THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Bangun Dari Koma



Suasana di pagi hari di kediaman keluarga Adika dimana keluarga Adika saat ini tengah menikmati sarapan pagi bersama.


"Kenzie," panggil panggil Faisal.


"Iya, Pa!" Kenzie menjawab panggilan dari sang ayah.


"Bagaimana keadaannya Adam? Apa ada perubahan?" tanya Faisal sembari mengunyah makanannya.


"Belum ada tanda-tanda Adam akan bangun dari komanya, Papa! Bahkan kondisi makin menurun," jawab Kenzie.


Mendengar jawaban dari Kenzie membuat Faisal dan Qaila serta kedua kakak laki-lakinya yaitu Hazig dan Aafa menatap sedih Kenzie. Mereka tahu bagaimana kedekatan putranya/adiknya itu dengan Adam. Putranya/adiknya itu sudah menganggap Adam seperti adik kandungnya sendiri.


"Kamu yang sabar ya. Mama yakin jika Adam akan segera bangun dari komanya. Asal kamu tidak berhenti memberikan doa untuk Adam karena doa itulah yang dibutuhkan Adam," ucap Qaila kepada putra bungsunya itu.


"Iya, Mama! Doaku tidak pernah putus untuk Adam. Aku selalu meminta kepada Tuhan agar Adam segera bangun," sahut Kenzie.


"Kakak berharap Adam segera bangun dari komanya. Bahkan kakak berharap kalau Adam bangunnya hari ini atau besok," ucap Hazig.


"Kakak juga berharap seperti kak Hazig. Semoga Adam segera bangun," Aafa.


"Aku juga maunya begitu kak. Aku sudah sangat merindukannya," ucap Kenzie.


"Sudah, sudah! Lanjutkan sarapan kalian. Ini sudah pukul 7 lewat. Nanti kalian bisa terlambat ke kantor dan ke kampus!"


"Baik, sayang!"


"Baik, Mama!"


Setelah itu, mereka pun memutuskan untuk menyelesaikan sarapan paginya.


***


Di sebuah kamar terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di sofa. Di tangannya memegang sebuah bingkai foto yang mana di dalam foto itu terlihat dirinya bersama sahabat terbaiknya yaitu Adam. Tangannya tak henti-hentinya mengusap foto sahabatnya itu.


"Dam, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah bangun atau justru masih bentah dengan tidurmu? Dam, aku merindukanmu." pemuda itu seketika menangis ketika mengatakan hal itu.


"Dan, maafkan aku yang pergi tanpa pamit langsung padamu. Kau jangan marah ya. Apalagi sampai membenciku."


Tanpa diketahui dan disadari oleh pemuda itu. Di luar kamarnya sepasang suami istri yang tak lain adalah kedua orang tuanya menatap dirinya dengan deraian air mata.


Sepasang suami istri itu menatap iba dan rasa bersalah putranya. Keduanya tahu bagaimana kedekatan putranya itu dengan pemuda yang bernama Adam.


Sepasang suami istri itu sudah sangat menyayangi Adam dan menganggap Adan sebagai putranya. Baik ayahnya maupun ibunya, keduanya sama-sama berat untuk pergi meninggalkan Jakarta. Bagaimana pun Jakarta adalah tempat kelahiran keduanya dan juga tempat kelahiran sang putra.


"Maafkan Papa, Melky! Papa melakukan semua ini demi melindungimu dan keluarga kecil kita. Papa tidak ingin kehilangan kalian. Sudah cukup sekali Papa kehilangan orang yang Papa sayangi. Dan sekarang hanya kamu dan ibumu yang Papa miliki. Kalian adalah harta Papa satu-satunya. Semoga dengan Papa membawa kamu dan ibumu ke Australia. Orang itu tidak lagi mengusik Papa melalui kalian berdua. Dan semoga saja orang itu tidak tahu kalau negara Australia adalah negara asal nenek kamu."


Pria paruh baya itu berucap dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Tatapan matanya masih fokus menatap putranya yang saat ini sedang menangis merindukan sahabatnya yang sedang koma di rumah sakit Jakarta.


Sekali pun Melky berada di Australia. Melky selalu menghubungi salah satu kakak-kakaknya Adam dan menanyakan kondisi Adam. Bukan hanya Melky. Para kakak-kakaknya Adam juga selalu menghubungi Melky untuk sekedar menanyakan kabarnya dan juga kabar kedua orang tuanya.


"Sayang. Aku benar-benar tidak tega melihat Melky," ucap wanita paruh baya itu.


"Apalagi aku sayang. Disini aku yang paling merasakan sakit melihat putraku bersedih. Adam adalah sahabat sekaligus saudara bagi Melky. Tapi aku telah membuat mereka berpisah. Empat bulan kita di Australia. Selama empat bulan ini Melky selalu merindukan Adam. Melky selalu menyapa Adam dengan memandang foto Adam. Foto itu adalah foto dimana Melky dan Adam sedang belajar bersama ketika Adam menginap di rumah kita."


