Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
76. Pembahasan para wanita



Juli dan cessa saling lirik-lirikan saat melihat Devi sedang asik mengirim pesan dengan Dani, pria yang kemarin malam datang ke pesta barbeque mereka.


"Cieeee yang lagi pdkt nih" ledek Cessa.


"Ihh apaan sih cess, orang cuma chat biasa aja" elak Devi malu-malu.


"Waahh kasian dong Dafa di tinggalkan" Juli juga ikut-ikutan untuk meledek Devi.


Mendengar nama Dafa disebutkan Devi menghentikan Ketikannya pada ponsel pribadi gadis itu. Keningnya langsung berkerut, selalu saja kedua sahabatnya itu mengaitkan dia dengan Dafa.


“Kenaa sih selalu saja dafa kalian jodoh-jodohkan dengan aku, kayak gak ada cowok lain aja” gerutu Devi sambil bersungut kesal.


“yakin nih mau tau alasannya?” tantang Cessa sambil menaik turunkan alisnya.


“Iya kenapa!” ucap Devi kesal.


“Soalnya lo suka sama Dafa, lo chat sama bang Dani untuk cari pelariankan?” ujar Juli secara spontan.


Devi melototkan matanya tidak percaya, “Kalian ini apa-apaan sih?! Kalian sejak kapan gue bilang gue suka sama dafa!” seru defi sedikit membentak.


Cessa menggelengkan kepalanya semakin devi menyangkal, dia semakin yakin Devi menyukai Dafa.


“Makanya jadi cewek tu jangan suka sok jual mahal, bilang gak suka lah jadi gini kan cowoknya juga nganggap kamu gak suka dia, jadi bertengkar aja terus tiap hari” sindir Juli, sambil menyeruput minuman pesanannya, untung saat ini mereka ada di ruangan vip jadi tidak ada orang lain yang berada di dalam ruangan makan mereka bertiga.


“Siapa yang sok jual mahal, gue udah bilang berkali-kali, gue gak suka sama Dafa! Kalian aja selalu suka jodohin gue sama Dafa, udah gue_” Tolak Devi lagi. Gadis itu masih tidak mau mengakui perasaan yang dia punya pada dafa, padahal kedua sahabatnya sudah tau bahwa Devi sebenarnya sangat menyukai Dafa, tapi gadis itu selalu berbicara dengan lawan dari kata hatinya, selalu saja menghina Dafa, awalnya dia berharap dengan menjadi teman bertengkar Dafa akan selalu mengingatnya dan dari sana perasaan dafa muncul, tapi semakin lama bukannya semakin membaik hubungan keduanya malah semakin hancur dengan saling bertengkar dan mengejek satu sama lain.


“mata kamu gak bisa bohong Devi” ucapan Cessa membuat Devi terdiam tidak dapat melanjutkan ucapannya.


“Apaan sih, salah liat kalian, ini aja gue sedang chat sama kak Dani, kalau kami semakin dekat aku bakal jadian sama dia” elak Devi lagi sambil menunjukkan chat dia bersama dani.


Juli menghela nafas panjang, dia tau sahabatnya itu sedang melarikan diri dari masalah, “Lo menggunakan kak dani sebagai pelarian Dev, seharusnya lo jujur, jangan pernah membantah ucapan kami dengan lawan kata hati lo, semakin lo tolak dafa semakin kami tau lo punya perasaan padanya, mata lo gak bisa bohong, lo suka sama dafa, tapi tidak semua pria itu makhluk yang peka! Mereka tidak tau sinyal yang kita berikan, mereka tidak sepeka itu sampai bisa membaca hati kita, semakin lo hina dia semakin dia menjadi benci sama lo dev” nasehat juli.


Devi terdiam, “emang kelihatan banget ya kalau gue suka sama dia?” akhirnya gadis itu mengungkapkan perasaanya.


Juli dan Cessa saling pandang lalu tertawa keras, “jelas banget” ucap keduanya serentak.


“Kita cewek itu sangat peka, dan kita tau yang mana sinyal cinta dan yang mana sinyal kebencian” ucap Juli di sela tawanya.


“Apa Dafa tau? Dan bagaimana perasaan dia pada gue?”


