Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
212. Paris



Begitu mendapatkan izin dari Cessa, Prince langsung memesan tiket firts class menuju paris, istrinya memang ingin ke sana. Prince dan Juli pergi meninggalkan keluarganya yang masih liburan di villa.


"semoga cepat hadir ya" ucap prince sambil mengelus perut istrinya. saat ini kedua orang itu sedang dalam perjalanan menuju paris.


Juli hanya tersenyum membalas ucapan prince dalam hati dia berdoa semoga belum ada yang jadi, karena memang dia masih belum siap untuk hamil, umurnya masih 18 tahun dan dia masih belum mau mengurusi anak, biasa ada beberapa wanita yang belum mau memiliki anak.


sebenarnya diam-diam Juli mengkonsumsi pil KB tanpa sepengetahuan Prince tapi bulan madu ini pil itu tidak Juli bawa karena takut prince akan marah jika ketahuan, jadi Juli hanya berharap tidak ada benih yang berhasil tertanam walau dia tidak minum pil itu.


"Baby kamu ingin anak cowok atau cewek?" Juli menatap mata prince yang berbinar bertanya padanya tentang anak yang dia inginkan.


gadis itu menyesal, telah merahasiakan tentang pil yang dia makan tanpa pemberitahuan pada sang suami.


"apa aja aku mau" jawab Juli dengan senyum getir. Menyesal sudah dia berbohong, ingin rasanya Juli mengatakan kebohongan nya tapi Juli takut.


"aku tidak sabar untuk jadi pipi, anak kita pasti akan cantik seperti kamu" ujar prince.


Juli lagi-lagi hanya mengangguk, hatinya sakit melihat tatapan penuh harapan dari sang suami, apakah dia egois untuk tidak memiliki anak, gadis itu masih takut mendengar rumor banyak wanita meninggal karena melahirkan apa lagi yang masih muda, mendengar itu Juli merasa sangat takut tapi dia tidak berani menyuarakan ketakutan itu pada sang suami.


Prince mengelus pipi Juli dengan lembut, "ada yang kamu pikirkan? apa aku membuat kesalahan?" tanya Prince dengan lembut.


Juli menggelengkan kepalanya pelan. "aku yang salah bukan kamu" namun sayang ucapan itu hanya mampu Juli teriakkan dalam hatinya, bibirnya terlalu kelu untuk mengungkapkan kebenaran itu.


"kalau ada masalah cerita kan padaku ya" ujar prince lagi.


Juli kembali menjawab dengan gerakan mengangguk pelan, tangannya mengambil lengan Prince dan bersandar di bahu pria itu dengan memejamkan mata.


Prince sendiri membiarkan itu dan mengelus elus puncak kepala istrinya sangat lembut.


"I love you juli" bisik Prince, pria itu tersenyum lalu menatap ke arah jendela melihat awan awan yang mereka lewati.


Sementara Juli menitik kan setitik air matanya, cepat-cepat Juli menghapus takut prince akan tau.


...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...


"Kita mau jalan kemana dulu baby?" Prince dan Juli baru sampai di Paris Negara yang sangat disukai Juli.


"gimana kalau jalan-jalan dulu" jawab Juli, gadis itu sudah memutuskan untuk melupakan semua masalahnya dan akan bersenang-senang dengan sang suami.


"Gak capek? mau istirahat dulu?" tawar Prince.


Juli menggelengkan kepalanya, "gimana kita makan malam aja dulu, aku lapar, dan ingin makan setelah itu kita baru istirahat".


" baiklah baby seperti permintaan mu" prince langsung merangkul Juli dan berjalan bersama keluar dari hotel mereka.


.


Bistrot Victoires menjadi pilihan Juli dan Prince untuk menikmati makan malam mereka, kedua orang itu terlihat sangat menikmati waktu makan malamnya hingga gangguan itu datang.


"Prince?!" suara seorang wanita memanggil nama prince.


Prince dan Juli serentak menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


"loh Juli juga ada" pekik gadis yang tadi memanggil prince.


Gadis itu mengambil tempat duduk di sebelah prince dengan senyum lebar.


Juli menggelengkan kepala, sementara prince sedikit menggeser tubuhnya menjauh dari gadis tadi. "apa kabar Riska?" ujar Juli.


"Baik, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya gadis itu dengan sangat bersemangat.


