THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Sebuah Pilihan



Brak..


Danish menggebrak meja dengan kuatnya karena jijik melihat kelakuan para orang tua dari Aziel dan kesembilan teman-temannya, terutama untuk kedua orang tuanya Aziel sekaligus Paman dan Bibinya Ronny.


"Kalian benar-benar menjijikkan! Kalian datang kesini karena anak-anak kalian di skors dari kampus. Dan kalian seenaknya meminta untuk pihak kampus menarik skors itu dan membiarkan anak-anak kalian masuk kuliah!" bentak Danish dengan penuh amarah.


Sementara Ardi yang duduk di samping Danish menatap tajam kearah para orang yang anaknya mendapatkan skors dari Danish dan Ardi.


"Anak-anak kami kuliah disini tidak gratis. Kami bayar!" bentak ayah dari Agha.


"Yang bilang anak-anak kalian kuliah disini gratis siapa?!" bentak Ardi.


"Kami tidak mengatakan bahwa anak-anak kalian gratis kuliah disini. Kalian nyambung nggak permasalahan yang sebenarnya?" tanya Vigo yang sejak tadi geram melihat kelakuan para orang tua dari para mahasiswanya.


"Anak-anak kalian kuliah disini bayar. Dan kami sebagai dosen atau pembimbing disini sudah bersikap baik kepada anak-anak kalian. Kami tidak pernah bersikap kasar terhadap anak-anak kalian. Begitu juga dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnya." Arka berucap dengan menatap satu persatu wajah para orang tua.


"Tujuan anak-anak kalian kuliah disini untuk mendapatkan ilmu. Begitu juga dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Baik kami maupun para Dosen yang lainnya sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk semua mahasiswa dan mahasiswinya termasuk anak-anak kalian. Kami juga tidak pernah bersikap buruk terhadap mahasiswa dan mahasiswi kami!" seru Tian.


Danish, Ardi, Vigo dan sahabat-sahabatnya menatap penuh amarah kearah para orang tua dari mahasiswa yang bermasalah.


"Kami tidak ingin berdebat terlalu lama dengan kalian semua karena menurut kami itu hal yang tidak penting. Begini saja...."


Danish sengaja menghentikan perkataannya. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah para orang tua di hadapannya.


"Kalian hitung semua uang yang sudah kalian keluarkan untuk anak-anak kalian sejak awal anak-anak kalian kuliah disini. Saya dan rekan-rekan saya juga akan mengecek berapa jumlah uang yang kalian bayarkan selama anak-anak kalian kuliah disini!"


"Tapi kami juga meminta satu hal dengan kalian. Kalian tidak mau rugi bukan? Begitu juga dengan kami! Kami juga tidak mau rugi. Sebagai gantinya kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan anak-anak kalian selama kuliah disini. Anak-anak kalian sudah banyak melakukan tindak kekerasan terhadap teman-teman kampusnya. Bukan hanya kepada teman-teman kampusnya saja, melainkan anak-anak kalian sama sekali tidak menghormati dosen-dosen disini." Sakha berbicara dengan penuh penekanan dengan tatapan matanya menatap tajam kearah para orang tua dari mahasiswanya yang bermasalah.


Mendengar perkataan dari Sakha membuat para orang terkejut dan tak percaya.


"Kami kembalikan uang kalian, dan berikan hak kami dan hak para mahasiswa dan mahasiswi yang ditindas oleh anak-anak kalian. Bagaimana? Apa kalian setuju?" ucap dan tanya Cakra dengan menatap remeh para orang tua tersebut.


"Kalian jangan mau enaknya saja. Giliran anak-anak kalian dihukum, kalian justru marah-marah! Giliran anak-anak kalian berbuat ulah dengan melakukan sesuka hatinya di kampus ini, kalian justru tutup mata dan menulikan pendengaran kalian. Manusia macam apa kalian," ucap Danest.


Hening...


Para orang tua terdiam. Tidak ada yang bersuara satu pun setelah mendengar ucapan demi ucapan dari para Dosen muda di hadapannya.


"Saya Danelio Danish Bimantara selaku putra kedua dari pemilik kampus ini sangat menyayangkan tindakan anak-anak kalian. Saya sudah cukup sabar melihat tingkah laku yang tidak mencerminkan seorang mahasiswa. Bukan saya tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh anak-anak kalian."


Danish menatap tepat kearah orang tua dari mahasiswanya yang bernama Aziel Dipta Karsha sekaligus Paman dan Bibi dari Ronny Karsha.


