THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Telepon Dari Rektor



Keesokan pagi tampak suasana bahagia di meja makan. Mereka semua berkumpul untuk melakukan aktivitas pagi mereka yaitu sarapan pagi bersama. Hanya satu yang belum bergabung dengan mereka siapa lagi kalau bukan sikeras kepala Dirandra Adamka Abimanyu.


Adam masih bergelut dengan selimutnya di tempat tidur dan ada niatan untuk bangun dari tidur lelapnya. Lalu terdengar suara ponselnya berbunyi dan membuat dirinya bangun dari tidur lelapnya.


"Aaiisshh! Siapa sih pagi-pagi begini yang sudah meneleponku?" gerutu Adam.


Adam mengambil ponselnya yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya. Setelah mendapatkan ponselnya, Adam kemudian melihat siapa sipenelpon tersebut.


Seketika Adam mengerutkan keningnya dikala melihat nomor yang tak dikenalnya. "Nomornya tidak aku kenal," batin Adam.


Dengan rasa penasaran Adam segera menjawabnya.


"Hallo. Siapa ini dan mengapa menelponku pagi-pagi begini?" tanya Adam.


"Hei, begitukah caramu menjawab telepon dari seseorang, hah?" tanya sipenelpon tersebut menggoda Adam.


"Memangnya kau ini siapa ya? Aku tidak mengenalmu. Jadi jangan sok akrab denganku," ketus Adam.


"Aaiisshh!! Jadi begini balasannya kepada orang yang telah menyelamatkanmu kemarin, hum?" ucap orang itu terkekeh sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh Adam.


Adam terdiam sejenak dan mengingat kejadian kemarin yang menimpanya. Tiba-tiba matanya membulat sempurna saat dia sudah mengingat kejadian itu.


"K-kau kak Garry?" ucap Adam terbata-bata.


"Iya. Ini kakak," jawab Garry lembut.


"T-tapi kakak dapat dari mana nomorku?" tanya Adam.


"Hehehe.. maafkan kakak. Saat kau tidak sadarkan diri di rumah kakak kemarin. Kakak mengambil ponselmu dan menghubungi ponsel kakakk sendiri. Dari situlah kakak mendapatkan nomormu," jawab Garry tanpa beban sama sekali.


"Aish! Kau kan bisa memintanya langsung denganku, kak tanpa mencuri ponselku.. kekekeke."


"Kau bilang apa? Mencuri? Enak saja kau bilang kakak mencuri. Lalu kau berbicara dengan kakak sekarang pakai ponsel siapa?" tanya Garry yang pura-pura marah.


"Hehehe. Aku cuma bercanda kak. Sial, sudah jam setengah delapan. Aku bisa terlambat ke Kampus. Kak Garry sudah dulu ya nelponnya. Aku harus mandi dan segera ke Kampus."


"Baiklah. Bye!" ucap Garry dan langsung mematikan teleponnya.


TUTT!


TUTT!


^^^


Di meja makan semua telah berkumpul. Dan mereka akan memulai sarapan pagi mereka.


"Tunggu dulu. Adam mana? Apa dia belum bangun?" tanya Kamila.


"Iya ya. Hanya Adam yang belum berada di meja makan. Apa dia tidak kuliah? Takutnya nanti dia bisa terlambat," sahut Alin.


"Aku akan ke kamarnya!" seru Ardi.


Saat Ardi ingin beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba terdengarlah suara langkah kaki Adam menuju kearah meja makan.


"Aku disini dan kalian tidak perlu repot-repot datang ke kamarku untuk membujukku makan bersama kalian," ucap Adam tanpa melihat anggota keluarganya dan terus berjalan menuju meja makan.


Setelah itu Adam duduk paling pojok. Itulah yang dilakukannya kalau sedang merajuk dengan keluarganya.


Adam masih bersikap dingin pada anggota keluarganya. Dan dia sama sekali tidak menatap wajah mereka.


"Adam, sayang. Mama boleh bertanya padamu, Nak?" tanya Utari hati-hati.


"Kalau Mama mau bertanya, tanya saja langsung. Kenapa harus meminta izin dulu dariku?" jawab Adam yang masih fokus sama sarapannya.


"Kenapa dengan keningmu, sayang? Kenapa sampai diperban? Apa keningmu terluka?" tanya Utari yang matanya sudah memerah menahan tangis.


Semua terkejut mendengar ucapan Utari. Tapi tidak dengan Bagas, karena dia sudah tahu. Mereka menatap Adam dengan tatapan khawatir. Tak terkecuali Ardi dan Harsha.


