
Setelah pulang sekolah, Rafa mengantar cessa menuju basecamp, setelah itu dia berangkat menuju kantor utama miliknya. Xelo tadi mengabari padanya bahwa dia sudah mendapatkan identitas dari pelaku percobaan pembunuhan yang terjadi pada dirinya dan juga King.
Rafa masuk ke dalam ruangan direktur utama, disana sudah ada king, prince, dafa, dan Xelo. Tadi prince dan dafa langsung menuju kantor, makanya mereka duluan yang sampai.
“Apakah tebakanku benar?” selidik Rafa begitu dia duduk di sofa.
Xelo mengangguk, “benar, mereka adalah anak buah dari Egi sahabat gavin, tapi semua anak buah yang telah gaga melakukan aksinya telah mati over dosisobat-obatan, jadi kita tidak punya bukti selain para anak buah itu datang ke klub milik gavin” jelas Xelo.
Rafa memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. “tidak bisakah kita melaporkan pada kepolisian tentang klub milik gavin ? aku yakin klub itu telah melakukan penggelapan uang dan pencucian uang si egi” ujar Rafa.
Sudah beberapa kali Rafa melaporkan klub milik gavin yang melenceng dan kejahatan Egi, tapi kedua orang itu selamat dari setiap tuntutan Rafa, dan masih bisa berkeliaran bebas di luar.
Mafia, entah bagaimana besarnya klan mafia milik Egi, rafa masih belum bisa mengetahui semuanya dengan pasti. Tapi satu yang rafa sangat tau, gavin dan egi memiliki orang yang bekerja di ke polisian dan jaksa serta hakim.
“kau mau abangmu ditangkap polisi fa?” tanya Dafa heran.
Rafa menatap sahabatnya itu, “dia bukan abangku lagi, dia sendiri yang mengatakan seperti itu, abang mana yang berusaha mencelakai adik satu ayah dan berusaha merebut milikku?” tanya Rafa.
“ya siapa tau saja kau masih berniat untuk memaafkannya?” ujar Dafa lagi.
Rafa menggelengkan kepala, “jika yang dia tuju hanya aku, aku tidak masalah tapi ini istriku, kakak dan abang iparku, kita tidak bisa diam saja, Egi itu perlu di hancurkan, sekarang gavin berlindung padanya dan dia merasa di atas awan karena telah berhasil mendapatkan hati egi”.
“lalu apa kamu punya ide fa?” kali ini king yang bertanya.
Rafa diam sambil menyandarkan kepalanya pada sofa, otaknya sedang mencari cara untuk menghancurkan Egi dan para antek-anteknya, sekarang dia harus berurusan dengan mafia, dan itu bisa saja dia lawan jika dia masih sendiri, tapi kini dia punya keluarga baru, Rafa takut mengambil keputusan secara sepihak.
“Ahhh” helaan nafas rafa terdengat berat, dia memang sudah tenang setelah membuat program pada kendaraan itu, tapi dia kembali terusik saat percobaan pembunuhan yang kedua lebih tepatnya pada tiga orang keluarga nya. “panggil anak-anak terlatih itu untuk mengikuti egi kemanapun dia pergi, dan kita harus mengambil alih ponsel egi agar mengetahui siapa saja orang dalam kepolisian yang dia punya”. Rafa memang mempunyai para anak jalanan yang telah dilatih secara khusus, mereka bisa menjadi mata-mata bodyguard dan juga sangat ahli bela diri, serta menggunakan segala jenis senjata.
Awalnya hanya beberapa tapi lama kelamaan, anak jalanan yang dia beri makan semakin banyak dan mereka mulai berhutang budi pada Rafa, dari sana Rafa menyuruh Xelo memberikan pelatihan khusus pada mereka dan bertugas untuk melindungi keluarganya di masa depan. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang sedang bekerja sebagai bodyguard presiden di luar negri. Dan ada yang membantu beberapa tentara untuk berlatih lebih hebat.
“Anak-anak terlatih?” king memiringkan kepalanya meminta Xelo memberikan penjelasan.
