Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
138. Kehidupan Ellena



Baru saja Ellena memasuki rumahnya dan berjalan beberapa langkah sebuah suara langsung menghentikan langkah wanita itu.


“Hebat ya, pergi dari pagi hingga sekarang, mau berniat kabur kamu?!” sindir dua orang wanita, satunya adalah ibu tiri Ellena dan satunya lagi adalah kakak tiri Ellena.


“Dari mana kamu!” bentak Ana, si kakak tiri Ellena.


“Ha-habis jalan sama teman” jawab Ellena sedikit tergagap.


“hebat kamu ya, jalan-jalan menghabiskan duit papi lagi! Mi liat ellen boleh jalan-jalan, kok ana gak boleh?” kata Ana merengek pada maminya, karena pasalnya dia tidak bisa jalan-jalan karena uang bulanan yang diberikan papi nya sudah habis dia gunakan untuk bersenang-senang.


“Aku jalan tidak menggunakan uang papi, tapi dibayarkan oleh temanku” ujar Ellen cepat. Memang benar tadi mereka sempat makan di restoran milik Queen, teman dari Xelo.


“Sudah sayang nanti mami minta lagi uang sama papi ya, kamu gak boleh sedih, dan kamu ellen sana masuk ke kamar kamu! Awas kalau kamu berniat kabur” ujar mami tiri Ellena.


Mendengar perintah itu, Ellena segera berlari menuju kamarnya, dia sudah tidak tahan tinggal disana, karena harga sawit turun papi nya harus mengajak kerja sama dengan menggunakan dirinya sebagai bayaran untuk mendapatkan investasi, dan dia digunakan karena dia adalah anak tidak sah sekaligus bukan darah daging dari papi nya.


‘Brak’


Pintu kamar Ellen tertutup dengan keras, begitu kakinya memasuki kamar, ellen segera mengambil barang-barangnya yang penting dan memasukkan ke dalam tas ransel. Dia sangat berharap Xelo benar-benar menepati janjinya, tidak hanya omongan belaka.


Sudah lama Ellen ingin kabur dari sana, tapi karena umurnya masih dibawah 17 tahun, gadis itu tidak mampu berbuat apapun, dan sekarang saat dia baru saja resmi menginjak 17 tahun dia langsung akan dinikahkan oleh pria tua beristri. Terkadang Ellen heran kenapa mama nya mau menikah dengan pria yang sudah beristri, setelah di ingat-ingat lagi mama Ellen lah pemilik asli kebun sawit itu, dan papa nya adalah seorang karyawan, siapa yang tidak mau menggoda janda kaya seperti mamanya.


"akkhhh" Ellen berteriak sambil menutup mulutnya dengan bantal. dia sangat kesal karena tidak bisa mengambil milik mama nya kembali.


Gadis itu menatap bingkai foto dirinya dan juga mamanya, tangan Ellen meraih bingkai foto itu dan mengambil foto dari dalam bingkai, dia tidak mungkin membawa bingkai karena tasnya akan terlihat sangat besar.


"Harus beres-beres lagi" gumamnya.


Ellen kembali mengambil buku sekolah nya, hanya membawa buku tugas dan buku penting, buku cetak tidak dia bawa karena itu akan membuat tasnya semakin besar.


“Liat saja jika om itu tidak menjemputku, aku akan mendatanginya lagi” gumam Ellena pada dirinya sendiri.


“Ahh sial besokkan hari minggu!” maki Ellena begitu melihat hari yang tertera pada ponselnya. “apa aku harus mendatangi kantor dimana pria itu bekerja?” gumam Ellena sambil mengigiti kukunya, itu adalah kebiasaan jelek Ellena jika dia sedang dalam keadaan cemas atau terdesak.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...


Rafa terbangun dari tidurnya karena cahaya matahari yang telah membangunkannya, cahaya itu masuk dari sela kaca jendela, perlahan dia mendudukkan badannya dan menatap cessa yang tampak tidak terusik dengan cahaya itu.


