Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
207. Mimpi yang terlalu tinggi



Juli baru saja selesai mandi, suaminya tadi memang masih berolahraga di depan Bersama keluarganya, gadis itu sedikit kelelahan dan ingin mandi lebih dulu.


‘ceklek’ pintu kamar itu terbuka, prince membeku sambil menutup pintu kamar, pasalnya Juli hanya mengenakan handuk untuk menutupi badannya, gadis itu tidak memakai baju di dalam kamar mandi.


“Ahhh aku mau mandi” ucap Prince canggung dan langsung berlari menuju kamar mandi dan mambawa perlengkapan mandinya. Ke dua orang itu masih canggung dan malu-malu sejak di ledeki oleh satu keluarga. Juli menatap sedih pintu kamar mandi yang sudah tertutup. Beberapa hari yang lalu prince meminta jatahnya tapi juli tidak memberikan dengan alasan sedang datang bulan, padahal juli sedang tidak datang bulan, semenjak itu Prince tidak pernah lagi meminta jatahnya pada Juli, dia memang bersikap biasa saja jika di depan keluarga, tidak tampak perang dingin tapi bersikap datar Ketika tidak ada keluarga, pandai sekali sepasang suami istri itu menutupi masalah mereka.


Seperti kata orang tua, jangan perlihatkan pertengkaran suami istri pada orang lain.


Juli terduduk di tempat tidur nya masih mengenakan handuk, dia masih belum memakai bajunya. Juli tidak mau suaminya terus saja diam, kata papi harry dan mami dona, setiap ada pertengkaran atau masalah harus dibicarakan dan jangan dipendam.


‘Ceklek’ pintu kamar mandi terbuka, prince tampak menggunakan kaos putih dan celana pendek seperti biasa. Mata pria itu sedikit melotot melihat istrinya yang terdiam di tempat tidur.


“kenapa tidak pakai baju, nanti masuk angin” ucap prince dengan datar, pria itu sengaja tidakmau melihat kea rah juli karena saat ini kaki mulus Juli terlihat.


Juli menatap prince yang tidak mau melihatnya, setitik air mata jatuh melewati pipinya. “Maaf” ucap Julip elan, gadis itu terisak dan itu membuat Prince langsung panik pria itu berjongkok dihadapan Juli.


“Ada apa?” tanya Prince lembut, mata pria itu kali ini menatap mata juli dengan lekat. “kenapa nangis?”


“maaf, aku berbohong aku hanya sedikit takut karena perkataan cessa, aku minta maaf” isak Juli.


Prince menyunggingkan senyumnya, dia sengaja mendiami istrinya agar gadis itu mengakui kebohongannya, Prince sebenarnya tau Juli sedang tidak ada halangan, jadi dia hanya mendiami Juli dan bersikap normal di depan keluarga, terbukti tidak ada keluarga yang tau tentang masalah mereka berdua.


Tangan prince terangkat untuk menghapus air mata Juli dan mengangkat dagu gadis itu agar dapat melihat matanya. “Sudah mengakuinya?” Tanya Prince.


Juli menganggukkan kepala pelan. “Maaf” lirih gadis itu.


“masih mau berbohong pada suami kamu?” sindir prince.


Juli menggelengkan kepalanya pelan, “gak akan lagi dan jangan tinggalkan aku” isak juli.


Prince semakin mengulum senyumnya, sepertinya dia terlalu menghukum istrinya dengan sedikit kejam.


Prince membaringkan istrinya secara perlahan di atas tempat tidur, pria itu mulai memberikan ciuman panas pada juli, dan gadis itu tidak menolak sama sekali.


“apakah boleh?” tanya Prince.


Juli hanya menganggukkan kepalanya pelan.


“Aku akan berusaha membuatmu tidak sakit” bisik Prince seduktif. Juli hanya diam memejamkan matanya, ini masih pukul 11 pagi, saatnya makan siang sepertinya sepasang suami istri itu tidak akan makan siang untuk saat ini.


“eeungghhh” lenguhan juli mulai terdengar di pagi menjelang siang itu, prince sepertinya tidak akan ngambek lagi.


