
Tidak terasa satu tahun berakhir begitu saja, Kedua pasangan yang masih belum memiliki anak itu masih fokus dengan program kehamilan mereka, saat ini adalah libur semester dan seluruh keluarga Bagaskara liburan kembali ke Villa yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
Memang itu adalah keinginan dari cucu pertama keluarga bagaskara, Darel meminta ulang tahunnya kali ini diadakan di Vila bersama seluruh keluarga besar nya dimana ada ke enam saudara nya dan juga semua auntie dan uncle.
“Hore! Sampai!” teriak darel senang, dia berlari di sepanjang kebun yang sangat luas itu.
“abhang!” dari gendongan King, Amira berteriak memanggil abangnya minta di turunkan ke bawah, begitu turun Amira berjalan dengan tertatih kecil terlihat seperti seekor anak bebek yang sedang berjalan apa lagi pantatnya tampak besar dengan pempers yang dia pakai.
Darel berhenti berlari dia berbalik mendekati adik perempuannya itu dan menggandeng tangan adiknya untuk menuju kebun stroberry.
“jaga adiknya ya bang! Jangan jauh-jauh” teriak king.
“Oke dad!” balas darel.
Sementara itu si kembar Farel sedang memapah adik cowoknya Ameer menuju kebun strawberry.
“Rafa dan cessa belum sam_” baru saja Queen mau bertanya, mobil yang dikendarai rafa memasuki perkarangan vila.
Xelo lebih dulu keluar dari dalam mobil, “wahh udah lama banget gak refreshing” pekik Xelo sambil merentangkan tangannya.
“Papi sama mami mana bang?” tanya rafa yang baru saja keluar dari dalam mobil.
“itu mereka udah duduk melihat si kembar lagi petik buah” tunjuk King. Papi harry dan mami dona lebih dulu sampai karena mereka bersama prince dan juli, kedua pasangan itu sedang ikut memetik buah strawberry membantu keponakan mereka.
“obelly!” teriak Quinsya dari gendongan rafa.
“adek mau jalan kesana?” tanya Rafa.
Quinsya mengangguk cepat dengan senyum cerahnya, “oleh pi?” tanyanya menggemaskan.
“Boleh tapi jangan langsung dimakan, tanya mama atau papa dulu kalau mau makan buahnya, abang juga mau ikut?” tawar rafa pada dua kembar yang masih duduk di kursi penumpang.
“mau pi!” jawab kedua anak kembar itu serentak.
“tunggu dulu ya, papi bangunin mami” ujar rafa, dia agak kesulitan mengurus ketiganya sekaligus jika cessa tidak membantu.
“caca mau sama uncle? Kita petik strawberry” Xelo menawarkan Rafa untuk menggendong Quinsya.
“au” Quinsya merentangkan tangannya minta di gendong oleh Xelo.
“Abang Azmi ayo kita petik buah” prince berlari menghampiri keponakannya untuk mengajak memetik buah.
Melihat prince yang membantu rafa, ellena juga berinisiatif untuk menggendong Aryan menuju kebun buah, dan yang tinggal hanya Rafa dan cessa di mobil, rafa sangat bersyukur dia mempunyai banyak saudara walau dulu dia kesepian tapi sekarang berkat menikah dengan cessa pria itu tidak lagi kesepian, dia juga membeli rumah di sebelah mertuanya agar tetap bisa kumpul bersama dengan keluarga besar dan hangat itu.
“Sayang” bisik rafa sambil mengelus pipi cessa dengan lembut.
‘cup’ pria itu memberikan kecupan pada bibir cessa baru kembali memanggil nama istrinya dengan lembut.
“princessa istriku kita sudah sampai” ucap rafa lagi.
“ehhmmm?” perlahan mata istri cantik rafa itu terbuka dan melihat kekiri serta kanan, “udah sampai yang?” gumam bibir cessa.
“udah, yuk kita turun lagi” ajak rafa.
“ANAK ANAK MANA YANG?!” pekik cessa panik karena ketiga anaknya sudah tidak ada di sana.
“hahahha tenang sayang, mereka sedang main di kebun” Ujar rafa sambil mengelus pipi istrinya. “yuk turun” ajak rafa pada istrinya.
.
“pi oeli” Quinsya berjalan dengan tertatih sambil menyodorkan buah pada papinya, ada sekitar 2 buah strauberry ditangan Quinsya yang sudah memerah akibat buah itu.
Rafa melihat kebun yang tampak berantakan lalu melihat mertuanya yang tertawa keras melihat tingkah lucu cucu cucu mereka dari teras. Untung saja tidak ada yang memarahi mereka karena sekarang semua bocah kecil keluarga bagaskara wajahnya tidak dapat dikenali lagi akibat warna merah di mulut dan tangan mereka serta baju.
“Wuuaahhh untuk papi?” tanya rafa sambil berjongkok.
