
Adam sudah tiba di kampus. Ketika dirinya tiba di kampus ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menyambut kedatangannya dan langsung menarik tangannya ke kantin.
Melihat kelakuan ketujuh sahabat-sahabatnya itu membuat Adam mendengus kesal sembari mulutnya mengeluarkan sumpah serapahnya.
Sekarang mereka semua sudah berada di kantin dengan Adam yang menatap tajam ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Mau ngapain?" tanya Adam ketus.
"Kita nggak ngapa-ngapain kok," sahut Vino.
"Kita hanya mau ngajak lo makan gratis," pungkas Diego.
"Makanya kita ngajak lo kesini," ucap Melky.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Melky, Vino dan Diego membuat Adam menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Siapa yang menjadi bandarnya?" tanya Adam.
"Dia!" Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando bersamaan menunjuk kearah Gino.
Adam seketika melihat kearah tunjuk Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando. Sementara Gino yang menjadi korban tunjuk oleh sahabat-sahabatnya hanya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Dalam rangka apa lo traktir kita semua?" tanya Adam dengan tatapan menyelidik.
Tak..
Gino memberikan jitakan gratis tepat di kening putih Adam sehingga membuat Adam mendelik kesal sambil tangannya mengusap keningnya.
"Biasa aja kali kalau nanya. Apalagi lihat tampang lo tuh. Nggak enak banget tahu," ucap Gino kesal.
Mendengar perkataan serta melihat wajah kesal Gino, seketika Adam merubah ekspresi wajahnya.
"Adam," panggil Gino.
Adam menatap wajah Gino yang juga tengah menatap dirinya. Adam tahu bahwa Gino ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Lo pasti ingin mengatakan tentang kedua orang tua lo yang udah baikan. Lebih tepatnya, Bibi Maya yang meminta maaf kepada Paman Yoga. Benar bukan?"
"Iya, Dam! Ini berkat lo."
Adam tersenyum mendengar jawaban dari Gino. Dirinya ikut bahagia melihat Bibi Maya yang mau mendengarkan perkataan dan juga permintaannya.
Bukan hanya Adam saja yang bahagia. Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando juga merasakan hal yang sama seperti Adam. Mereka turut bahagia dengan kedua orang tua Gino yang kembali tinggal satu rumah.
"Jadi ini alasan lo mentraktir kita semua?" tanya Adam.
"Iya, Dam! Gue traktir kalian karena gue ingin membagikan kebahagiaan gue kepada kalian semu," jawab Gino.
Gino menatap lekat wajah Adam. "Gue harap lo nggak nolak, Dam! Beberapa menit yang lalu Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando sempat nolak gue traktir mereka. Gue dengan sekuat tenaga dan jurus-jurus ide andalan gue. Akhirnya gue berhasil membuat mereka semua nerima traktiran dari gue."
Mendengar perkataan Gino. Apalagi ketika melihat wajah memelas yang diperlihatkan oleh Gino membuat Adam pada akhirnya menghargai keinginan Gino tersebut.
"Baiklah. Gue terima traktiran dari lo," sahut Adam.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Gino ketika mendengar jawaban mantap dari sahabatnya itu. Sahabat yang sudah membuat ibunya kembali pulang ke rumah dan bersatu kembali dengan ayahnya.
Setelah semua sahabat-sahabatnya setuju untuk ditraktir, Gino pun langsung memesan makanan dan minuman untuknya dan untuk ketujuh sahabat-sahabatnya.
***
Di sebuah jalan raya terlihat seorang pria paruh baya tengah berhenti sembari mondar-mandir sembari menghubungi seseorang di telepon.
Pria paruh baya itu adalah Rafandra Jagarti yang disapa dengan nama Rafan, ayah dari Yasonda Sakha Jagarti.
Rafan saat ini tengah kesusahan dimana mobil yang biasa dia bawa tiba-tiba mati mendadak di tengah jalan. Sedangkan dirinya tengah buru-buru untuk segera sampai di perusahaan karena ada meeting.
"Aish! Kenapa ponselnya Sandy dan Tarra susah sekali dihubungi. Apa mereka tengah sibuk dengan pekerjaan mereka di Perusahaan?"
Ketika Rafan berusaha terus menghubungi salah satu putranya sembari mengecek kap mobilnya, tiba-tiba datang tujuh preman mengganggunya. Dua diantaranya mengintip k kaca jendela. Dan mereka melihat ada dua tas besar berisi untuk kes.
Kenapa kedua preman itu bisa tahu? Karena salah satu tas itu tidak terkunci rapat sehingga memperlihatkan uang yang berwarna merah.
Kedua preman itu memberikan kode dengan menunjuk kearah kaca jendela agar kelima rekannya melihat.
Dan sontak kelima rekannya itu terkejut ketika melihat dua tas besar berisi uang kes
Setelah itu, ketujuh preman itu membuat rencana agar bisa mendapatkan uang tersebut.
Setelah merembukkan rencananya, empat preman menghampiri Rafan. Sementara tiga preman berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut.
^^^
Di sisi lain dimana kelompok VAGOS sedang menyusuri jalan raya dengan menggunakan motor sport mewah merek masing-masing. Mereka saat ini tengah menuju kampus mereka yaitu UPN UNIVERSITY.
Ketika kelompok VAGOS tengah fokus pada jalanan, tiba-tiba salah satunya yaitu Dante melihat sosok laki-laki yang sangat dikenal olehnya.
Dan detik kemudian, Dante mengangkat tangan kirinya keatas bermaksud untuk menyuruh berhenti. Setelah itu, Dante menepikan motornya lalu berhenti. Dan diikuti oleh yang lainnya.
