau makan ini” lanjut Dafa lagi.


“pergi beli makanan sama Devi kan?” tanya balik Prince pada Dafa.


“Gue udah balik ya dari tadi” Devi bersuara di samping Dafa ternyata devi sejak tadi duduk disamping kekasihnya itu melihat kekasihnya bermain.


“Vi bisa tolong panggilkan Juli kebawah buat makan? Mungkin dia tidur karena kecapekan, ini game gue gak bisa di hentikan” kata prince, memang tangannya masih sibuk bermain di atas keyboard.


“ya udah gue ke kamarnya” Devi mengalah dan tegakdari kursinya.


.


“sayang kamu kenapa?” tanya prince, “sini sayang” prince menepuk sofa kosong disebelahnya, saat ini mereka semua sudah kumpul di ruang istirahat untuk makan bersama.


“Sedikit pusing” jawab Juli sambil duduk ditempat yang prince suruh.


Tangan prince langsung menuju kening juli untuk memeriksa suhu tubuh juli. “hangat, udah minum obat?” tanya prince.


Juli menggeleng pelan, “kurang tidur mungkin, makanya tadi aku bawa tidur aja, tapi makin menjadi sakitnya” ujar Juli lemah.


“dev, bisa tolong carikan obat di dalam kotak p3k?” pinta Prince.


Devi segera tegak menuju tempat biasanya terletak kotak p3k dan mengambil obat yang kira-kira cocok untuk Juli.


“Nih prince” Juli menyerahkan obat itu pada prince lalu kembali duduk disebelah kekasihnya.


“makan setelah itu minum obat, hari ini gak boleh main game, istirahat aja di kamar, 3 hari lagi kita mau tanding kamu malah sakit sih” prince segera mengambilkan makanan dan memaksa tunangannya itu untuk makan.


“Ciee~ perhatian banget sih” goda Dafa.


Prince hanya menatap datar atas ledekan Dafa, dirinya sibuk memanjakan juli dengan menyuapinya makanan dan sesekali mengelap bibir Juli agar tidak ada noda pada bibir juli. Sedangkan juli hanya diam menerima semua perlakuan manis prince dengan pipi bersemu merah.


“Soo sweet banget sih kalian berdua, jangan bikin orang iri deh” gumam Devi dengan suara kuat sengaja buat menyindir Dafa.


“Nah aaa” dafa mengambilkan satu sendok nasi berserta lauknya pada Devi.


“Apaan sih daf, banyak orang tau” tolak Devi tapi dia tetap memakan suapan yang diberikan dafa.


“katanya iri, jangan iri-iri lagi kalau mau bilang aja, gue gak bisa Bahasa kode kodean” ujar dafa, dia kembali mengambilkan sesuap makanan untukdi suapkan pada kekasihnya itu.


“haddooohhh, bang disini ada 3 anak kecil” ujar Rendi sambil geleng-geleng kepala.


“benar bang, apa lagi kami belum punya pacar, jangan bikin iridong bang” alif menambahkan ucapan rendi.


“hahahhaha” dafa tertawa mengejek ketiga bocah di depannya, “sana bawa makanan kalian ke kamar atau bawa ke tempat main game, disini hanya untuk orang-orang bermesraan sama pacarnya masing-masing” ledek Dafa.


‘PLak’ Devi dengan cepat memukul punggung Dafa. “gak ada itu, lanjut makan lagi, kalau yang du aitu biarin aja ya, anggap aja gak ada disini, soalnya ceweknya lagi sakit” devi menunjuk Prince yang sama sekali tidak terusik dengan ucapan rendi dan Alif.


“gue dengar loh Vi” ucap Prince tapi dia masih sibuk menyuapi tunangannya.


“Ohh dengar tapi kok gak berhenti nyuapi?” ledek Devi.


“Gue Cuma nyuapi, gak cium atau pelukan vi, ini bukan mesra tapi perhatian” ucap Prince. “lagian cewek gue sakit” tambah prince.


“iya-iya tau, kan gue juga bilang maklumi, lanjutkan aja makannya” ujar devi.


“Kalau abang prince sama kak juli udah biasa tapi kalau abang dafa sama kak Devi agak jarang makanya agak aneh gitu” ujar alif.


“makanya biasain, biar jadi biasa, nah sayang aa” dafa kembali menyuapkan makanan pada devi.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...