
Di ruang tengah telah duduk cantik Yoga dan istrinya Maya. Begitu juga dengan Monica, perempuan yang mengaku hamil anaknya Yoga. Bahkan wanita itu juga mengaku istri keduanya Yoga.
Monica menatap tak suka kearah Maya yang berstatus istri sah dari Prayoga Gennaro. Dia terkejut ketika melihat masih berada di kediaman Gennaro. Setahunya terakhir ketika dia datang ke kediaman Gennaro dengan membawa dua berita. Istri dari Yoga marah besar lalu pergi meninggalkan kediaman Gennaro.
"Mau apa lagi anda datang kemari? Apa masih ada informasi lain yang belum anda sampaikan kepada saya, hum?" tanya Maya dengan menatap meremehkan karena perempuan yang ada di hadapannya itu.
Sementara Yoga memilih diam. Dirinya memang memberikan istrinya hak penuh untuk berurusan dengan Monica. Dia tidak akan bersuara dan tidak mengeluarkan kata-kata apapun, kecuali kalau istrinya yang memintanya untuk berbicara atau bertanya.
"Tujuan saya datang kesini untuk meminta anda membiarkan saya tinggal disini. Bagaimana pun saya juga istri dari tuan Prayoga Gennaro. Dan ditambah lagi saya sedang mengandung anaknya," ucap Monica.
Mendengar perkataan tak tahu malu dari Monica membuat Maya tersenyum. Lain halnya dengan Yoga. Laki-laki itu menatap jijik kearah Monica.
"Jadi maksud kamu. Saya harus berbagi suami dengan kamu, begitu? Dan kamu juga ingin saya berbagi tempat tinggal dengan kamu?"
"Iya, seperti itu! Jadi saya berharap anda mengabulkan keinginan saya ini."
"Eeemm." Maya mengangguk-angguk kepalanya sembari menatap remeh kearah Monica.
"Aku mau saja berbagi suami dan berbagai tempat tinggal dengan kamu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?"
"Kamu harus bisa membuktikan di hadapanku bahwa kamu benar-benar sudah menikah dengan suamiku. Dan kamu juga harus membuktikan bahwa bayi yang kamu kandung itu adalah memang benar anak suamiku."
Mendengar perkataan dari istrinya sahnya Yoga membuat Monica terkejut dan ketakutan. Dirinya tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya itu akan mengatakan hal tersebut.
Yoga seketika tersenyum menyeringai ketika menatap wajah terkejut dan wajah panik dari Monica. Yoga meyakini bahwa Monica tengah ketakutan saat ini.
"Aku lihat usia kandungan kamu sepertinya sudah 7 bulan. Bisa dong dilakukan tes DNA. Jaman sekarang sudah canggih. Tes DNA itu bisa dilakukan ketika anak masih dalam kandungan ibunya."
Monica kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Maya dengan menyarankan untuk melakukan tes DNA.
"Sial! Bisa-bisanya dia menyarankan kepadaku untuk melakukan tes DNA terhadap kandungan aku ini. Bisa ketahuan lah kalau aku berbohong tentang mengatakan bahwa bayi ini adalah bayinya Yoga," batin Monica.
"Bagaimana nona Monica? Apakah kamu mau?" tanya Maya.
Monica hanya diam. Dirinya tidak memberikan respon apalagi jawaban yang diberikan oleh Maya kepadanya.
Hening...
Tidak ada yang bersua. Baik Yoga dan Maya maupun Monica. Ketiga sama-sama diam. Yoga dan menatap Monica dengan penuh seringai. Sedangkan Monica panik saat ini di dalam hatinya.
"Mana berani wanita itu melakukan tes DNA! Secara anak yang ada di dalam kandungannya dia itu jelas-jelas bukan anaknya Prayoga Gennaro! Jika wanita menjijikkan itu tetap melakukan tes DNA, maka dia sendiri yang akan membongkar kebohongannya di depan Papi dan Mami!" seru Gino yang tiba-tiba melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
Mendengar suara putra bungsunya. Yoga dan Maya langsung melihat kearah putranya. Begitu juga dengan Monica.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Maya sembari mengelus lembut kepala putranya itu setelah putranya itu duduk di sampingnya.
Gino menatap tajam kearah wanita yang duduk di hadapannya. Dia begitu benci akan perempuan itu.
"Aku sarankan kepada anda nyonya Monica. Berhenti mengusik ayahku. Dan berhentilah mengaku-ngaku bahwa bayi yang ada dalam kandungan anda itu adalah bayi ayah saya. Mau sampai kapan anda terus memainkan drama anda itu, hum?"
Deg..
Monica seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari putranya Yoga. Dia tidak menyangka jika putranya Yoga mengetahui akan kebohongan yang sedang dia buat.
"Apa maksud kamu, hah?! bentak Monica seketika.
