
Geng Brainer berhasil mengalahkan geng Bruizer. Dan mereka langsung berlari untuk mencari Adam. Mereka sangat mengkhawatirkan Adam saat ini. Mereka takut terjadi sesuatu terhadap Adam.
Ketika mereka tengah berlari. Mereka berpapasan dengan Danish. Mereka semua tampak emosi.
Ardi menarik baju Danish sehingga membuat Danish sedikit tercekik.
"Mana Adam? Kemana kau membawanya, hah?!" bentak Ardi di depan wajah Ardi.
"Lebih baik kau selamat adikmu sekarang sebelum terlambat. Dia ada di gudang. Hahaha." Danish berbicara sambil tertawa puas.
"Ardi, buruan!" seru Arka.
"Kalau terjadi sesuatu pada adikku. Aku akan membalasmu, Danish."
Setelah mengatakan itu, Ardi dan yang lainnya berlari menuju gudang tersebut.
Danish tersenyum licik. "Semoga kalian berhasil menyelamatkan adik kesayangan kalian itu," batin Danish.
^^^
Adam yang kini berada di gudang hanya bisa menahan rasa sakit di perutnya.
"Apa aku akan mati hari ini? Kalau memang aku ditakdirkan untuk mati hari ini. Aku siap dan sangat siap. Ma-mama.. a-akuu sa-sangat menyayangimu. Hiduplah dengan ba-baik, Ma." Adam berbicara terbata-bata.
Dan detik kemudian berlahan matanya mulai tertutup dengan sempurna.
"Adam!" teriak mereka saat sudah berada di dalam gudang dan melihat kondisi Adam yang sangat mengkhawatirkan. Mereka dapat melihat darah yang mengalir dari perut Adam.
"Adam.. Adam! Bangunlah. Kenapa kau tidur disini," isak Harsha.
"A-adam. Kakak mohon, buka matamu. Kau boleh marah kepada kakak. Kau boleh pukul kakak. Tapi jangan seperti ini, Dam!" teriak Ardi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Adam.
Arka tidak bisa diam saja melihat kondisi Adam yang harus segara ditolong, ditambah lagi melihat keadaan Ardi dan Harsha yang terpukul melihat kondisi Adam.
"Sakha kau bisa menggendong Adam kan? "tanya Arka.
"Bisa kakak," jawab Sakha.
"Kau gendong Adam dan kau Kenzie, tekan luka di perutnya agar darahnya tidak terus keluar. Bawa Adam ke rumah sakit. Gala kau ikut dengan mereka. Kau yang nyetir." Arka memberikan perintah pada ketiga sahabatnya.
Mereka bertiga mengangguk, lalu mereka langsung pergi membawa Adam ke rumah sakit.
Tinggallah mereka bertiga. Arka, Ardi dan Harsha, Yoongi. "Di, Sha. kita harus ke rumah sakit. Sakha, Kenzie dan Gala sudah membawa Adam. Apa kalian tidak mau melihat adik kalian?"
Ardi berdiri. "Aku harus mencari Danish dan aku akan buat perhitungan dengannya," ucap Ardi emosi.
"Di! Dengarkan kakak. Bukan kau saja yang emosi disini. Kakak juga emosi. Kami semua emosi. Tapi untuk sekarang ini kita fokus dulu pada Adam. Dia membutuhkan kita, Di." Arka berbicara lembut kepada Ardi.
Harsha mendekati Ardi dan memeluknya. "Hiks.. kak Arka benar, kak Ardi. Adam membutuhkan kita. Kita harus fokus dulu pada Adam. Masalah geng Bruizer kita pikirkan nanti," isak Harsha.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Ardi.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan gudang tersebut dan pergi ke rumah sakit dengan wajah yang sangat khawatir dan panik.
***
Di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sakha, Kenzie dan Gala tak henti-hentinyanya menangis. Mereka tidak menginginkan hal buruk terjadi pada Adam.
"Dam! Kakak mohon bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Jangan menyerah," ucap Sakha sambil tangannya membelai rambut Adam lembut dan menatap wajah pucat Adam.
Sedangkan Kenzie yang terus menekan luka di perut Adam. Kenzie juga sudah menangis melihat kondisi Adam. Lalu Gala bagaimana? Jangan ditanya, dia sudah tidak bisa membendung air matanya. Gala juga menangis. Tapi dirinya harus tetap fokus melihat ke depan, karena dirinya sedang menyetir.
Disisi lain, Ardi, Arka dan Harsha juga sama. Pikiran mereka tertuju pada Adam. Mereka tidak tahu bagaimana keadaan Adam saat ini, karena mereka di mobil yang berbeda. Ardi merutuki kebodohannya sendiri. Hanya karena emosinya terhadap Danish, dirinya sampai mengabaikan Adam. Sekarang dirinya seperti orang gila, karena Adam tidak bersamanya.
"Seharusnya aku dan Harsha yang berada di samping Adam," batin Ardi.
"Dam! Kaka mohon, bertahanlah. Bertahanlah demi kakak dan keluarga," batin Harsha.
