
Danish, Ardi, Harsha dan sahabat-sahabatnya sedang di kantin. Mereka memutuskan sarapan pagi yang kedua setelah sarapan di rumah. Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya tersenyum bahagia. Bagaimana tidak bahagia. Hidup mereka terlepas dari bullynya Danish dan kelompoknya. Tapi terlepas dari kelompok Danish, ada kelompok lain lagi yang membully mereka. Beginilah nasib orang-orang lemah.
"Oh iya. Bagaimana setelah selesai mata kuliah pertama, kita semua menemui Allan! Eeh, bukan. Maksudku Adam adik kita!" seru Arya disela makannya.
"Eemm! Aku setuju apa yang dikatakan oleh Arya," kata Sakha.
"Haruslah. Pokoknya selama kita di kampus selama itulah kita akan selalu berada di sampingnya," ucap Cakra.
"Kita akan ajak Allab bermain dengan kita, berkumpul dengan kita. Kita akan terus ngobrol bareng dengannya," ucap Arka.
"Kita semua akan secara berlahan membuat ingatannya kembali," ujar Gala.
"Satu bukti sudah kita dapatkan. Allan bukan adik kandung Vigo. Berarti kita semua yakin bahwa Allan adalah Adam, adik kita! Kita akan membawanya pulang," kata Harsha.
"Semangat demi sikelinci nakal kita!" seru mereka bersamaan.
^^^
Saat ini Allan dan Melky sudah berada di kelas. Allan masih kesal pada Melky.
"Yah, Allan! Lo kenapa? Dari tadi gue perhatiin muka lo sepet banget " ucap Melky.
"Ya. Sepet liat muka lo. Muka lo udah jelek, sekarang hati lo juga jelek," jawab Allan.
"Yak. Sialan lo!" kesal Melky. "Ada apa, sih? Apa masih mikirin dan percaya apa yang dikatakan oleh tikus-tikus itu?" tanya Melky sembari mengumpati para sahabatnya sendiri.
Hening! Allan tak berniat menjawab pertanyaan Melky. Pandangannya masih fokus pada buku di hadapannya.
"Yah, Allan! Ngomong Dong. Aish! Kau ini persis kayak perempuan," ejek Melky.
Saat Allan ingin membalas perkataan Melky. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memasuki kelas.
"Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi, Bu!" jawab mereka semua, termasuk Allan dan Melky.
"Hari ini kita akan belajar mempraktekkan bagaimana cara membuat aplikasi virus untuk komputer atau laptop. Aplikasi ini mampu membersihkan virus di laptop dan komputer milik kita," ucap Dosen perempuan tersebut. Mereka yang mendengar hal itu sangat sangat bahagia, tak terkecuali Allan dan Melky.
^^^
Kini Ardi, Harsha, Danish dan para sahabat mereka berada di lobi Kampus setelah selesai menyelesaikan kuliah pertama mereka. Mereka sedang tertawa dan bersenda gurau. Walau mereka asyik dengan dunia mereka, tapi pikiran mereka tetap memikirkan seseorang. Ya, siapa lagi kalau bukan Allan? Mereka duduk disana sembari menunggu kedatangan Allan, karena mereka sangat yakin Allan akan melewati mereka.
"Kenapa bocah itu lama sekali," rengek Harsha.
"Sabar kenapa, alien tengil!" ejek Gala.
TAK!
"Aww. Sialan," kesal Gala saat merasakan sakit atas ulah Harsha.
Yah. Harsha menjitak kening Gala. Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Saat mereka asyik dengan dunia mereka. Salah satu dari mereka yaitu Prana melihat Allan.
"Hei, lihatlah! Itu Allan!" seru Prana sambil menunjuk kearah Allan.
Mereka semua pun mengalihkan pandangan mereka melihat kearah Allan. Mereka tersenyum bahagia saat melihat keberadaan Allan, terutama Ardi, Harsha dan Danish.
