THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kembali Bersedih



Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta para sahabatnya dan juga keenam sahabatnya Adam masih mencari keberadaan Adam di sekitar Kampus. Mereka memeriksa satu persatu ruangan yang ada di kampus itu guna mencari Adam. Menurut mereka bisa saja Adam ada di salah satu ruangan tersebut.


Mereka juga tak lupa bertanya kepada mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul atau yang sedang melangkah menuju kelas masing-masing mengenai keberadaan Adam, namun tidak ada satu yang mengetahui keberadaan Adam ada dimana.


Setelah mencari Adam sekitar setengah jam sehingga mereka terlambat masuk kelas. Baik yang mengikuti kelas maupun yang ingin memberikan materi kuliahnya. Mereka memutuskan kembali menuju lobi tempat nongkrong Adam ketika bersama Melky dulu.


Setibanya disana mereka langsung menduduki pantatnya di kursi yang tersedia disana. Pikiran mereka masih tertuju pada Adam terutama Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.


"Dam, kamu dimana?" batin Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Adam, tiba-tiba ponsel milik Danish berbunyi menandakan panggilan masuk.


Danish yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya, tatapan matanya menatap kearah layar ponsel. Tertera disana nama 'Mama'.


Tidak ingin membuat ibunya terlalu lama menunggu dirinya. Danish langsung menjawab panggilan dari ibunya itu.


"Hallo, Ma!"


"Hallo, sayang. Apa ngajar kamu sudah selesai?"


"Masih ada satu kelas lagi. Kenapa, Ma?"


"Ini Adam ada di rumah. Sejak tadi dia mengurung diri di dalam kamar. Bahkan yang buat Mama bingung. Kenapa Adam sudah pulang. Padahal waktu pulangnya sama dengan waktu pulangnya Harsha."


Mendengar perkataan dari ibunya yang mengatakan bahwa adiknya ada di rumah rasa lega menghampiri diri seorang Danish. Dirinya benar-benar lega saat ini bahwa adik baik-baik saja.


Namun rasa lega itu belum sepenuhnya hilang karena ibunya mengatakan bahwa adiknya sejak pulang mengurung diri di dalam kamar.


"Baiklah Mama. Mama tidak perlu khawatir. Mungkin Adam lelah dan butuh istirahat. Terima kasih Mama sudah memberitahuku."


"Oke, sayang!"


Setelah mengatakan itu, baik Utari maupun Danish sama-sama mematikan panggilannya.


"Ada apa?" tanya Vigo.


"Mama bilang apa?" tanya Ardi dan Harsha bersamaan.


"Tadi kamu bilang mungkin Adam lelah dan butuh istirahat. Apa maksud dari perkataan kamu bahwa Adam ada di rumah sekarang?" tanya Vigo dengan menatap wajah Danish.


Semuanya menatap kearah Danish. Mereka butuh jawaban Danish sekarang. Dengan begitu rasa khawatir mereka bisa berkurang.


"Adam ada di rumah. Kata Mama ada sejak pulang ke rumah langsung masuk ke kamar. Dan sampai detik ini Adam keluar dari dalam kamarnya sehingga membuat Mama khawatir."


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Danish membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika efek dari ucapan Melky berimbas Adam yang pergi meninggalkan kampus dan berakhir mengurung diri di dalam kamarnya.


"Setidaknya kita sudah tahu kebenarannya Adam ada dimana. Sekarang kita kembali ke kelas untuk materi kuliah terakhir!" seru Cakra.


"Kalian juga kembali ke kelas," ucap Tian sembari menatap wajah keenam sahabatnya Adam.


"Baik, kak!"


Setelah itu mereka semua pergi meninggalkan lobi untuk menuju kelasnya masing-masing.


***


Utari saat ini berada di ruang tengah. Ketika Utari sampai di rumah karena Utari baru pulang dari perusahaan miliknya seketika Utari dikejutkan dengan seorang kepala pelayan.


Pelayan itu menghampiri Utari dan mengatakan bahwa Adam sudah pulang bersama Adila.


"Ada apa dengan kamu sayang? Apa ada yang mengusik kamu?" tanya Utari pada dirinya sendiri.


Utari saat ini masih memikirkan putra bungsunya. Bahkan Utari belum sempat bertanya kepada Adila kenapa putranya itu pulang bersama Adila karena Adila buru-buru pergi katanya ada hal penting yang harus dikerjakan.


