THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Kebahagiaan Keluarga Abimanyu



Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit. Tepatnya di depan pintu UGD. Wajah mereka penuh dengan sarat kekhawatiran.


"Bagaimana ini, kak? Apa perlu kita kabari keluarga? Seharusnya hari ini Adam pulang, karena Kakek sudah menghubungi Adam dan Kakek tahunya hari ini Adam akan pulang. Kalau mereka menunggu Adam, tapi Adan tidak juga datang, kita harus apa kak?" tanya Harsha khawatir.


"Begini, saja! Hubungi keluarga kalian dan bilang Adam masuk rumah sakit. Katakan saja kalau Adam habis nolongin seseorang. Gak mungkin juga kalau kita kasih tahu ada perkelahian di Kampus. Sebisa mungkin bibi Utari jangan sampai tahu dulu masalah ini." Arka berbicara sambil memberikan jalan keluar pada Ardi dan Harsha.


"Baiklah," sahut Ardi.


Para Kakaknya sudah berada di dalam. Mereka terlihat panik. Bagaimana tidak? Seumur-umur Adam tidak pernah masuk ke rumah sakit. Walaupun dia pernah sakit, tapi tidak sampai di rawat.


"Dam," lirih Harsha.


"Brengsek, kau Danish. Berani sekali kau menyakiti adikku," umpat Ardi.


"Aku tidak habis pikir. Kenapa mereka selalu cari gara-gara dengan kita? Waktu sebelum Adam kembali, mereka cari gara-gara dengan kita. Sekarang saat Adam kembali mereka malah makin jadi-jadi. Dan sekarang malah sering mengarah ke Adam," ucap Gala.


"Ucapan Gala ada benarnya. Geng Bruizer selalu suka cari ribut. Bahkan dengan tega sering membully para mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Apa mereka salah didik kali ya? Sampai otak mereka bleng semua," ucap Kenzie menambahkan.


"Aku akan menuntut balas kalau sampai terjadi apa-apa dengan Adam?" ucap Ardi.


"Sudahlah, Di! Jangan ada kata balas dendam. Apa dengan balas dendam, masalah akan selesai? Lagian kita sudah menghajar mereka babak belur sebelum membawa Adam ke rumah sakit," ucap Arka menasehati.


"Benar tuh, kak. Aku setuju dengan perkataan kak Arka. Kita tidak perlu balas dendam. Masalah tidak akan selesai kalau kita balas dendam. Kita balas dendam, lalu mereka balas dendam lagi ke kita dan begitu seterusnya. Kapan kelarnya? Lagian aku yakin Adam juga tidak akan setuju dengan ide kakak itu." Kenzie juga ikut menasehati Ardi.


Saat mereka lagi membahas soal Danish, tiba-tiba terdengar suara lenguhan dari Adam.


"Eeuugghh."


Mereka semua mengalihkan perhatian ke arah Adam dan menghampirinya.


"Adam. Kau sudah bangun. Apa ada yang sakit, hum? Apa kau perlu sesuatu?" tanya Ardi bertubi-tubi.


Adam yang melihatnya hanya memberikan tatapan bingung dan alis yang dinaikkan. "Kau ini bagaimana sih, kak? Aku baru saja bangun, tapi kau sudah menyerangku dengan pertanyaan konyolmu itu," jawab Adam malas.


"Yak! Aku khawatir padamu bodoh!" sergah Ardi.


"Tidak ada yang menyuruhmu untuk mengkhawatirkan seorang adik yang bodoh sepertiku." Adam membalas perkataan Ardi dengan mempoutkan bibirnya tanpa melihat wajah kakak pucatnya itu. Kemungkinan sebentar lagi dirinya akan menangis.


"Dam! Yah! Jangan dimaju-majukan begitu dong bibirmu itu. Kakak hanya bercanda. Kakak tidak benar-benar serius mengatakan kau bodoh." Ardi berbicara sambil melipat kedua tangannya di hadapan Adam meminta maaf.


