
Ardi, Harsha dan keempat sahabatnya sudah berada di depan rumah keluarga Abimanyu.
"Kami pulang!" teriak Harsha, lalu mereka melangkahkan kaki menuju ruang tengah.
Utari yang mendengar suara Harsha sangat senang, karena dirinya berpikir kalau Adam, putranya pulang bersama dengan kedua keponakannya itu. Dirinya pun mencari-cari keberadaan Adam, tapi yang dicari tidak kelihatan.
"Ardi, Harsha. Mana Adam? Kalian tidak pulang bersama Adam?" tanya Utari.
"Jadi Adam belum pulang, Ma? tanya Harsha.
"Kalian ini bagaimana sih, ditanya malah balik nanya?" kata Alin.
"Adam belum pulang," jawab Reza.
"Tapi saat di kampus Adam sudah pulang duluan, Ma." Ardi berucap.
"Aku akan menghubungi ponselnya!" seru Dzaky.
Dzaky mengambil ponselnya dan menekan nama kontak sang adik.
Panggilan tersambung...
"Bagaimana, Dzaky?" tanya Utari.
"Tidak di angkat sama sekali oleh Adam, Ma." Dzaky menjawab pertanyaan dari bibinya.
"Adam, kamu dimana, sayang?" batin Utari.
***
Adam sedang dalam perjalanan dengan mengendarai motor sportnya. Dirinya memutuskan untuk pergi menenangkan pikirannya dulu. Setelah itu baru dirinya akan pulang.
Ketika Adam sedang fokus mengendarai motor sportnya, tiba-tiba ingatan tentang ucapan ibunya terngiang-ngiang di otaknya. 'Papamu tidak menginginkanmu. Papamu tidak menginginkanmu. Papamu tidak menginginkanmu'. kata-kata itu selalu berputar di otaknya, lalu tiba-tiba motor yang dikendarai oleh Adam oleng dan menyebabkan motor itu tergelincir.
"Aaahhhh!"
GEDEBAG! GEDEBUG!
BRUUKK!
Adam jatuh dari motornya. Dan tidak sadarkan diri.
Di sisi lain, Garry sedang dalam perjalanan dari Kantor menuju kediamannya. Dirinya sangat kelelahan hari ini dikarenakan pekerjaan yang begitu padat di Kantor.
Ketika Garry tengah fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba saja Garry menginjak rem mobilnya secara mendadak. Dirinya melihat ada seorang pemuda yang tergeletak di tengah jalan.
Garry menepikan mobilnya dan memarkirnya, lalu dirinya turun dari mobilnya dan menghampiri pemuda yang tergeletak di jalan.
Berlahan Garry membuka helm yang menutupi kepala pemuda itu. Setelah helm itu terbuka, Garry bisa melihat dengan jelas wajah pemuda tersebut. Garry kagum melihat wajah pemuda itu.
"Wajahnya sangat tampan, putih, imut dan menggemaskan. Wajahnya.. wajahnya itu benar-benar mirip Papa," batin Garry.
Jung Hyun kemudian menggendong pemuda itu dan membawanya menuju mobilnya. Dirinya membawa pemuda itu ke rumah keluarga Kim.
***
Lima belas menit kemudian, Garry pun tiba di rumahnya.
"Garry, siapa dia sayang?" tanya Evan yang melihat putra sulung menggendong seorang pemuda.
"Aku tidak tahu, Pa! Aku menemukannya sudah tergeletak di tengah jalan. Dia terjatuh dari motornya.
"Papa akan hubungi Dokter Sinha untuk datang kesini," ucap Evan.
"Terima kasih, Pa."
Dua puluh menit kemudian, Dokter Sinha datang dan sekarang sudah berada di kamar dimana Adam berada, lalu Dokter Sinha memeriksa Adam.
"Bagaimana keadaannya, Dokter Sinha?" tanya Evan.
"Anda tidak perlu khawatir. Anak muda ini baik-baik saja. Hanya luka lecet di keningnya. Kalau begitu aku permisi," jawab Dokter Sinha.
