
Anggota keluarga Abimanyu masih berada di ruang tengah, kecuali Adam. Adam memilih pergi ke kamarnya saat melihat kehadiran sang nenek di rumah keluarga Abimanyu.
"Apa ibu yakin kalau adik laki-lakiku berasal dari keluarga Adiyaksa?" tanya Evan.
"Iya, Van! Dokter itu sendiri yang bilang begitu pada ibu. Bahkan dia juga yang membantu proses persalinan ibu ketika itu. Dua puluh menit setelah adikmu lahir dan Dokter itu juga sudah selesai membantu Ibu. Dokter itu langsung menuju ruang sebelahnya untuk menolong persalinan wanita itu."
"Kalau memang begini ceritanya. Kenapa baru sekarang Dokter itu buka suara? Kenapa tidak dari dulu Dokter itu mengatakan yang sebenarnya pada kita?" ucap dan tanya Garry.
Mendengar penuturan dari Garry. Mereka langsung terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan ucapan dari Garry.
Saat mereka masih bergelut dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan teriakan Adam yang memanggil sopir pribadi keluarga Abimanyu.
"Paman Hansel!" teriak Adam sembari menuruni anak tangga.
Anggota keluarganya yang mendengar teriakan dari Adam menutup telinga mereka masing-masing.
"Yak! Siluman kelinci bodoh. Ini di rumah bukan di hutan. Kalau mau teriak-teriak ke hutan sono!" seru Harsha.
"Ach, bacot. Diamlah," sahut Adam.
Hal itu sukses membuat Harsha membelalakkan matanya. Sedangkan anggota keluarganya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala melihat keduanya.
"Paman Hansel, kau dengar tidak!" teriak Adam lagi.
Setelah itu, datanglah Hansel sembari membungkukkan badannya.
"Apa Paman tidak dengar panggilan dariku?" kesal Adam.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya tadi habis dari kamar mandi."
"Ach, sudahlah! Ini." Adam memberikan sebuah kertas pada Hansel.
Hansel menerima kertas tersebut dan dapat dilihat olehnya sebuah alamat rumah.
"Pergilah Paman ke alamat itu. Jemput Mama Celena dan kak Vigo. Mereka katanya mau kesini."
"Baik, tuan muda."
Setelah mendapatkan perintah dari Adam. Hansel pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Abimanyu untuk menuju kediaman keluarga Adiyaksa.
Setelah selesai dengan kegiatannya. Adam kembali menuju kamarnya. Tapi saat Adam membalikkan badannya, Utari sudah terlebih dahulu memegang tangannya.
"Mau kemana, hum?" tanya Utari lembut sembari tersenyum manis pada putra bungsunya itu dan tak lupa mengecup keningnya.
"Ke kamarlah, Ma! Mau kemana lagi," jawab Adam.
"Apa sih enaknya di kamar mulu. Disini dong ngumpul sama kita. Kamukan baru pulang. Masa kamu tidak ingin menghabiskan waktu bersama Mama dan yang lainnya," ucap Utari dengan menunjukkan wajah sedihnya.
Adam yang melihat wajah sedih ibunya menjadi tidak tega. Dan akhirnya Adam pun menuruti keinginan sang ibu.
"Baiklah," jawab Adam.
Baik Utari maupun anggota keluarga yang lainnya tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Adam.
Kini Adam sudah duduk manis di samping ibunya. Niatnya Adam ingin duduk di samping ayahnya. Melihat musuh bebuyutannya dan neneknya yang duduk di dekat ayahnya membuat Adam memilih duduk di samping ibunya.
"Aish. Dasar manusia keras kepala, egois dan nenek peyot jelek. Ngapain sih terlalu dekat dengan Papa. Bisa nggak jauh-jauh dikit. Aku juga pengen dekat-dekat Papa kali," gumam Adam.
Utari yang mendengar gumaman putra bungsunya itu hanya tersenyum gemas, lalu tangannya menyentil pelan bibir putranya itu.
"Mama. Kenapa Mama menyentil mulutku, sih?" protes Adam dengan memanyunkan bibirnya itu.
"Salah sendiri. Kenapa tuh mulut sukanya ngatain orang?" jawab Utari.
Adam membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka saat mendengar ucapan dari ibunya. Anggota keluarganya yang melihatnya memekik gemas. Wajahnya begitu imut dan menggemaskan layaknya anak kecil.
Adam melihat wajah cantik ibunya. Begitu juga dengan Utari. "Mama dengar apa yang kamu ucapkan," bisik Utari.
Adam memalingkan wajahnya menatap ke depan. Wajahnya juga memerah karena malu. Ibunya mendengar ucapannya walau pelan.
"Adam sayang," panggil Evan.
Adam melihat kearah sang Ayah. "Ada apa, Pa?"
"Tadi kamu nyuruh Hansel kemana, sayang?" tanya Evan.
"Oh iya. Aku lupa. Hehehehe. Maaf," jawab Adam cengengesan.
Anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala.
"Aku menyuruh Paman Hansel untuk menjemput Mama Celena dan kak Vigo. Mereka mau kesini," jawab Adam.
Setelah mengatakan hal itu pada anggota keluarganya. Detik kemudian ekspresi wajahnya berubah seketika. Dan perubahan wajahnya itu dilihat oleh anggota keluarganya.
"Sebenarnya ada apa? Apa yang akan disampaikan oleh Mama Celena padaku? Apa terjadi sesuatu pada mereka?" batin Adam.
"Kenapa wajah Adam berubah sedih gitu?" batin Harsha.
"Ada apa denganmu, Dam?" batin Ardi.
"Apa telah terjadi sesuatu? Dan kenapa Vigo dan ibunya mau kesini?" batin Danish.
"Ada apa denganmu, sayang?" batin Utari dan Evan.
Semua anggota keluarga tampak cemas melihat wajah Adam yang seketika berubah sendu.
Saat mereka tengah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka dikejutkan oleh kedatangan Hansel.
"Maaf Nyonya, Tuan, Tuan muda!"
Mereka semua melihat kearah Hansel. "Tuan muda Adam. Nyonya Celena dan tuan muda Vigo ada di ruang tamu."
"Suruh mereka kesini, Paman!" seru Adam.
"Baik, tuan muda." Hansel pun pergi menuju ruang tamu.
Beberapa detik kemudian...
"Allan," panggil Celena yang saat ini sudah berdiri tak jauh dari ruang tengah.
Adam yang melihat Celena langsung berdiri dan melangkah menuju Celena.
Celena yang melihat putra angkatnya berjalan kearahnya dirinya langsung berlari dan memeluk tubuh putranya itu.
"Hiks... Allan." Celena terisak di dalam pelukan putranya.
Adam yang tiba-tiba mendapatkan pelukan dari ibunya sedikit terkejut dan hampir terhuyung ke belakang. Dan juga isakan dari Celena. Anggota keluarga Abimanyu dan Bimantara yang melihat Celena yang menangis di dalam pelukan Adam juga ikutan sedih. Bagaimana pun Celena dan keluarganya sangat menyayangi Adam.
"Mama. Ada apa?" tanya Adam.
Tapi Celena tidak menjawabnya. Celena masih terisak disana.
"Sayang. Bawa duduk dulu, Nak! Kasihan lama-lama berdirinya," sela Utari.
"Vigo, mari duduk." Ardi beranjak, lalu mempersilakan Vigo untuk duduk.
"Ada apa, Ma? Kenapa Mama dan kak Vigo ingin kemari dan tidak menungguku di rumah saja? Lalu Papa dan kak Nicolaas mana? Kenapa mereka tidak bersama kalian?" Adam memberikan banyak pertanyaan pada Celena.
"Sayang. Nanyanya jangan banyak-banyak dong. Kan kasihan Mama Celena nya," ucap Utari lembut.
Utari dan anggota keluarga lainnya sudah tahu nama dari anggota keluarga Adiyaksa. Adam sudah menceritakan semua tentang mereka.
"Papamu dibawah pergi oleh beberapa orang, sayang! Dan kemungkinan Nicolaas, kakakmu juga bersama mereka," jawab Celena lirih dan air matanya pun mengalir membasahi wajah cantiknya.
"Apa maksud Mama?"
"Begini, sayang." Celena pun mulai cerita.
FLASHBACK ON
Saat ini Levi dan istrinya Celena sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Saat di dalam perjalanan, tiba-tiba mobil mereka dihadang oleh beberapa orang.
"Keluar!" teriak orang-orang di luar mobil Levi.
"Sayang, siapa mereka?" tanya Celena panik.
"Aku juga tidak, sayang." Levi menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Apa mereka orang-orang suruhan Dennis?" batin Levi.
"Sayang. Kau tetaplah di mobil. Dan simpan ini," ucap Levi pada Celena istrinya sembari memberikan flashdisk padanya.
FLASHBACK OFF
"Setelah Papa kamu keluar, mereka langsung membawa pergi Papa, nak!"
"Ketika Mama sampai di rumah. Kakak kamu Vigo mengatakan bahwa Nicolaas pergi keluar kota. Allan! Mama benar-benar takut," ucap Celena sembari menangis.
"Iya, Allan! Kak Nicolaas menelpon kakak. Katanya dia dalam perjalanan ke Bandung," ucap Vigo.
"Pergi ke Bandung? Bukannya Papa tidak pernah mengizinkan kak Nicolaas pergi keluar kota sendirian? Kenapa sekarang kak Nicolaas malah kesana?" tanya Adam bingung.
"Awalnya kakak juga berpikir seperti itu. Saat kakak bertanya padanya. Kak Nicolaas bilang kalau Papa yang nyuruh," jawab Vigo.
"Allan. Bagaimana ini, sayang? Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada Papamu dan kakak kamu," lirih Celena.
"Mama tidak perlu khawatir, oke! Mereka akan baik-baik saja.." Hibur Adam.
