Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
44. Salah Sasaran



Revi tampak risih selama mereka barbeque di taman, semua teman cessa dan Rafa terus memperhatikan gerak gerik Revi.


“kalian kenapa sih liatin aku terus” gerutu Revi dengan kesal.


“Lo aneh banget dandan di malam hari? Ada acara apa?” sindir Devi.


“Suka-suka gue dong, diri-diri gue kan gue gak mengganggu lo, jadi jangan ganggu urusan gue” ketus Revi.


“Lo mau menggoda Rafa?” kini prince yang bertanya pada Revi.


“Goda apaan, gak ada tuh, gue udah punya calon tunangan ya” elak Revi, dia tidak mau rencananya berantakan karena terus diperhatikan oleh mereka semua.


“pakai tank top sama hot pans, gue pikir lo mau jual diri, kepanasan ya?” sindir Dafa.


“Bukan urusan lo!” ketus Revi dia berlalu meninggalkan mereka dan pergi ke dalam kamarnya.


.


Gavin masih asik melihat ponselnya sesekali mata pria itu menatap kearah cessa yang sedang membakar makanan bersama Rafa dan July.


“sumpah lo cantik banget cess, bentar lagi rafa akan membuang lo, jadi gue bisa memiliki lo” batin gavin.


‘ting’ bunyi pesan masuk dari ponsel Gavin, pria itu melihat pesan yang dia terima.


‘Gue diawasi terus oleh teman-teman cessa dan Rafa, jadi gue gak bisa masukkan obatnya kedalam minuman Rafa, gimana caranya biar gue bisa kasih obatnya ke minuman Rafa’ bunyi pesan yang dikirimkan oleh Revi.


Gavin sedikit menggeram kesal karena Revi sejak tadi belum melancarkan aksinya. Padahal Rafa sejak tadi terlihat kurang waspada.


‘suntikkan pada botol minuman yang gue beli dan berikan itu pada Rafa’ balas Gavin.


‘baiklah’ jawab singkat Revi.


.


Sementara itu Rafa mengernyitkan keningnya, membaca pesan kedua orang itu, rafa pikir kedua orang itu tidak jadi melancarkan aksinya, tapi ternyata mereka kesusahan karena terus di awasi oleh teman-temannya.


“Ini” cessa memberikan sepiring iga bakar kepada Rafa dengan senyuman manisnya. “ni kening jangan berkerut terus, makin jelek jadinya” ledek Cessa sedikit mengelus kening Rafa yang berkerut.


“makin manis deh” Rafa mendekatkan wajahnya pada Cessa.


“ooooopppsss jangan di sini bro!” cegak dafa, saat Rafa ingin mendaratkan ciuman di bibir cessa. “liat kondisi bro” lanjut Dafa lagi.


Revi yang baru saja datang juga melihat aksi Rafa, dia semakin menggeram kesal, melihat Rafa dengan berani hendak mencium gadis yang statusnya masih tunangan, “bukankah Rafa itu sangat alim, bagaimana bisa dia hendak mencium cessa, mereka bahkan belum menikah” batin Revi.


“Ini gue bawakan minuman” seru Revi dia membawa beberapa coca cola, fanta dan minuman yang lain menggunakan dorongan yang ada.


Revi berjalan mendekati Rafa, dan memberikan sebotol Cola pada Rafa, “Untuk kamu fa” ucap Revi.


Rafa diam menatap minuman yang diarahkan padanya, dia tidak mau mengambil minuman itu hanya menatap minuman itu dengan ekspresi datar.


“Lo apaan sih! Ngasih-ngasih ke tunangan orang! Bikin kesal aja!” sungut cessa dia merenggut minuman yang disodorkan Revi, membuka minuman itu dengan cepat dan meminumnya sedikit. “udah gue minum pu__ hukkk” Rafa memukul tengkuk Cessa dan membuat gadis itu memuntahkan minuman yang dia teguk.


Rafa tampak khawatir dan membuang minuman yang ada ditangan cessa.


“Raf, apa-apaan sih sakit tau!” pekik cessa.


“Emang kenapa?” tanya cessa bingung, “apa dia masukkan racun kedalam minuman kamu?” lanjut cessa lagi sambil menatap sinis kearah Revi.


Revi tampak syok dan cemas mendapatkan tatapan intimidasi bukan hanya dari cessa tapi juga dari rafa dan semua teman cessa.


“Lo kasar banget sih Fa! Tunangan sendiri lo pukul! Biar gue antar cessa ke kamarnya!” pekik Gavin, otaknya mulai membuat sebuah rencana dadakan, dengan menyalahkan sikap kasar Rafa tadi, dia akan bisa merebut malam pertama bagi cessa dan otomatis, rafa akan cerai dengan cessa dan dia yang akan dinikahkan dengan cessa karena dia yang merebut malam pertama cessa.