Tinggallah mereka bertiga di kamar itu. Evan dan Garry terus memperhatikan wajah Adam. Pandangan mereka tidak lepas dari sosok pemuda yang ada di tempat tidur.
"Pa," panggil Garry.
"Hm." Evan menjawab dengan deheman sambil matanya masih fokus menatap wajah Adam.
"Dia tampan sekali ya, Pa? Kalau aku perhatikan wajahnya mirip Papa," ucap Garry.
"Kau ini bicara apa? Mana mungkin wajahnya mirip Papa. Kau ini ada-ada saja. Ya, sudah! Biarkan dia istirahat. Kau baru pulang dari Kantor. Mandilah dan istirahatlah. Papa tidak mau kau sakit," ucap Evan pada putranya.
"Baik, pa." Garry menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Lalu mereka pergi meninggalkan Adam sendiri.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tapi Adam belum juga kembali ke rumah keluarga Abimanyu. Anggota keluarga sangat mengkhawatirkan Adam, terutama Utari.
"Adam. Kamu dimana, sayang?" lirih Utari yang sedari tadi gundah gulana memikirkan putra bungsunya.
Ardi sedari tadi uring-uringan di kamarnya. Dirinya menyalahkan dirinya sendiri atas hilangnya Adam. Seandainya dia tidak bertengkar dengan Adam di Kampus mungkin Adam sudah berada di rumah sekarang.
"Aarrgghh!" teriak Ardi frustasi.
Dan teriakkannya didengar oleh anggota keluarga yang lain. Mendengar suara teriakan dari Ardi. Mereka semua berlari menuju kamar Ardi.
BRAAKK!
Pintu kamar dibuka paksa oleh kakaknya, Rafiq.
"Ardi. Kau kenapa, hah?" tanya Dzaky yang khawatir melihat adiknya.
"Mama Utari, maafkan aku. Maafkan aku," ucap Ardi lirih.
"Ada apa, Ardi? Kenapa kau meminta maaf pada Mama?" tanya Ardi yang melihat keponakannya yang sudah menangis.
"A-aku!"
"Katakanlah, Mama tidak akan marah padamu." Utari berbicara lembut kepada Ardi.
"Sebenarnya aku dan Adam bertengkar di Kampus saat jam kuliah selesai. A-aku tidak sengaja menampar Adam. Adam marah lalu dia pergi," ucap Ardi.
"Maafkan aku, Ma. Kalau seandainya aku bisa lebih sabar menghadapi keras kepalanya Adam, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Dia pasti sudah ada di rumah sekarang," ucap Ardi lagi.
"Sudahlah, Ardi! Mama tidak marah padamu. Kalian semua anak-anak Mama. Dan Mama berterima kasih padamu dan Harsha. Karena kalian sangat menyayangi Adam seperti adik kandung kalian sendiri. Mama bangga dengan kedekatan kalian bertiga. Kalian tahukan bagaimana kondisi Adam sekarang ini? Sampai detik ini, Adam sama sekali belum mengetahui seperti apa wajah papa dan wajah kedua kakak kandungnya? Ini semuanya gara-gara Mama. Lagi-lagi Mama menggoreskan luka di hatinya. Jadi Mama mohon pada kalian berdua, bersabarlah dalam menghadapinya. Jaga dia untuk Mama saat dia ada di Kampus." Utari berbicara kepada Ardi dan juga kepada Harsha.
"Mama Utari tidak perlu meminta hal itu pada kami. Tanpa Mama minta pun, kami akan melakukannya, Ma! Kami menyayangi, Adam." Harsha berbicara dengan tulus.
"Terima kasih, sayang. Ya, sudah! Jangan bersedih lagi, ya. Kau itu laki-laki, masa cengeng sih." Utari berbicara sambil menggoda Ardi.
"Hahahaha." mereka semuanya tertawa.
***
Adam berlahan membuka matanya. Dan saat matanya terbuka sempurna, dirinya kaget karena berada di tempat asing, lalu detik kemudian terdengar suara pintu terbuka.
CKLEK!
Menampakkan dua orang pria yang memasuki kamar.
"Hei, kau sudah bangun?" tanya Garry.