Riska berbicara sambil menatap prince dengan pandangan memuja. “lama tidak bertemu prince” ucap riska lagi padahal pertanyaan dia tadi belum juga dijawab prince dan Juli.


“Hmm” hanya dehaman yang Riska dapatkan.


Gadis itu langsung menunduk sedih dan beralih menatap juli. “kalian liburan bersama teman-teman yang lain?” kepala Riska langsung menoleh kiri dan kanan berusaha mencari sahabatnya yang lain.


“kami bulan madu” jawaban singkat prince mampu membuat tubuh riska terdiam kaku, perlahan kepala itu menoleh menatap juli dan prince bergantian.


“kalian menikah?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.


“Iya ris” jawab Juli sambil berusaha menunjukkan senyumannya.


Riska melihat cicin berlian yang bertengger pada jari manis kedua pasangan suami istri itu. “se-sejak kapan kalian dekat? Prince bu-bukankah bagimu Juli bukan kriteriamu?” Riska terlihat syok dan seperti orang yang akan menangis.


Riska adalah mantan pacar dari Prince, dulu mereka berpisah karena Riska harus mengikuti kedua orang tuanya untuk pindah kerja ke luar negri. Awalnya prince tidak mau berpisah, tapi Riska memaksanya, dan sekarang mereka bertemu secara mendadak.


“kamu kan bilang akan menungguku” gumam gadis itu pelan.


“hubungan tanpa status, sampai kapan aku akan bertahan menunggu, sementara ada gadis yang bersedia berada di sisiku, mencintaiku dengan seluruh hati dan jiwanya, kenapa aku harus menunggu wanita yang entah kapan kembalinya, dan tidak memberikan kabar sedikitpun” balas prince dengan nada biasa, pria itu menggenggam tangan juli menyampaikan bahwa hubungannya dengan wanita itu sudah tidak ada yang tersisa.


“tapi aku masih mencintaimu Prince” lirih gadis itu.


“carilah pria lain yang bisa mencintaimu, bukan aku, karena hatiku sudah sepenuhnya ditawan oleh istriku” kata ‘istriku’ semakin membuat Riska merasa sakit.


“kamu sekolah di sini ris?” Juli berusaha mengganti topik yang membuat mereka menjadi canggung.


“Ya, dan aku akan kembali ke Indonesia tinggal bersama opa dan oma ku di sana, karena di sini aku selalu pindah-pindah, daddy dan mommy terlalu sibuk kerja dan berpindah-pindah negara” jawab Riska.


“berarti kuliah di Indonesia? Kenapa gak disini aja? Bukankah disini lebih bagus?” tanya Juli.


“sudah terlanjur mendaftar di Indonesia, sebenarnya aku kembali untuk prince” jawab Riska.


Juli menjadi terdiam, dia seperti seorang yang merebut kekasih riska, seperti seorang pelakor.


“aku tidak tau kamu menyukai Prince? Dulu kamu bilang tidak akan suka dengannya” Riska menatap sinis pada Juli, mereka adalah sahabat kecil, memang benar Juli pernah mengatakan itu, tapi semua itu untuk menutupi perasaannya, dia tidak mau merebut pacar sahabatnya, tapi bukankah riska dan prince sudah putus? Jadi tidak masalah kan juli masuk dalam hubungan mereka.


“Aku yang menggodanya, mengejar dirinya hingga mau menerimaku,aku bahkan memaksa Juli untuk menikah secepatnya begitu kami lulus dari sekolah” bukan juli yang menjawab melainkan prince. Walau tidak tau siapa yang duluan jatuh cinta tapi Prince tidak mau ada yang menyalahkan perasaan juli dan perasaannya untuk menyatu.


“Tapi kan Juli bu_”


“Bisakah kamu menyingkin dari sini, aku ingin menikmati waktu bulan maduku bersama istri tercinta, silahkan pergi” potong prince cepat sebelum Riska sempat menyampaikan pemikirannya.


Riska merengut kesal, dia tegak dan sedikit menggebrak meja prince dan juli. “baiklah maaf sudah mengganggu waktu kalian, Juli kamu dan prince tidak terlihat cocok sedikitpun” ucap gadis itu sebelum dia pergi dari hadapan prince dan juli.


“dasar setan, datang gak di jemput pulang tak diantar” gerutu prince, “jangan di pikirkan baby kita lanjut makan ya” prince menyodorkan makanannya pada Juli.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...