"Kamu kuat sayang. Mama yakin itu," batin wanita paruh baya tersebut.


"Papa janji padamu, Melky! Kita hanya sementara di Australia ini. Setelah Papa menyelesaikan masalah ini dan mengetahui siapa orang itu. Kita akan kembali ke Jakarta lagi." pria paruh baya itu berucap di dalam hatinya.


***


Saat ini yang menjaga Adam di rumah sakit adalah Danish, Ardi, Harsha, Vigo beserta sahabat, para sahabat Adam yang datang dari Amerika, kelompok Vagos, kelompok Lilax dan Zelo.


Mereka semua menatap wajah Adam dengan tatapan sedih. Sudah empat bulan mata itu tertutup. Mereka semua berharap mata itu segera terbuka.


Selama empat bulan Adam koma. Selama empat bulan juga orang-orang yang menyayanginya selalu setia menemaninya dan mengajaknya berbicara.


"Dam, kita datang lagi!" seru mereka bersamaan.


Mereka secara bergantian mengusap lembut kepala Adam. Dan bahkan mereka memberikan kecupan di kening Adam sebagai tanda bahwa mereka begitu menyayanginya.


"Kakak merindukanmu, Dam!" Danish membelai pipi putih adiknya.


"Hei, kelinci nakal kakak. Bangunlah. Kakak merindukan suara kamu," ucap Ardi dengan tangannya bermain-main di kepala Adam.


Disaat mereka semua tengah mengajak Adam bicara, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan layar monitor ICU berbunyi. Mereka semua menatap takut kearah layar monitor ICU lalu kembali menatap kearah Adam.


"Adam!"


"Allan!"


Mereka semua melihat Adam yang tiba-tiba berkeringat. Danish yang sejak tadi masih menggenggam tangan Adam tiba-tiba merasakan tangannya digenggam kuat oleh Adam.


"Adam," ucap Danish dengan menatap langsung kearah tangannya. Seketika air mata Danish jatuh membasahi pipinya.


Mereka semua langsung menatap kearah dimana tatapan mata Danish. Dan mereka semua juga merasakan apa yang dirasakan oleh Danish.


"Adam!"


"Allan!"


Mereka secara bersamaan menyebut nama Adam dengan tatapan matanya menatap kearah tangan Adam yang digenggam oleh Danish, lalu kemudian mereka semua kembali menatap wajah Adam.


Harsha yang berdiri di samping ranjang Adam langsung mengusap-usap lembut kepala Adam sembari menghapus keringat yang membasahi wajahnya.


"Dam, ini kakak Harsha. Apa kamu mendengarnya?" tanya Harsha di telinga Adam.


"Adam," panggil Ardi dengan tangannya mengusap-usap lembut punggung tangan Adam yang terpasang infus secara hati-hati.


"Allan," panggil Vigo.


Beberapa detik kemudian...


Adam seketika membuka kedua matanya dengan menyebut nama seseorang dengan lantang.


"Melky!"


Tes!


Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Adam menangis ketika setelah menyebut nama Melky.


Mendengar ucapan dan melihat Adam yang tiba-tiba menangis membuat Danish, Harsha, Ardi, Vigo, Arka, Kenzie, Sakha, Gala dan yang lainnya menatap khawatir Adam.


Arya langsung berlari keluar untuk memanggil Dokter dan mengatakan kepada Dokter tersebut bahwa Adam telah sadar dari komanya.


"Adam/Allan!" Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya memanggil Adam.


Adam menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya dan juga di sampingnya. Air matanya kembali jatuh ketika tidak menemukan satu sosok yang dicarinya.


"Melky," ucap Adam lirih.


CKLEK!


Pintu ruang rawat Adam dibuka oleh seseorang. Semuanya yang ada di dalam langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat bahwa Dokter yang menangani Adam telah datang bersama dengan Arya.


Mereka semua langsung memberikan ruang untuk sang Dokter agar Dokter tersebut bisa memeriksa kondisi Adam.


Setelah beberapa detik memeriksa kondisi Adam. Dokter tersebut menatap Danish, Ardi dan Harsha.


"Bagaimana Paman?" tanya Ardi.


Mendengar pertanyaan dari Ardi, Dokter tersebut tersenyum. Dokter itu melihat sekilas kearah Adam lalu setelah itu kembali menatap wajah Ardi, Harsha dan Danish.


"Kondisi Adam sudah dinyatakan baik-baik saja. Hanya tinggal masa penyembuhannya karena pasca koma selama empat bulan," sahut sang Dokter.


Mendengar jawaban dari sang Dokter membuat Danish, Ardi, Harsha Vigo serta yang lainnya tersenyum bahagia. Mereka semua benar-benar bersyukur Adam sudah dalam keadaan baik-baik saja.


Danish, Ardi, Harsha, Vigo yang lainnya menatap wajah Adam dengan senyuman manis di bibirnya. Mereka semua benar-benar bahagia melihat Adam yang telah sadar dari koma.


"Kau kembali Adam/Allan!"