"Kau siapa? Dan aku ada dimana?" tanya Adam pada pria yang ada di hadapannya.
"Tidak usah takut. Aku yang menolongmu saat kau terjatuh dari motormu. Aku membawamu pulang ke rumahku. Jadi kau berada di rumahku sekarang," jawab Garry.
"Terima kasih," ucap Adam.
"Sama-sama. Oh ya. Ini papaku." Garry memperkenalkan ayahnya pada pemuda di hadapannya.
"Oh ya! Siapa namamu?" tanya Garry.
"Adam. Dirandra Adamka Abimanyu," jawab Adam.
"Nama yang bagus," ucap Evan tersenyum sambil mengelus rambut Adam dengan lembut.
Adam merasakan kedamaian saat kepalanya dielus lembut oleh ayah dari orang yang sudah menolongnya.
"Matanya! Matanya mirip Papa. Siapa anak ini? Kenapa wajah dan tatapan matanya mirip Papa," batin Garry.
"Kau belum tahu namaku. Panggil saja kak Garry."
Adam hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Senyuman anak ini manis sekali. Senyumannya itu persis senyuman Utari dan tatapan matanya mirip Garry dan sekilas mirip Danish. Apakah ini hanya kebetulan saja?" batin Evan.
"Maaf Paman, kak. A-aku mau pulang. Aku takut keluargaku mencariku dan mencemaskan diriku," ucap Adam.
"Baiklah. Biar kakak yang mengantarkanmu pulang," ucap Garry.
"Tidak usah kak. Biar aku pulang sendiri. Bisa tidak Kakak panggilkan taksi untukku?" pinta Adam.
"Eeem! Baiklah kalau begitu. Kakak akan menelepon taksi untukmu," jawab Garry.
Sepuluh menit kemudian, taksi pun datang. Dan Adam sudah berada di dalam taksi.
"Antarkan adik saya sampai di rumahnya dengan selamat, Paman." Garry berbicara kepada sopir taksi itu.
Adam mengerutkan keningnya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Garry.
"Adik? Dia menyebutku degan sebutan adik? Aaahhhh! Sudahlah, lupakan." Adam membatin.
"Baik," jawab sopir taksi tersebut lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Bimantara.
***
Adam sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Dan terlihat seorang pria yang berlari ke arahnya dan membukakan gerbang untuknya.
"Tuan muda Adam," sapa pria itu.
Adam tersenyum dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumahnya.
TING!
TONG!
CKLEK!
Pintu dibuka dan terlihat seorang pemuda tampan sudah berdiri di depan pintu.
"Tuan muda Adan, anda sudah pulang? Mereka semua sangat mengkhawatirkan tuan," ucap pelayan itu.
Adam lagi-lagi menanggapinya dengan senyuman. Lalu berlalu pergi menuju kamarnya. Karena seluruh tubuhnya serasa remuk gara-gara jatuh dari motor.
Utari yang melihat putra bungsunya sudah pulang langsung berlari menghampiri putranya dan langsung memeluknya.
"Adam, akhirnya kau pulang sayang. Mama sangat mengkhawatirkanmu."
Adam tidak memberikan reaksi sama sekali saat ibunya memeluknya.
Sementara Utari hanya membuang nafas kasarnya saat tidak mendapatkan reaksi apapun dari Adam. Tapi dirinya tetap tersenyum, karena putranya pulang dengan selamat.
Utari membelai rambut Adam dan dirinya terkejut saat melihat perban yang menempel di kening putranya.
"Adam. Keningmu kenapa, sayang? Kenapa diperban? Apa kening kamu terluka?" tanya Utari khawatir.
Adam tidak menjawab pertanyaan dari ibunya. Justru Adam langsung pergi meninggalkan ibunya menuju kamarnya.
Bagas menghampiri Utari, adik perempuannya.
"Sudahlah. Yang penting sekarang Adam sudah pulang ke rumah dengan selamat. Itu yang terpenting. Soal luka yang di keningnya itu. Besok saja kita tanyakan."
Mendengar perkataan dari kakak laki-lakinya, Utari langsung mengangguk setuju.