Unplanned Wedding

Unplanned Wedding
41. Isi Pesan



Pembagian Rapor telah selesai, cessa memandang lesu rapor yang dia terima, memang tidak ada angka merahnya satu pun, tetapi nilainya juga tidak bisa di katakan bagus.


Nilai yang cessa dapatkan bisa di katakana sebagai nilai pas-pasan, padahal gadis itu sudah belajar dengan giat dan serius dibantu oleh Rafa, entah apa jadinya jika Rafa tidak membantunya belajar. Y aini juga kemungkinan karena system kebut semalam. Cessa belajar hanya di hari H mau ujian, memang wajar dia tidak sempurna dalam mendapatkan nilai.


Mau tau nilai pas-pasan seperti apa yang cessa dapat, Pas-pasan untuk bisa naik ke kelas selanjutnya, cessa mendapatkan peringkat 20 dari 40 murid jadi memang benar kan bisa di katakana pas-pasan.


Cessa sekali lagi tersenyumkecut sambil menatap nanar nilainya. Padahal dia ingin pamer di depan suaminya, tapijika dengan nilai ini dia takut Rafa akan marah padanya.


“Cess” panggil July yang duduk di sebelahnya.


Cessa segera mengangkat kepalanya menoleh pada July dan dengan cepat menutup lembar rapor yang dia pegang.


“apa?”


“Itu dipanggilin rafa dari tadi kok gak dengar” July menunjuk Rafa yang masih menatap cessa di tempat duduknya.


Cessa menolehkan kepalanya menatap Rafa, Tanpa suara pia itu mengisyaratkan cessa untuk mendekat dengan jari tangannya.


Cessa membalas dengan menggeleng dan nyengir.


“Sini Cessa” panggil Rafa dengan suara.


Sekalilagi cessa menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Dosa” ucap Rafa, dan hanya satu kata itu mampu membuat cessa tegak dari kursinya dan berjalan perlahan kearah kursi Rafa dan prince.


“minggur lo, duduk sana sama July” perintah Rafa.


“Gue abang lo, suka nya nyuruh-nyuruh aja” kesal Prince tapi dia tetap mengikuti apa kata Rafa.


Sekarang gentian cessa yang duduk di kursi Prince.


“mana rapornya?” tanya Rafa sambil menengadahkan tangannya pada Cessa.


“gak mau” jawab cessa sambil menggelengkan kepalanya.


“mana? Sini cepat” ulang Rafa lagi.


Cessa merengut sebal atas Tindakan suaminya yang selalu memerintahnya jika dia tidak mau maka rafa akan mengatakan ‘dosa’ dan saat itu dia tidak bisa berkutik, apakah memang berdosa jika tidak menuruti perintah suami? Cessa jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.


Dengan perlahan cessa memberikan kertas rapor yang dia terima, dia tidak berani menatap rafa, dia takut Rafa marah dengan nilainya atau rafa akan menghakiminya di depan kelas.


Bukannya marah Rafa malah mendekatkan wajahnya pada wajah cessa, pria itu mengelus pelan puncak kepala cessa, “Gak apa, aku gak marah, kamu udah berusaha” ucap rafa sambil memberikan kecupan lembut pada tangan cessa yang tadi dia genggam.


Cessa memberanikan diri menatap Rafa, “Benaran? Gak marah? Kan rafa udah ngajarin tapi hasilnya tidak bagus” lirih Cessa.


Rafa menggeleng pelan menjawab ucapan penyesalan dari Cessa, “Namanya juga system kebut semalam, pasti tidak akan menghasilkan hasil yang sempurna, lain kali, kita belajar bersama tiap hari satu jam, mau?” tanya Rafa lembut.


“Baiklah” jawab cessa, dia tidak mampu menolak jika Rafa membujuknya dengan lembut dan penuh perhatian.


“Wooiii kalian berdua sadar gak sih masih di kelas, jangan mesra-mesraan kenapa?” gerutu dafa.


“Emang kenapa? Emang gak boleh mesra-mesra sama pacar?” Tantang cessa, dia sudah bersemangat karena tidak kena marah oleh rafa, dan suasana hatinya sudah berubah membaik.


“Emang gak masalah sih, tapi yang jadi masalah adalah yang jomblo pada iri cessa cantik” geram dafa.


“Devi! Dafa pengen mesra-mesraan ini sini Dev” panggil Cessa dengan kekehan kecil.


“Gak gitu juga cess, gue sama dafa gak ada status apapun, ngapain lo panggil gue” Devi datang dengan menggerutu kesal.


“Hahahha nama kalian udah cocok loh Dafa Devi tinggal di jodohkan selesai itu” ucap cessa dengan senyum jenakanya.


“mana ada system seperti itu, gue gak suka sama ni makhluk jadi-jadian” tolak Devi.


