
Setelah menerima telepon dari suaminya, Evan. Utari langsung buru-buru bersiap-siap ingin ke rumah sakit. Matanya sudah basah karena menangis. Lalu tiba-tiba datanglah Kakak laki-lakinya, Bagas.
"Utari. Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Kakak." Utari menangis sambil memeluk kakak laki-lakinya itu.
"Ada apa, Utari?"
"Adam masuk ke rumah sakit, kak."
"Masuk ke rumah sakit. Kok bisa? Sebenarnya apa yang terjadi, Utari?"
"Aku tidak tahu, kak. Ini sudah yang kesekian kalinya Adan masuk ke rumah sakit. Aku tidak mau terjadi sesuatu terhadap Adam."
"Kau tidak perlu sampai berpikiran seperti itu, Utari. Adammu itu anak yang kuat. Keponakanku itu pasti akan baik-baik saja."
"Ya, sudah. Kau bersiap-siaplah. Kakak akan memberitahu anggota keluarga yang lain. Jadi, kita semua akan pergi ke rumah sakit."
***
Evan dan Garry sudah berada di rumah sakit. Mereka tampak panik dan khawatir. Evan melihat putra keduanya yang terduduk lemah di lantai dengan mata yang sembab. Lalu Evan mendekati putranya tersebut.
"Danish," panggil Danish sambil menepuk pelan bahu putranya itu.
Danish mengalihkan pandangannya melihat wajah ayahnya.
"Pa, Adan." Danish berbicara sambil menangis. Air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.
"Adan anak yang kuat. Adan akan baik-baik saja," ucap Evan berusaha menghibur putranya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Adam sampai masuk rumah sakit?" tanya Evan.
Saat Danish ingin menceritakan kronologinya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari seorang wanita.
"Evan," panggil Ji woo yang berlari kearahnya diikuti anggota keluarga lainnya di belakang.
"Utari!"
"Bagaimana Adam? Apa dia baik-baik saja?" tangis Utari pecah.
"Aku belum tahu keadaannya, Utari. Adam masih berada UGD."
"Mama," panggil Garry.
Utari yang mendengar seseorang memanggilnya langsung menolehkan wajahnya kearah asal suara. Dirinya terkejut dan juga bahagia saat melihat wajah tampan putra sulungnya.
"Garry!"
Garry berlahan berjalan mendekati Utari. Dan tanpa aba-aba langsung memeluk sang Ibu.
GREP!
Utari yang mendapatkan pelukan kerinduan dari putra sulungnya, tak kalah eratnya membalas pelukan dari sang putra.
"Aku merindukan, Mama. Sangat merindukan Mama!"
"Mama juga merindukanmu, sayang. Maafkan Mama yang sudah meninggalkanmu dan adikmu saat itu."
"Mama tidak salah. Saat itu mama ingin membawa kami berdua pergi. Tapi Nenek menghalangi niat Mama."
Utari melepaskan pelukannya dari putra sulungnya. Dan menatap wajah sang putra.
"Kau sudah besar dan tampan. Sekali lagi Mama minta maaf karena tidak ikut andil dalam menjagamu, merawatmu dan melihatmu tumbu besar."
Garry menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma. Sekali lagi aku katakan. Mama tidak salah."
"Terima kasih, Sayang."
Utari dan memberikan ciuman pada kedua pipi putranya dan juga keningnya. Lalu matanya beralih melihat putra keduanya. Hatinya benar-benar sakit melihat kondisi putranya itu. Utari pun menghampiri putranya tersebut
"Sayang," sapa Utari sambil membelai rambutnya.
Danish yang merasakan belaian lembut dari ibunya langsung menatap wajah ibunya itu. "Mama," Danish langsung memeluk ibunya dan menangis di pelukannya.
"Hiks.. maafkan aku. Aku gagal melindungi adikku. Aku datang terlambat saat kejadian itu," adunya
Utari hanya tersenyum mendengar aduan dari putra keduanya. "Mama mengerti, sayang. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini murni bukan salahmu," hibur Utari sambil mengusap lembut punggung putranya itu.
"Putra mama jelek sekali untuk saat ini. Mana putra Mama yang tampan saat pertama kali bertemu, hum?" goda Utari.
"Mama," ucap Danish malu.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu ruang UGD di buka.
CKLEK!
Semua anggota keluarga menatap kearah pintu tersebut. Dan terlihat seorang dokter keluar.
"Dokter. Bagaimana keadaan putra kami?" tanya Utari dan Evan bersamaan.
"Sebelum saya menjawab pertanyaan anda berdua. Apakah pasien sering merasakan sakit di kepala atau pingsan?" tanya Dokter itu.
