Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
77. Masa lalu Rafa



“ih kenapa kalian ketawa sih, gue penasaran ini, apa maksud durasi sama ukuran?” desak Devi penasaran.


Cessa menggelengkan kepalanya, “tega lo jul, membuat otak teman lo ini tercemar” kekeh Cessa.


Juli tertawa mendengar ucapan cessa, “kasian juga sih liatnya, udah kapan-kapan aja kita bahas durasi sama ukuran” ucap juli sambil mengelus kepala devi dengan lembut.


“kalian pikir aku anak kecil, aku juga tau mengenai **** itu apa, kita kan ada belajar di sekolah tentang alat reproduksi, jadi gue udah dewasa udah tau hal seperti itu” gerutu devi kesal karena dianggap anak kecil oleh kedua temannya.


“Gue tetap gak mau bahas, umur kita masih 17 tahun dan hanya gue disini yang udah nikah, jadi belum saatnya kalian tau hal-hal lebih dewasa selain jika dua manusia berlainan jenis jika melakukan hubungan badan akan menghasilkan anak, dan hubungan tanpa adanya ikatan sah dilarang di agama, jadi ingat dev, sepenasaran apa kamu sama gimana rasa malam pertama aku, gak bakal aku jawab sebelum kamu nikah dan rasakan sendiri malam pertamamu” putus cessa mengakhiri pembicaraannya.


Devi merengut tapi tidak bisa berkata lagi karena cessa sudah membulatkan tekatnya, yang penting kedua temannya tidak lagi membicarakan perasaanya yang akan dia lupakan untuk dafa itu sudah cukup.


“tapi gue penasaran deh kok bisa lo ngerubah beruang kutub itu menjadi beruang madu, lo tau aku sebagai saudara sepupu Rafa baru kali ini liat Rafa mau bersikap seperti itu” ucap Devi.


“Benar kata devi, dulu aja di aitu gak pernah ngomong sama kita lebih dari tiga kata, tapi sejak lo muncul, kosakata Rafa bertambah” juli menambahkan ucapan devi.


Mendengar kedua sahabatnya mulai menceritakan masa lalu rafa cessa jadi mulai penasaran, apakah benar suaminya itu tidak pernah dekat dengan cewek, kalau tidak pernah kenapa dina bisa menganggap mereka dekat.


“benarkah? Emang sedingin apa dia?” tanya cessa mulai memancing devi dan juli untuk menggali masa lalu Rafa.


“Pernah ada cewek ngancam mau bunuh diri kalau rafa gak terima dia jadi pacaranya, tapi rafa hanya menjawab ‘mati aja’ dingin banget kan, makanya kita itu masih gak percaya rafa bisa berubah seperti sekarang” ungkap Devi.


“Si dina aja selalu ngejar dia tapi gak pernah di tanggapi Rafa, malah Rafa dengan tegas menolak perasaan dina didepan kami, dia malah terlihat sangat jahat dan kejam saat menolak perasaan Dina, tapi kami gak nyangka kalau dina bisa segila itu mencintai Rafa” tambah Juli.


“Benar banget gue jadi ngeri liat dia bakal melakukan hal apapun untuk membuat rafa menjadi miliknya, untung lo percaya sama Rafa, kalau gak percaya gue gak tau tu anak bakal jadi apa dan bakal se stress apa kalau berpisah dari lo cess, gue tau dia udah cinta mati sama lo, gue kenal rafa dari kecil, dia sangat suka menanggung semua masalahnya sendiri, anaknya sangat mandiri, bahkan dia pernah demam datang ke sekolah saat umur 8 tahun dan kamu tau apa, dia mengurus dirinya sendiri karena saat itu kedua orang tuanya sibuk mengurusi Gavin yang sedang sakit, dia terlalu mandiri cess, hingga terkadang aku merasa dia terlalu cepat dewasa dari umurnya sekarang” ujar Devi panjang lebar.