***
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Pihak rumah sakit dengan sigap ketika melihat Sakha menggendong Adam langsung mengambil tindakan. Dan Adam segera dilarikan ke ruang operasi.
Sekarang mereka semua menunggu dan menunggu di depan ruang operasi. Mereka menangis dikarenakan adik kesayangan mereka ditusuk oleh Danish saat beradu mulut dengan Danish.
"Hiks.. kakak.. kakak Ardi. Bagaimana dengan Adam? Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu kepada Adam," isak Harsha.
Gala merangkul Harsha dan memberikan ketenangan pada Harsha. "Adam pasti akan baik-baik saja, Sha! Kita berdoa saja agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Adam."
CKLEK!
Terdengar suara pintu dibuka. Dan terlihat seorang Dokter yang keluar dari ruang operasi. Seketika keenam pemuda itu menghampiri sang Dokter.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?" tanya Ardi.
"Dia baik-baik saja. Untung saja kalian membawa tepat waktu dan menekan luka di perutnya sehingga dia tidak kehabisan darah."
"Syukurlah. Terima kasih dokter," ucap Arka.
"Apa kami bisa melihatnya, Dok?" tanya Harsha.
"Kalian bisa melihatnya. Tapi saya sarankan, saat dia sadar nanti jangan terlalu diajak bicara dulu. Biarkan dia istirahat, karena lukanya cukup dalam."
"Baiklah, Dok." mereka menjawab secara bersamaan.
^^^
Mereka sekarang telah berada di ruang rawat Adam. Mereka dapat melihat wajah pucat Adam. Selang Canula yang menempel di hidungnya serta infus yang menancap di tangan kanannya. Ardi, Harsha dan yang lainnya mendekati ranjang Adam.
Ardi menatap Adam. Tanpa sadar air matanya sudah mengalir membasahi pipinya. Ardi membelai rambut Adam dengan lembut dan memberikan kecupan di keningnya.
Harsha yang berada disebelah ranjang Adam sudah mencucurkan air matanya. Harsha menggenggam lembut tangan Adam dan menciumnya.
"Dam! Kakak sangat menyayangimu. Apa yang harus kakak lakukan agar kau mau memaafkan kakak? Kakak akan melakukan apapun asal kau mau memaafkan kakak dan bermain lagi dengan kakak," tutur Harsha.
"Di. Apa kau sudah menghubungi keluargamu, terutama Bibi Utari?" tanya Arka.
"Aku belum mengabari mereka. Aku bingung. Kali ini aku harus mengatakan apa pada mereka? Apalagi kepada Mama Utari," jawab Ardi.
"Katakan saja apa adanya, kak Ardk. " Harsha berucap.
Akhirnya Ardi menghubungi keluarga dan mengatakan kalau Adam masuk ke rumah sakit. Tapi Ardi tidak mengatakan apa penyebabnya?
"Kakak Ardi. Apa yang akan kita katakan pada Mama Utari soal luka di perut Adam? Selama ini kan keluarga kita tidak mengetahui masalah perkelahian kita dengan geng Danish. Kita selama ini selalu merahasiakannya dari mereka," tutur Harsha.
"Kakak juga bingung, Sha! Kakak juga tidak tahu harus bicara apa pada mereka," jawab Ardi.
Ardi menatap Adam yang masih setia menutup matanya. "Dam. Kenapa kau harus masuk rumah sakit lagi. Apa memang sudah hobimu, ya? Bukannya kau paling tidak suka dengan rumah sakit. Bahkan kau sendiri mengatakan pada kakak kalau rumah sakit ini lebih menyeramkan dari pada rumah hantu."
"Kau masih ingat saja apa yang dikatakan oleh sikelinci ini, kaka!" seru Harsha.
"Kakak akan selalu ingat setiap perkataan lucu yang keluar dari mulut Adam," jawab Ardi.
"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk membalas perbuatan Danish kepada Adam?" tanya Kenzie.
"Kita tidak akan diam saja kan?
Dan membiarkan mereka begitu saja," ucap Gala.
"Ya. Tentu saja tidak! Kita akan membalas mereka semua. Tunggu saja. Kita biarkan mereka bersenang-senang dahulu," kata Sakha.
"Apa yang dikatakan Sakha benar? Kita biarkan mereka bersenang-senang dahulu. Sekarang kita fokus dulu pada Adan sampai Adam sembuh. Lalu setelah itu kita pikirkan rencana untuk membalas perbuatan mereka," sahut Arka menambahkan.
Saat mereka sedang asyik mengobrol. Mereka dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka.
CKLEK!
Dan terlihat beberapa orang memasuki ruang rawat Adam. Dan mendekat ke ranjang Adam.
"Adam! Apa yang terjadi padamu, sayang? Ini mama, Nak! Buka matamu," lirih Utari saat melihat putranya terbaring lemah di ranjang pesakitan.
"Ardi, Harsha. Apa yang terjadi pada adik kalian? Kenapa adik kalian sampai masuk rumah sakit lagi?" tanya Davan.
Ardi dan Harsha tak langsung menjawab. Mereka diam. Mereka bingung harus memberikan jawaban apa?