“Apalagi gue mana mau gue sama cewek bar-bar dan oon seperti lo” balas Dafa.


Semuanya tertawa mendengar ucapan prince.


“Lo nikahkan gue, gue nikahkan lo sama July” balas Dafa.


“Bukan nya menolak prince justru merasa tertantang, di jodoh-jodohkan dengan July. “Ayo siapa takut” ucap Prince.


Sementara July hanya tertunduk malu tidak berani mengucapkan sepatah katapun.


...🌜☀☀☀☀🌛...


Revi Menatap kesal Cessa yang sejak tadi bercanda gurau dengan teman-temannya, rafa memang diam saja, dia hanya bicara jika cessa yang berbicara padanya, dan sikap lembut Rafa itu sangat membuat Revi kesal dengan cessa, padahal dulu dialah Wanita satu-satunya yang bisa berbicara dengan rafa, ya walau rafa membalas seadanya dan tanpa pandangan lembut, Refi tetap senang, karena tidak ada yang berani mendekati Rafa.


‘ting’ satu pesan diterima oleh Revi, gadis itu menunduk membaca pesan yang dikirim oleh gavin.


📩‘Kita akan ke Bali, di sana ada villa milik keluargaku, dan kita lakukan rencana kita untuk memisahkan Rava dan cessa di sana’ bunyi pesan dari gavin.


📨‘Rencana apa?’ balas Revi bingung, dia masih belum menyiapkan rencana untuk memisahkan Rafa dan Cessa.


📩‘Lo mau nikah langsung dengan Rafa gak?’ tanya Gavin lagi.


Membaca pesan dari gavin Revi tersenyum senang, otaknya sudah traveling membayangkan Rafa menjadi suaminya.


📨‘mau! Bagaimana caranya?’ balas revi cepat.


📩‘kita jebak rafa buat minum, minuman yang sudah ada obat perangsangnya, dan saat obat itu bekerja, kita akan menjebak rafa berada di satu ruangan bersamamu, tapi ya, apa kamu siap untuk melakukan hubungan badan dengan Rafa?’ tanya gavin.


Revi memikirkan semua yang dikatakan oleh Gavin, mungkin ini adalah cara terbaik agar dia dapat memiliki Rafa, mau tidak mau Rafa harus bertanggung jawab karena telah memperkosa dia bukan? Revi juga tidak masalah tubuhnya di sentuh oleh Rafa, justru dia malah bersyukur, dapat melakukan hubungan intim dengan Rafa.


📨‘aku bersedia, tapi aku tidak punya obat perangsang’ jawab Revi.


📩‘masalah obat itu urusanku, kamu hanya perlu mempersiapkan scenario untuk ber acting seolah-olah Rafa memaksamu melakukan hubungan badan’ bunyi pesan gavin.


Revi tersenyum senang, membaca pesan yang dikirimkan oleh gavin, tiba-tiba saja gadis itu menjadi sangat bersemangat membayangkan Rafa bersamanya di atas tempat tidur. Rasa tidak sabar begitu menggebu-gebu dalam pikirannya, otak Revi terus membayangkan bagaimana cara agar bisa memuaskan Rafa di atas ranjang.


.


Rafa tersenyum kecut, sebenarnya dia masih menyadap ponsel milik Revi jadi sejak tadi Revi dan gavin bertukar pesan, pria itu telah membaca semuanya, dia tau rencana yang telah di siapkan oleh pasangan palsu itu.


Sebenarnya sejak tadi rafa diam tidak ikut dalam obrolan teman-temannya karena sedang membaca pesan yang diterima Revi.


“kenapa Fa?” tanya cessa, melihat suaminya itu diam, cessa jadi sedikit cemas.


“jangan khawatir sama dia cess, Si rafa biasa itu diam seperti itu, mana pernah anak itu mengeluarkan suaranya, hanya saja jika denganmu dia baru mau mengeluarkan suara emasnya” sindir Dafa.


“benar” jawab singkat Rafa.


“Tu liat kan, jawab hanya seadanya saja” sindir dafa lagi.


“gak sakitkan?” cessa memegang kening Rafa untuk merasakan apakah kening Rafa panas atau tidak.


Rafa tersenyum menggenggam tangan cessa yang berada di keningnya dan mengecup tangan itu dengan lembut, “gak apa, Cuma ada banyak pikiran aja” jawab rafa.


“Baiklah” ucap cessa pasrah.


“wwuueeeekkk, sumpah gue jijik liat pasangan itu prince” lirih dafa.


“nikmati aja, kita anggap aja ada tontonan film romance gratis” balas Prince dengan tawa kecilnya.


Diangguki dengan July dan Devi.


...🌜🌥🌥🌥🌥🌛...