THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kesedihan Evan, Garry Dan Danish



Semuanya sudah berada di ruang rawat Adam. Mereka menangis ketika melihat kondisi Adam yang mana kepalanya diperban, tangan dipasang infus, wajahnya dipasang masker oksigen.


Utari dan Evan berlahan mendekati ranjang putra bungsunya. Setelah berada di samping ranjang putra bungsunya itu, Evan dan Utari bersamaan memberikan ciuman di kening dan di pipinya.


"Sayang, ini Mama! Mama sedih lihat kamu masuk rumah sakit lagi."


"Putra bungsunya Papa. Ini Papa sayang."


Setelah keduanya puas memberikan ciuman sayang di pipi dan di kening putra bungsunya, Evan dan Utari pun memberikan ruang untuk yang lainnya.


"Adam... Hiks," isak Danish dan Garry bersamaan ketika sudah didekat adiknya.


Garry dan Danish secara bersamaan mengusap lembut pipi dan kening putih adiknya. Kemudian memberikan ciuman disana.


Ardi dan Harsha mendekati ranjang Adam. Keduanya bergabung dengan Garry dan Danish. Ardi berdiri di samping Danish. Sedangkan Harsha berdiri di samping Garry.


"Adam... Hiks. Ini kakak Harsha. Jika orang-orang yang ngejar kamu itu adalah orang-orang yang udah nyakitin Mama. orang-orang itu ngejar kamu buat balas dendam. Maka kakak janji sama kamu. Kakak akan balaskan rasa sakit kamu ke mereka. Apa yang kamu rasakan sekarang ini, itu juga yang mereka rasakan. Kakak akan balas orang-orang yang udah ngusik keluarga kita."


"Kakak juga akan ikut membalas orang-orang itu, Adam! Bagaimana pun mereka sudah menyakiti Mama Alin dan kamu. Mereka sudah mencari masalah dengan keluarga Abimanyu," sahut Ardi sembari tangannya mengusap lembut kepala Adam.


Ketika Ardi dan Harsha sedang mengajak Adam berbicara, tiba-tiba Ardi merasakan tangannya di genggaman oleh Adam.


"Adam," panggil Ardi.


Mereka semua melihat kearah Adam. Mereka berharap Adam membuka kedua matanya itu.


Dan benar! Adam berlahan membuka kedua matanya. Adam mengerjab-ngerjab matanya untuk menyesuaikan cahaya lampu.


"Adam!" Garry, Danish, Ardi dan Harsha memanggil bersamaan.


"Mama," panggil Adam.


Utari yang mendengar panggilan dari putra bungsunya langsung mendekat. Begitu juga dengan Evan.


"Iya, sayang. Ada apa, hum?"


"Apa yang terjadi? Aku kenapa?"


"Kamu kecelakaan sayang. Dan sekarang kamu di rumah sakit," jawab Utari sembari mengusap lembut kepala putranya itu lalu mencium keningnya.


Mendengar jawaban dari ibunya membuat Adam berusaha mengingatnya, namun hasilnya nihil. Adam sama sekali tidak mengingatnya.


"Ma, buka ini!"


"Tapi sayang."


"Buka."


"Ach, baiklah."


Utari pun berlahan membuka masker oksigen putra bungsunya itu dan dibantu oleh Evan.


Kini Adam sudah tidak menggunakan masker oksigen. Tatapan matanya kemudian menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Evan dengan tangannya mengusap lembut pipi putih putra bungsunya.


Adam seketika melihat kearah pria yang ada di sampingnya. Dirinya menatap pria yang ada di sampingnya itu dengan tatapan bingung.


"Paman ada disini?" tanya Adam.


Deg..


Semua orang terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Adam. Terutama Evan.


Bukan hanya Evan yang terkejut. Garry dan Danish juga terkejut ketika mendengar pertanyaan dari adiknya itu.


"Sayang, ini Papa loh! Kamu pasti sedang bercanda kan. Kamu suka sekali menjahili orang. Ayah sendiri masa dijahili," ucap Utari yang berpikir bahwa putra bungsunya itu tengah bercanda.


Adam melihat kearah ibunya dengan mengerutkan keningnya. Ditambah lagi ketika mendengar ucapan ibunya itu.


"Aku sedang tidak bercanda. Justru aku bingung, kenapa Paman ini ada disini?"


Deg..


Semuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Adam. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi pada Adam sehingga Adam bisa berbicara seperti itu.


"Sayang, ini...."


"Aakkhhh!" seketika Adam mengerang kesakitan sembari meremat rambutnya.


