THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Pikiran Yang Kacau



Adam saat ini tinggal di Apartemen Kakeknya. Setelah dirinya mengetahui bahwa keluarga yang pernah menyelamatkan nyawanya dan juga orang yang pernah menjadi musuh bebuyutannya di kampus adalah ayah dan kakak kandungnya.


Adam saat ini masih dilanda kebingungan. Dia belum bisa bisa mengambil keputusan secara kepala dingin. Dirinya selalu terbawa emosi saat membahas masalah ayah dan kakak-kakaknya. Yang dirasakan saat ini adalah kebencian dan kekecewaan yang mendalam dalam dirinya.


Lain Adam. Lain pula dengan keluarganya. Walau keputusan Adam tinggal di Apartemen kakeknya seorang diri. Tapi mereka bersikeras untuk mengawasi Adam. Terutama Utari dan Evan selaku orang tuanya. Mereka diam-diam tanpa sepengetahuan putra bungsu mereka, mengawasi setiap gerak-gerik putra mereka itu. Terutama saat berada di Apartemen sendirian.


***


Adam dalam perjalanan menuju kampus menggunakan motor sportnya. Lalu tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Adam dengan kelihaian kakinya berhasil menginjak rem motornya tersebut.


"Sial. Siapa orang itu? Kenapa dia menghalangi jalanku?" batin Adam.


Adam membuka helm nya saat dirinya melihat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam mobil yang menghalangi jalannya. Wanita itu mendekati Adam.


"Siapa dia?" batin Adam.


"Dirandra Adamka Abimanyu!" seru wanita itu yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Adam.


"Siapa anda? Dan dari mana anda tahu nama saya?" tanya Adam.


"Kau tidak perlu tahu siapa diriku. Yang jelas tujuanku menemuimu disini hanya ingin memberikan informasi tentang Ayah kandungmu." wanita itu berbicara dengan senyuman penuh arti.


"Hahahaha. Aku sudah tahu siapa ayahku. Dan aku juga sudah tahu kalau aku memiliki dua orang kakak," sahut Adam sambil menatap wajah wanita tersebut.


"Brengsek! Ternyata bocah sialan ini sudah mengetahui perihal Ayah dan kakak kandungnya. Tapi kenapa reaksinya biasa saja. Seharusnya bocah ini marah dan benci kepada ayahnya!" batin wanita itu.


Tanpa disadari oleh Adam dan wanita tersebut. Ada dua orang yang sedang melihatnya. Dan mereka juga merekam apa yang mereka saksikan.


"Ooh. Ternyata kau sudah mengetahui tentang mereka ya. Baguslah! Tapi kau jangan senang dulu. Ada sesuatu yang belum kau ketahui tentang kebusukan Ayahmu. Bahkan ibumu juga mengetahuinya. Apakah ibumu sudah memberitahumu?" tanya wanita itu dengan senyuman sinisnya.


Melihat Adam diam. Wanita itu terus melancarkan aksinya dengan memberikan berita palsu tentang Ayahnya.


"Begini Adam. Sebenarnya Ayahmu itu sudah bosan padamu ibumu. Saat ayahmu memiliki putra kedua, ayahmu sudah bermain perempuan lain di belakang ibumu. Dengan kata lain selingkuh. Ayahmu selalu pulang malam dan selalu membentak ibumu. Setiap malam mereka bertengkar. Tapi ayahmu memiliki rencana agar bisa terlepas dari ibumu itu dan menjadikan ibumu pihak yang bersalah. Pada saat itu ibumu sedang mengandung dirimu dan ayahmu mengetahuinya. Ayahmu dibantu oleh Nenek dan bibimu membayar seseorang laki-laki untuk tidur dengan ibumu. Dan rencana ayahmu berhasil. Saat itu juga ayahmu mengusir ibumu dari mansion mewahnya tanpa mempedulikan bahwa ibumu sedang mengandung anaknya."  wanita itu berbicara sambil menatap wajah Adam yang sedikit berubah.


Adam yang mendengar semua itu mengepalkan tangannya kuat. Matanya sudah memerah menahan tangisnya.


"Apa ini alasan Mama selama ini mengatakan Papa sudah meninggal? Mama mengatakan padaku bahwa Papa tidak pernah menganggapku sebagai anaknya dan malahan menyebutku anak haramnya Mama. Berarti wanita di depanku ini tidak bohong. Kalau Papa memang laki-laki brengsek!" batin Adam.


"Hanya itu yang ingin aku sampaikan padamu. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan Adam menuju mobilnya.