"Alasan utama yang membuat putra kalian yaitu Aziel mencari masalah dengan salah satu mahasiswa yang bernama Dirandra Adamka Bimantara yang tak lain adalah adik kandung saya karena adik saya sudah memukul hingga babak belur keponakan kalian yaitu Ronny. Adik saya itu melakukan hal tersebut karena ketahuan sudah melawan seorang Dosen. Keponakan kalian itu dengan bangganya membentak dosennya. Dengan kejadian itu, kami pihak kampus memberikan hukuman berupa skors beberapa bulan."


"Bukannya jera dan mengakui kesalahannya. Justru keponakan kalian meminta kepada putra kalian Aziel untuk membalas perbuatan teman kampusnya yang tak lain adalah adik sepupu saya. Dia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh adik sepupu saya itu," ucap Vigo menambahkan.


"Dan untuk kalian!" seru Ardi sembari menatap wajah para orang tua dari mahasiswa yang mencari masalah dengan Harsha dan Gala. "Anak-anak kalian selalu mencari masalah dengan mahasiswa bernama Harsha dan Gala. Dikarenakan anak-anak kalian selalu kalah setiap melawan kedua teman kampusnya itu, anak-anak kalian akhirnya berencana untuk mencari kelemahan dari keduanya. Tujuannya adalah agar anak-anak kalian lebih gampang melawan kedua teman kampusnya itu. Kelemahan mahasiswa yang bernama Harsha dan Gala terletak pada mahasiswa yang bernama Adam. Dan pada akhirnya anak-anak kalian bekerja sama menyakiti mahasiswa yang bernama Adam itu."


"Keputusan ada ditangan kalian. Jika kalian menginginkan anak-anak kalian menjadi anak-anak yang berguna kelak, terima hukuman ini. Kalian harusnya berterima kasih karena kami tidak menempuh jalur hukum!" ucap Danish.


"Tapi jika kalian masih tidak terima keputusan pihak kampus memberikan skors untuk anak-anak kalian, maka jangan salahkan kami jika kami benar-benar membawa masalah ini ke jalur hukum." Ardi berucap dengan penuh penekanan.


"Pembahasan ini kita selesaikan sampai disini. Sebentar lagi jam ngajar kami dimulai," sahut Vigo.


Mendengar perkataan dari Vigo membuat para orang tua langsung berdiri dari duduknya. Kemudian mereka melangkah pergi meninggalkan ruang dosen tersebut.


Melihat kepergian para orang tua dari mahasiswanya yang bermasalah membuat Danish serta yang lainnya mengumpat kesal.


"Dasar menjijikkan!"


***


Adam saat ini bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya di toko buku. Mereka tengah mencari beberapa buku disana. Baik buku mengenai kuliahnya maupun buku mengenai dunia bisnis.


"Kalian dapat buku apa aja?" tanya Zio kepada sahabat-sahabatnya.


"Gue baru dua," jawab Gino.


"Gue juga dua!" seru Leon dan Vando bersamaan.


"Bagaimana dengan lo, Dam dan kalian?" tanya Zio kepada Adam, Melky, Vino, Diego.


"Belum dapat satu pun," jawab Adam, Melky, Vino dan Diego bersamaan.


Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing untuk mencari buku-buku incarannya.


Setelah beberapa menit mencari buku incarannya, Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya melangkah menuju kasir untuk membayar buku-buku itu.


Namun tatapan mata Melky melihat tiga gadis berjalan secara pelan-pelan menuju kearah satu gadis yang sibuk mencari-cari buku.


"Dam," panggil Melky.


"Lihat disana!" seru Melky sembari menunjuk kearah tiga gadis tersebut.


Mendengar seruan dari Melky dan melihat arahan tunjuknya. Adam langsung melihat kearah tunjuk tersebut. Begitu juga dengan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.


"Sepertinya tiga gadis itu ingin melakukan sesuatu terhadap gadis itu," sahut Vando.


"Coba lihat salah satunya memasukkan sesuatu barang ke dalam tas gadis itu secara berlahan-lahan dan hati-hati," sahut Gino.


Leon mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu Leon mengarahkan layar ponselnya kearah tiga gadis itu dan merekamnya sebagai barang bukti.


Selesai, Leon kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Baik Adam, Melky, Vino maupun Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando ingin melihat drama apa yang akan dimainkan ketiga gadis itu terhadap gadis malang tersebut.