Tidak ada jawaban. Adam membisu dan pandangannya tetap fokus ke bawah. Lalu tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dari luar.


CKLEK!


Pintu ruang rawat Adam terbuka dan memperlihatkan orang-orang yang memasuki ruangan tersebut.


"Adam sayang," sapa seorang wanita itu yang langsung mendekati Adam dan menggenggam tangannya.


Pandangan mereka saling bertemu.


Ada kerinduan dalam diri mereka.


Mereka adalah ibu dan anak.


"Ma-mama," lirih Adam yang tanpa sadar air matanya sudah mengalir membasahi wajahnya.


Utari duduk di samping ranjang putra bungsunya. Sementara genggaman tangan pada putranya tidak lepas.


"Mama sangat merindukanmu, sayang. Adam selama ini berada dimana? Kenapa Adam tidak mau pulang ke rumah? Apa Adam marah sama Mama? Apa Adam tidak merindukan Mama?" tanya Utari bertubi-tubi pada putra bungsunya.


Adam menghela nafasnya.


"Hah! Tidak jauh beda Mama dengan siberuang kutub itu," ucap Adam sambil melirik sekilas kearah Ardi.


Sedang yang merasa dilirik memasang wajah sok tampannya.


"Kenapa melirik kakak seperti itu? Apa kau menyukai kakak?" ucap Ardi menggoda adiknya.


"Aish! Siapa juga yang menyukai laki-laki sepertimu, kakak?" Adam menjawab dengan ketus, lalu menjulurkan lidahnya mengejek.


Semua yang ada di ruangan itu geleng-geleng kepala dan terkekeh melihat interaksi Adam dengan Ardi.


"Adam," panggil Utari.


Adam langsung melihat wajah cantik ibunya. "Jawab pertanyaan Mama barusan."


"Mama. Aku sangat menyayangi Mama. Aku merindukan Mama. Aku baik-baik saja dan aku selama ini berada di Apartemen Kakek," jawab Adam tanpa jeda.


"Tapi kena..." sebelum Utari melanjutkan omongannya Utari sudah terlebih dahulu memotong.


"Karena aku pergi selama satu minggu dari Apartemen Kakek untuk menghindari anak buah Mama dan juga anak buah Kakek. Setelah satu minggu itu berlalu, aku balik lagi kesana," jawab Adam tanpa beban.


"Jadi Adam mengetahui kalau Mama dan Kakekmu sedang mengawasimu selama ini?" tanya Utari penasaran.


"Ya," jawab Adam singkat.


"Dari mana Adam mengetahui bahwa Kakek dan Mamamu sedang mengawasimu?" tanya sang kakek.


"Aku memasang kamera pengintai di setiap sudut ruangan Apartemen. Baik di dalam maupun di luar," ucap Adam lagi.


Semua orang yang mendengar penuturan Adam kaget dengan mata yang melebar dan mulut melongo.


"Kami benar-benar salut padamu Adam. Kau berhasil mengecoh kami selama ini," ujar Davan yang geleng-geleng kepala melihat keponakannya.


"Terima kasih pujiannya, Pa." Adam menjawab perkataan Pamannya itu.


Mereka semua hanya bisa menarik nafas pasrah. Di hati mereka masing-masing, mereka sangat bahagia bisa bertemu dengan keponakan, adik, anak, cucu yang sangat mereka sayangi.


"Jadi Adam mau pulang ke rumah kan?" tanya Kamila, sang bibi.


"Hm." Adam berbicara sambil jari telunjuknya di letakkan di keningnya seakan-akan sedang berpikir.


"Ayolah. Tidak perlu berpikir terlalu lama. Lagian kau pulang ke rumahmu sendiri," ucap Ghaisan Rafig Abimanyu, kakak sepupunya yang tak lain adalah kakak kedua Ardi.


"Aku mau pulang," jawab Adam pelan.


Tapi mereka semua pura-pura tidak mendengar ucapan Adam.


