
Revi menuju kamar pribadinya dengan emosi yang berlipat-lipat, bagaimana tidak emosi, disindir di depan mertua sendiri bukan hanya itu, dia juga disindir didepan saingan cinta serta pujaan hatinya, ditambah lagi mertuanya pun ikut menyindir dirinya.
‘Brak!’ Revi menutup pintu dengan keras sangking emosi.
“Apaan sih Revi!” pekik Gavin yang kebetulan ada di dalam kamar sedang bekerja.
“Mama kamu tuh! Nyindir sku terus! Kesal tau gak!” adu Revi pada suaminya itu.
Gavin menghentikan pekerjaannya sebentar, “emang mama ngomong apa? Sampai bisa buat kamu se emosi ini?” tanya Gavin penasaran.
“Dia muji-muji cessa cantik dan pintar masak, seharusnya dia gak boleh pilih kasih seperti itu” geram Revi.
Gavin mengangguk pelan, “emang benar sih yang di katakan mama, gak ada yang salah, cessa memang sempurna jadi istri” bukannya membela istrinya sendiri, Gavin malah menambahkan luka pada revi.
“Gavin! Seharunya kamu sebagai suami harus belain aku sebagai istri!” maki Revi dengan kesal.
Gavin menatap Revi dengan datar, “kenapa? Bukankah sejak awal kita sama-sama tau aku suka sama Cessa dan kamu suka sama Rafa, kita sedang memperjuangkan orang yang kita sukai, jadi gak masalah dong aku memuji wanita yang aku sukai” ujar Gavin santai.
Revi mendengus kesal, memang benar yang di katakan gavin tapi setidaknya Revi berharap ada sedikit pembelaan yang berasal dari suaminya itu.
“kapan kau akan menjalankan aksimu! Kapan kau akan memperk*s* wanita itu! Buat dia hamil anakmu jadi dia dan Rafa harus berpisah, karena kau telah hamil anaknya!” umpat Revi.
“Malam ini, Papa akan berbincang dengan rafa mengenai proyek yang sedang aku kerjakan ini, dan saat itu aku akan memasuki kamar Rafa, jadi bersabarlah hingga nanti malam” ujar Gavin dengan senyum mengerikannya.
Revi balas dengan tersenyum “kau harus melakukannya berkali-kali dan biarkan Cessa menerima semua lahar mu! Pastikan dia hamil,aku yakin dia tidak membawa obat kb” ucap Revi sinis.
Gavin mengangguk, “itu urusanku,aku akan meminum penambah stamina dan obat kuat, jadi kau tenang saja” ujar Gavin. Dia memang sedang mempersiapkan proposal yang ingin diaberikan pada papa ali dan membuat papa ali mau tidak mau berdiskusi dengan rafa agar mendapatkan dana tambahan dari rafa.
“bagus lah, aku tidak sabar melihat gadis itu menangis” gumam Revi.
...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...
“Pa” panggil rafa pada papa nya yang sedang menyantap makan siang mereka.
Papa ali menghentikan suapannya dan menatap Rafa, “Ada apa Fa?” tanya papa ali.
Rafa mulai merogoh sakunya bajunya, mengeluarkan selembar cek yang memang sudah dia siapkan sebelumnya, lalu memberikan cek itu pada papa Ali.
“Ini Rafa berikan pada papa, anggap saja itu adalah biaya Rafa hidup di rumah ini_”
“gak bisa papa gak mau kamu memutuskan hubungan dengan papa dan mama” potong papa ali cepat.
“Pa dengarin Rafa dulu” ujar rafa dengan pelan dan sopan.
Papa Ali diam dan menatap putra bungsunya itu.
“Ini uang memang untuk papa, tapi hubungan papa dan mama selamanya tidak akan pernah putus, Rafa hanya minta jangan membicarakan tentang uang dan hal-hal mengenai warisan di depan Rafa, Rafa tidak akan pernah meminta hak Rafa sebagai anak dari keluarga ini, Rafa hanya minta tetap menjadi orang tua Rafa hanya itu, dan tolong jangan pernah mencampuri kehidupan rumah tangga rafa atau memaksa Rafa untuk menginap disini lagi, Rafa gak bisa, Rafa takut dan cemas selama Rafa ada disini, bisakah rafa meminta itu semua dari papa?” rafa mengakhiri ucapannya.