Mereka melihat Allan sedang bersama Melky. Dan dapat mereka lihat bahwa Allan sedang kesal pada sahabatnya itu. Mereka sangat merindukan wajah merengut Allan atau Adam.
"Sepertinya Allan lagi kesal sama Melky," ucap Rayan.
"Sepertinya, iya! Lihatlah wajahnya yang ditekuk begitu," kata Indra.
"Lucu dan menggemaskan," kata Kenzie.
Mereka terus memperhatikan Allan dan Melky.
"Yak, Melky! Pergi sana. Ngapain ngikutin gue," ketus Allan.
"Lo kenapa, Allan? Kesambet setan apa lo sehingga lo marah sama gue?"
"Gue kesambet setan pencabut nyawa. Sebelum setan dalam tubuh gue keluar dengan sempurna, lebih baik lo pergi dari sini. Buruan!" Allan benar-benar udah kesal.
Sebenarnya Melky tahu apa penyebab sahabat kelincinya ini marah dan kesal padanya. Tapi Melky memang sengaja membuat sahabat kelinci nya ini bertambah kesal.
"Tapi aku tidak bisa hidup tanpamu, Lan! Biarkan aku tetap di sampingmu. Selamanya!" Melky menatap Allan sembari menaik turunkan alisnya.
Allan menatap wajah Melky sembari mentautkan keningnya. Allan menatap Melky bingung dan juga heran. Lalu tangannya mendorong kepala Melky dengan jari telunjuknya.
"Ogah gue hidup ama lo, hitam! Bisa-bisa hidup gue berubah menjadi suram dan bertambah buruk. Ngeliat lo aja gue enek. Apa lagi hidup ama lo selamanya," balas Allan.
TAK!
"Aww!" Allan mengelus-elus kepalanya dengan bibir yang digerak-gerakin.
Melky menjitak kepala Allan. "Sialan lo. Dasar siluman kelinci kurap. Emangnya gue manusia apaan sehingga membuat hidup lo suram dan buruk, hah?" tanya Melky tak terima atas ucapan Allan.
"Tidak akan pernah berubah, ya adik kalian itu! Suka berbicara seenaknya. Ucapannya nyesek banget," kata Kavi.
"Mau dia Allan atau pun Adam tetap saja bikin orang kesal. Bagi orang yang tidak mengenalnya pasti orang itu sudah nangis atau marah dengar kata-katanya," sahut Sakha.
"Ya. Kau benar, Kha! Hanya kita yang tahu watak dan sifatnya. Makanya kita tidak pernah marah padanya setiap Adam berbicara seenaknya pada kita," kata Arka.
Sedangkan Danish, Ardi dan Harsha hanya diam sembari terus fokus menatap Allan. Mereka tersenyum gemas dan tersenyum bahagia melihat Allan. Sifat dan kata-katanya itulah yang mereka rindukan dari adik kecil mereka selama ini.
"Kami akan membawamu pulang, Dam!" batin mereka bertiga.
"Ya, sudah! Tunggu apa lagi. Yuk, kita kesana!" seru Cakra.
"Eemm." mereka semua mengangguk, lalu mereka pun pergi menghampiri Allan dan Melky yang saat ini masih berdebat.
"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" tanya Allan heran.
Melky tersenyum menyeringai. Dirinya masih terus berniat membuat Allan kesal padanya.
"Lan. Lo itu cantik dan manis. Padahal lo tuh laki-laki. Sebenarnya gue cinta ama lo. Mau gak lo jadi pacar gue?"
Di dalam hati Melky sudah tertawa puas melihat wajah terkejut dan wajah syok sahabat kelincinya itu. "Kau lucu sekali, Lan!" batin Melky.
Allan yang tanpa perikemanusiaan dan tanpa periperasaan memukul kepala Melky dengan menggunakan sepatunya. Kebetulan sepatu Allan tidak ada talinya, jadi gampang dilepas dan juga dipakai begitu saja.
BUGH!
"Aakkhhh." Melky meringis saat kepalanya ditampol oleh Allan pake sepatunya.