"Oh iya. Mama hampir lupa!"
"Apa, Ma?"
"Ini." Celena menyerahkan flashdisk pada Adam.
"Flashdisk?" tanya Adam bingung.
"Iya, sayang. Papamu menitipkan flashdisk ini pada Mama dan menyuruh Mama untuk menyerahkannya padamu."
"Kenapa diberikan padaku? Kenapa bukan diberikan pada kakak Vigo?"
"Mama juga tidak tahu sayang. Tapi Papamu bilang flashdisk ini ada hubungan dengan kejadian yang kamu alami di masa lalu."
"Jadi maksud Bibi Celena. Kejadian yang Bibi dan Paman alami saat ini ada hubungannya dengan kejadian yang dialami adikku dimasa lalu?" tanya Garry.
"Iya, Nak." Celena menjawab pertanyaan dari Garry.
Adam menatap flashdisk tersebut. Dirinya juga penasaran isi flashdisk tersebut.
"Ma," panggil Adam.
"Ada apa, sayang?"
"Apa Mama dan Papa tahu alasan mereka membawa Papa pergi?" tanya Adam.
"Mama tidak tahu, sayang." Celena langsung menggelengkan kepalanya.
"Kemungkinan Papa tahu masalah ini. Apa Papa ada cerita ke Mama?" tanya Adam lagi.
Baik Adam, Vigo dan anggota keluarga lainnya menatap wajah Celena. Sedangkan Celena berusaha mengingat sesuatu.
"Mama ingat, sayang."
Mereka yang mendengar ucapan dari Celan tersenyum bahagia, terutama Adam dan Vigo.
"Apa itu, Ma?" tanya Vigo.
"Papa kalian pernah cerita pada Mama. Bahwa Papa kalian itu bukan putra kandung dari Liam Johanes Adiyaksa dan Liam Sasmita Adiyaksa, Nenek Kakek kalian. Papa kalian mengatakan pada Mama. Saat Sasmita ibunya melahirkan, putranya meninggal karena terlambat ditangani. Dokter kandungan yang akan membantu persalinannya sudah terlebih dahulu diminta untuk membantu persalinan dari keluarga lain. Jadi pada saat keluarga Adiyaksa menghubungi Dokter itu. Dokter itu sudah merekomendasikan Dokter lain untuk keluarga itu. Tapi keluarga tersebut tidak mau menerimanya. Dan mereka tetap memaksa Dokter tersebut yang harus menangani proses persalinan dari Sasmita terlebih dahulu. Lalu kemu..." perkataan Celena terhenti karena Adam terlebih memotongnya.
"Lalu mereka balas dendam pada Dokter itu. Mereka menyuruh Dokter itu untuk menukar bayinya yang sudah meninggal dengan bayi dari keluarga yang dibantu oleh Dokter tersebut. Mungkin saja saat itu, keluarga Adiyaksa mengancam Dokter tersebut berupa ancaman penjara atau ancaman lainnya karena Dokter itu sudah membuat bayi mereka meninggal." Adam melanjutkan perkataan ibunya.
Mereka semua mengangguk membenarkan ucapan Adam.
Amirah yang sedari tadi menyimak pembicaraan Celena dan Adam tertegung. Dirinya berpikir, apakah suaminya itu adalah putra bungsunya yang ditukar.
"Nak Celena."
Celena yang dipanggil pun melihat kearah Amirah.
"Iya, Bu. Ada apa?"
"Apa boleh bibi tahu nama suamimu?"
"Levi. Liam Levi Adiyaksa," jawab Celena.
"Levi. Nama yang bagus. Apa Bibi boleh menanyakan satu pertanyaan lagi?"
"Boleh, Bi! Silahkan."
"Apa suamimu itu memiliki tanda lahir?"
"Ada. Suamiku memiliki tanda lahir di bahu kirinya."
Saat mendengar jawaban dari Celena. Amirah langsung terdiam. Dan tanpa diminta pun air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Evan yang melihat ibunya yang menangis tiba-tiba langsung memeluknya.
"Ada apa, Bu?"
Amirah melepaskan pelukannya dari putranya dan menatap wajah tampan putranya tersebut.
"Ibu yakin, Van! Suami dari Nak Celena adalah adikmu. Adikmu juga memiliki tanda lahir yang sama di bahu kirinya. Saat adikmu lahir, Dokter itu memberikan adikmu itu pada ibu untuk ibu peluk dan ibu cium. Ibu bisa melihat tanda itu di tubuhnya," lirih Amirah.
"Sudah, sudah! Seperti Nak Celena dan Nak Vigo kelelahan. Lebih baik kita makan malam dulu. Setelah itu kita biarkan mereka istirahat," sela Yodha.
"Baiklah," jawab mereka, kecuali Celena dan Vigo.
"Mama dan kakak ikut makan malam ya," ucap Adam.
Celena dan Vigo mengangguk, lalu semuanya pun pergi menuju meja makan.