Rafa tersenyum dan memberikan kecupan lembut pada kening cessa, “i love you princess” bisik rafa. Setelah itu ia melangkah menuju laptop dan ponselnya berada, tadi subuh-subuh mereka berdua sudah mandi dan sholat bersama, jadi Rafa tidak perlu mandi lagi, tapi karena kelelahan kedua orang itu kembali tidur, untung saja hari ini adalah hari libur, jadi rafa dan cessa tidak perlu buru-buru bangun.


‘tok tok tok’ ketukan pintu membuat Rafa berbalik arah dari tempat kerja, menuju pintu kamarnya, dia tidak mau ketukan itu membangunkan istrinya itu.


“ada apa?” tanya Rafa heran, begitu membuka pintu yang ada didepannya adalah Xelo.


“Sorry gue ganggu gak?” tanya Xelo pelan.


Rafa menatap muka Xelo, sepertinya pria itu ingin membicarakan masalah pribadi, “bentar bang, gue ganti baju, kita bicara dibawah aja” ujar Rafa, dia menatap dirinya yang hanya mengenakan boxer dan kaos putih polos.


.


Rafa baru saja membalikkan badannya untuk mengganti celana, tapi sebuah suara menghentikan langkah kaki pria itu.


"Fa~ mau kemana?" suara serak cessa terdengar sangat menggoda.


Rafa memilih melangkah mendekati Cessa dan duduk di kasur sambil mengelus puncak kepala cessa. "ada bang xelo diluar, sepertinya dia ada urusan penting, tidak biasanya dia datang langsung, biasa kalau ada masalah hanya melalui telepon jadi aku pikir ini urusan penting karena dia datang langsung, aku keluar bentar ya" Ucap Rafa sambil memberikan sebuah ciuman pada bibir cessa.


Cessa mengangguk pelan dan kembali menutup matanya. "baiklah"


"kamu lapar sayang?"


pertanyaan rafa membuat cessa langsung membuka matanya kembali, "ahhh! Aku belum masak buat sarapan kamu" seru cessa.


rafa menahan tubuh cessa yang hendak berdiri, "gak apa sayang, aku cuma tanya kamu lapar atau gak, kalau lapar aku akan memesan makanan dari luar" tahan Rafa.


"tapi itu tugas aku fa~" cessa masih bersih keras untuk memasak.


"gak ada yang menjadi tugas kamu, tugas kamu itu cuma satu, mendengar semua ucapanku, kalau memasak dan yang lainnya itu bukan tugasmu, aku menikahimu bukan untuk menjadi pembantu, tapi jika kamu bisa masak itu adalah bonus untukku, kita beli aja ya" ujar rafa panjang.


Cessa akhirnya mengangguk pelan, "baiklah, maaf ya aku gak bangun pagi"


'Cup' rafa memberikan kecupan pada bibir cessa, "tidak masalah sayangku, kamu sudah memuaskan hasrat suamimu ini hingga pagi, dan itu cukup, aku yang membuat kamu menjadi seperti ini".


Cessa memerah seperti kepiting rebus mendengar ucapan Rafa, dia langsung menutupi wajahnya dengan selimut, dan hal itu membuat rafa tertawa pelan.


"aku akan memesan makanan, nanti akan aku panggil ya sayang, aku pergi dulu, abang xelo pasti udah nunggu lama di bawah" ujar rafa.


Cessa mengangguk pelan tapi masih tidak mengeluarkan wajahnya dari dalam selimut.


"cium dulu dong, biar ada tenaga ini" pinta rafa, dia sudah mendekatkan wajahnya pada cessa.


Dengan perlahan cessa membuka selimut dan mencium bibir suami tampannya itu lalu kembali masuk lagi kedalam selimut.


.


"sorry lama bang" ujar rafa pada xelo yang sedang menunggu.


Xelo menggelengkan kepalanya, "gak apa kok" jawab Xelo.


Rafa duduk didepan Xelo dan mengeluarkan ponselnya dari saku, "Bentar bang" tangan pria itu kini sibuk membuka aplikasi untuk membeli makanan secara online, "jadi ada apa bang?" tanya Rafa setelah memesan makanan.


...🌜🌧🌧🌧🌧🌛...