Setelah mobil wanita itu menghilangkan dari pandangan Adam. Adam tidak bisa menahan kesedihan bahkan amarahnya.


"Aarrggghhhh!" teriak Adam disertai tangisannya.


"Kau benar-benar laki-laki brengsek. Kau sudah menghancurkan kebahagiaanku dan mamaku. Aku benar-benar membencimu, Evan Hara Bimantara."


***


Dan selama dua hari pula mereka tidak bertatap muka dikarenakan Adam sudah mengancam mereka. Kalau mereka sampai mendatangi Apartemen tempat Adam berada, selamanya mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.


Setelah mereka selesai dengan kegiatan mereka di kantin. Mereka pun meninggalkan kantin tersebut menuju halaman kampus untuk menunggu kedatangan orang yang mereka rindukan. Siapa tahu hari ini orangnya datang.


Mereka semua menuju halaman kampus. Saat mereka sudah berada di sana mereka melihat orang yang mereka rindukan berjalan kearah mereka.


"Hei, itu Adam!" seru Kenzie saat melihat Adam yang sedang berjalan kearah mereka.


"Adam," panggil mereka.


Adam menatap satu persatu wajah-wajah para kakak-kakaknya yang sekarang berdiri di hadapannya. Tatapan matanya berakhir pada Danish. Mereka saling bertatap mata. Danish menatap adiknya dengan penuh kerinduan. Beda dengan Adam. Tatapannya kali ini sulit diartikan. Apakah tatapan kebencian, tatapan kekecewaan atau sebaliknya tatapan kerinduan? Hanya Adam yang merasakannya.


"Menjauhlah dari kehidupanku," ucap Adam di depan wajah Danish.


Setelah mengatakan hal itu, Adam pergi meninggalkan mereka semua.


Danish dengan cepat mencekal pergelangan tangan Adam yang membuat tangan Adam sedikit sakit.


"Aakkhh! Lepaskan tanganku!" Adam berusaha untuk melepaskan tangannya tapi gagal.


"Ada apa denganmu, Dam? Kemarin kita masih baik-baik saja. Bahkan kau sudah berjanji padaku akan menerimaku menjadi sahabatmu dan juga saudaramu," ucap Danish.


"Ya. Memang aku mengatakan itu padamu. Tapi saat sebelum aku mengetahui kenyataan bahwa kau adalah kakak kandungku. Sekarang aku sudah mengetahuinya. Dan aku memutuskan untuk tidak mau berhubungan denganmu maupun keluargamu," jawab Adam ketus.


"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu, Dam? Kau adik kandungku, putra bungsunya Papa!" bentak Danish.


"Aku tidak memiliki Papa maupun kakak sejak lahir. Yang aku tahu, aku hanya memiliki Mama dan saudara sepupu seperti kak Ardi dan kak Harsha," jawab Adam lirih.


"Tapi kenyataannya kau memilikinya, Dirandra Adamka Bimantara. Kau adalah putra kandung dari Evan Hara Bimantara dan adik kandung dari Ayden Garry Bimantara dan Danelio Danish Bimantara!" teriak Danish sampai seluruh mahasiswa dan mahasiswi mendengar teriakan tersebut.


"Kau tidak perlu berteriak sampai seperti itu hanya untuk mengatakan bahwa kau adalah kakakku. Ooh! Jangan-jangan kau ingin memamerkan kepada semua orang yang ada di Kampus ini bahwa kau adalah putra kedua dari pemilik kampus ini. Setelah itu kau bisa bebas melakukan apa saja." Adam berbicara semabari menyindir Danish.


Danish hanya diam mendengar ucapan adiknya. Danish tidak menjawab bahkan marah sekali pun pada adiknya, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Apabila dia sudah bertemu dengan ibu dan adiknya, dia akan menjaga dan menyayangi mereka sepenuh hati. Dan Danish memilih diam dan mendengarkan semua keluh kesah dan kekecewaan yang ada pada adiknya itu.


Dikarenakan Danish tidak menjawab. Adam menarik kuat tangannya yang masih dipegang oleh Danish, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Kau salah, Dam." Danish tiba-tiba berbicara dan membuat langkah Adam terhenti.


"Kau salah atas apa yang kau ucapkan barusan. Aku mengatakan pada semuanya kalau aku adalah kakak kandungmu hanya semata-mata agar mereka tahu hubungan kita. Bukan karena Mama pemilik kampus ini. Sekalipun Mama bukan pemilik Kampus ini, kakak akan tetap melakukannya." Danish berucap dambil menatap punggung adiknya.