"Ada apa?" tanya Gavin kepada Dante.
"Itu bukannya om Rafan, ayahnya Sakha!" Dante berucap sambil menunjuk kearah Rafan.
Mendengar perkataan Dante membuat Achilleo, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino langsung melihat kearah tunjuk Dante.
Achilleo, Dante, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino saling memberikan tatapan masing-masing. Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk menolong Rafan.
^^^
"Ayo, buruan buka kunci pintu mobilnya selagi mereka berempat masih sibuk dengan laki-laki itu," ucap salah satu preman kepada rekannya yang saat ini berusaha untuk membuka pintu mobilnya Rafan.
"Ini gue lagi berusaha sialan. Lo pikir gampang membuka pintu mobil ini. Ini mobil mahal dan juga canggih. Jadi sedikit susah untuk mencongkelnya," jawab preman kedua.
Ketika ketiganya masih sibuk mencongkel kunci pintu mobil milik Rafan. Seketika mereka dikejutkan dengan suara deheman seseorang.
"Eehhemm!"
Prang..
Seketika barang untuk mencongkel pintu mobil milik Rafan terjatuh ke aspal. Mereka ketakutan, lalu dengan kompak mereka membalikkan badannya dan melihat tiga pemuda yang kini menatap tajam mereka.
"Mau ngapain?" tanya Lino.
"Mau maling ya?" tanya Gavin.
"Udah dapat yang kalian cari?" tanya Gino.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan dari tiga pemuda yang ada di hadapannya membuat tiga preman tersebut ketakutan. Mereka saling memberikan tatapan dan juga kode melalui matanya.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Mumpung kita-kita masih berbaik hati," ucap Gavin.
"Pergi dari sini atau penjara rumah kalian bertiga termasuk empat rekan kalian yang saat ini tengah berhadapan dengan keempat sahabat-sahabat kami," ucap Lino.
"Tuh, kalian lihat disana!" ucap Gino sambil menunjuk kearah Achilleo, Dante, Diego dan Elio.
Ketiga preman itu langsung melihat arah tunjuk Gino. Dan seketika ketiganya terkejut karena empat rekan sudah babak belur akibat pukulan dari Achilleo, Dante, Diego, Elio karena keempatnya sempat melawan.
"Bagaimana? Pergi atau penjara?" tanya Gavin.
Tanpa pikir dua kali, ketiga preman tersebut langsung berlari meninggalkan Gino, Gavin dan Lino.
"Tiga teman lo kabur tuh!" seru Dante.
"Mau babak belur disini atau kabur juga ngikuti tiga rekan lo itu?" tanya Achilleo.
"Atau ingin rumah baru yaitu penjara?" tanya Diego.
"Pilih yang mana?" tanya Elio.
Keempat preman itu saling memberikan tatapan melalui matanya. Setelah itu, mereka semua pun berlari menyusul tiga rekannya.
Melihat kepergian ketujuh preman-preman itu seketika tawa Achilleo, Dante, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino pecah.
"Paman tidak apa-apa?" tanya Achilleo.
"Paman baik-baik saja. Terima kasih kalian sudah menolong Paman," jawab Rafan.
"Memangnya Paman mau kemana?" tanya Dante.
"Paman mau ke Bank mau menyetor uang. Namun tiba-tiba mobil Paman berhenti begitu saja dan tidak bisa dihidupkan kembali," jawab Rafan.
Mendengar jawaban dari Rafan membuat Elio yang memang mengerti akan mesin langsung mendekati mobil milik Rafan.
Elio mengecek sumber mobil Rafan yang tiba-tiba mati mendadak.
Beberapa menit kemudian, Elio pun selesai memeriksa mesin mobil Rafan.
"Paman, coba hidupkan mesin mobilnya!" seru Elio.
"Ach, baiklah!"
Rafan langsung membuka pintu mobilnya lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Tak butuh waktu lama, mesin mobil Rafan hidup kembali. Seketika terukir senyuman manis di bibir Rafan. Begitu juga dengan Achilleo, Dante, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino.
"Wah! Ternyata nak Elio mengerti soal mesin mobil! Terima kasih ya sayang!"
"Sama-sama Paman. Lain kali jika terjadi sesuatu seperti ini. Dan jika lain kali Paman ingin ke bank dengan membawa uang banyak. Bawalah pengawal atau orang yang Paman percayai. Setidaknya Paman duduk di belakang dan biarkan seseorang yang Paman percayai yang menjadi sopirnya." Lino berucap sambil menasehati Rafan.
"Baik, sayang! Lain kali Paman akan berhati-hati lagi. Dan Paman akan pergi membawa setidaknya tiga orang bersama Paman," ucap Rafan menyesal akan tindakannya hari ini.
"Sekarang Paman pergilah. Nanti di persimpangan ada tiga motor. Mereka memakai jaket berlogo VAGOS di punggung mereka. Mereka akan mengawal dari belakang sampai di tujuan!" Achilleo berucap sembari memperjelas identitas anggotanya.
Beberapa menit yang lalu, Achilleo mengirimkan sebuah video tentang Rafan dan mobil milik Rafan kepada anggota VAGOS. Kemudian Achilleo meminta tiga anggotanya untuk Rafan sampai di tujuan
"Sekali terima kasih kalian sudah nolongin Paman. Kalau begitu Paman pergilah dulu."
"Hati-hati Paman!"
"Iya!"
Setelah itu, Rafan masuk ke dalam mobilnya. Dan kemudian pergi meninggalkan lokasi untuk menuju lokasi tujuannya.
Setelah memastikan kepergian Rafan. Achilleo, Dante, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kampus karena mereka sudah lima menit terlambat.