“anak jalanan yang aku berikan pekerjaan dan harapan untuk hidup” jawab Rafa. Dia memang bukan seorang mafia, tapi dia sudah memprediksi masa depannya, sehingga rafa telah mempersiapkan semuanya, jika dia semakin terkenal dan kaya, lebih tepatnya Xelo yang berpura-pura menjadi dirinya semakin terkenal.
“fa, biar aku yang membantu masuk ke dalam ponsel ketua mafia itu” dafa duduk mendekati rafa dan menepuk bahu pria itu dengan pelan.
“uuekk__” rafa langsung menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi, pria itu memuntahkan semua makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya.
Kamu kenapa Fa?” tanya king panik, saat melihat adik iparnya itu langsung berlari memasuki kamar mandi.
Rafa masih terlihat muntah-muntah di sana.
“kamu sakit Fa?” tanya prince kali ini, dia juga mulai mencemaskan adik iparnya itu.
Rafa menggelengkan kepalanya, sambil berkumur-kumur.
“kecapekan dan pusing mencari cara untuk membuat gavin tobat” ujar rafa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Rafa menggelengkan kepalanya, “aku perlu tidur dulu, laksanakan saja perintah tadi, kepalaku pusing banget” Ujar rafa sambil memasuki kamar istirahat yang ada di sana.
...🌜🌨🌨🌨🌨🌛...
Baru saja Rafa hendak memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba berbunyi nyaring.
🎼
📲“Yang~ masih lama?” suama manja istri rafa terdengar dari dalam telepon.
Rafa menyunggingkan senyumannya saat mendengar suara cessa.
📲“kira-kira 2 jam lagi yang, kenapa?” tanya Rafa, mata pria itu sudah terpejam tapi kesadarannya masih ada jadi dia hanya memejamkan mata berusaha menghilangkan sakit di kepala, entak kenapa beberapa hari ini pria itu meresa mual dan sulit makan, dia juga sangat sensitive dengan bau parfume.
📲“Cessa pengen beli rujak bareng kak Queen, boleh gak?” tanya cessa sedikit takut, karena Rafa melarang keras istrinya itu untuk keluar dari basecamp tanpa dirinya.
📲“Pesan online aja, jangan keluar dari rumah” ujar rafa dengan lembut.
📲“tapi_hiks”suara isakkan cessa mulai terdengar dan itu berhasil membuka mata rafa dengan sempurna.
📲“yang~ kok nangis, kan banyak pesanan online, jadi pesan online aja ya” ujar rafa yang kini sudah terduduk, pria itu kembali memijat kepalanya yang di dera pusing dengan sebelah tangan yang tidak memegang ponsel.
📲“Yang~ boleh ya, aku bareng kak Queen kok, pakai mobil juga” rengekkan Cessa terdengar dari dalam telepon.
📲“princess, gimana kalau buat sendiri, aku akan membelikan semua buah-buah dan bahannya, tunggu sebentar maka aku akan sampai” bujuk Rafa dengan lembut.
📲“ya udah, cepat ya” lirih cessa.
📲“iya sayangku, aku akan segera ke sana” ujar rafa. Pria itu mematikan telepon sambil turun dari tempat tidur, niat awalnya untuk beristirahat gagal, Rafa lebih memilih ketempat cessa dibanding dirinya beristirahat.
“gak jadi tidur?” tanya Xelo begitu melihat rafa membuka pintu kamar istirahat itu.
“cessa sedang ingin keluar, aku tidak mau dia keluar sendirian” ujar Rafa yang sudah mengambil kunci motornya.
“ma uke basecamp?” tanya prince yang masih ada disana.
Rafa mengangguk pelan.
“ikut aku saja, kamu bukannya sakit? Tinggal saja motormu di sini” kata prince sambil beranjak dari tempat dia bekerja.
Rafa tersenyum dan mengangguk pelan, “thank you abang ipar” kekeh Rafa.
...🌜🌤🌤🌤🌤🌛...