Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
78. Kejutan



Selama dalam perjalanan menuju ke villa cessa sibuk menelpon Rafa tapi teleponnya tidak kunjung di jawab oleh rafa. Wajah cessa langsung berubah sedih dia takut Rafa marah padanya karena dia lupa waktu jalan-jalan bersama kedua temannya hingga lupa waktu, sekarang sudah menunjukkan pukul 8 malam, cessa tidak sadar waktu telah berlalu karena dia sibuk didalam ruangan bukan di luar.


Juli berusaha menahan tawanya, dia dan Devi tau cessa sedang cemas karena takut Rafa marah padanya, padahal itu semua rencana juli dan Devi agar cessa melupakan waktu, dan tidak ada memberi kabar pada Rafa.


“Kenapa sih cess? Kok cemas gitu?” tanya Juli sambil terus berusaha menahan senyum di bibirnya.


“Rafa kayaknya marah jul, aku gak ada kabari dia” ucap cessa masih sibuk menatap ponselnya.


“Sesekali aja, pasti gak bakal marah kok, tenang aja kita bakalan bantu kalau di marahi” ucap devi, dengan senyum yang tertahan.


“Ntah lah dev, aku bukan takut rafa marahnya, justru aku takut dosa gak izin sama suami” ucap cessa dengan lesu.


“Iya nanti minta maaf, biar dosanya hilang, yuk keluar lagi, ni kita udah sampai” ajak Juli sambil menarik lengan cessa untuk segera keluar dari dalam taxi.


“Semoga aja dimaafin” keluh cessa, dia berjalan dengan pelan menuju pintu vila, tanpa dia sadari Juli dan devi tidak mengikuti dia yang berjalan menuju pintu.


‘ceklek’ Cessa perlahan membuka pintu vila itu, dahinya berkerut melihat suasana vila yang gelap dan kosong.


“kok gelap ya jul? mereka kema-na ya?” cessa kebingungan karena begitu dia berbalik sudah tidka ada juli dan Devi disekitarnya, apa dia salah masuk villa atau dia masuk ke dunia lain, cessa cepat-cepat keluar lagi untuk melihat nomor villa yang dia masuki.


“sama, emang ini vilanya, tapi kenapa Cuma aku sendiri aja, JULI! DEVI! DIMANA KALIAN!” teriak cessa dengan keras,dia tidak peduli akan ada orang yang keluar karena merasa terganggu dengan teriakannya yang penting dia masih menganggap dia masih di dunia manusia.


“FA! RAFA!” panggil cessa kini, dia kembali memasuki vila yang tadinya gelap, baru dua Langkah dia berjalan, dari arah kiri kanannya muncul lampu berbentuk lilin yang mulai menyala satu persatu, bukan hanya itu di sepanjang dia berjalan ada foto-foto rafa dan cessa yang di bingkai dan di hias dengan sangat cantik. Cessa berhenti pada satu kertas yang bertulisan kata.


‘Hai Princess, apakah kau merindukanku? Jika iya berjalan 2 langkah ke kanan dan tekan tombol yang ada disana’


Cessa tersenyum membaca kertas itu, dia mengikuti perintah yang dituliskan, ketika cessa menekan tombol yang disediakan muncul layer proyektor di hadapan gadis itu.


Muncul foto-foto pernikahan cessa dan rafa serta foto-foto keduanya yang sedang liburan di bali. Diikuti dengan suara rafa yang menjadi background video itu.


“Princess, ingat pertemuan pertama kita diawali dengan ketidak sengajaan, awalnya aku ingin memergoki pasangan yang sedang mesum di ruangan itu, yang ku dapati malah seorang gadis cantik yang sedang cemas melihat tontonan didepannya, aku ingin tertawa saat itu begitu melihat wajahmu, tapi aku tahan karena kamu terlihat seperti akan menangis, setelah kejadian itu kita menikah, pernikahan yang sebenarnya tidak terlalu aku pikirkan, karena aku tidak pernah berharap untuk menikah, kehidupan keluarga yang aku jalani membuat aku takut untuk menikah, tapi pernikahan kita juga harapan bagiku untuk keluar dari rumah itu, berkat kamu aku berhasil melarikan diri dari rumah itu, kamu mengajarkan banyak hal padaku, mewarnai hidupku yang sebelumnya hanya putih abu-abu dan gelap, terima kasih princess, telah menarik tanganku dari lubang gelap itu” video berakhir dan suara Rafa tidak terdengar lagi, cessa terdiam di tempatnya, tidak mampu berkata apapun lagi.