“Bukan urusan lo!” bentak Rafa dengan wajah merah padam karena menahan amarah, dia sudah memeluk tubuh cessa dan menyembunyikan gadis itu di dalam pelukannya.


“prince, lo gak kasian dengan Cessa yang di pukul secara tiba-tiba dengan Rafa, seharusnya dia lembut pada tunangannya, bukannya memukul seperti tu” Gavin berusaha memberikan bumbu kebencian pada Prince.


Prince masih diam, dia manatap Rafa yang masih denganwajah emosinya, lalu menatap adiknya yang betul-betul dipeluk erat oleh Rafa, prince yakin Rafa tau sesuatu dan hal itu membuat Rafa memukul cessa.


“Fa, panas” lirih cessa dalam pelukan Rafa.


“sudah beraksi” batin Rafa, dia samakin cemas.


“Biar gue bawa cessa ke kamarnya, bahaya jika bersama Rafa, dia akan memukul cessa lagi” ucap Gavin, pria itu hendak mengambil cessa ke dalam genggamannya, tapi tangan gavin berhasil di tepis oleh Rafa.


“prince, gue akan jelaskan besok pagi, sekarang gue mohon kalian bantu tahan gavin dan Revi agar tidak menghalangi gue untuk membawa cessa ke dalam kamar” ucap Rafa, dia semakin mengeratkan pelukannya pada cessa saat istrinya itu mulai bergerak dengan gelisah.


“Gue minta penjelasan besok” Prince lebih memilih percaya pada Rafa, dia dan dafa menahan tangan Gavin agar pria itu tidak mampu menggapai cessa.


Sedangkan July dan Devi menahan Revi agar gadis itu tidak mengejar Rafa.


Rafa langsung menggendong Cessa dan lari membawanya kedalam kamar miliknya.


“Lepasin gue! Lo mau adik lo di sakiti sama Rafa!” pekik Gavin pria itu berusaha memberontak tetapi tidak bisa karena Prince dan Dafa menguncinya dengan kuat.


“Dia lebih berhak untuk membawa cessa ke dalam kamar apapun yang terjadi gue percaya pada Rafa” balas prince dengan dingin.


“Lepasin gue!” teriak Revi, dia juga berusaha memberontak untuk mengejar Rafa, tapi July dan Devi dengan kuat menahan badan Revi. “Sialan! Kalian berdua lepasin gue!” pekik revi sekali lagi.


“Tidak akan gue lepaskan! Kalian pasti merencanakan sesuatu, gue tidak akan membiarkan lo lepas!” teriak Devi, dia cukup kesal dengan revi yang sejak tadi memberontak.


“Kalian akan menyesal jika tidak melepaskan gue!” pekik Revi.


July tersenyum sinis, “ternyata benar lo ngerencanain sesuatu, apa yang lo masukkan ke dalam minuman rafa!” bentak July dia menggenggam tangan Revi dengan kuat sehingga gadis itu meringis kesakitan.


“Gak ada! Gue gak masukkan apapun!” elak Revi masih tidak mau mengaku. “Lepasin gue! Kalian menyakiti gue! Gue bisa lapor kalian menganiaya gue!” pekik Revi lagi, dia masih berusaha melepaskan dirinya.


“Gue bakal lepaskan, tapi lo harus janji tidak akan mengejar Rafa!” ujar July.


“Iya-iya! Lagian sudah terlambat juga, si Rafa sudah masuk kamar dengan cessa! Liat bis ague sebarin ke sekolah jika teman kalian telah melakukan hubungan badan dengan tunangannya!” ujar Revi.


“Silahkan!” tantang Prince, dia sudah melepaskan pegangannya pada Gavin, pria itu sekarang terduduk lesu, tidak tau lagi cara apa yang bisa dia lakukan untuk mengejar Rafa yang sudah masuk kedalam kamar. “Jika lo mau Rafa juga keluar dari sekolah itu, silahkan sebarkan, tidak aka nada yang melarangmu untuk menyebarkan berita itu, kami juga akan bantu mengatakan Rafa dan Cessa berada dalam satu kamar berdua tidka keluar hingga pagi” tambah prince dengan nada suara yang terkesan dingin.


“Gue bisa membuat mama Reta membenci cessa karena telah menjebak anaknya untuk keluar dari sekolah” ancam revi lagi.


“Silahkan, katakana pada mama Reta semua yang kamu lakukan, kami juga akan mengatakan semua yang kami ketahui, tidak ada akan pernah takut dengan ancamanmu! Mama reta akan memihak adikku, dia pasti lebih percaya pada anak kandungnya di banding anak tirinya” sindir prince sambil menatap ke arah Gavin.


...🌜🌦🌦🌦🌦🌛...


maaf ya tidak sesuai ekspetasi para pembaca, mohon tetap dukung karya ini ya, Terima kasih