Utari dan Evan hanya diam dan saling tatap. Pasalnya mereka tidak mengetahui kondisi putra mereka. Lalu terdengar suara yang menjawab pertanyaan Dokter tersebut.
"Pernah, Dokter. Adik saya Adam sering merasakan sakit di kepalanya." itu Ardi yang menjawab.
Utari maupun Evan terkejut mendengar ucapan Ardi. Mereka berdua melihat kearah Ardi.
"Bahkan Adam juga sering pingsan," ucap Harsha menambahkan.
Utari tanpa sadar meneteskan air matanya. Dirinya merasa bersalah, karena tidak mengetahui kondisi putranya itu.
"Aku juga pernah melihat Adam kesakitan sambil memegang kepalanya dan juga pingsan." Danish ikut menambahkan.
"Baiklah. Mendengar jawaban dari ketiga pemuda ini. Saya bisa memastikan ada masalah di kepalanya pasien. Kemungkinan ada benturan keras di kepala pasien. Saya sudah melakukan pemeriksaan CT scan. Hasilnya akan keluar jam delapan malam nanti. Kalian bisa melihatnya setelah dipindahkan ke ruang rawat. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dokter." mereka berucap secara bersamaan.
Mereka sudah di ruang rawat Adam. Mereka menatap Adam dengan wajah sedih, panik dan khawatir. Secara mereka belum mengetahui kondisi Adam yang sebenarnya sampai hasil CT scan itu keluar.
Utari mendekati ranjang Adam. Tangan kanannya mengelus rambut putranya dan tangan kirinya memegang tangan kirinya yang terbebas dari infus. Dan tidak lupa memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah tampan putranya dan tanpa sadar satu tetes air matanya jatuh mengenai pipi mulus putranya.
"Mama," lirih Adam yang sudah membuka matanya saat merasakan air matanya ibunya jatuh membasahi wajahnya.
Utari menghentikan aktivitasnya mengecup wajah tampan putranya saat putranya memanggilnya.
"Sayang. Kamu sudah sadar, hum! Apa ada yang sakit? Katakan pada Mama."
Adam hanya tersenyum melihat wajah panik ibunya. Lalu kemudian dirinya menggeleng. "Sakitnya sudah hilang saat mama menciumku tanpa henti," jawab Adam tanpa melunturkan senyumannya.
Semua yang berada di ruang tersebut tersenyum bahagia mendengar penuturan Adam.
"Adam," panggil Garry saat dirinya mendekati ranjang Adam.
Adam menolehkan wajahnya kearahnya. "Kakak Garry. Kau ada disini?"
Garry tersenyum. "Iya. Kakak ada disini."
"Maafkan aku, kak. Aku tidak menepati janjiku untuk menemuimu di Cafe. Kau pasti menungguku terlalu lama di Cafe itukan?" ucap dan tanya Adam merasa bersalah.
Adam yang melihat wajah sedih dan wajah menyesal adiknya menjadi tidak tega. "Hei, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, hum? Kakak tidak marah padamu karena tidak datang. Karena saat itu yang ada dipikiran kakak mungkin kau sibuk atau jalanan macet. Bisa sajakan. Saat kita sedang dalam perjalanan ingin menemui seseorang. Lalu ada kendala di jalan atau ada panggilan penting sampai melupakan sebuah janji," tutur Garry berusaha menghibur Adam yang tangannya sudah ada di kepala Adam dengan maksud membelai rambut adiknya.
Adam tersenyum bahagia saat mendengar ucapan Garry yang notabenenya adalah kakak kandungnya. Garry pun turut bahagia karena sudah berhasil membuat adiknya tersenyum kembali.
Danish juga ikut mendekat ke ranjang adiknya. "Adam."
"Dan... maksudku kakak. Jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak bukan Danish lagi. Kan tidak sopan kalau aku terus memanggilmu dengan sebutan nama saja. Padahal kau itu lebih tua dariku. Apa boleh aku memanggilmu kakak?" ucap dan tanya Adam.
Danish tersenyum. Bahkan dalam hatinya sudah memekik bahagia saat mendengar penuturan sang adik.
"Itu yang aku mau, Adam." Danish membatin.
"Kenapa diam? Tidak boleh ya?" tanya Adam lagi dengan bibir yang dimanyunkan dan sontak semua yang ada di ruangan itu bertambah gemas melihat wajah imutnya.
Bagaimana tidak gemas, wajah Adam seketika berubah menjadi wajah anak kecil usia 4 tahun
Danish terkejut saat mendengar ucapan adiknya dan dengan cepat dirinya menggelengkan kepalanya.
"Pasti boleh dan dengan senang hati," jawab Danish.
Adam tersenyum. Lalu Adam teringat akan ucapan Danish saat perkelahian itu.