
Adam sudah berada di rumahnya. Kini Adam sedang istirahat di kamarnya. Satu hari ini dirinya benar-benar lelah. Mulai dari mengikuti empat mata kuliah, berakting bertengkar bersama keenam sahabatnya sampai mencari bukti tentang kecurigaannya terhadap beberapa Dosen yang mengajar di kampus.
Sementara untuk anggota keluarganya saat ini berada di ruang tengah. Mereka tengah membahas tentang keberhasilannya dalam melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang sudah mengusik keluarganya.
"Bagaimana? Apa berjalan lancar pekerjaan kalian?" tanya Yodha.
"Lancar, Pa!" jawab Bagas dan Davan.
"Berjalan sesuai rencana, kek!" seru para cucunya.
"Bagaimana kamu Evan dan kamu Alex?" tanya Yodha kepada kepada Evan dan Alex.
"Berjalan dengan sempurna, Pa!" jawab Evan.
"Ini semua berkat Adam," ucap Alex.
Mendengar ucapan dari Alex membuat semuanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Semuanya memang berkat idenya Adam.
"Ngomong-ngomong bicara soal Adam. Kita sejak tadi tidak melihat Adam. Adam kemana?" tanya Zaina.
"Adam di kamarnya, Ma! Dia sedang tidur karena lelah seharian di kampus," jawab Harsha.
"Adam baik-baik saja kan?" tanya Celena.
"Adam baik-baik saja. Hanya kelelahan saja," jawab Utari.
Mendengar jawaban dari Utari membuat Celena menghela nafas leganya.
Ketika mereka semua tengah menceritakan tentang kemenangan dalam pembalasannya dan juga menanyakan keadaan Adam. Seketika mereka semua dikejutkan dengan deru langkah kaki yang buru-buru menuruni anak tangga sembari berbicara dengan seseorang di telepon.
Dengan kompak mereka semua langsung melihat keasal suara dan dapat mereka lihat wajah Adam yang tampak tak baik-baik saja.
"Jangan sembarang ngomong lo!" teriak Adam.
"...."
"Nggak! Lo cuma bercanda doang kan, hah?!" teriak Adam dengan air matanya sudah banjir membasahi pipinya.
Semua anggota keluarganya yang tadinya duduk di sofa saat ini sudah dalam keadaan berdiri dengan tatapan matanya menatap kearah Adam.
"Gue nggak percaya sama lo. Gue nggak percaya sama lo! Risky, lo bohong kan sama gue! Lo tahu nggak kalau gue berniat mau kesana, tapi lo malah hancurin dengan berita palsu lo soal mereka. Lo jahat Risky!"
"...."
Tutt.. Tutt..
Panggilan seketika dimatikan oleh Risky. Dan detik kemudian, Adam berteriak histeris bersamaan dengan tangannya memukul guci besar milik ibunya yang tak jauh dari hadapannya.
"Aarrgghhh!"
Prang...
Guci tersebut pecah dan berserakan di lantai. Detik kemudian, tubuh Adam jatuh dengan kedua lututnya menumpu di lantai.
"Adam!" teriak Utari, Evan dan anggota keluarganya. Mereka semua berlari menghampiri Adam.
"Tidak! Ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Risky, lo bohong sama gue... Hiks."
Mereka semua menatap Adam khawatir dan disertai dengan air mata yang mengalir di pipi mereka masing-masing.
"Sayang! Ini Mama, nak!" Utari dan Celana menatap dengan hati terluka putranya.
Adam seketika berdiri dengan tatapan matanya menatap ke depan. Air matanya masih terus mengalir membasahi pipinya. Setelah itu, Adam berlahan melangkahkan kakinya menuju pintu utama tanpa mempedulikan panggilan dari anggota keluarganya.
"Adam!"
Adam terus melangkah. Dirinya tidak peduli anggota keluarganya memanggilnya dengan keras.
"Adam, berhenti!" panggil Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo, Nicolaas dan para kakak sepupunya.
Sreekk..
Nicolaas berhasil mencekal pergelangan tangan kiri Adam sehingga membuat Adam berhenti. Tatapan mata Adam menajam menatap ke depan.
"Dam," panggil Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya.
"Lepasin gue!" teriak Adam.
"Dam, tenanglah!" seru mereka semua dengan menatap Adam makin khawatir.
"Lepasin gue!" teriak Adam lagi.