Rafa mengangguk pelan, “ini bukan rumah Rafa, dan Rafa sudah membayar uang penginapan selama Rafa tinggal disini dari bayi hingga sekarang, jadi jangan bilang Rafa berhutang lagi dengan keluarga ini” rafa menekankan ucapannya sambil menatap sinis Gavin.
“kalau gitu setidaknya kamu harus tinggal sehari disini untuk ucapan perpisahan pada mama Reta” ujar Gavin, dia berusaha menahan Rafa untuk tetap tinggal di sana setidaknya selama sehari karena rencananya akan hancur berantakan jika Cessa dan Rafa sudah keluar dari rumah itu.
Rafa menatap sinis gavin, dia tau apa yang gavin rencanakan, dia memasang alat perekam pada ponsel Revi, jadi dia mendengar setiap ucapan yang kedua orang itu bicarakan. Rafa tidak akan memberikan kesempatan pada dua orang gila itu untuk melancarkan aksinya.
“ma, mama sudah masak bersama cessa kan? Mama boleh datang kapan saja ke apartemen Rafa atau mama dan papa bisa kapan saja datang menemui Rafa dan cessa, tapi rafa memang tidak tahan tinggal disini, Rafa tersiksa ma” ucap rafa dengan mata sendu pada mama Reta.
Mama reta tersenyum sedih, “iya gak apa, dulu kamu yang selalu mengejar mama dan papa, tapi sekarang papa dan mama yang akan mengejarmu, jika mama merindukanmu, papa dan mama akan mendatangimu, pergilah mama sudah cukup senang dimasakkan sarapan, masak bersama serta bercerita bersama menantu mama, terima kasih sudah mau menginap disini nak” ucap lirih mama Reta.
“Pa! papa harus nahan Rafa dong, papa kan papa nya, setidaknya ini adalah perpisahan terakhir rafa tinggal disini” ujar gavin, sekarang dia memilih papa ali yang terdiam.
Papa ali menatap sinis putra sulungnya itu, “gara-gara siapa adik kamu tidak betah tinggal disini? Gara-gara siapa adik kamu takut untuk tinggal dirumahnya sendiri?” bentak papa ali pada putra sulunya itu, papa Ali menatap Rafa dengan sendu, “Ya sudah, kalau kamu tidak tahan tinggal disini tidak apa, kamu dan cessa boleh pulang, mama sudah merelakan, papa pun juga begitu, tapi hubungan ayah dan anak tidak akan pernah putus fa” lanjut papa ali.
Rafa mengangguk dengan senyuman mempesonanya, ini pertama kalinya dia tersenyum di depan keluarganya, dan itu membuat Revi yang elihat semakin terpesona.
...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...
‘Brak prank krat’ banyak benda tumpul dan kaca yang dibanting gavin Sangking dia kesal, dengan keputusan Rafa. Lagi lagi rencananya gagal, Gavin menggeledah seluruh kamarnya dia yakin ada alat perekam yang ada di dalam kamar miliknya hingga membuat Rafa melakukan itu.
“Sialan! Dimana alat itu!” maki Gavin kesal.
“Alat apa?!” Revi balik membentak Gavin, dia takut bercampur marah karena rencana mereka gagal, takut dia akan dijadikan pelampiasan Gavin, marah karena Gavin gagal sekali lagi, rencana mereka selalu gagal, dan sampai sekarang Revi juga masih belum mendapatkan tujuan utamanya menyerahkan diri pada Gavin.
“Alat perekam ata kamera kecil!” bentak Gavin.
“Kenapa kau mencari itu?” tanya revi dengan nada tinggi.
“Aku yakin pria itu memasang alat perekam pada kamarku, karena dia yang menjebak kita untuk menikah, dan aku yakin rencana kita selalu gagal karena Rafa sudah mengetahui rencana kita, bantu aku mencarinya!” pekik Gavin pada istrinya itu.
Dengan kesal Revi ikutan mencari alat yang di minta oleh Gavin, mereka berdua sibuk mencari alat perekam yang rafa sembunyikan dengan sangat sempurna dan tidak akan ada yang mengetahui letak alat itu, memang selain alat perekam di dalam ponsel Revi ada banyak alat perekam yang ada di dalam kamar Gavin, jika pun Gavin menemukannya dia tidak akan bisa menuduh Rafa, karena tidak ada bukti bahwa rafa lah yang memasuki kamarnya.
...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...
bonus pict
ini dia si Revi
dan ini istri cantik Rafa, si cessa.