Juan yang kebetulan berdiri di dekat ranjang Adam langsung menekan tombol warna merah yang ada di dinding.


Beberapa menit kemudian, terdengar pintu dibuka oleh seseorang. Dan masuklah Dokter Nurwan ke dalam ruang rawat Adam.


"Kalian keluar dulu."


Setelah itu, semuanya pun keluar meninggalkan ruang rawat Adam. Dan kini tinggal Adam bersama sang Dokter.


^^^


"Putraku melupakanku," lirih Evan. Air matanya tidak bisa ditahan dan meluncur dengan sangat deras membasahi wajahnya.


"Sayang. Jangan berkecil hati ya. Putra kita sedang sakit. Ini semua bukan kemauan putra kita," ucap Utari yang berusaha menghibur suaminya.


"Yang dikatakan sama Utari benar, Evan! Kamu jangan berkecil hati atau pun bersedih karena ucapan putra bungsumu. Itu bukan kemauannya," ucap Bagas lembut.


"Kita tunggu Nurman dulu. Kita tanyakan apa yang terjadi pada Adam," sela Davan.


Cklek..


Pintu ruang rawat Adam dibuka. Dan seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Nurman!"


"Paman!"


Mereka semua menatap kearah Nurman untuk meminta penjelasan akan kondisi Adam.


"Apa yang terjadi pada putraku? Tadi di dalam, putraku tak mengenaliku. Katakan semuanya. Jangan ada satu pun yang disembunyikan dariku," ucap dan tanya Evan.


"Pa!" Garry mengusap lembut punggung ayahnya.


"Dari hasil pemeriksaan ditambah lagi dengan jawaban-jawaban yang diberikan Adam padaku ketika aku menanyakan seputar kalian. Aku menyimpulkan bahwa akibat kecelakaan itu Adam kehilangan ingatannya. Ingatan Adam yang hilang itu adalah ingatan di masa sekarang. Adam melupakan momen-momen tentang orang-orang terdekatnya di masa sekarang ini."


"Ja-jadi maksud Paman bahwa adikku melupakan aku kalau aku ini adalah kakak kandungnya? Berarti Adam ingat denganku sebagai musuhnya?" tanya Danish dengan suara bergetarnya dan disertai air matanya.


"Berarti Allan juga tidak ingat denganku, kak Nicolaas dan Mama!" Vigo juga menangis ketika mendengar tentang kondisi Adam.


"Termasuk aku," sela Melky. "Aku bertemu dengan Adam disaat Adam berstatus sebagai Allan. Adam adalah sahabat pertamaku," ucap Melky lirih.


Vino dan Diego langsung merangkul bahu Melky. Keduanya berusaha untuk memberikan ketenangan kepada Melky.


"Sampai kapan putraku melupakanku? Aku tidak sanggup hanya dianggap sebagai orang asing. Apalagi ketika melihat tatapan matanya. Tatapan matanya itu mengingatku akan kesalahanku dulu."


"Aku belum bisa memastikan kapan Adam sembuh dan kembali mengingat kalian. Tapi kalian tidak perlu khawatir. Dengan kondisi  Adam yang kembali ke ingatannya yang dulu, bukan berarti kalian tidak bisa berdekatan dengan Adam."


"Ingatan Adam kembali ketika Adam masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri tiga hari saat itu. Buatlah momen kebersamaan kalian dengan Adam setelah kejadian itu. Lakukan apa yang tidak pernah kalian lakukan dulu. Hindari apa yang dulu yang pernah kalian lakukan."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Nurman membuat mereka semua menganggukkan kepalanya mengerti.


Setelah berbicara dengan Nurman, mereka semua kembali masuk ke dalam ruang rawat Adam. Ketika  mereka sudah berada di dalam, mereka melihat Adam sudah tidur.


Evan, Garry dan Danish mendekati ranjang Adam. Ketiganya menangis ketika melihat kesayangannya tidak mengenalinya sebagai ayah dan kakak. Hati mereka hancur. Tapi mereka akan berusaha kuat demi kesayangannya. Kesayangannya saat ini sedang sakit.


Evan mengusap lembut kepala putra bungsunya sehingga memperlihatkan kening putihnya. Kemudian Evan mengecup kening itu dengan penuh sayang.


"Apapun kondisi kamu. Papa akan selalu ada di samping kamu. Papa akan membuat kamu nyaman," batin Evan.


Garry dan Danish yang berdiri di samping kanan ranjang adiknya juga melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Keduanya menangis melihat kondisi adiknya.


"Kakak sayang kamu. Selamanya!" Garry dan Danish berucap bersamaan.