THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Menaklukkan Ketiga Pria Tampan



"Bangun Adam! Dek!" teriak Danish sembari membuka selimut tebal milik adik kesayangannya.


"Dingin kak."


"Ya, kakak tahu. Makanya buruan bangun! Air hangat sudah disiapin. Mandi sana."


"Aish! Lima menit lagiii."


Mendengar jawaban dari adiknya membuat Danish hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat kelakuan adiknya dipagi hari yang cukup menyulut emosi.


Detik kemudian, ide pun muncul di kepalanya Danish.


"Bangun atau kakak sedekahkan semua susu pisang yang kakak beli kemarin!"


Mendengar perkataan disertai ancaman dari kakaknya seketika membuat Adam langsung bangun dari tidurnya.


"Iya, ini aku bangun!! Jangan diserahkan susu pisang milikku," mohon Adam dengan menatap wajah Danish dengan wajah bantalnya.


"Makanya mandi mandi sana!"


"Ini aku mandi!"


Adam dengan mata setengah terbuka alias masih mengantuk langsung beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.


"Aish! Dibangun baik-baik susah. Giliran diberikan ancaman. Langsung bangun. Dasar bocah," ucap Danish kesal sembari geleng-geleng kepala.


^^^


Di ruang makan semua anggota keluarga sudah berkumpul. Hanya menunggu si kesayangannya Papa, Mama dan kedua kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Adam.


"Bagaimana Danish? Apa adikmu sudah bangun dari tidurnya?" tanya Evan.


"Sudah Pa! Awalnya susah banget banguninnya. Tapi ketika aku ancam. Langsung duduk dan langsung ngacir tuh anak ke kamar mandi," jawab Danish.


"Iya, iyalah Adam langsung bangun dari tidurnya karena dengar ancaman kamu. Secara ancaman kamu itu bukan sekedar ancaman. Kamu bakal melakukannya dengan kamu bagi-bagi semua susu pisang kesukaannya Adam kepada anak-anak disini. Kamu nggak lupakan kalau kamu pernah melakukan itu sama Adam sehingga membuat Adam demam minta semua susu pisangnya kembali, walau saat itu kita sudah mengganti dengan susu pisang yang baru. Justru Adam mintanya susu pisang yang sudah kamu bagi-bagi itu." Garry berucap sembari mengingat tentang Danish yang membagi-bagikan semua stok susu pisang adik bungsunya karena adik bungsunya telat bangun pagi.


Mendengar perkataan dari kakaknya seketika membuat Danish merutuki kebodohannya dulu dimana dirinya mengancam adiknya ketika adiknya susah dibangunkan.


"Maafkan aku. Aku janji nggak akan ngancam Adam dengan hal itu lagi," ucap Danish.


"Selamat pagi semuanya!"


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari Adam. Mereka kemudian melihat kearah Adam yang berpakaian santai dengan atasan kaos biru dan celana pendek putih.


"Sayang, kamu kenapa pakai pakaian seperti itu?" tanya Utari.


Adam langsung melihat dirinya, lalu kembali menatap wajah ibunya dan anggota keluarganya secara bergantian.


"Lah kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Adam.


"Kalau pakaian tidak salah sayang. Kamu tampan sekali. Tapi...."


"Teru apa yang salah?" tanya Adam dengan memotong perkataan ayahnya.


"Kamu nggak kuliah hari ini?" Garry langsung bertanya kepada adiknya.


Seketika Adam langsung mengerti arah tatapan mata anggota keluarganya dan pertanyaan dari ibunya barusan.


Setelah itu, Adam melangkahkan kakinya menuju kursi miliknya.


Sesampainya di kursi miliknya, Adam langsung menduduki pantatnya di kursi tersebut.


"Aku masuk kuliah pukul 1 siang nanti."


Adam berucap sembari mengambil roti tawar lalu mengolesinya dengan selai srikaya.


Sedangkan anggota keluarganya terutama Utari dan Evan langsung menganggukkan kepalanya mengerti.


Adam melihat kearah kakak keduanya itu. "Kakak Danish."


Danish yang mendengar adiknya memanggilnya langsung melihat kearah adiknya.


"Ada apa, hum?"


"Kakak nggak seriuskan sedekahkan semua susu pisang kesukaanku?"


"Kenapa memangnya?"


"Jika kakak melakukan hal itu berarti kakak nggak benar-benar sayang padaku. Semua ucapan dan janji kakak itu hanya omongan doang."


Danish terkejut ketika mendengar ucapan dari Adam. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang lain.


"Kakak sendiri yang bilang padaku akan selalu buat aku bahagia dan tersenyum. Kakak sendiri yang bilang padaku kakak akan melakukan apapun untukku. Kakak juga bilang padaku untuk aku tidak sakit-sakit lagi. Tapi...."