"Aku hanya ingin menguji nyaliku dan ingin mengetahui berapa banyak nyawa yang aku miliki. Jadi aku ngebut-ngebutan di jalan dan berujung aku terjatuh. Motorku tergelincir, tubuhku terbanting kuat di aspal jalanan yang sepi. Aku sangat berharap kalau aku mati saat itu juga. Tapi sayangnya tidak. Ada orang baik yang menolongku. Orang itu membawaku pulang ke rumahnya dan merawatku disana. Makanya aku bisa pulang ke rumah ini dan bisa makan bersama kalian disini." Adam menjawab dengan wajah yang dingin dan nada ketus serta tatapan tertuju pada sarapannya.


Semua hanya membeku mendengar kalimat-kalimat menakutkan yang keluar dari mulut Adam. Mereka tidak menyangka jika Adam akan melakukan hal diluar nalar manusia.


Utari tidak bisa menahan rasa sedih dan khawatirnya terhadap putra bungsunya. "Sayang. Kenapa kamu melakukan hal itu, nak! Mama sangat menyayangimu. Mama tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi padamu."


"Karena kebahagiaanku, keceriaanku telah hancur dan telah hilang. Dan kalianlah yang telah merampasnya dengan kebohongan kalian selama ini. Sebesar apapun kata maaf dari kalian, tidak akan mengembalikan kebahagiaan dan keceriaanku lagi seperti dulu," ketus Adam dan seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Tapi kami semua menyayangimu, Adam!" Faris Juan Abimanyu berucap dengan menatap wajah adik sepupunya itu.


"Menyayangiku dengan cara membohongiku, begitu? Kalian membohongiku dari saat aku dilahirkan sampai sekarang. Ada perdebatan kecil antara aku dan Mama dan berujung pertengkaran dan akhirnya BOOOM. Semua kebohongan kalian terbongkar saat itu juga. Dan sangat tidak elitnya," tutur Adam.


Saat mereka sedang berusaha mengambil hati Adam kembali, tiba-tiba ponsel Adam berbunyi. Adam langsung menjawabnya tanpa melihat siapa yang menelponnya?


"Hallo!" Adam menjawab dengan nada membentak.


"Yak, Adam! Bisakah kau berbicara sopan dengan Rektormu?" tanya orang di balik telepon itu.


"Maafkan aku. Ada apa anda meneleponku?" tanya Adam bingung.


"Bisakah kau ke Kampus sekarang. Ada masalah di Kampus? Para orang tua yang anak-anaknya yang kau hukum itu, mereka mengajukan protes."


Adam membulatkan matanya.


"Apa?" teriak Adam.


"Bukannya itu tugas anda sebagai Rektor. Dan kenapa anda menelponku? Memangnya aku ini siapa anda?" tanya Adam cuek.


"Tapi paling tidak kau datanglah ke Kampus," mohon Rektor.


"Ogah," jawab Adam cuek dan dingin. "Kenapa anda tidak hubungi si pemilik Kampus tersebut? Minta dia datang ke Kampus dan suruh dia menyelesaikan masalah itu." Adam berbicara sambil melirik ke arah ibunya.


Utari seketika terkejut saat putranya menyebut namanya. Dirinya menatap wajah putranya. Begitu juga dengan putranya.


"Bisa kau sampaikan pada ibumu sekarang? Apa dia bersamamu?"


"Tidak mau. Telepon saja sendiri."


Setelah mengatakan hal itu, Adam langsung mematikan teleponnya.


"Enak saja main nyuruh-nyuruh orang. Memangnya kau itu siapa? Ayahku?" gumam Adam yang bibirnya dimaju-majukan dan dimanyun-manyunkan.


Semua anggota keluarganya yang melihatnya tersenyum gemas. Apalagi kalau Adam sudah dalam keadaan seperti sekarang ini. Wajahnya makin imut dan menggemaskan seperti anak kecil usia 4 tahun.


Adam yang menyadari hal itu langsung menatap anggota keluarganya satu persatu dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa kalian senyam senyum begitu? Memangnya ada yang lucu?" tanya Adam ketus.


Mereka dengan kompak menganggukkan kepala mereka tanpa beban dan dosa sama sekali. Dan hal itu berhasil membuat Adam bertambah marah pada mereka semua.


"Kaliaaann! Kalian benar-benar menyebalkan!!" teriak Adam. Setelah itu, Adam pun langsung pergi meninggalkan mereka semua.


"Yak, Adam tunggu!" teriak Ardi dan Harsha. Dan keduanya langsung mengejar Adam.


Sementara para orang tua dan para kakak-kakaknya semuanya tertawa lepas.


"Hahahahaha."


