Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
27. Bertemu Dina



Cessa dan Rafa berjalan menuju tempat orang menjual jagung bakar, langkah kaki Rafa berhenti saat, matanya bertatapan dengan Dina, gadis yang bernama Dina itu langsung tersenyum lebar saat matanya bertatapan dengan Rafa.


“Rafa ! kejutan” seru Dina, dia sudah mendekat kearah Rafa dan cessa.


Rafa yang di dekati hanya mundur selangkah dan semakin mengeratkan rangkulannya pada bahu Cessa. Rafa memilih diam dan menarik Cessa mencari tempat duduk yang jauh dari Andre dan Dina.


“Fa, udah lama banget gak ketemu apa kabar?” ujar Dina, dia duduk didepan Rafa dan cessa.


“mau pindah tempat gak?” bisik Rafa pada Cessa. Semua hal yang dilakukan Rafa di lihat jelas oleh Dina, dari Rafa yang mulai mendekatkan bibirnya kearah telinga cessa, hingga sampai interaksi kedua orang itu yang terlihat sangat mesra.


Dina segera tegak dan kembali ke tempat duduknya bersama Andre, air mata gadis itu sudah mengalir deras, “Rafa jahat Ndre, dia marah sama gue, gara-gara gue gak hubungi dia” isak gadis itu.


Andre yang marah segera tegak dan menghampiri kursi Rafa dan cessa.


“cess gue peringatkan sekali lagi sama lo, itu” Andre menunjuk Dina yang sedang menangis, “dia adalah kekasih Rafa, kamu akan seperti dia sebentar lagi” ungkap Andre dengan suara tinggi.


Menjadi pusat perhatian membuat rafa menjadi risih, dia menarik tangan Cessa, “Kita makan tempat lain aja”.


“ada apa?”


“Sepertinya pria itu selingkuh”


“Wahh wajar sih cewek selingkuhannya lebih cantik di banding ceweknya”


“gila kalau gue juga bakal mau jadi selingkuhan keberapapun asal dengan cowok itu”


Begitulah gossip-gosip yang tersebar disana.


“Fa, tunggu jelasin dulu ke gue” pinta cessa lembut.


Rafa mengelus tangan cessa yang dalam genggamannya, “Akan gue jelaskan tapi tidak disini, tidak didepan dia” Rafa menatap sinis Andre yang juga menatap Rafa dengan pandangan sinis juga.


“Liat kan cess, dia mau berkilah, lo masih mau sama pria seperti itu?” sindir Andre.


Rafa masih diam dia melirik orang-orang yang mulai memperhatikannya, lalu pada Dina yang masih menangis pilu, ingin rasanya dia membongkar rahasia Dina, tapi dia tidak ingin mejadi orang yang kejam, melihat reaksi Rafa, cessa memilih menarik rafa untuk kembali melangkah menuju motor mereka.


“Ini urusan gue sama rafa, lo gak perlu ikut campur” tegas Cessa. “ayo kita kemana?” ajak cessa lagi, dia sudah memasang helmnya.


Rafa menyungingkan senyumnya lembut dia segera menjalankan motornya, dan pergi dari tempat itu.


.


Motor rafa berhenti di sebuah tempat makan jagung bakar, agak jauh dari tempat semula.


“Bisa jelaskan apa yang terjadi? Kenapa Wanita itu bersikap seperti kekasihmu? Kamu bilang tidak punya kekasih?” Tanya cessa secara beruntun.


“Aku mohon tolong percaya padaku, sebelum aku menceritakan itu” pinta rafa sebelum mengatakan pada cessa tentang rahasia besar yang Dina miliki.


Cessa mengangguk cepat, “baiklah, jadi ceritakan padaku” pinta cessa.


“Ero-er-ero apa?” cessa tampak kebingungan, dia pertama kali mendengar nama penyakit itu.


“Erotomania Syndrome, adalah gangguan kejiwaan dimana penderita penyakit ini yakin bahwa orang yang dia cintai sedang jatuh cinta kepadanya, dia akan menganggap semua yang hal yang aku lakukan padanya adalah bentuk cintaku pada gadis itu, dia akan berhalusinasi, bahwa kami berpacaran dan kami memiliki hubungan khusus, dia tidak bisa membedakan yang mana hayalan, yang mana mimpi atau yang mana dunia nyata, baginya aku menyukai dia itu adalah kenyataan” jelas Rafa.


“A-apakah penyakit itu benar-benar ada?” tanya Cessa lagi.


“dalam dunia medis psikolog itu ada, dan biasanya penderita Erotomania akan menganggap seorang idola, atau biasnya sebagai suami atau kekasihnya” jelas rafa lagi.


“Bukankah seperti para fans?”


Rafa menggelengkan kepalanya, “berbeda, bagi penderita Erotomania hayalan itu dia anggap adalah kenyataan, dia benar-benar menganggap aku adalah kekasihnya dan pujaan hatinya, berbeda dengan fans, terkadang mereka memang menganggap Biasnya adalah suaminya, tapi mereka bisa membedakan yang mana nyata dan mana tidak”.


“Apa itu membahayakan?”


“Tidak untuk penderita yang masih bisa di kontrol, tapi bisa bahaya padaku, padamu, atau juga padanya, dia akan menjadi stalker, dan terus berusaha memisahkan kita, seperti orang gila, yang tidak bisa di beri tau, dia akan terus mengatakan hal kebohongan pada orang sekitarnya, dan berhalusinasi bahwa aku adalah miliknya, ada kemungkinan, dia akan menyakitimu, dan berusaha mempengaruhimu agar menjauhiku,atau yang lebih parahnya dia menyakiti kita dan dia bisa bunuh diri jika penyakitnya semakin parah” ucap rafa panjang lebar.


Cessa menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan yang barusan Rafa katakan, “bagaimana kamu tau dengan penyakitnya itu?” tanya cessa.


“Dua hari setelah Dina masuk rumah sakit karena fans ku, aku menjenguknya, dan di sana aku baru tau penyakit yang dia derita dari ayah dan ibu tirinya, jika dia menderita penyakit yang sama dengan mendiang ibunya, ibu dina bunuh diri karena menganggap ayahnya telah berselingkuh, padahal ayahnya tidak pernah berselingkuh, ayah dan ibu tirinya memohon padaku agar mengabulkan halusinasi yang dia buat, agar penyakitnya sembuh, tapi aku menolaknya, aku tidak ingin dipaksa untuk mencintai dia, karena hatiku sedikitpun tidak berdetak jika bersamanya” Ujar Rafa dengan menunduk, wajahnya tampak lesu dan sedih, dia takut cessa tidak mau percaya padanya.


“Bagaimana jika memang Dina adalah kekasihmu?” tanya cessa sambil mengulum senyum.


Rafa mengangkat kepalanya menatap manik mata cessa, “Jika dia adalah orang yang penting untukku, aku akan melindungi dia seperti aku melindungimu sekarang, jika masih tidak percaya tanyakan saja pada prince atau kedua temanmu, apakah aku pernah membela Dina”


Cessa diam mencerna setiap ucapan Rafa, gadis itu meraih tangan rafa dan meletakkan tangan rafa pada pipinya, “Baiklah aku percaya” ujar cessa dengan senyum manisnya.


“Aku takut melihatnya, ada kemungkinan dia akan kembali ke sekolah, bisakah kau percaya padaku untuk kedepannya, jangan pernah mau menerima omongan orang lain begitu saja, bicarakan dulu padaku, apa kamu mengerti?” tanya Rafa, tangannya masih betah berada di pipi Cessa, mengelus lembut pipi itu sambil mengembangkan senyumnya hanya untuk cessa.


Cessa mengangguk pelan dan membalas senyuman Rafa, “Boleh aku tanya satu hal lagi?”


“apa?”


“Kamu tidak suka di paksa, tapi pernikahan kita adalah paksaan, kenapa kamu tetap mau melakukan itu? Apa karena kedua orang tuamu yang memaksa?”


Rafa mengulum senyumnya, memang benar yang dikatakan cessa, dia tidak suka dipaksa, tapi bukan berarti dia melakukan pernikahan itu karena terpaksa, itu adalah pilihan rafa, pertemuan pertamanya dengan cessa membuat pria itu tertarik dan cessa mampu menggerakkan hatinya padahal baru pertemuan pertama.


Selama ini dia selalu bersikap acuh setiap prince bercerita tentang Cessa, entah kenapa pertemuan mereka itu seperti takdir bagi Rafa.


...🌜☀☀☀☀🌛...


bonus pict