“tuk pipi dan mimi” jawab Quinsya.
‘cup cup’ rafa mencium kedua pipi putrinya, “terima kasih, sana main lagi sama abang, tapi ingat adek gak boleh lari-lari”.
“ote” Qiunsya berjalan tergopoh-gopoh mendekati saudara saudaranya.
Cessa mengambil buah itu dan langsung memakannya, “hmm manis, cocok putriku menjadi pemetik buah” kekeh cessa.
...🌜☃️☃️☃️☃️🌛...
“kok gak mau makan sih sayang? Bukannya tadi pengen makan ini?” tanya Prince pada juli istrinya.
“masih kenyang kebanyakan makan buah strawberry tadi” tolak Juli secara halus.
“Gak mau makan juga?” tanya xelo pada prince.
“maksudnya bang?” balik tanga prince.
“ellena juga gak mau makan beberapa hari ini” ujar Xelo.
Pembicaraan kedua pasangan itu cukup menarik perhatian papi dan mami tapi mereka masih diam tidak mau terburu buru menduga.
Sementara itu rafa mengulum senyum mendengar ucapan saudara-saudaranya, dia sudah tau apa yang terjadi.
“enyak!” teriak amira dengan senang sambil menyuap makanannya sendiri.
“enyak!” datang si burung beo Quinsya yang ikutan berteriak enak dengan senyum cerahnya.
“makan sampai habis ya, jangan seperti mommy Queen yang gak habis makannya” kekeh King.
‘Pluk’ punggung King di tepuk Queen karena dia tidak mau ada yang khawatir dengan keadaannya, entah kenapa beberapa hari ini dia mulai mual dan tidak nafsu makan.
Sedang saling berdebat di meja makan tentang istri yang tidak nafsu makan, cessa datang membawa masakannya yang beraroma sangat mengiur kan.
“Oke seafood saos padangnya sudah siap!” cessa meletakkan piring besar di tengah-tengah meja makan.
“Ueekkk” Juli, Ellena dan Queen serentak menutup mulut mereka dan berlari menuju wastafel diikuti para suami mereka yang tampak khawatir.
“Yahhh kok malah pergi? Masakan cessa gak enak ya?” lirih cessa sambil menatap masakannya yang masih mengepul asap.
“hahahhahaha” papi harry dan rafa tertawa serentak melihat apa yang terjadi pada ketiga pasangan itu.
“kenapa ketawa yang? Ada yang aneh ya?” tanya cessa heran.
“Itu sayang, ambilkan plastik hitam dalam tas aku tolong” ujar rafa disela tawanya.
Dengan masih bertanya-tanya cessa berjalan untuk mengambil perintah suaminya, sementara itu mami dona mengasingkan makanan yang menjadi sumber ketiga menantunya mual.
“jangan ketawa aja, sebenarnya ada apa sih?” tanya cessa yang sudah menyerahkan plastik hitam yang ada ditangan nya.
“nanti kamu akan tau sayang, buka dan kasih ketiga orang itu satu persatu” ucap rafa lagi.
Dengan bingung cessa membuka dan mata wanita itu melotot melihat ada 3 buah alat tes kehamilan di dalam plastik hitam itu, “jadi ini masalahnya? Yaahhh sayang masakan cessa jadi bersisa banyak” cessa mengeluh tapi bibirnya memancarkan senyuman bahagia.
Bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki keponakan lagi.
“hebat banget udah persiapkan fa” kekeh papi harry.
“ohh iya dong pi kan rafa calon dokter, dokter pribadinya Quinsya” rafa menatap putri kecilnya yang makan dengan celemotan dan kedua putranya, pria itu menjadi dokter hanya untuk mengobati putrinya bukan untuk niat menyelamatkan banyak nyawa manusia, hanya satu alasan itu, bagi rafa hidupnya sekarang sangat berharga dia tidak mau terlalu sibuk dengan pekerjaan dan menyelamatkan hidup orang lain, cukup bisa mengobati seluruh keluarganya dan itu sudah cukup.
Mama dan papa nya juga bahagia menjalani masa tua mereka di vila rafa yang ada di bali sesekali mereka mengunjungi rafa karena kangen dengan cucu mereka, dan gavin ? hidup dengan kesendiriannya di rumah sakit dia hidup dengan bantuan suster yang di bayar rafa dengan sangat mahal, karena itu adalah permintaannya bukan, hidup tanpa keluarga.
...💫END💫...
Terima kasih sudah mengikuti novel ini, semoga semuanya suka, nantikan extra part dan Season 2 nya ‘My stupid Girl’ cerita tentang putri bungsunya pasangan Rafa dan cessa.
Jangan lupa like, Vote, hadiah dan bintang 5 nya untuk novel ini ya 😘😘😘
bonus pict
Alquinsya dan Amira (sering dibilang kembar padahal beda ibu) hanya beda beberapa bula lahirnya.