***


Di kediaman keluarga Kalyani, seorang seorang wanita paruh bayah yang masih terlihat cantik tengah berada di dalam kamarnya yang begitu mewah dan besar. Wanita itu sedang duduk santai di sofa empuk miliknya yang ada di dalam kamarnya. Dia tersenyum dalam rencana liciknya. Dia sudah tidak sabaran untuk mengetahui seperti apa wajah putra bungsu dari suaminya itu.


Ketika dia sedang memikirkan seperti apa wajah dari putra bungsu suaminya, tiba-tiba terdengarlah suara ponsel miliknya berdering.


Wanita itu mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya. Ketika telah mengetahui siapa yang menghubunginya, wanita itu tersenyum bahagia.


"Hallo? Bagaimana?"


"Aku sudah mendapatkan apa yang kau mau, Nyonya?"


"Benarkah?"


"Benar, Nyonya. Bisa kau temui aku di tempat biasa?" pinta orang yang menelponnya.


"Baik. Aku akan kesana."


Setelah itu, wanita itu langsung mematikan panggilan tersebut, lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kamarnya. Wanita itu ingin segera bertemu dengan orang suruhannya itu. Dirinya sudah tidak sabaran lagi ingin melihat seperti apa wajah putra bungsu dari suaminya.


***


Wanita itu sudah sampai Banana Milk di Yellow Cafe. Dan wanita itu juga dapat melihat seorang pria sedang duduk di sebuah meja paling ujung, lalu wanita itu pun menghampiri pria tersebut.


"Maaf membuatmu lama menunggu," ucap wanita itu basa basi.


"Tidak apa-apa? Aku juga baru sampai," balas pria itu.


"Informasi apa yang kau dapatkan?" tanya wanita itu.


"Informasi tentang semua yang ingin kau ketahui, Nyonya." pria itu menjawab.


"Sekarang ceritakan padaku. SEMUANYA!" pinta wanita tersebut.


"Nama lengkap perempuan itu Erina Utari Abimanyu. Dia putri ketiga dari Pengusaha Samsung Grup yang terkaya nomor satu di Jakarta dan di dunia bernama Yodha Akasha Abimanyu. Dia memiliki dua orang kakak laki-laki yang juga memiliki usaha yang sama seperti ayah mereka. Dan sudah melebarkan sayap sampai keluar negeri. Keluarga mereka memiliki hubungan sangat dekat dengan orang-orang penting seperti Pihak kepolisian, Pengacara, Jaksa. Jadi siapapun yang mencari masalah dengan keluarga mereka Pihak kepolisian akan langsung turun tangan tanpa diminta untuk membantu mereka. Keluarganya juga dilindungi oleh hukum."


"Waw!" wanita itu berdecak kagum saat mendengar informasi dari orang suruhannya. "Ternyata perempuan itu berasal dari keluarga kaya raya di dunia dan di Jakarta. Tapi kenapa Ibu tidak menyukainya?" batin wanita itu.


"Lanjutkan!" seru wanita itu.


"Kampus BINUS UNIVERSITY INTERNASIONAL itu adalah milik perempuan yang anda selidiki itu. Oh, ya! Aku lupa. Aku sudah mendapatkan foto anaknya. Ini fotonya," ucap pria itu sambil memberikan sebuah foto pada wanita itu.


Foto itu diletakkan di atas meja dan wanita itu bisa melihatnya dengan jelas.


"Yang mana putranya?" tanya wanita itu.


"Nyonya lihat lima pemuda yang berdiri di foto itu?" tanya pria itu lalu wanita itu mengangguk. "Putra dari perempuan itu nomor dua dari kiri. Nomor empat dan nomor lima mereka berdua adalah keponakannya. Mereka membentuk sebuah geng. Geng mereka bernama Geng Brainer. Geng yang ditakuti dan disegani di Kampus, karena orang tua mereka punya kuasa di Kampus tersebut. Bukankah putra anda juga kuliah disana?"


"Iya. Itu benar," jawab wanita itu.


"Dan putra anda juga memiliki sebuah geng yang bernama Geng Bruizer. Geng Bruizer dan Geng Brainer ini selalu berselisih dan beradu kekuatan selama di Kampus," tutur pria itu.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya. Ini benar-benar sangat memuaskan. Ini bayaranmu sesuai dengan pekerjaanmu." wanita itu berbicara sambil mengeluarkan amplop berisikan uang yang begitu banyak dari dalam tasnya dan memberikannya kepada pria itu.


"Terima kasih, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap pria itu dan berlalu pergi meninggalkan wanita itu sendiri.


"Permainan akan segera dimulai," ucap wanita itu dengan senyum iblisnya.