Mendengar bentakan dari wanita yang sudah membuat kedua orang tuanya berpisah, walau hanya empat hari tersenyum di sudut bibirnya.
"Maksud perkataanku barusan adalah berhentilah menipu kedua orang tuaku dengan mengaku hamil," sahut Gino.
"Aku benar-benar hamil. Dan aku sama sekali tidak berbohong!" bentak Monica dengan menatap tajam kearah Gino.
"Hahahahaha." Gino seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Monica. "Hei, nyonya! Yang bilang kalau anda itu pura-pura hamil siapa, hah?! Saya tadi barusan bilang berhentilah mengaku hamil anak ayah saya. Bukan mengatakan bahwa anda pura-pura hamil," sahut Gino.
"Bayi yang ada dalam kandungan anda itu bukanlah anak dari ayah saya, melainkan anak dari suami anda sendiri! Anda dan suami anda sudah merencanakan semua ini bertujuan untuk menghancurkan keluargaku. Kehamilan anda saat ini adalah kehamilan yang kedua."
Mendengar pengakuan dari Gino membuat Yoga langsung berdiri dari duduknya. Tatapan matanya menatap serius kearah putra bungsunya itu.
"Gino, apa itu benar sayang?"
"Iya, Papi. Adam sendiri yang bilang padaku bahwa wanita ini sudah menipu Papi. Dia sudah menikah. Dan anak dalam kandungannya itu bukan anak Papi."
Mendengar penjelasan dari putranya itu membuat Yoga menatap tajam kearah Monica. Dirinya tidak menyangka ditipu mentah-mentah oleh Monica. Akibat perbuatan wanita tersebut dirinya harus berpisah selama 4 hari dengan istrinya.
Yoga melangkah mendekati Monica. Dirinya benar-benar marah terhadap wanita tersebut, terlihat jelas dari tatapan matanya yang menajam.
Kini Yoga sudah berdiri di hadapan Monica. Tatapan matanya masih menatap tajam Monica.
"Berdiri kamu!" bentak Yoga.
Seketika Monica langsung berdiri dari duduknya. Dirinya menatap takut kearah Yoga.
Melihat suaminya/ayahnya yang saat ini berdiri dengan tatapan amarahnya membuat Maya dan putranya khawatir.
Ketika Maya hendak menghampiri suaminya, putranya sudah terlebih dulu menahannya. Maya melihat ke samping dimana putranya masih fokus menatap kearah ayahnya dan perempuan tersebut.
"Kita lihat saja dulu, Mi! Biarkan Papi mengeluarkan kemarahannya terhadap perempuan itu. Bagaimana pun disini Papi yang sudah menjadi korban fitnah dari perempuan itu."
"Tapi sayang. Kalau Papi kamu sampai kalap, bagaimana?"
"Mami tenang saja. Papi tidak akan melakukan hal-hal buruk yang akan merugikan dirinya sendiri. Jika hal itu terjadi, kita akan meredamkan amarah Papi!"
Mendengar perkataan dari putranya membuat Maya membiarkan suaminya untuk mengeluarkan amarahnya terhadap perempuan itu.
Plak..
Plak..
"Aakkhh!" Monica meringis kesakitan di bagian pipinya akibat dua tamparan keras yang diberikan oleh Yoga.
"Dasar perempuan menjijikkan. Bisa-bisanya kau melakukan hal sekeji itu padaku! Bisa-bisanya kau membohongiku dengan mengatakan bahwa anak yang kau kandung itu adalah anakku. Bahkan dengan lancangnya mulut kotormu itu mengatakan bahwa kau adalah istri keduaku di hadapan Istriku!"
"Dikarenakan kau sudah merusak hubunganku dengan istriku. Dikarenakan kau sudah membuat aku disebut sebagai suami brengsek. Dikarenakan kau sudah membuat namaku buruk di keluarga istriku. Aku Prayoga Gennaro bersumpah akan membuat hidupmu, hidup anak-anakmu, hidup suamimu dan hidup semua anggota keluargamu termasuk anggota keluarga suamimu hancur seketika. Putraku pasti memiliki bukti lengkap itu. Dan aku pasti bukti-bukti itu akan terekpos di internet!" bentak Yoga dengan menatap nyalang Monica.
"Bibi!" Yoga memanggil pelayannya.
"Ya, tuan!"
"Panggil penjaga dua orang. Suruh mereka kesini."
"Baik tuan!"
Beberapa detik kemudian, pelayan wanita itu datang dengan membawa dua penjaga di belakangnya.
"Tuan!"
"Bibi boleh kembali."
"Baik, nyonya!"
"Kalian, seret perempuan menjijikkan dan tidak tahu malu itu keluar dari rumah ini."
"Baik, tuan!"
Setelah itu, kedua penjaga tersebut menyeret paksa Monica dan membawanya keluar dari kediaman Gennaro.