Devi memang sering memperhatikan kehidupan Rafa, dan dia tau seberapa tersiksanya Rafa tinggal bersama kedua orang tuanya, bahkan kedua orangtuanya tidak tau jika rafa sering memenangkan mendali emas dalam setiap perlombaan yang dia hadiri, kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurus gavin hingga lupa bahwa mereka mempunyai satu orang anak lagi, baru-baru ini saja papa dan mama Rafa mulai bersikap baik dan perhatian, dulu sikap mereka sangat parah pada rafa, mereka pernah pergi berlibur ke luar negeri hanya membawa gavin dan melupakan Rafa yang baru berumur 9 tahun dirumah sendirian, untung saat di perjalanan mereka mengingat rafa, baru setelah itu rafa di titip ke rumah devi saudara sepupunya.


Kedua orang tua Rafa baru kali ini bersikap baik dan memuji rafa setah Gavin mulai menunjukkan sikap yang tidak mereka suka, setelah itu barulah kasih sayang kedua orangtua rafa mulai bersikap adil.


“Yuk jalan lagi, gue masih belum puas jalan-jalan” ucap cessa, dia tidak ingin lagi mendengar kesedihan suaminya, jikapun penasaran dia ingin bertanya langsung pada orangnya.


Kedua temannya mengangguk dan mengikuti cessa untuk berdiri dan mulai berkeliling kembali.


...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...


“Mana barang-barang yang bakal kita susun fa?” tanya Prince pada Rafa.


“bentar lagi datang ini katanya masih dalam perjalanan” jawab rafa, mata pria itu masih sibuk menatap larar ponselnya.


“Raf, menu__” ucapan dafa terhenti saat Rafa mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat pada dafa untuk diam dulu.


“halo” suara Rafa terdengar ketus ketika menjawab telepon yang muncul di ponselnya.


“Dia suami lo” jawab Rafa singkat, tanpa intonasi tinggi ataupun redah.


“Tapi Fa, gue masih umur 17 tahun, gue gak mau melakukan hal itu, gue takut, tolong gue fa, gue mohon” isak Revi terdengar pilu.


“Pulanglah” ucap rafa singkat, dia tidak menjelaskan pulang kemana.


“maksud kamu apa fa” tanya revi bingung.


“Pulang kerumah mu! Ngapain lagi disana? Kalau tidak bulan madu dengan suami mu? Pulang kerumah keluargamu” ucap rafa lagi.


“Lo bisa jemput gue fa? Gue takut keluar dari kamar ini, gue takut dia menerobos masuk” isak Revi.


“Gue sibuk” ucap rafa langsung mematikan ponselnya secara sepihak.


Dafa menepuk bahu Rafa, “Lo memang paling jago buat cewek-cewek patah hati fa” puji Dafa sambil mengacungkan jempol.


“Dan lo paling jago buat cewek yang lo suka jadi benci sama lo” sindir Rafa.


Prince langsung tertawa ngakak mendengar balasan sindiran yang di ajukan Rafa untun Dafa.


“Siapa? Orang gue gak suka siapapun” elak Dafa.


“mengelak aja terus, sampai gunung sahara berubah hijau, jika lo seperti itu terus dia bakal di ambil orang lain, gue juga dulu menganggap dengan meledek orang yang gue suka dia bakal mikirin gue, tapi gue salah sikap seperti itu hanya akan membuat Wanita makin menjauh dari kita” ucap Prince.


“gue udah coba bersikap baik, tapi dia selalu cari masalah sama gue” gumam Dafa pelan sambil tertunduk lesu.


Prince menghela nafas panjang, “Ntah lah gue gak tau lagi mesti memberi nasehat apa, karena gue gak sejahat itu menghina Wanita yang gue suka” hela nafas prince terdengar berat.


‘ting tong ting tong’


Bunyi bel pintu membuat ketiga pria itu terdiam. Rafa bangkit dari tempat dia duduk, “sudah datang kita mulai kerja lagi” ujar rafa yang mulai berjalan mendekati pintu.


...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...


bonus pict