"Eeemmm." Allan memperlihatkan senyuman manis di bibirnya. "Itulah jawaban dari gue, hitamku yang tampan. Muuaachhh. Ogah!" Allan menatap kesal Melky.
Sedangkan Melky masih mengelus-elus kepalanya dengan bibir yang digerak-gerakin mengumpati sahabat kelinci nya itu.
"Dasar kelinci sialan."
Allan melirik sekilas kearah Melky. Lalu tersenyum. "Hehehe."
"Lo jahat amat sih ama gue, Lan! Lo tega mukul gue pake sepatu buntut lo itu," protes Melky.
"Apa? Mau lagi?" ancam Allan, lalu Allan natap Melky. "Maafin gue. Habisnya lo juga sih yang mulai. Gue ini Cowok normal. Nah, lo! Dengan gamblangnya lo ngatain cinta ama gue. Makanya tangan gue langsung reflek nampol kepala lo? Itu Untung kepala lo yang gue tampol. Coba wajah tampan lo itu. Pasti butuh tujuh hari tujuh malam untuk ngilangin cap stempel tapak sepatu gue di wajah lo," jawab Allan.
"Aish!" Melky merengut kesal. "Gue kan cuma bercanda doang keles. Gue juga cowok normal. Mana mungkinlah gue suka ama cowok. Walau pun gue suka ama cowok. Sukanya seperti kayak kakak atau adik. Kayak gue ama lo. Semenjak gue kenal ama lo. Gue udah anggap lo sahabat sekaligus saudara gue," tutur Melky sembari menatap wajah tampan Allan. "Makasih lo udah mau berteman sama gue."
Allan tersenyum. "Gue yang seharusnya ngomong gitu. Secara gue mahasiswa baru disini. Dan lo orang pertama yang mau jadi sahabat gue. Terima kasih ya!"
"Apa kita mengganggu?" seru Arka yang datang bersama yang lainnya.
Hal itu sukses membuat Allan dan Melky terkejut. Dan mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka melihat kearah Arka.
"Ka-kalian," ucap Allan gugup.
Mereka yang melihat wajah terkejut dan suara gugup Jungie tersenyum gemas. Melky mendekat pada Allan. Lalu membisikkan sesuatu.
"Mereka siapa, Lan?"
"Mereka yang kemarin aku ceritakan itu," jawab Allan.
"Ooh." Melky mengangguk tanda mengerti.
Allan sudah bercerita pada Melky soal kelompok BRAINER dan kelompok BRUIZER yang menolongnya saat dihajar oleh kelompok LION.
"Seperti kalian berdua lagi asyik ngobrolnya." Kenzie berucap sambil menatap keduanya.
"Apa kami mengganggu?" tanya Danish.
"Ooh, tidak! Kalian sama sekali tidak mengganggu. Justru aku berterima kasih pada kalian semua, karena kalian datang disaat aku benar-benar membutuhkan seseorang," jawab Allan.
"Memangnya kenapa?" tanya Harsha penasaran.
Allan melirik kearah Melky. "Ada seseorang yang mengajakku untuk pacaran. Orang itu ngebet banget mau jadiin aku pacarnya."
Mereka semua tersenyum. Mereka sebenarnya tahu orang yang dimaksud itu adalah Melky. Dan mereka juga tahu, Allan ingin membalas keusilan sahabatnya itu.
"Memangnya siapa orangnya?" tanya Ardi.
"Nih! Orang yang duduk di sampingku ini." Allan menjawab sembari nunjuk Melky.
Melky melotot dan menatap tajam Allan. Sedangkan Allan tersenyum kebahagiaan sembari menaik turunkan alisnya.
Melky mendorong kepala Allan dengan telunjuknya. "Dasar siluman kelinci kudisan, kurap, bodoh," umpat Melky.
"Terima kasih atas pujiannya, hitam!"
Sedangkan Ardi, Harsha, Danish dan para sahabatnya hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya.