
Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya sudah berada di kantin bersama Adam dan juga sahabat-sahabatnya Adam. Mereka memesan banyak makanan dan minuman.
Adam saat ini masih dalam keadaan mood yang buruk. Jadi, mereka semua berhati-hati ketika berbicara.
"Ada apa hum?" tanya Danish yang menatap wajah adiknya yang saat ini tengah mengaduk-aduk jus pokatnya dengan kepala menyender ke samping dengan telapak tangannya sebagai tumpuannya.
Adam melirik sekilas kearah kakaknya itu lalu kembali melihat kearah jus pokatnya.
Melihat reaksi dari adiknya dan ditambah lagi wajah tak semangat adiknya itu membuat Danish sedih. Begitu juga dengan Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya. Termasuk sahabat-sahabatnya Adam.
"Adam."
Kali ini Ardi yang memanggilnya. Ardi menatap khawatir Adam yang sejak tadi tak mengeluarkan suara. Bahkan adik sepupunya itu hanya diam dan sedikit lesu.
Adam langsung melihat kearah Ardi. Dan dapat Adam lihat bahwa kakak sepupunya itu menatap khawatir dirinya.
"Ada apa? Kenapa hari ini kamu lesu dan tidak bersemangat sama sekali?" tanya Ardi.
Adam berpikir sejenak dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya.
"Aku sedang memikirkan sesuatu," ucap Adam.
"Mikirin apa Adam?" tanya Harsha.
"Huft!"
Adam seketika menghembuskan nafasnya secara kasar lalu menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya dan di sampingnya.
Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya dan sahabat-sahabatnya Adam menatap tak tega kearah Adam. Mereka semua berpikir bahwa Adam ada masalah.
"Ada apa? Katakan pada kakak," ucap Danish lembut sembari mengusap lembut kepala belakang adiknya.
Adam menatap wajah kakaknya yang juga menatap wajahnya. "Aku paling nggak suka yang namanya pembullyan. Begitu juga dengan orang yang tidak bisa menghormati orang yang lebih tua darinya. Bahkan dia bersikap seolah-olah seorang penguasa," ucap Adam.
Mendengar perkataan dari Adam membuat mereka semua paham. Pasti ini ada hubungannya dengan Ronny si mahasiswa yang suka melakukan sesuka hatinya di Kampus.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Vigo.
Adam melihat kearah Vigo. "Aku tidak mau ada pembullyan lagi. Teman-teman kampus disini datang ke kampus ini untuk menerima ilmu. Bukan menerima pembullyan. Dan dosen-dosen disini mengajarkan para mahasiswa dan mahasiswi minta untuk dihormati dan disegani. Bukan untuk dilawan."
"Kalau misalkan dosennya yang terlebih dahulu bersikap kasar kepada para mahasiswanya, bagaimana Adam?" tanya Zio.
"Itu lain ceritanya bego!" Adam langsung mengeluarkan kata andalannya membalas pertanyaan dari Zio.
"Hahahaha."
Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando seketika tertawa ketika mendengar ucapan manis dari Adam.
"Kata-kata yang pas banget," ejek Leon menatap kearah Zio.
Zio seketika mendengus kesal akan perkataan yang begitu indah yang keluar dari mulut Adam. Dan juga kesal akan tawa keras dari sahabatnya yang lain.
"Kak." Adam berucap dengan tatapan matanya menatap wajah Danish.
Danish seketika langsung mengusap lembut pipi putih adiknya itu. Dirinya benar-benar tidak tega ketika melihat wajah sedih dan berharap adiknya itu.
"Kakak akan melakukan penerapan dan peraturan baru di kampus ini."
"Kakak akan mendata para mahasiswa dan mahasiswi yang suka membully. Baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan di tempat umum!" seru Ardi.
"Kakak juga akan melakukan hal yang sama," sela Harsha.
"Kami juga!" seru para sahabat-sahabat kakaknya.
Mendengar jawaban dari kakak-kakaknya dan semua sahabat-sahabat kakak-kakaknya seketika terukir senyuman manis di Adam.
Mereka semua ikut tersenyum ketika melihat Adam yang tersenyum. Terutama Danish, Ardi, Harsha dan Vigo. Memang itulah yang mereka harapkan.
Adam menatap wajah Danish lalu tersenyum sedikit bak anak kecil. "Kakak! Nanti kakak selesai ngajar. Kalau kakak mau pulang, belikan aku susu pisang dua kotak ya."
Mendengar permintaan adiknya, Danish tidak langsung menjawab permintaan dari adiknya itu. Danish justru menatap wajah tampan adiknya.
Sedangkan Adam yang melihat reaksi kakaknya yang hanya memberikan tatapan untuknya seketika mendengus. Adam membuang wajahnya ke depan dengan bibir yang digerak-gerakin.
"Kalau nggak mau bilang nggak mau. Jangan dilihat doang. Jangan buat orang ngeharap lebih," ucap Adam dengan bibir yang sudah melengkung ke bawah.
Sementara Danish sudah tersenyum ketika melihat wajah cemberut serta mendengar ucapan dari adiknya itu. Apalagi ketika melihat bibir adiknya yang sudah melengkung ke bawah yang siap untuk menangis.
Adam seketika berdiri dari duduknya lalu menatap kearah ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Kita kembali ke kelas yuk!"
"Baiklah!" jawab Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
"Hei!" Danish langsung menahan pergelangan tangan adiknya. "Marah? Maafkan kakak ya? Jangan merajuk dong. Hilang nanti tampannya. Kakak tadi cuma bercanda." Danish berucap lembut.
Adam melihat kearah kakaknya. Dan dapat dilihat oleh Adam kakaknya yang memohon padanya. Adam juga dapat lihat dari tatapan mata kakaknya bahwa kakaknya itu bersungguh-sungguh akan mengabulkan permintaannya barusan.
"Nanti pulang dari Kampus kakak akan singgah ke supermarket. Kakak akan beli susu pisang kesukaan kamu. Kakak akan beli 4 kotak khusus untuk kamu." Danish berucap sembari tersenyum menatap wajah tampan adiknya.
"Be-benarkah? Kakak nggak bohong?" tanya Adam.
"Kakak bersungguh-sungguh. Karena kakak sayang kamu. Sesuai janji kakak sama kamu ketika kamu koma. Jika kamu bangun dan kembali sehat. Kakak akan lebih menjaga kamu, akan lebih melindungi kamu, akan lebih memahami keinginan dan akan lebih memahami perasaan kamu. Kakak akan berusaha menuruti semua keinginan kamu selama kakak mampu."
Tes..
Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar untaian kata indah yang keluar dari mulut kakak keduanya itu. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar kata-kata itu.
"Hiks... Ka-kakak Danish... Hiks," ucap Adam sembari terisak.
Grep..
Danish langsung memeluk tubuh adiknya. Dapat Danish rasakan tubuh adiknya yang bergetar.
"Kakak menyayangi kamu. Kamu segalanya dalam kehidupan kakak. Kakak pernah berjanji kepada diri kakak sendiri untuk menjadi kakak yang terbaik untukmu dan kakak yang akan selalu menuruti apapun keinginan kamu. Kakak akan menggantikan semua yang dulu kamu inginkan."
"Hiks... Kakak. Aku sayang kakak. Aku sayang kakak... Hiks."
"Terlebih lagi kakak. Kamu adalah kebahagiaan dan penyemangat hidup kakak. Tetaplah sehat dan jangan sakit-sakit lagi."
Melihat interaksi antara Danish dan Adam. Dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Danish membuat semua tersenyum bahagia, terutama Cakra, Kavi, Indra, Prana, Rayan dan Arya.
Baik Cakra, Kavi maupun Indra, Prana, Rayan dan Arya tahu bagaimana sosok seorang Danish yang berubah seratus persen setelah bertemu kembali dengan adik dan ibu kandungnya.
Danish yang dulu suka membully, Danish yang dulu kejam kepada teman-teman kampusnya, Danish yang tidak kenal ampun dengan musuh-musuhnya dan Danish yang keras kepala dan ingin menang sendiri.
Adam seketika melepaskan pelukan kakaknya lalu menatap wajah tampan kakaknya itu.
"Kakak juga harus dalam keadaan sehat-sehat saja. Jangan sakit, jangan kelelahan ketika berada di kampus dan di perusahaan. Aku penyemangat hidup kakak. Begitu juga denganku. Kakak juga penyemangat hidupku. Papa, Mama, kak Garry, kakak dan semuanya adalah penyemangat hidup aku."
Mendengar perkataan tulus dari Adam membuat Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan semuanya tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
Mereka semua tahu akan sikap dan karakter Adam selama ini. Tanpa Adam mengatakannya, mereka semua tahu bahwa Adam memiliki hati yang baik. Bukan hanya anggota keluarga saja yang Adam sayangi. Adam menyayangi semua orang.