**


‘Tok tok tok’


Prince membiarkan saja suara itu, dia masih menikmati istrinya yang sedang bergairah akibat ulahnya, awalnya juli memang merasakan sakit, tapi tidak sesakit yang dia bayangkan, karena ternyata Prince sudah belajar dengan serius agar membuat istrinya rileks.


“abang prince, makan siang udah siap, abang sudah di tungguin di bawah” Kembali terdengar suara teriakan Nita dari luar pintu kamar.


“Prince~” lenguh Juli.


“Biarin aja, gak tau orang lagi dapat jatah” gerutu prince, dia Kembali memberikan ciuman pada juli dan memompa tubuhnya lebih cepat. Hingga terdengar ******* juli dan prince.


.


Nita menempelkan telinganya pada pintu kamar prince, dan mencoba membuka pintu kamar yang ternyata terkunci, untung saja Prince tadi sempat mengunci pintunya, jadi mata nita tidak ternoda melihat pertunjukan prince dan Juli.


Gadis itu akhirnya menyerah dia berjalan Kembali menuju meja makan.


“Anu tuan, abang prince dan Juli nya tidak bisa di panggil” ucap Nita pada keluarga bagaskara yang sedang berkumpul untuk makan siang.


Senyum lebar muncul dari bibir semua orang yang ada di sana, “tidak usah di ganggu, biarkan saja” ucap papi harry.


“Baik tuan” ucap Nita lalu berpamitan untuk pergi. Gadis itu menatap iri pada ellena yang sedang memakan makanannya, dia kesal lebih cantik dirinya dari ellena, tapi kenapa gadis itu yang masuk dalam keluarga bagaskara. Bukan hanya itu Nita juga kesal karena ellena tidak mengajaknya untuk bergabung Bersama seperti makan, bermain atau berbincang, umur dia dan ellena kan sama, dia juga sahabat kecil ellena, dilihat sekarang ellena terlihat seperti orang sombong yang tidak mau kenal dengan teman kampungnya.


“Ihhh nyebelin” gerutu Nita saat sampai di dapur.


“kamu ii apa-apaan sih nita! Jangan mengumpat seperti itu” nasehat ibu nita.


“Nita kesal bu! Ellena sombong banget mentang-mentang sudah jadi orang kaya dia tidak mau berbicara dnegan Nita! Dia bahkan tidak menyapa nita” gerutu nita pada ibunya.


“menurut ibu ellena tidak sombong, dia sapa ibu kok, dia terlihat seperti ellena biasanya” ujar ibu nita.


Nita mengerucutkan bibir sambil menatap ibunya sinis, “ibu gak ngerti perasaan Nita! Pokoknya nita mau kuliah di kota! Gara gara nita disini nita tidak bisa mendapatkan cowok kota! Liat ellena dia berhasil menggaet cwok kota dan jadi kaya raya sekarang” pekik nita kesal.


“Biayanya gimana neng, sedangkan ibu sama ayah saja kesusahan buat kuliahkan abang kamu, kemarin kamu bilang gak mau kuliah, jadi abang yang ambil kuliah, kalau sekarang kan ibu gak bisa mikir biaya kuliah dan kos kamu” ujar ibu nita.


“ibukan bisa minta tolong sama tuan dan nyonya bagaskara untuk nitip nita di sana, minta bantu juga sama mereka, mereka kan orang baik” ketus nita.


Ibu nita geleng-geleng kepala melihat putrinya yang berpikir seperti itu, bisa-bisanya putri semata wayangnya itu berpikir untuk menjadi keluarga bagaskara.


“emang kamu siapa? Ibu dan ayah ini hanya pembantu, mana bisa ibu minta tolong majikan buat jaga anak ibu, mikir kamu, kalau mau punya keinginan itu ya di pikirkan, mampukah ibu melakukannya, jika kamu bersikeras y acari sana beasiswa, jadi ibu sama ayah Cuma mikir tentang uang kos dan makan kamu saja, ibu juga bisa kirim bahan makanan dari sini, jangan mikir terlalu tinggi nanti jatuhnya sakit nduk” nasehat ibu nita.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


makasih buat yang masih baca, jangan lupa like, vote, hadiah dan kasih bintang ⭐ 5 ya 😄😄


terimakasih semua nya 🥰🥰🥰