Adam memperlihatkan wajah sesedih mungkin di hadapan semua anggota keluarganya, termasuk Danish.


Sementara anggota keluarganya terutama Danish seketika berubah panik. Mereka takut jika sebentar lagi Adam pasti akan nangis.


Danish seketika berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati adiknya itu.


Grep..


"Maafkan kakak ya. Maafkan kakak!"


"Kakak Danish jahat. Kakak Danish yang udah bikin aku sakit, padahal kakak Danish nggak mau lihat aku sakit-sakit lagi."


"Iya, kakak mengaku salah. Maafkan kakak. Nggak lagi-lagi. Kakak janji," jawab Danish sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh adiknya.


Tanpa diketahui oleh Danish. Adam tersenyum manis di bibir ketika mendengar ucapan darinya. Adam benar-benar bahagia ketika mendengar ucapan dari kakaknya itu.


Sementara Utari, Evan, Garry dan anggota keluarga lainnya seketika paham dari arti senyuman manis Adam. Mereka meyakini bahwa Adam tengah mengerjai Danish kakaknya.


"Benar-benar licik kamu," batin Garry tersenyum gemas melihat kelakuan adik bungsunya itu.


"Beneran?" tanya Adam.


"Iya, benar. Maafkan kakak yang dulu pernah buat kamu demam karena semua susu pisang kesukaan kamu kakak kasih sama orang," ucap Danish.


"Aku maafkan."


Danish tersenyum bahagia ketika kesalahannya telah dimaafkan oleh adik kesayangannya. Danish mengecup kepala adiknya yang beraroma strawberry itu.


"Aku sayang kakak."


"Kakak juga sayang kamu."


***


Di kediaman Pramana terlihat empat manusia, satu cantik dan tiga tampan. Mereka adalah Olaf Jordan Pramana, Ghiska Pramana dan kedua putranya yaitu Faas Gerard Pramana dan Balin Melky Pramana.


Saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama. Sarapan pagi yang penuh kebahagiaan, terutama Gerard.


"Ini susu kamu sayang," ucap Ghiska sembari meletakkan segelas susu coklat di hadapan putra keduanya.


"Terima kasih Mami!"


"Sama-sama sayang. Dan ini untuk kamu sayang," ucap Ghiska sembari meletakkan teh manis di hadapan putra sulungnya.


"Terima kasih Mami."


"Sama-sama, sayang!"


"Dan ini untukmu sayangku," ucap Ghiska meletakkan kopi hitam kesukaan suaminya itu.


"Terima kasih istriku." Jordan berucap sembari memberikan satu ciuman di pipi kiri istrinya.


Ghiska tersenyum malu mendengar perkataan dari suaminya. Ditambah lagi suaminya itu memberikan ciuman di pipi kirinya di depan kedua putranya.


Sementara Gerard dan Melky tersenyum ketika melihat wajah malu ibunya ketika mendapatkan ciuman dari ayahnya.


"Aish, Papi! Mami! Jangan perlihatkan kemesraan kalian pada kami yang masih jomblo ini!" seru Melky menggoda kedua orang tuanya.


"Iya, nih! Papi dan Mami tega sekali pada kita. Masa mesra-mesranya di depan anak-anaknya yang masih jomblo," ucap Gerard yang juga ikut menggoda kedua orang tuanya.


Sementara Jordan dan Ghiska seketika tersenyum kikuk ketika mendengar aksi protes dari kedua putra-putranya.


"Apa sih kalian! Tuh salahkan saja Papi kalian yang pagi-pagi sudah genit sama Mami," ucap Ghiska.


"Hahahaha." Gerard dan Melky seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari ibunya apalagi ketika melihat wajah ibunya yang sudah malu total.


"Lanjutkan sarapan kalian. Atau Mami tidak akan mau memasak lagi untuk kalian," ucap Ghiska memberikan ancaman kepada kedua putranya itu.


Ghiska membalas kedua putranya itu dengan berpura-pura tidak ingin memasak lagi.


Sementara Gerard dan Melky seketika melotot ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari ibunya.


"Mami!"


"Makan atau Mami benar-benar....."


"Kita makan, Mami!"


Gerard dan Melky langsung melanjutkan sarapannya sampai selesai. Mereka tidak ingin ibunya itu benar-benar berhenti memasak untuknya.


"Kamu juga sayang," sahut Ghiska ketika melihat suaminya tersenyum menatap wajah kedua putranya itu.


Jordan terkejut ketika mendengar ucapan dari istrinya lalu Jordan pun kembali melanjutkan sarapannya.


Sementara Ghiska tersenyum puas karena sudah berhasil membuat ketiganya tidak berkutik.


"Ternyata sangat mudah menaklukkan ketiga pria tampan ini," batin Ghiska tersenyum ketika melihat suami dan kedua putranya fokus pada sarapannya.