"Kami tidak mendengar ucapanmu, Dirandra Adamka Abimanyu!" ucap Rafig lagi.


"Hah! Adan membuang nafas kasar. "Iyaa! Aku mau ikut pulang dengan kalian semua!" teriak Adam nyaring.


Mereka semua menutup telinganya mendengar teriakan Adam yang begitu keras dan seketika mereka semua tertawa.


"Hahahahaha."


Mereka semua tertawa lepas. Seakan beban yang mereka pikul hilang begitu saja. Seperti hal yang dirasakan Utari. Dia bahagia putra bungsunya mau kembali ke rumah keluarga Abimanyu.


"Terima kasih, sayang." Utari langsung mendaratkan kecupannya ke kening putranya dan lalu beralih di kedua pipi gembul putra bungsunya itu.


Adam membalasnya dengan senyuman kelincinya. Semua pun merasa bahagia ketika melihat senyuman manis Adam.


...***...


Di Kediaman keluarga Bimantara seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Tak terkecuali sang orang tua dan kakak perempuan Evan Hara Bimantara. Evan sedang murka pada putra keduanya yaitu Danelio Danish Bimantara atas apa yang sudah terjadi pada dirinya.


"Apa yang sudah kau lakukan, Danish? Apa kau ingin mempermalukan Papa, hah?! Papa menyuruhmu kuliah bukan untuk jadi preman. Tapi apa yang sudah kau lakukan, kau berkelahi dengan teman kampusmu. Bukan itu saja, kau sering membully teman-teman kampusmu!" bentak Evan pada putra keduanya.


Tidak ada tanggapan apapun dari Danish. Dirinya mengabaikan ocehan sang papa. Dia tidak peduli dengan amarah dari papanya itu.


"Danelio Danish Bimantara, jawab papa! Kenapa kau lakukan itu?" tanya Danish.


"Aku seperti ini juga karena ulah Papa!" bentak Danish tak kalah.


"Danish. Jaga ucapanmu. Dia Papa kita.!" bentak Ayden Garry Bimantara sang kakak.


"Kenapa? Kau tidak terima aku bersikap seperti ini pada papa. Jelaslah karena kau putra kebanggaan Papa. Karena Papa selalu membanggakan dirimu," ucap Danish.


"Papa tidak pernah membanding-bandingkan dirimu dengan kakakmu. Papa sayang pada kalian berdua. Papa seperti ini karena papa kecewa padamu, Danish. Papa selalu dapat laporan tentang kenakalanmu di Kampus. Tapi Papa berusaha untuk tidak mempercayainya."


"Kali ini Papa maafkan semua kesalahanmu. Dan Papa minta perbaiki semuanya dan jangan mengulanginya lagi."


"Maaf, Pa. Dengan terpaksa aku menolak perintahmu."


"Danis!" bentak Garry.


"Apa maksudmu, Danish?" tanya Evan dengan nada tingginya.


"Aku akan tetap seperti ini dan akan melakukan apa yang aku mau," jawab Danish ketus.


"Jadi kau ingin melawan Papa?"


"Seperti itulah. Karena kau seorang Papa yang sangat egois yang aku miliki!" bentak Danish.


PLAAKK!


Satu tamparan mendarat di wajah Danish dan menyebabkan luka di sudut bibirnya.


"Papa!" bentak Garry.


"Papa tidak menyangka kau berani melawan Papamu sendiri, Danish! Papa hanya minta kau merubah kelakuanmu. Itu saja dan tidak lebih." Evan berbicara dengan matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa Papa tidak salah meminta hal itu padaku? Papa memintaku untuk merubah sikapku. Lalu papa bagaimana? Apa papa sudah menebus semua kesalahan Papa dimasa lalu?" tanya Danish sinis dengan tatapan tajamnya.


"Apa maksudmu, Danish? Bicaralah yang jelas!" bentak Evan pada putra keduanya.


Danish tersenyum menyeringai.


"Apa yang sudah Papa lakukan terhadap istri pertama Papa yang bernama Utari?"


DEG!