“Kalau menurut gue dafa gak tau, tapi gue ada lihat sinyal cinta dari mata dafa untuk lo, tapi lo nya aja yang gak peka, kalian berdua itu karena selalu saling mengejek dan mengatakan hal yang berlawanan dengan kata hati kalian, makanya jadi gini sekarang” ledek Juli.


“tapi gue gak mau ngakui duluan! Gue cewek, kesal aja gitu kalau gue yang mengakui duluan, apa lagi si dafa itu playboy, seperti kemarin itu di pesta pernikahan Refi sama Gavin, dia pergi jalan sama cewek-cewek, dia pasti gak ada perasaan sama gue, dari pada gue berharap dengan hal yang gak pasti mending gue menghilangkan perasaan gue untuk Dia kan?” lirih Devi.


Juli menghela nafas panjang, “emang sebenarnya lo juga salah Dev, lo suka sama dafa, tapi lo selalu mengejek dia dan mengata-ngatai dia, gimana prianya peka coba” sindir Juli.


“jadi gue harus apa? Gak mungkinkan gue bilang secara langsung kalau gue mengatakan itu karena kesal dia gak peka sama perasaan gue” gerutu Devi.


“benar tu, diam aja, jangan bantah-bantah pakai bilang gak bakal mungkin suka lagi” tambah juli membenarkan ucapan Cessa.


“Iya tapi kalau dia duluan yang tolak gue gimana?” sungut devi.


“itu juga karena lo dulu yang sering membantah ucapan kita berdua, jadi biar aja dia duluan yang ngomong, lo diam aja, bilang aja males ngeladeni, atau apalah, pokoknya jangan bantah doa kami tau” ucap cessa.


“Iya-iya, tapi cess, gue boleh tanya sama lo gak?” tanya devi, berusaha mengalihkan pembahasan dia dengan Dafa.


Cessa geleng-geleng kepala, “kita lagi bahas hal penting ini loh, ketahuan banget mau pengalihan pembicaraan” sindir cessa.


“Iya gue penasaran cess” ucap Devi.


Cessa menghela nafas panjang, “apaan?” seru gadis itu.


Devi menatap cessa dengan wajah serius sambil mendekatkan wajahnya ke arah cessa, “Lo udah di coblos? Cara jalan lo lain soalnya” tanya Devi secara spontan.


“Huk huk huk” Cessa yang sedang minum langsung tersedak begitu mendengar pernyataan frontal dari sahabatnya itu.


“Anak kecil gak usah tau deh!” elak cessa dengan wajah sudah semerah tomat.


“Sebenarnya gue juga penasaran cess” tambah juli dengan suara pelan dan senyuman canggungnya kearah cessa.


Cessa menghela nafas panjang, “Iya udah” jawab gadis itu singkat.


Devi dan juli serempak mendekatkan diri mereka kearah cessa, “Benaran cess? Gimana rasanya sakit gak? Ada keluar darah gak? Banyak?” pertanyaan beruntun dari Devi membuat cessa tertawa terbahak-bahak.


“yang mana dulu nih yang harus gue jawab?” kekeh Cessa sambil menghapus air matanya yang keluar karena tertawa terbahak-bahak.


“terserah yang mana dulu, yang penting jawab” ucap devi, dia berhasil mengalihkan pembicaraan kedua sahabatnya kini menjadi pembahasan dewasa tentang cessa dan rafa.


“benaran udah, Sakit banget pas pertama kali, darah? Kayaknya keluar deh gue liat bercak darah diseprai, tapi gak banyak” jawab cessa satu persatu atas pertanyaan yang diajukan oleh devi.


“Enak gak cess?” tanya devi lagi.


“hmmm..” cessa sengaja menggantung ucapannya melihat reaksi kedua sahabatnya itu, “ra-ha-si-a, bisa bahaya jika kalian tau gimana rasanya, ntar pengen nyoba lagi” ledek cessa.


“Mana yang lebih dominan cess? Durasi apa ukuran?” kekeh Juli.


Cessa langsung melototkan matanya pada Juli, bisa-bisanya sahabatnya itu sefrontal itu.


“Apa ya durasi sama ukuran itu?” tanya balik Devi tidak mengerti.


Cessa dan juli saling lirik dan tertawa bersama atas ucapan devi, untung saja sahabatnya ini lomot nya minta ampun, padahal tadi dia duluan yang membahas hal dewasa, tapi malah dia yang tidak tau arti dari pertanyaan juli.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...