"Ardi, Harsha!" Kali ini yang memanggil mereka adalah Bagas dengan nada sedikit tinggi.
"Kami habis dihadang oleh beberapa preman di jalan, Paman! Dan sempat terjadi perkelahian dengan mereka. Saat perkelahian itu, Adam lengah dan salah satu dari preman itu berhasil menusukkan pisaunya ke perut Adam." jawab Arka berbohong.
"Benarkah begitu, Ardi?" tanya Bagas pada putranya.
"Benar, Pa." Ardi menjawab dengan gugup.
"Tapi kenapa saat Papa Davan bertanya kepada kalian dan kalian hanya diam. Dan kenapa tidak langsung menjawabnya?" tanya Bagas.
"Itu karena.. itu karena kami takut kalau kalian akan memarahi kami," jawab Harsha.
Para orang tua hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Ardi dan Harsha. Belum dimarahi, mereka sudah takut duluan.
***
Di Markas geng Bruizer, Danish sangat senang karena sudah melepaskan rasa sakitnya selama ini. Dirinya berhasil membuat salah satu anggota Brainer terluka. Orang yang paling berharga dalam geng Brainer.
"Semoga kau tidak mati semudah itu, Adam. Urusan kita belum selesai. Itu hanya sebagian kecil hadiah yang kuberikan padamu," ucap Danish dengan senyuman menyeringai.
"Jadi, Kau benar-benar melakukannya, Danish?" tanya Cakra yang datang tiba-tiba.
Danish hanya menunjukkan senyuman mautnya pada sahabatnya itu. "Kau pikir ucapanku kemarin hanya main-main saja, Cakra? Kau lihatkan. Aku benar-benar melakukannya."
"Kau benar-benar gila, Danish." Cakra berbicara sedikit kesal.
"Tapi kau menyukainyakan?" tanya Danish dengan senyuman liciknya.
"Yayaya. Aku memang menyukainya. Tapi apa kau tidak takut kalau mereka melaporkanmu ke polisi?" tanya Cakra.
"Aku yakin. Mereka tidak akan melaporkan masalah ini ke polisi," jawab Danish percaya diri.
"Pedemu terlalu tinggi, Danish." Cakra berbicara sembari menyindir Danish.
"Bukan pedeku yang terlalu tinggi, Cakra. Tapi ini fakta. Mereka tidak akan membawa masalah ini ke polisi karena aku tahu watak-watak mereka," ucap Danish.
"Maksudmu?" tanya Cakra bingung.
"Kau tahukan bagaimana emosi mereka saat kita mencari masalah dengan mereka? Ditambah lagi saat Adam bergabung dengan mereka. Mereka selalu mengistimewakan Adam. Mereka selalu ada buat Adam. Mereka akan melakukan apa saja untuk melindungi Adam. Apa kau masih ingat saat kita mengeroyok Adam? Dan kau bisa lihat sendiri kan, bagaimana emosi mereka saat melihat Adam sudah tidak berdaya ditangan kita? Terutama Ardi! Dialah yang paling emosional dari yang lainnya." Danish berbicara sambil mengingat perkelahiannya dengan geng Brainer.
"Jadi maksudmu mereka tidak akan membawa masalah ini ke polisi tapi mereka akan datang kepada kita untuk membalas perlakuan kita pada Adam. Begitu?" ucap dan tanya Cakra.
"Ya! Itulah maksudku. Bukannya kita memang menginginkan hal itu terjadi. Pertarungan antara geng kita dengan geng Brainer. Selama belum ditentukan siapa diantara kita yang paling kuat? Pertarungan ini akan terus berlanjut. Sampai ada yang mengaku kalah dan menemukan pemenangnya. Dan aku sampai sekarang penasaran dengan Adam. Kenapa dia bisa membuat Rektor menurut begitu saja padanya. Padahal dia bukan siapa-siapa di Kampus ini." Danish berucap sambil terus memikirkan tentang status Adam di Kampus.
"Yaak! Kau ini bagaimana, sih? Adam itukan adik sepupunya Ardi dan Harsha berarti statusnya sama dengan mereka berdua," ucap Cakra.
"Iya, aku tahu itu. Tapi ini beda. Hanya Adam saja bisa melakukan itu. Kenapa Ardi dan Harsha tidak? Seharusnya mereka juga bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Adam. Kau masih ingat tidak? Dulu Ardi pernah bersikap sama seperti Adam, tapi justru Rektor hanya bersikap biasa saja pada Ardi. Dan Rektor hanya tersenyum menanggapi sikap Ardi," tutur Danish.
"Ya. Kau benar, Danish. Aku juga makin lama makin penasaran dengan Adam. Rektor tidak terlalu takut dan juga tidak terlalu nurut kepada Ardi dan Harsha. Ya, walaupun faktanya Rektor tidak akan bisa memberikan hukuman pada geng Brainer. Tapi kenapa Rektor takut kepada Adam dan menurut begitu saja," ucap Cakra.
"Itu yang harus kita cari tahu, Cakra!" Danish berucap dengan mantap.