Bukan melepaskan tangan Adam. Justru Nicolaas makin mengencangkan pegangannya di tangan Adam.
Adam seketika memberontak dengan menarik tangannya, namun usahanya tidak membuahkan hasil karena Danis dan Vigo memegang tangan kanan Adam dengan kuat. Bahkan Ardi ikut memegang tangan kiri Adam bersama Nicolaas.
"Lepasin gue, brengsek! Biarkan gue pergi!" teriak Adam yang makin memberontak dengan menarik-narik kedua tangannya.
"Adam, tenanglah! Jangan seperti ini," ucap Harsha.
"Diam lo!" bentak Adam.
Seketika Harsha tersentak ketika mendengar ucapan dari Adam. Namun detik kemudian dia sadar bahwa adiknya tidak baik-baik saja saat ini sehingga tanpa sadar membentak dirinya.
Bugh..
Garry seketika memberikan pukulan tepat di tengkuk Adam sehingga membuat Adam tak sadarkan diri. Nicolaas dan Danish langsung menahan tubuh adiknya itu sehingga tidak jatuh ke lantai.
Garry terpaksa menyakiti adiknya guna untuk menyadarkan adiknya itu saja. Sebenarnya dia juga tidak tega menyakiti adiknya, tapi melihat adiknya yang tidak bisa dibujuk. Bahkan adiknya itu sama sekali tidak mau mendengarkan ucapannya dan ucapan para kakak-kakaknya yang lain sehingga membuat Garry mengambil jalan pintas yaitu memukul tengkuk adiknya.
Setelah itu, mereka membawa Adam ke kamar. Mereka menatap Adam dengan tatapan sedih. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi. Apa yang menyebabkan Adam tiba-tiba marah dan berteriak. Bahkan mereka juga tidak tahu apa yang disampaikan oleh Risky kepada Adam.
^^^
Semuanya sudah berada di kamar Adam. Dan Adam sudah berada di atas tempat tidur. Mereka menatap khawatir Adam. Ditambah lagi wajah Adam yang sedikit pucat.
"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga membuat Adam seperti ini?" tanya Alex.
"Adam sempat bilang kalau Risky itu bohong. Apa maksudnya ini?" tanya Davan.
"Kira-kira apa yang disampaikan Risky kepada Adam sehingga membuat Adam menjadi seperti ini?" tanya Bagas.
"Aish, sial! Seandainya kita tahu seperti apa wajah Risky itu. Aku akan tanya langsung padanya," ucap Danish dengan tatapan matanya menatap sedih adiknya.
Utari duduk di samping tempat tidur putra bungsunya. Tangannya mengusap lembut kepala putra bungsunya itu dengan penuh sayang. Dan tak lupa Utari memberikan kecupan di keningnya.
"Sayang! Kamu kenapa, nak? Apa yang terjadi?" Utari seketika menangis ketika berbicara di hadapan putra bungsunya.
"Bagaimana kalau kita ambil ponselnya Adam. Setelah itu, kita cari yang namanya Risky di kontak ponselnya Adam," usul Harsha.
"Atau kita cari di panggilan terakhir keluar. Bukankah Adam baru saja selesai berbicara dengan Risky di telepon," sela Vigo.
Mendengar perkataan dari Vigo membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan setelah itu, Danish berlahan mengambil ponselnya Adam yang ada di saku celananya Adam.
Berlahan tapi pasti, Danish pun berhasil mendapatkan ponselnya Adam. Setelah itu, Danish pun menghidupkan ponsel milik adiknya itu.
Kebetulan Danish tahu kunci sandi ponsel adiknya karena saat itu Danish sempat melihat Adam yang sedang mengetik kata sandi ponselnya.
Setelah ponsel adiknya terbuka. Danish mencari nomor Risky dari daftar panggilan masuk. Danish menscreenshot beberapa panggilan masuk tersebut. Lalu kemudian mengirimkan ke nomor WhatsApp miliknya.
Setelah terkirim, Danish tak lupa menghapus story chat tersebut dari pesan WhatsApp adiknya agar adiknya tak curiga. Danish memasukkan kembali ponsel adiknya itu ke dalam saku celana adiknya. Dia tidak ingin adiknya itu marah padanya ketika tidak menemukan ponselnya.
"Lebih baik kita keluar.. Biarkan Adam istirahat" ucap Bagas.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan Adam sendirian di kamarnya. Dan membiarkan Adam untuk istirahat.