Ketika Utari sedang memikirkan putra bungsunya, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang melangkah menuju ruang tengah.


"Kami datang!"


Mendengar seruan beberapa orang membuat Utari langsung melihat kearah dimana orang-orang akan masuk menuju ruang tengah.


Utari melihat kedatangan Celena, ibu mertuanya dan kakak iparnya Zaina. Mereka tersenyum sembari terus melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


"Hai, menantu ibu yang cantik!" sapa Amirah setelah berada di dekat Utari.


Ada perubahan dengan kondisi Amirah saat ini. Dulu Amirah dinyatakan tidak bisa berjalan lagi alias lumpuh permanen. Berkat usulan dan rekomendasi dari Yodha, kini Amirah telah sembuh total. Amirah bisa berjalan kembali.


Yodha memberikan saran untuk membawa Amirah ke Irlandia dimana disana terdapat beberapa jenis pengobatan untuk orang-orang yang dinyatakan tidak bisa berjalan kembali alias lumpuh.


Mendengar usulan dan rekomendasi dari Yodha. Evan dan Zaina langsung menyetujuinya dan mencoba pengobatan itu. Dan yang menemani Amirah disana adalah Evan dan Zaina.


Semenjak melakukan pengobatan tersebut. Hasilnya sangat bagus dan memuaskan sehingga membuat Amirah benar-benar bisa berjalan kembali.


"Ada apa?" tanya Celena yang mengerti akan raut wajah dan tatapan mata Utari.


Mendengar pertanyaan dari Celena membuat Amirah dan Zaina langsung menatap wajah Utari. Dan benar! Wajah dan tatapan mata Utari tersirat kekhawatiran.


"Ada apa, kak Utari? Adam sakit lagi?" tanya Zaina langsung.


"Sayang," ucap Amirah.


"Adam ada di dalam kamarnya sekarang. Sejak pulang bersama Adila. Adam langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar-keluar sampai sekarang," jawab Utari.


Mereka terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Utari yang mengatakan bahwa Adam ada di dalam kamarnya dan tidak keluar-keluar.


"Eh, tunggu dulu! Tadi kamu bilang Adam pulang bersama Adila?"


"Iya, kak!"


"Lah! Kok bisa. Adam seharusnya di Kampus. Sementara Adila seharusnya ada di perusahaan textile karena dia magang disana," ucap Zaina.


"Aku juga tidak tahu kak. Aku tahu dari pelayan. Pelayan itu yang memberitahuku," sahut Utari.


Amirah mengusap lembut kepala belakang menantunya. Dia tahu bahwa saat ini menantunya itu tengah khawatir dan juga takut akan putra bungsunya.


"Ibu mengerti perasaan kamu akan putra bungsu kamu. Tapi percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Begitu juga dengan putra bungsumu," ucap Amirah yang berusaha menenangkan menantunya.


"Apa yang dikatakan oleh ibu itu benar kak Utari. Kita berdoa saja semoga tidak ada masalah lagi menimpa keluarga kita." Celena juga ikut menghibur kakak iparnya itu.


Sejak Celena mengetahui tentang status asli suaminya di keluarga Bimantara. Dan sejak Celena mengetahui bahwa suaminya itu adalah adik kandung dari Erina Utari Bimantara. Sejak itulah Celena merubah panggilannya terhadap Utari.


Jika pertama bertemu dengan Utari, Celena memanggil dengan sebutan nama. Sekarang Celena memanggil Utari dengan sebutan kakak. Karena bagaimana pun Utari itu adalah istri dari kakak laki-laki suaminya. Tidak pantas jika Celena masih memanggil Utari dengan nama saja.


Bukan Celena saja yang merubah panggilannya terhadap Utari. Nicolaas dan Vigo juga merubah panggilannya terhadap Utari. Mereka sekarang memanggil Mama kepada Utari seperti Ardi dan Harsha.


Utari seketika tersenyum ketika mendengar perkataan sekaligus penyemangat dari ibu mertuanya dan adik iparnya. Dirinya benar-benar bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan untuknya dan untuk putra bungsunya.


Utari berharap tidak ada lagi orang-orang diluar sana mengusik keluarganya. Mengusik orang-orang yang sangat dia sayangi.