“Terima kasih telah menjadi istriku cessa” suara rafa muncul dari belakang cessa.


Gadis itu segera berbalik dan langsung mendekap tubuh Rafa dengan erat.


“Aku mencintaimu Princessa Aurelia bagaskara” bisik rafa sambil membalas pelukan Cessa.


‘cup’ Rafa mengecup kening cessa, “ini untuk hadir di dunia ini”


‘cup’ Rafa kembali mengecup pipi kanan cessa, “ini untuk bersabar bersama pria seperti aku”.


‘Cup’ raka kini mengecup pipi kiri cessa, “ini untuk semua perhatian yang kamu berikan padaku”.


‘Cup’ terakhir rafa ******* bibit cessa dan mengulum bibir gadis itu, “ini untuk istri sexy aku” kekeh rafa setelah tautan bibir mereka berdua terlepas.


Cessa mengulum senyumnya malu karena ucapan rafa, dia tidak menyangka rafa bisa bersikap romantic seperti itu.


“ini dalam rangka apa? Buat kejutan begini?” tanya cessa.


“Gak senang? Aku kasih kejutan?” tanya rafa.


Cessa menggeleng pelan, “Bukan itu, tapi penasaran aja, soalnya ini bukan hari ulang tahunku” ucap cessa.


“Bukankah ini impian para Wanita diberikan kejutan oleh kekasih atau suaminya? Pernikahan kita sudah berlangsung beberapa bulan, tapi aku tidak pernah memberikan kejutan untuk kamu, lusa kita sudah balik pulang dan mulai beraktifitas tentang sekolah lagi, aku ingin membuat kejutan pada istriku, tidak dalam rangka apapun, hanya karena aku ingin saja membuat kejutan untuk kamu, setidaknya jika kita punya anak nanti kamu punya cerita bagaimana romantic dan keren daddy nya dalam membuat kejutan buat mommy” ungkap Rafa sambil mengelus pipi cessa lembut.


“Makasih fa” ucap cessa dengan air mata yang sudah mengenang.


“Gak sayang, jangan berterima kasih sama aku, justru aku yang berterima kasih sudah datang hari itu, dan masuk keruangan itu, hingga kita harus dipaksa menikah…” rafa menjeda ucapannya sebentar, menarik dagu istrinya agar menatapnya lebih lekat. “pernikahan kita memang terpaksa, tapi maukah kamu selamanya bersama aku sampai akhir hayat menjemput ku cessa?” lanjut Rafa lagi.


Cessa menghapus air matanya yang jatuh, gadis itu mengangguk cepat, “mau, aku akan selalu ada bersamamu fa, tidak akan menghianati hatimu” ucap cessa dengan suara serak.


Rafa tersenyum senang dia memeluk tubuh istrinya itu dan memberikan kecupan bertubi-tubi pada istrinya.


“Fa, geli” kekeh cessa karena rafa terus menciumi wajahnya. “Tapi abang, dafa, juli sama devi kemana?” tanya cessa sambil menahan wajah rafa yang hendak menciumnya lagi.


Rafa tertawa pelan mendengar pertanyaan cessa, “ngunsi sayang, katanya mereka gak mau baper” jelas Rafa.


“Owaallaahhh ngungsi kemana? Kamu jahat banget sih, ini udah malam loh, kasian anak orang di luar sana” ucap cessa sambil memukul dada rafa pelan.


“Biarkan saja dulu, biarkan mereka double date” ucap Rafa, dia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah cessa dan kembali memberikan kecupan hingga ******* pada bibir candu istrinya itu.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...